
Keesokan paginya.
Samara dan Rayanza masih tertidur pulas. Setelah semalam Rayanza meminta haknya pada Samara, yang sudah resmi menjadi istrinya.
Karena malam itu. Rayanza sudah tidak bisa lagi mengontrol dirinya, yang merasakan reaksi dari obat perangsang yang di berikan oleh Chelsea dan Linda. Ketika Rayanza bertemu dengan temannya.
Tok-tok
Suara ketukan pintu kamar menyadarkan mereka berdua, yang masih terlelap dalam tidurnya.
Samara dan Rayanza pun segera bangun dari tidurnya. Karena mendengar suara ketukan pintu, yang terus mengetuk pintu kamar mereka berdua.
Rayanza yang bangun lebih dulu, ia tersenyum senang melihat Samara yang berada di dekatnya.
"Selamat pagi sayang," ucap Rayanza. Ketika ia melihat Samara yang ikut bangun. Karena mendengar suara ketukan pintu.
"Selamat pagi juga suamiku," balasnya sambil tersenyum manis.
"Kamu di sini saja, biar aku yang membukakan pintu kamar," sahut Rayanza yang melarang Samara membuka pintu kamar.
Samara mengagukkan kepalanya, dan ia memutuskan pergi ke dalam kamar mandi. Ketika Rayanza membukakan pintu kamarnya.
"Selamat pagi pak," sapa pelayan hotel yang menolong Samara dalam mendobrak pintu kamar hotel.
"Iya," balasnya singkat.
"Kedatangan saya ke sini, mau memberitahukan kepada pak Rayanza dan ibu Samara. Kalau pihak kepolisian mau meminta keterangan kepada pak Rayanza dan ibu Samara, atas kasus penangkapan saudari Chelsea dan Bu Linda serta Yanto dan Laura, yang semalam berhasil tertangkap di hotel ini," jelas pelayan hotel.
Rayanza yang belum mengetahui semuanya, ia mengkerutkan keningnya. Karena ia tidak mengetahui tentang kasus penangkapan Chelsea dan Linda serta Yanto, yang ia ketahui hanya Laura.
"Bukannya semalam itu, kamu hanya menangkap Laura saja. Tapi... kenapa bisa Chelsea dan Linda juga ikut tertangkap di hotel ini? Karena yang aku tahu! Chelsea dan Linda itu memanglah buronan polisi, dan apa urusannya mereka berdua denganku dan juga istriku?" tanya Rayanza pada pelayan hotel.
"Untuk masalah itu, sebaiknya pak Rayanza bisa menanyakan semuanya pada Bu Samara atau langsung pergi ke kantor polisi. Saya permisi pergi," jawabnya sambil berpamitan pergi meninggalkan Rayanza. Ketika ia sudah menyampaikan pesan dari polisi, yang meminta keterangan pada Samara dan Rayanza.
Rayanza yang penasaran dengan semuanya, ia pun segera masuk ke dalam kamar. Untuk membicarakan tentang ucapan pelayan hotel pada Samara terlebih dahulu. Sebelum ia dan Samara pergi ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan kepada pihak kepolisian.
Akan tetapi, saat Rayanza masuk ke dalam kamar, ia tidak melihat keberadaan Samara yang berada di tempat tidur.
__ADS_1
"Kemana perginya Samara?" lirihnya yang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang berada di dalam kamar.
Rayanza yang terus mencari keberadaan Samara, ia mendengar suara air yang bergemiricik di dalam kamar mandi.
"Oh ternyata Samara lagi mandi," gumamnya sambil tersenyum simpul.
Rayanza pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Karena ia ingin mandi bersama dengan Samara, dan kebetulan sekali pintu kamar mandi tidak Samara kunci. Sehingga Rayanza dengan leluasa bisa masuk ke dalam kamar mandi.
"Ray," lirih Samara yang kaget melihat kedatangan Rayanza, yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aku mau mandi bersama denganmu," ucap Rayanza.
"Tapi aku sudah mau selesai, Ray."
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sini. Sebelum kita mandi bersama,"
"Baiklah suamiku. Tapi cuman mandi saja, yah?"
"Ya tentu saja sayang. Aku hanya mau mandi bersama kamu,"
"Yakin..."
Suara Rayanza yang menelan ludah. Karena melihat kondisi Samara yang begitu menggodanya, dan sebisa mungkin ia berusaha menahan hasratnya terlebih dahulu.
"Iya sayang. Karena ada hal yang mau aku bicarakan denganmu, setelah kita selesai mandi," jawabnya.
Samara dan Rayanza pun akhirnya mandi bersama, dan setelah selesai mandi barulah mereka berdua membicarakan tentang semua hal yang belum Rayanza ketahui.
"Apa...! Jadi semalam itu Chelsea dan Linda yang merencanakan semua ini?" ucap Rayanza yang kaget. Karena ia baru mengetahui semuanya.
"Iya benar Rey, beruntung aku bisa menyelamatkan diriku yang sempat tertangkap oleh mereka dan bisa menyelamatkan kamu dari wanita itu." Samara pun menceritakan tentang semua kejadian di malam itu pada Rayanza.
"Istriku memanglah hebat, aku sampai tidak menyangka. Kalau istriku ini bisa ilmu bela diri," tutur Rayanza yang memuji Samara.
"Kita sarapan dulu, barulah kita pergi ke kantor polisi. Untuk memberikan keterangan kepada polisi," sambung Rayanza yang mengajak Samara sarapan pagi terlebih dahulu. Sebelum mereka berdua pergi ke kantor polisi. Untuk memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, tentang penangkapan Chelsea dan Linda serta Yanto dan Laura.
_____________
__ADS_1
Di dalam rumah sakit.
Chelsea yang baru siuman, ia mengedarkan pandangannya yang sekarang ini berada di dalam kamar rawat inap pasien.
"Alhamdulillah. Bu Chelsea sudah siuman," ucap suster yang baru memeriksa keadaan Chelsea, dan ia melihat Chelsea yang baru siuman.
"Mama saya di mana, sus?" tanya Chelsea yang tidak melihat keberadaan Linda, yang berada di ruang rawatnya.
"Mama Bu Chelsea ada di luar," jawabnya.
"Tolong panggilkan mamaku sus," pinta Chelsea yang ingin bertemu dengan Linda.
"Hmmmz... Sebaiknya Bu Chelsea pulihkan dulu keadaannya, sebelum bertemu dengan mama Bu Chelsea," ujar suster yang tidak mau mempertemukan Chelsea dengan Linda. Karena sekarang ini, Linda berada di penjara.
"Aaawww," jerit Chelsea yang merasakan rasa sakit. Ketika ia berusaha bangun dari tempat tidurnya.
"Jangan dulu bangun Bu," ucap suster yang melihat Chelsea akan bangun dari tempat tidurnya.
"Kenapa dengan perutku sus? Kok seperti baru menjalankan operasi saja?" Chelsea menanyakan tentang kondisinya, yang merasakan rasa sakit di bagian perutnya.
"Sebentar lagi Dokter akan datang, dan menjelaskan kondisi Bu Chelsea," sahutnya.
Dan tidak lama kemudian.
Dokter yang menangani Chelsea pun masuk ke dalam kamar rawatnya, dan memberitahukan kepada Chelsea tentang kondisinya, yang baru saja mengalami luka di bagian perutnya yang ada bekas sayatan operasi Caesar. Sehingga dokter memutuskan mengangkat rahim Chelsea, yang sudah rusak. Karena terkena tendangan yang sangat kuat, yang di lakukan Samara ketika Chelsea dan Linda masuk ke dalam kamar Samara. Untuk menjalankan rencana, yang sudah di rencanakan oleh Linda.
"Apa... rahimku sudah tidak ada?" lirih Chelsea yang kaget. Karena ia baru mengetahui kondisinya, yang sekarang ini tidak memiliki rahim lagi.
"Iya betul Bu, untuk sekarang ini. Sebaiknya Bu Chelsea istirahat, agar Bu Chelsea bisa cepat sembuh. Saya dan suster pergi dulu, " ujar dokter yang berpamitan pergi kepada Chelsea. Setelah memberitahukan tentang kondisi Chelsea.
"Huhu, kenapa semua ini terjadi padaku?" Chelsea meratapi nasibnya, yang sudah tidak memiliki rahim.
Dalam kesedihannya itu. Chelsea jadi teringat dengan ucapan ibu-ibu yang ia temui. Ketika ia menghina Samara yang sedang berjualan kue, dan ia juga mengingat ucapan Nayla yang mengatakan hal yang sama seperti yang ibu-ibu itu katakan.
"Kamu tidak akan pernah bahagia. Jika merebut kebahagiaan orang lain,'' ucapan dari mereka semua membuat Chelsea semakin merasa bersalah pada Samara.
"Maafkan aku Samara, musibah yang terjadi padaku saat ini adalah perbuatanku sendiri, yang merusak kebahagiaanmu. Aku telah merusak pernikahanmu dengan Arsyaka, dan sekarang ini aku juga kembali merusak kebahagiaan Samara yang tengah berbahagia menikah dengan Rayanza. Karena aku dan mamaku berencana merusak kebahagiaan Samara, dan musibah ini terjadi. Mungkin ini sebuah balasan atas perbuatanku, yang menyakiti hati Samara berkali-kali. Maafkan aku Samara," renungan hati Chelsea yang merasa bersalah kepada Samara, dan ia menyesali perbuatannya yang merusak kebahagiaan Samara.
__ADS_1
"Andai aku bisa meminta maaf dengan Samara secara langsung, aku akan mengakui semua kesalahanku kepadanya. Aku juga akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku," sambungnya sambil menitikkan air mata penyesalan.
Saat Chelsea tengah bersedih, datanglah orang yang masuk ke dalam kamar rawat Chelsea.