
POV Arsyaka.
Aku segera pergi meninggalkan Chelsea yang masih berada di dalam kamar. Karena aku harus menemui tamu yang ingin bertemu denganku, entah itu siapa? Aku pun tidak tahu itu, yang pasti gara-gara kedatangannya, membuat aku segera mengakhiri aktivitasku bersama Chelsea.
Saat kakiku akan melangkah menuju ruang tamu, aku mendengar suara tangisan ibu di dalam ruang tamu. Aku pun bergegas pergi menghampiri ibu, yang kemungkinan sedang bersama tamu yang datang ke rumahku.
"Kenapa di rumah ada polisi dan juga Rayanza? Apa jangan-jangan! Samara bisa mengetahui perselingkuhan ku dengan Chelsea, itu semua karena ulah Rayanza. Sehingga Samara mencari sertifikat surat rumah ini, yang dulu aku taruh di dalam tas kerjaku. Dan pasti Rayanza yang telah membantu Samara, dalam merubah data ke pemilikan sertifikat surat rumahku. Awas kau Rayanza, aku akan membalasmu," gerutuku yang kesal melihat kedatangan Rayanza.
Aku yang sudah berada di dalam ruang tamu, tidak jadi menghampiri ibuku yang sedang menangis. Tapi mataku ini, menatap tajam ke arah Rayanza.
"Selamat siang pak Arsyaka," sapa pak polisi yang mengarahkan tangannya ke arahku.
Aku pun menganggukkan kepala sambil tersenyum menanggapi sapaan pak polisi kepadaku, dan segera menjabat tangannya pak polisi. Tapi saat tangan Rayanza yang ingin berjabat tangan denganku, langsung aku tepis tangannya.
"Mau apa kamu ke rumahku?" ucapku yang bertanya kepada Rayanza.
"Kamu mau ibumu yang menjelaskannya. Apa pak polisi yang menjelaskannya?" Rayanza malah melemparkan pertanyaan itu kepadaku.
"Ibu kenapa menangis?" bisik ku pelan di telinga ibu. Saat aku pergi menghampiri ibuku, yang masih menangis di depan pak polisi dan juga Rayanza.
"Huhu...." Ibu malah semakin kencang saja menangisnya, dan tidak menjawab pertanyaanku.
"Apa mungkin kedatangan pak polisi bersama Rayanza. Karena polisi menemukan keberadaan Siska dalam keadaan...
Entahlah," batinku yang tidak mampu menjelaskannya, aku jadi takut terjadi sesuatu pada Siska adikku.
Saat aku akan bertanya kepada pak polisi. Bi Mirna pembantuku datang membawa minuman.
"Silahkan di minum pak," ucapnya menawarkan minuman yang ia bawa, dan setelah selesai menaruh minuman di atas meja. Bi Mirna langsung pergi ke dapur.
"Pak polisi, ada apa datang menemuiku?" tanyaku penasaran. Karena ibu masih saja menangis, maka dari itu aku memilih menanyakan itu semua kepada pak polisi yang datang ke rumahku.
__ADS_1
"Begini pak Arsyaka, saya mendapatkan surat penangkapan atas nama saudara Siska Anggraini," jawaban dari pak polisi membuat aku kaget.
Aku kira pak polisi datang ke rumahku, mau memberitahukan tentang kabar Siska adikku yang berhasil di temukan oleh polisi. Tapi ternyata dugaanku salah, aku pun segera menanyakan tentang permasalahan Siska yang sampai mendapatkan surat penangkapan dari polisi.
"Kenapa bapak mau menangkap adik saya? Sedangkan sudah beberapa hari terakhir ini, adik saya belum pulang ke rumah," tanyaku lagi kepada pak polisi.
"Adik kamu itu bersekongkol dengan kekasihnya, mereka berdua berniat mau menculik dan mencelakai Samara. Apalagi semua bukti dari rekaman cctv sudah terlihat sangat jelas sekali, kalau adikmu itu...."
"Diam kamu!" teriak ibu yang memotong ucapan Rayanza yang sedang menjawab pertanyaanku.
"Tenang Bu," aku yang berada di dekat ibu, mencoba menenangkan ibu. Jangan sampai ibu tersulut emosi di depan pak polisi.
"Pak, ini pasti tidak benarkan? Adik saya itu perempuan baik-baik, tidak mungkin dia melakukan hal yang di katakan oleh dia," ucapku sambil menunjuk ke arah Rayanza, dan berusaha membela Siska adikku.
"Ini surat penangkapannya," pak polisi memberikan surat penangkapan Siska kepadaku.
"Kami dari pihak kepolisian, mau menangkap saudara Siska Anggraini. Cepat geledah rumah ini," perintah pak polisi pada rekannya.
"Pak, di rumah ini tidak ada Siska adikku," jelasku pada pak polisi yang mau menggeledah rumahku. Untuk mencari keberadaan Siska adikku di dalam rumahku ini.
"Apakah benar Siska melakukan itu Bu?" tanyaku pada ibu, berharap yang di katakan oleh Rayanza dan polisi itu tidak benar.
Ibu menjawab pertanyaan dariku dengan menggelengkan kepalanya, mungkin saja ibu juga tidak mengetahui perbuatan Siska.
"Mas kenapa di rumah ini ada polisi? Dan itu bukannya teman mantan istrimu?" tanya Chelsea yang sudah ke luar kamar, dan ia pergi menghampiriku yang duduk di dekat ibu.
"Mereka semua datang ke sini mau mencari Siska," jawabku pelan.
"Kenapa mencari Siska di dalam rumah ini, bukannya Siska sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah?" tanyanya lagi.
"Nanti saja, Mas menjelaskannya," sahutku. Chelsea pun kini tidak lagi menanyakan tentang kedatangan polisi dan juga Rayanza.
__ADS_1
"Tidak ada saudara Siska Anggraini di rumah ini pak," ucap pak polisi yang memberikan laporan kepada rekannya. Karena mereka semua sudah selesai menggeledah seisi rumahku.
"Kami harap, bapak dan ibu mau memberitahukan keberadaan saudara Siska Anggraini. Jangan coba-coba menyembunyikannya," pak polisi menatap ke arahku dan juga ibuku.
"Aku sudah menjelaskan semuanya pak. Kalau aku juga tidak tahu di mana adikku berada, karena dia belum pulang ke rumah sudah beberapa hari ini," jelasku pada pak polisi.
"Kalau begitu, kami semua akan pergi mencari saudara Siska Anggraini untuk menangkapnya," pamit pak polisi yang akan pergi meninggalkan rumahku.
Saat mereka semua sudah pergi meninggalkan rumahku, aku yang akan menanyakan itu semua kepada ibu. Tapi Chelsea yang lebih dulu menanyakan itu semuanya padaku.
"Mas kenapa polisi malah mau menangkap Siska? Emangnya apa yang di perbuat oleh Siska? Apa Siska menjadi pengedar narkoba?" cerca Chelsea yang bertanya kepadaku.
"Kamu jangan menuduh putriku seperti itu," ucap ibu menatap tajam ke arah Chelsea.
"Bu. Jangan marah-marah sama Chelsea, dia lagi mengandung anakku. Aku juga mau bertanya kepada ibu, kenapa Siska bisa melakukan itu semuanya Bu?" tanyaku pada ibu.
"Ibu juga tidak tahu, adikmu juga tidak ada menghubungi ibu lagi. Saat ibu memberitahukan pada Siska tentang kelakuan mantan istrimu, yang telah mengambil lahan perkebunan. Ini semuanya gara-gara mantan istrimu, aku harus kehilangan putriku," jawab ibu yang meluapkan kekesalannya pada Samara mantan istriku.
"Aku membenci mantan istrimu itu," lanjut ibu yang geram pada Samara.
"Mas apa yang di lakukan oleh adikmu itu?" bisik Chelsea di telingaku. Aku tahu dia pasti sangat penasaran dengan apa yang di perbuat oleh Siska. Tapi aku tidak mau mengatakannya terlebih dahulu, karena rasanya aku tidak yakin. Kalau Siska adikku melakukan itu semuanya sendirian.
Oh iya! Aku baru ingat sekarang. Saat aku dan ibu datang menghampiri Rayanza dan Nayla yang berada di parkiran kantor polisi. Rayanza menanyakan tentang nama Glen padaku dan juga ibu.
Aku harus menanyakan kepada ibu tentang nama kekasihnya Siska.
"Siapa nama kekasihnya Siska Bu?"
Ibu diam tidak mau menjawab pertanyaanku.
"Apakah orang yang bernama Glenn itu adalah kekasihnya Siska, Bu?" tanyaku lagi. Karena aku penasaran dengan nama kekasihnya Siska, yang kemungkinan besar telah menyuruh Siska melakukan itu semuanya.
__ADS_1
"Iya benar, dia adalah kekasihnya Siska. Makanya saat Rayanza menanyakan tentang nama Glen, ibu tidak jadi memberikan laporan kehilangan Siska pada polisi. Karena ibu takut polisi akan pergi mencari Siska, dan ternyata dugaan ibu itu benar," jawab ibu menjelaskan padaku.
Jadi Siska melakukan itu semuanya bersama dengan kekasihnya. Dan pasti saat ini, Siska sedang bersama Glen kekasihnya.