
"Ray, ayo kita pergi dari sini." Samara mengajak Rayanza pergi dari tempat sekolah anak-anaknya. Karena Samara melihat reaksi Rayanza, yang mengepalkan tangannya. Saat Ervan mengingatkan Samara, tentang lamarannya yang akan ia jawab dua hari lagi.
"Iya," sahutnya singkat.
"Aku akan menanyakan semua itu di dalam mobil, aku akan berusaha membuat Samara mau mengatakan semuanya padaku," batin Rayanza.
Rayanza dan Samara segera masuk ke dalam mobilnya Rayanza. Karena mereka berdua akan pergi bekerja di perusahaan papanya Rayanza.
Di dalam mobil.
Rayanza yang ingin mengetahui kejadian kemarin. Saat Ervan dan kedua orang tuanya, yang datang ke rumah Samara. Rayanza langsung menanyakan Itu semua pada Samara.
"Ra, tadi Ervan kenapa bilang seperti itu? Dan Vina anaknya juga mengatakan kalau ketiga anakmu akan menjadi saudaranya, maksudnya apa Ra?" cerca Rayanza yang bertanya pada Samara.
"Aku..."
"Jawab dengan jujur Ra," potong Rayanza yang melirik ke arah Samara, yang berada di samping mobilnya. Karena Rayanza melihat wajah Samara, yang seperti ragu untuk mengatakan semua itu pada Rayanza. Ia berusaha membuat Samara, untuk mau menceritakan semuanya tanpa ada yang Samara tutupi pada dirinya.
"Baiklah," sahut Samara yang mulai menceritakan tentang lamaran Ervan dan kedua orang tuanya, yang menginginkan dirinya menjadi istri dan ibu sambung untuk Vina putrinya Ervan.
"Terus, apa kamu menerima lamarannya?" tanya Rayanza lagi.
Samara menggelengkan kepalanya. Sebelum menjawab pertanyaan dari Rayanza. "Aku sebenarnya belum siap untuk menikah sekarang ini Ray, kamu tahu sendirilah tentang kisah cintaku dengan Arsyaka. Aku yang mengenal dirinya saat ia tinggal di satu kampung yang sama denganku, dan dari zamannya kuliah sampai menikah dan punya tiga anak. Dia yang saat itu aku cintai dan aku sudah mengenal dia begitu lama, tapi nyatanya bisa ia khianati. Apalagi kalau aku menikah dengan Ervan, yang baru beberapa bulan ini aku mengenalnya. Untuk saat ini, aku masih ingin menjalani kehidupan bersama anak-anak dan belum terpikirkan untuk menikah. Tapi aku tidak menuntut kemungkinan, jika suatu saat nanti aku akan kembali berumah tangga dengan seorang pria yang bisa menerimaku dan ketiga anakku."
"Dugaan mama tidak salah, ternyata lamaran dari Ervan tidak langsung di terima oleh Samara. Jikalau pun kemarin papa melamar Samara untukku, belum tentu juga di terima oleh Samara. Dan ucapan papa juga benar, aku harus memberikan waktu untuk Samara, yang sepertinya belum mau membuka pintu hatinya untuk orang lain," batin Rayanza.
"Kedua orang tuanya Ervan memberikan aku waktu, untuk menjawab lamarannya yang tinggal sisa dua hari lagi," lanjut Samara sambil menghela nafas kasar. Sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tapi aku bersyukur kedua orang tuaku, akan menerima apapun keputusan yang akan aku ambil nantinya," sahutnya lagi.
Rayanza yang mendengar itu menghembuskan nafas lega.
"Semoga saja, Samara menolak lamaran dari Ervan," batin Rayanza yang sangat berharap sekali. Kalau Samara akan menolak lamaran dari Ervan.
__ADS_1
*****
Sesampainya di perusahaan papanya Rayanza yang bernama Alfarizky group.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan papanya Rayanza. Sebelum Rayanza mengantar Samara pergi ke ruangan, yang akan di tempati oleh Samara sebagai Direktur Keuangan di perusahaan papanya Rayanza.
Tok-tok Rayanza mengetuk pintu ruangan papanya.
"Silahkan masuk pak. Bu," ucap office boy yang membukakan pintu ruangan papanya Rayanza. Karena ia baru saja mengantarkan minuman untuk Haidar papanya Rayanza.
Rayanza dan Samara pun masuk ke dalam ruangan papanya Rayanza.
"Selamat datang Samara di perusahaan Om," ucap Haidar sambil tersenyum, melihat kedatangan Rayanza dan Samara.
Samara menanggapi ucapan dari Haidar, dengan mengagukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Nanti di acara rapat yang akan di adakan jam sepuluh, Om akan memperkenalkan kamu kepada para karyawan sebagai Direktur Keuangan yang baru di perusahaan ini," tutur Haidar yang memberitahu Samara.
"Iya Om," sahutnya.
"Iya pah," balasnya sambil mengajak Samara pergi meninggalkan ruangan papanya. Karena Rayanza akan mengantar Samara pergi ke ruangan yang akan di tempati oleh Samara.
Samara pun mengikuti langkah kaki Rayanza, yang akan memberitahukan tempat ruangan kerjanya.
"Ini Ra, ruangan kamu," ucap Rayanza yang sudah berada di depan pintu ruangannya Samara.
"Iya Ray, terima kasih sudah mengantarkanku ke sini," sahutnya sambil mengucapkan rasa terima kasih pada Rayanza, yang sudah mengantarkannya.
"Iya sama-sama, nanti jam sepuluh. Aku akan mengajakmu ke ruang rapat," ujar Rayanza yang mengingatkan Samara. Sebelum dirinya pergi meninggalkan ruangan Samara.
***
Acara rapat yang di adakan di perusahaan Alfarizky group, sekaligus memperkenalkan Samara sebagai Direktur Keuangan yang baru, kepada para karyawan yang ada di dalam ruang rapat.
__ADS_1
"Sebelum acara rapatnya di mulai. Saya akan memperkenalkan pengganti pak Rahman Wiluyo, yaitu ibu Samara Ananda Putri yang akan menggantikannya sebagai Direktur Keuangan di perusahaan ini," ucap Haidar yang memperkenalkan Samara pada para karyawan.
Samara pun bangun dari tempat duduknya, ia pun tersenyum manis di hadapan para karyawan yang ada di dalam ruang rapat.
Prok-prok suara tepuk tangan dari para karyawan, yang mendapatkan seorang Direktur Keuangan yang baru.
Haidar pun langsung memulai acara rapatnya. Setelah selesai memperkenalkan Samara pada para karyawan, yang bekerja di perusahaannya.
Setelah selesai rapat, dan waktu yang sudah menunjukkan jam istirahat. Rayanza berniat mengajak Samara pergi makan siang bersama, sekalian menjemput ketiga anaknya Samara dari sekolah.
"Ra, kita pergi menjemput anak-anak dari sekolah. Kan sebentar lagi jam istirahat, jadi kita bisa makan siang bersama dengan anak-anak," ucap Rayanza yang mengajak Samara. Untuk menjemput ketiga anaknya, saat Rayanza dan Samara sudah ke luar dari ruang rapat.
"Kita makan siang saja Ray, tidak usah menjemput anak-anak. Soalnya ketiga anakku akan di jemput oleh Rina," ucap Samara.
"Oh begitu, ya sudah ayo kita pergi makan siang," ajaknya lagi pada Samara.
Rayanza dan Samara pergi makan siang bersama, di restoran yang tidak jauh dari perusahaan papanya Rayanza.
Di saat mereka berdua menunggu makanan yang akan di bawa oleh pelayan restoran, handphone milik Samara berdering. Samara pun segera mengambil handphonenya yang berada di dalam tasnya.
"Siapa yang menghubungi kamu, Ra?" tanya Rayanza penasaran.
"Ini Nayla, Ray. Aku terima panggilan dari Nayla dulu ya," jawabnya.
"Halo Nay," lanjut Samara yang sudah menerima panggilan telepon dari Nayla.
"Aku ganggu kamu tidak?" tanya Nayla.
"Tidak Nay, aku lagi mau makan siang. Emangnya ada apa Nay? Apakah ada berita penting di Jakarta?" sahut Samara sambil mencerca banyak pertanyaan pada Nayla.
"Di bilang penting sih, ya gak penting juga. Tapi ini berita tentang mantan suamimu, yang sekarang ini kena kasus korupsi di perusahaan tempatnya bekerja." Nayla memberitahukan pada Samara tentang Arsyaka mantan suaminya.
"Kamu serius Nay?" Samara ingin memastikan kebenaran yang ia dengar dari Nayla.
__ADS_1
''Iyalah Ra, masa aku bohong perihal masalah ini," jelas Nayla.