Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 62 Bertemu Chelsea


__ADS_3

Samara dan kedua orang tuanya, yang melihat Ervan dan Vina sudah pergi meninggalkan rumahnya.


"Anak-anak ayo masuk." Samara memanggil ketiga anaknya, dan menyuruh mereka bertiga masuk ke dalam rumah.


"Iya Bun," sahut mereka bertiga yang langsung masuk ke dalam rumah, dan pergi ke kamarnya.


Sementara itu, Samara dan kedua orang tuanya duduk di ruang keluarga.


"Pak, Bu. Maafkan aku, yang telah mengambil keputusan ini. Sehingga sekarang ini, kita tidak memiliki tempat usaha berjualan kue," ucap Samara sambil tertunduk sedih.


"Tidak apa-apa, Nak. Bapak dan ibu mendukung apapun keputusan yang kamu ambil, masalah berjualan kue. kita masih bisa berjualan kue dengan cara berkeliling. Sebelum mendapatkan kontrakan ruko, untuk berjualan kue," sahut Anton yang berusaha menghibur hati Samara yang sedang sedih. Karena Samara telah mengambil keputusan, untuk menolak lamaran dari Ervan. Sehingga membuat mereka tidak bisa berjualan kue lagi, di ruko yang di kontrakan Ervan kepada Samara.


"Ibu dan bapak, besok pagi akan berkeliling berjualan kue di sekitar kompleks ini," timpal Santi sambil tersenyum.


"Tidak usah Bu, nanti ibu dan bapak capek. Toh sekarang ini, Samara sudah mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan papanya Rayanza." Samara melarang kedua orang tuanya, yang mau berjualan kue secara berkeliling.


"Bapak dan ibu tidak akan capek, itung-itung olahraga keliling komplek sambil berjualan." Anton yang tidak mau membebani Samara, ia bersikeras ingin berjualan kue bersama istrinya secara berkeliling.


"Kalau di rumah terus, ibu dan bapak tidak ada kegiatan yang menghasilkan uang, Nak. Ibu hanya tidak mau membebani kebutuhan rumah kepadamu," kata Santi yang memilih berterus terang kepada Samara.


"Keinginan ibu dan bapak yang ingin berjualan kue secara berkeliling,  tidak bisa aku larang," batin Samara yang mengetahui kedua orang tuanya, yang akan tetap berjualan kue meski Samara larang.


Samara menghela nafas panjang. Sebelum setuju dengan keinginan kedua orang tuanya, yang ingin berjualan kue secara berkeliling.


"Iya sudah, terserah ibu dan bapak saja. Tapi kalau ibu dan bapak sudah merasa capek, lebih baik pulang ke rumah. Dan setiap hari Sabtu dan Minggu, bapak dan ibu tidak usah berjualan kue secara berkeliling, biarkan Samara yang berjualan kue."


Anton dan Santi yang mendengar itu, tersenyum senang. Karena Samara mendukung keinginan mereka berdua, yang ingin membantu Samara dalam mencari rejeki.


___________


Keesokan harinya.


Samara dan anak-anaknya di jemput oleh Rayanza seperti biasanya. Sedangkan kedua orang tuanya Samara, yang akan berjualan kue secara berkeliling. Mereka berdua memutuskan pergi, setelah Samara dan ketiga anaknya sudah pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


Sementara itu.


Rayanza yang melihat Samara yang sedang termenung sedih di dalam mobil, setelah selesai mengantar anak-anaknya pergi ke sekolah. Rayanza pun memutuskan untuk bertanya kepada Samara.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Rayanza.


"Aku, tidak kenapa-kenapa kok, Ray." Samara berusaha memaksakan senyuman. Agar Rayanza tidak mengetahui kesedihan hatinya, yang harus kehilangan toko kue yang sudah beberapa bulan ini ia berjualan di sana.


"Kalau ada masalah, cerita Ra. Siapa tahu aku bisa membantumu," ujar Rayanza.


"Iya Ray, tapi aku tidak mempunyai masalah apa-apa kok," sahutnya.


"Oh syukurlah kalau begitu," timpal Rayanza sambil melirik ke arah Samara, lalu ia tersenyum senang. Karena bisa setiap hari bertemu dengan Samara dan ketiga anaknya.


Tidak lama kemudian.


Mereka berdua sampai di perusahaan papanya Rayanza, dan mereka berdua segera masuk ke dalam ruangan masing-masing. Untuk langsung mengerjakan tugas, yang harus ia kerjakan di perusahaan papanya Rayanza.


Saat Samara pulang dari bekerja. Ervan datang ke rumahnya Samara. Sebelum Samara masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih." Samara pun mengambil uang sisa kontrakan dari Ervan, yang memutuskan menghentikan Samara mengontrak di tokonya.


"Aku pastikan! Kamu dan keluargamu akan kesulitan mencari ruko untuk membuka usaha kue di kota ini," ucap Ervan sebelum pergi meninggalkan Samara.


__________


Ucapan Ervan ternyata benar, kini Samara sangat kesulitan sekali dalam mencari ruko. Untuk membuka usaha kue tanpa harus berjualan secara berkeliling.


Kedua orang tuanya Samara tetap berjualan kue secara berkeliling. Akan tetapi, di saat Samara libur bekerja di perusahaan papanya Rayanza, ia segera menyiapkan kue yang sudah ia buat bersama ibunya. Karena hari ini Samara akan berjualan kue secara berkeliling.


"Ibu temani kamu berjualan yah," ucap Santi yang ingin ikut pergi bersama Samara.


"Tidak usah Bu, hari ini waktunya ibu dan bapak beristirahat. Biarkan Samara yang berjualan kue hari ini. Samara titip anak-anak yah, Bu." Samara menolak ajakan dari ibunya, yang ingin menemaninya pergi berjualan kue. Samara juga menitipkan ketiga anaknya, sebelum ia pergi berjualan kue.

__ADS_1


"Hati-hati ya, Nak."


"Iya Bu,"


Samara pun segera pergi meninggalkan rumah, dan pergi berjualan kue secara berkeliling.


Akan tetapi di saat Samara yang sedang membungkuskan kue ke dalam plastik, untuk di berikan pada ibu-ibu yang membeli kue buatannya. Chelsea tiba-tiba saja datang menghampirinya, yang sedang berjualan kue.


Karena sekarang ini, Chelsea dan Arsyaka serta Retno tinggal di kota Surabaya. Dan Chelsea yang melihat Samara yang sedang berjualan kue, menatap sinis kepada Samara, ia pun menyenggol lengannya Samara. Sehingga kue yang ada di dalam plastik jatuh ke bawah tanah.


"Ups, sorry," ucap Chelsea yang tidak merasa bersalah. Setelah membuat kue Samara terjatuh ke bawah tanah.


Samara menengok ke arah suara Chelsea, dan mengontrol dirinya yang emosi melihat kedatangan Chelsea yang telah menjatuhkan kuenya.


"Saya ambil yang baru lagi ya Bu," kata Samara yang langsung mengganti kue yang terjatuh itu, dan menghiraukan ucapan Chelsea.


"Ternyata, selama ini kamu tinggal di kota Surabaya dan berjualan kue seperti itu. Tapi cocok sih, orang kampung seperti kamu berjualan kue keliling, haha..." Chelsea mentertawakan Samara, yang sedang berjualan kue.


"Lebih baik berjualan kue seperti ini, dari pada harus jadi pelakor dan mau tidur sama suami orang. Sampai hamil lagi," balas Samara menyindir Chelsea yang tengah hamil.


"Kamu..." Chelsea tidak jadi melanjutkan ucapannya. Untuk membalas ucapan Samara. Karena ibu-ibu yang berada di sekitarnya, menatap dirinya yang tengah hamil.


"Jadi wanita itu, telah merebut suami Mbak?" tanya salah satu dari ibu-ibu sambil menunjuk ke arah Chelsea.


"Iya benar Bu," sahut Samara.


"Dasar wanita pelakor," ibu-ibu pun melemparkan kue yang terjatuh di bawah tanah ke arah Chelsea.


Bahkan ibu-ibu yang sangat tidak suka dengan Chelsea yang menjadi pelakor, menjambak rambutnya dan menampar pipi Chelsea.


"Aaaw sakit, hentikan." Chelsea meringis kesakitan.


"Dari dulu aku ingin sekali melakukan itu. Saat aku melihatmu bermesraan dengan Mas Syaka, tapi sekarang ini aku bisa melihatmu kesakitan seperti itu. Tanpa harus tanganku yang melakukannya," batin Samara yang tersenyum senang, melihat Chelsea yang kesakitan di pukul oleh ibu-ibu yang tidak menyukai wanita pelakor.

__ADS_1


"Sudah ibu-ibu, dia lagi hamil." Samara menghentikan aksi ibu-ibu itu. Karena ia sudah puas melihat keadaan Chelsea yang sekarang ini.


__ADS_2