
POV Samara.
Aku yang masih bertelepon dengan Nayla, mendengar suara Kirana yang memanggilku. Saat aku menengok ke belakang, aku kaget melihat Kirana sudah berada di depan pintu kamar.
"Bunda.... Ayah mana? Ada tamu yang mencari ayah," ucapnya.
"Kirana sudah lama di sini?" tanyaku, mengalihkan pertanyaan Kirana yang sedang menanyakan ayahnya. Karena aku takut Kirana mendengar pembicaraanku dengan Nayla, yang akan menggugat cerai Mas Syaka.
"Aku baru saja datang Bun, emangnya kenapa?" jawabnya bingung dengan pertanyaanku. Karena aku tidak menjawab pertanyaan dari Kirana, yang sedang menanyakan ayahnya.
"Tidak apa-apa sayang, bunda hanya bertanya saja," ucapku pada Kirana.
"Nay, nanti aku hubungi Kamu lagi," ujarku pada Nayla di telepon.
"Iya Ara. Kalau kamu sudah yakin dengan keputusanmu, aku akan memberikan berkas ini pada pengacara keluargaku," sahutnya.
"Iya Nayla, terima kasih atas bantuannya." aku mengucapkan rasa terima kasih. Karena Nayla mau membantuku dalam menggugat cerai Mas Syaka.
"Sama-sama Ara." Nayla pun mematikan panggilan telepon dariku.
"Bunda lagi bertelepon dengan Tante Nayla?" tanya Kirana.
"Iya sayang," jawabku sambil tersenyum.
"Nanti kapan-kapan kita main lagi ke restorannya Tante Nayla ya Bun," ujar Kirana yang ingin pergi ke restoran Nayla.
"Iya sayang. Yuk kita pergi menemui ayah di kamar tamu," ajakku pada Kirana.
"Emangnya ayah tidak tidur di kamar ini lagi Bun?" pertanyaan dari Kirana menghentikan aku, yang akan mengajaknya turun ke lantai bawah.
"Kaki ayahkan sedang sakit. Jadi sementara ini, ayah tidurnya di kamar tamu. Karena bunda tidak kuat membawa ayah ke kamar ini," kilahku yang mencari alasan. Agar Kirana mengerti dengan yang aku ucapkan. Karena aku juga tidak mau tidur bersama dengan Mas Syaka lagi.
"Oh begitu, ya sudah ayo bun kita turun ke bawah." Kirana menarik tanganku, dan mengajakku turun ke lantai bawah.
Kira-kira siapa yah? Tamu yang mencari Mas Syaka. Kalau ibu mertua dan Siska yang datang ke sini! Pasti anakku tidak akan mengatakan tamu, tapi Omah dan Tante Siska.
Aku dan Kirana segera pergi ke lantai bawah, dan sesampainya di lantai bawah. Aku segera pergi ke ruang tamu. Tapi saat aku sudah berada di ruang tamu, aku tidak melihat tamu yang datang ke rumah. Aku hanya melihat Mas Syaka duduk di kursi rodanya sendirian di ruang tamu.
"Kirana di mana tamunya?" tanyaku pada Kirana.
"Kemana perginya Kirana?" lirihku yang tidak mengetahui kepergian Kirana. Padahal aku dan Kirana turun ke lantai bawah secara bersamaan, aku pun memutuskan pergi menghampiri Mas Syaka yang berada di ruang tamu.
"Mas..." panggilku pada Mas Syaka.
"I....iya," sahutnya gugup, dan seperti kaget melihat kedatanganku. Aku jadi penasaran dengan tamu yang datang menemui Mas Syaka.
__ADS_1
"Kata Kirana, tadi ada tamu yang mencarimu? Tapi aku tidak melihat ada tamu di sini!" tanyaku pada Mas Syaka.
"Iya memang tadi ada tamu, tapi sudah pulang," jawab Mas Syaka.
"Siapa tamunya?" tanyaku lagi. Karena aku penasaran dengan tamu yang datang ke rumah.
"Itu... Para tetangga yang datang menjengukku. Aku kan habis kecelakaan, makanya mereka datang menjengukku," ucapan Mas Syaka tidak membuat aku yakin.
"Oh..." aku hanya menanggapi ucapannya dengan kata itu saja. Karena aku tidak percaya dengan kedatangan para tetangga, yang datang menjenguk Mas Syaka. Meski aku tahu, para tetangga mengetahui tentang kecelakaan Mas Syaka. Tapi dari siapa? Para tetangga bisa mengetahui kepulangan Mas Syaka ke rumah ini? Aku pun memilih pergi meninggalkan Mas Syaka, yang masih di ruang tamu.
"Sayang...." Mas Syaka memanggilku dengan kata sayang. Tapi aku menghiraukan panggilannya itu, dan tetap meneruskan langkahku yang pergi menuju dapur.
*****
Keesokan paginya.
Aku sudah bangun sejak pagi, untuk menyiapkan pesanan kue dari ibu-ibu yang sudah memesan kue buatanku.
"Samara," panggil Mas Syaka yang sudah berada di dapur.
"Iya," sahutku tanpa menengok ke arahnya, dan meneruskan kegiatanku yang sedang membuat pesenan kue dan juga sarapan pagi untuk anak-anak.
Aku sebenarnya malas, melihat kedatangan dirinya yang datang menghampiriku. Karena sejak bertemu dengan Mas Syaka di ruang tamu, aku tidak bertegur sapa lagi dengan Mas Syaka.
"Aku ingin berbicara denganmu," ucap Mas Syaka sambil memegang tanganku, yang sedang sibuk menyiapkan sarapan dan juga menata kue yang sudah selesai aku buat.
Aku segera menepis tanganku yang di pegang oleh Mas Syaka, dan tetap menghiraukan dirinya yang ingin berbicara denganku.
"Selamat pagi ayah, bunda." sapa ketiga anakku yang sudah datang ke dapur, dan mereka bertiga sudah siap untuk pergi ke sekolah.
"Pagi juga sayang," ucapku dan Mas Syaka secara bersamaan.
"Kenapa bisa? Aku mengatakan hal yang sama dengan Mas Syaka secara bersamaan," gerutuku yang kesal di dalam hati.
"Seneng deh lihat ayah dan bunda, pagi-pagi seperti ini," celetuk Arsya sambil tersenyum. Aku pun menanggapi ucapan dari putra bungsuku itu, dengan memaksakan sedikit senyuman.
"Pasti ayah lagi bantuin bunda buat pesenan kue, iyakan?" tanya Kirana.
"Iya dong," sahut Mas Syaka dengan penuh percaya diri.
Aku mengerutkan kening. "Membantu apanya? Dirinya sendiri saja baru datang," batinku yang kesal dengan ucapan Mas Syaka, yang mengatakan. Sedang membantuku yang sedang membuat pesanan kue.
"Ayo sarapan dulu," aku mengalihkan pembicaraan anak-anakku, dan menyuruh mereka semua untuk sarapan pagi. Aku pun mengambilkan makanan pada ketiga anakku, barulah mengambil makanan untuk Mas Syaka. Setelah itu aku segera pergi meninggalkan Mas Syaka dan juga anak-anak yang sedang sarapan pagi.
"Bunda mau kemana? Tidak sarapan dulu?" Candra yang melihat aku tidak sarapan pagi bersama, dan ia juga menanyakan kepergianku dari meja makan.
__ADS_1
"Bunda sudah sarapan kok, bunda mau pergi merapikan pesan kue dulu," jawabku. Dan aku segera pergi meninggalkan Mas Syaka dan juga anak-anak yang sedang sarapan pagi.
Ting! Suara pesan dari handphoneku. Aku pun segera membaca pesan dari Nayla.
[Ara, bisakah kamu ke restoranku?]
[Iya bisa Nay, aku mengantar anakku pergi ke sekolah dan mengantarkan pesanan kue dari ibu-ibu. Barulah aku pergi ke restoran mu] balasku pada Nayla.
Saat anak-anak sudah selesai sarapan, aku segera mengajak ketiga anakku pergi ke sekolah.
"Bunda tidak bersalaman sama ayah?" ucap Arsya yang melihat aku sudah duduk di motor. Sedangkan ketiga anakku bersalaman kepada ayahnya sebelum pergi ke sekolah.
Aku pun turun dari motor, dan bersalaman dengan Mas Syaka. Barulah aku pergi, mengantar anak-anak ke sekolah.
Setelah selesai mengantar anak-anak ke sekolah, dan mengantarkan pesanan kue pada ibu-ibu. Aku segera pergi menemui Nayla di restoran miliknya.
Sesampainya di restoran Andini Food, pelayan restoran Nayla menyuruh aku pergi menemui Nayla di ruangannya.
Aku bergegas pergi menemui Nayla, yang sudah menunggu kedatanganku.
Tok-tok aku mengetuk pintu ruangannya Nayla.
"Akhirnya kamu datang juga," ucap Nayla yang membukakan pintu ruangannya.
"Iya maaf, emangnya ada apa Nay?" tanyaku penasaran. Karena Nayla menyuruh aku pergi ke restorannya.
"Ayo masuk dulu. Karena pak Rudi pengacara yang akan mengurus gugatan perceraianmu, ingin bertemu dengan mu," jelas Nayla yang menyuruh aku masuk ke dalam ruangannya.
Aku langsung bersalaman kepada pak Rudi, yang ternyata sudah berada di dalam ruangannya Nayla.
"Langsung saja yah Bu Samara, aku mau menanyakan tentang harta gono-gini dan juga hak asuh anak. Apakah Bu Samara sudah memikirkan langkah yang akan di ambil?" tanya pak Rudi kepadaku.
"Masalah harta gono-gini aku tidak memperdulikannya, yang terpenting hak asuh anak ada padaku," jawabku yakin. Karena harta berhargaku adalah bersama dengan ketiga anakku.
"Tapi aku tidak bisa menjamin. Bu Samara bisa mendapatkan hak asuh anak. Karena Bu Samara tidak memiliki pekerjaan, dan yang pasti Bu Samara hanya bisa mendapatkan salah satu dari ketiga anaknya saja," jelas pak Rudi.
"Aku sedang merintis usaha berjualan kue, dan aku sanggup membiayai ketiga anakku. Aku hanya minta pak Rudi membantuku dalam mengurus gugatan perceraian ku, dan juga hak asuh anak yang harus jatuh ke tanganku. Meski aku tidak mendapatkan harta gono-gini," sahutku meminta pak Rudi membantuku, dalam menggugat cerai dan juga mendapatkan hak asuh anak.
"Aku bisa membantu itu, tapi lebih baiknya. Masalah hak asuh anak di bicarakan dengan suami Bu Samara, karena jika suami ibu memberikan hak asuh anak pada Bu Samara, itu tidak akan memakan waktu yang lama, dan Bu Samara akan langsung mendapatkan hak asuh anak dengan mudah," tutur pak Rudi.
Nayla mengusap punggungku, memberikan kekuatan pada diriku, dalam menghadapi masalah pernikahanku ini.
"Sepertinya ucapanku cukup jelas. Jadi aku pamit pergi. Karena aku ada sidang hari ini, dan jika sudah membicarakan dengan suami Bu Samara, silahkan hubungi aku." pak Rudi memberikan kartu namanya padaku. Sebelum pergi meninggalkan ruangannya Nayla.
Aku menghela nafas, dan membuangnya secara pelan-pelan. Karena aku harus mencari cara, agar Mas Syaka mau memberikan hak asuh anak padaku.
__ADS_1