
POV Arsyaka.
Aku kaget mendengar ucapan Chelsea, yang mengajak pergi ke rumahku. Apa lagi keadaan di dalam rumah sekarang ini, sedang tidak baik-baik saja. Karena Samara terus meminta uang mobilnya, yang sudah aku jual. Tanpaku beritahu terlebih dahulu kepadanya.
Aku juga belum siap, jika Samara mengetahui hubunganku dengan Chelsea. Karena bagaimanapun juga dia masih istriku, dan aku tidak mau sampai Samara mengetahui semuanya. Karena aku tidak mau kehilangan Chelsea, dia adalah wanita yang sekarang ini berada di dalam hatiku.
"Mas! Kenapa melamun. Ayo kita pergi ke rumahmu Mas," ucapan Chelsea menyadarkan aku, yang sedang melamun memikirkan cara agar Chelsea tidak mau pergi ke rumahku.
"Katanya tadi kamu mau beli mobil baru. Ayo kita pergi ke showroom mobil saja, jangan pergi ke rumahku." aku berusaha mengalihkan ucapan Chelsea, yang ingin pergi ke rumahku.
Chelsea melipatkan kedua tangan di dadanya, dan menatap tajam ke arahku. "Mas, mau mengajak aku pergi ke showroom mobil! Terus Mas mau bayar pake apa? Uang Mas kan tertinggal di dalam rumahmu Mas,"
Oh ternyata itu, yang di maksud Chelsea. Aku pun menghembuskan nafas lega. Karena sudah salah mengartikan ucapan Chelsea.
"Mas pergi ambil dompet dulu ya. Kamu tunggu saja di sini," aku pun pamit pulang kepada Chelsea. Karena mau mengambil dompet yang tertinggal di dalam kamarku.
"Mas," Chelsea memanggilku, sambil menarik satu tanganku.
"Ada apa Hanny? Mas cuman sebentar doang kok." aku menatap genit ke arahnya.
"Motor Mas taruh saja disini. Kita pergi ke rumah Mas, menggunakan mobilku. Setelah itu, barulah kita pergi ke showroom mobil." Chelsea masih saja mau ikut pergi ke rumah. Aku benar-benar bingung dengan keadaan seperti ini.
"Mas, sayang. Ayo dong," ucapnya lembut dan terdengar menggoda, sambil mengusap dadaku. Aduh, kalau Chelsea sudah seperti ini, aku hanya bisa pasrah saja.
"Mas tidak usah khawatir, aku hanya mengantar Mas pulang mengambil dompet saja. Aku juga tidak mau sampai ketahuan oleh......? Tidak perlu aku katakan orangnya, pasti Mas mengerti kan?" bisik Chelsea di telingaku. Aku pun hanya menganggukkan kepalaku, mengikuti apa yang ia katakan.
Ketika akan sampai di depan rumahku. Chelsea memberhentikan mobilnya, tidak jauh dari rumahku.
"Mas, cuman sebentar mengambil dompet. Setelah itu, kita akan menghabiskan malam yang sangat panjang bersama lagi." aku mengecup bibirnya sebelum pergi meninggalkannya.
"Sudah Mas, nanti saja." Chelsea malah menghentikan ciuman itu. Padahal aku masih ingin menikmatinya.
"Mas cepat turun. Jangan buat aku terlalu lama menunggu lagi ya," lanjutnya sambil mencium pipiku.
"Iya. Hanny," aku segera membukakan pintu mobil, dan berlari masuk ke dalam rumah. Untuk mengambil dompet, yang tertinggal di dalam kamar.
__ADS_1
Tapi saat aku akan melangkah pergi masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba saja Samara memanggilku.
"Mas!" pasti Samara memanggilku. Karena ia mau meminta uang mobilnya lagi kepadaku.
Aku pun berbalik menghadap ke arahnya, dan tersenyum pada Samara istriku.
"Iya, ada apa sayang?" tanyaku lembut. Agar Samara tidak meminta uang mobilnya lagi.
"Mas sudah makan belum?" tanyanya kepadaku.
"Belum. Mas mau masuk ke dalam kamar dulu yah, ada sesuatu yang tadi Mas lupa bawa." aku langsung segera pergi masuk ke dalam kamar, tanpa menunggu jawaban dari Samara.
Sesampainya di dalam kamar, aku segera mengambil dompet dan sebuah berkas di dalam tas kerjaku. Agar Samara percaya, kalau aku lupa membawanya.
Sebelum keluar dari dalam kamar. Aku mengetik pesan kepada Chelsea terlebih dahulu.
[Hanny, maaf kalau Mas terlambat. Pasti kamu mengerti dengan ucapan Mas, tanpa Mas beritahu.]
Aku sengaja mengirimkan pesan itu, tanpa menyebutkan nama Samara. Agar Chelsea tetap mau menunggu kedatanganku. Karena aku tahu, kalau dia tidak suka mendengar ucapanku, yang mengatakan Samara adalah istriku.
[Iya Mas,]
Aku pun segera pergi keluar kamar, dan berharap Samara tidak menungguku. Tapi kenyataannya, dia malah menungguku di ruang tamu.
Aku tahu pasti dia ingin membicarakan tentang uang mobilnya lagi. Sepertinya aku harus memberikan sedikit uang mobilnya, agar dia tidak terus meminta uang mobilnya kepadaku.
Akan tetapi, bukan hanya tentang uang mobilnya saja, yang ingin dia katakan padaku. Masalah Candra dan Kirana, yang aku dan ibu suruh. Untuk melakukan pekerjaan rumah, ternyata kedua anakku itu mengadu kepada Samara.
Tapi bukan namanya Arsyaka Yudha Pratama. Kalau tidak bisa menyangkal semua yang di katakan oleh Samara, dan sampai pada akhirnya. Samara pun percaya dengan ucapanku.
"Mas, ibu menyuruhku untuk bekerja. Bagaimana pendapatmu Mas?" ucapan Samara yang kali ini membuat aku kaget. Karena aku tidak menyangka, kalau ibu akan menyuruh Samara bekerja lagi.
Padahal dulu ibu melarang Samara untuk bekerja, dan aku pun mengikuti perintah ibu, yang menyuruh Samara untuk tidak bekerja lagi. Karena pada saat itu, Samara sedang hamil si kembar. Dan kehamilannya sangat aku dan ibu tunggu, aku juga tidak ingin terjadi sesuatu pada kehamilan Samara. Maka dari itu, aku dan ibu menyuruh Samara untuk berhenti bekerja.
Tapi ada bagusnya juga, jika Samara bekerja lagi. Jadi aku tidak perlu memberikan uang bulanan kepada mertuaku lagi, dan uang bulanan untuk Samara akan aku kurang kan lagi. Agar aku bisa bersenang-senang dengan Chelsea, dan memberikan semua apa yang Chelsea inginkan.
__ADS_1
Aku pun setuju dengan pendapat ibu yang menyuruh Samara bekerja lagi. Asalkan dia tidak mengabaikan ketiga anakku, dan aku tidak mau dia menggunakan bantuan baby sister. Jika Samara mendapatkan pekerjaan di kantor lagi, biarkan dia mencari pekerjaan yang tetap bisa mengurus anak dan rumah ini.
Setelah selesai mengatakan kalau aku setuju. Jika Samara mau bekerja lagi, aku segera pergi menghampiri Chelsea. Pasti dia sedang menunggu kedatanganku, aku tidak mau sampai Chelsea menungguku terlalu lama.
"Maaf, Hanny." aku langsung minta maaf kepada Chelsea, sambil mencium tangannya beberapa kali. Karena telah membuatnya, menungguku terlalu lama.
"Tidak apa-apa Mas, yuk kita pergi sekarang." Chelsea tidak marah kepadaku. Aku pun segera pergi menuju showroom mobil. Untuk memberikan Chelsea mobil baru, dan dia pasti akan semakin mencintaiku.
Sesampainya di showroom mobil.
Aku menemani Chelsea memilih mobil sesuai dengan keinginannya.
"Mas aku mau mobil yang ini yah?" Chelsea memilih mobil Honda jazz berwarna merah, sangat cocok untuk wanita secantik dirinya.
"Iya, Hanny. Apa pun yang kamu mau Mas setuju, yuk kita bayar dulu." aku mengajak Chelsea, membayar mobil baru yang dia inginkan.
"Mas, nanti Mas bilang saja. Sama...? Dia, kalau Mas mengambil mobil secara kredit yah." Chelsea kenapa menyuruhku? Untuk bilang kepada Samara, toh mobil baru itu aku beli secara cash untuk dirinya.
"Tidak usah bilanglah Hanny, ini itukan mobil buat kamu. Kalau Mas bilang, nanti dia ingin melihat mobil baru itu. Jadi tidak usah yah," ucapku yang tidak mau bilang semua itu kepada Samara.
"Mas bilang saja. Karena dengan begitu...! Dia akan menerima uang bulanan dari Mas, berapa pun itu," yang di katakan oleh Chelsea ada benarnya juga.
"Dan sekarang ini, lebih baik Mas jual saja mobil lama itu. Mas ganti dengan mobil baru, jadi dia akan percaya," lanjut Chelsea.
Aku pun setuju dengan pendapatnya, dan aku segera mengirimkan pesan teks kepada Samara. Memberitahukan kepadanya, kalau aku mengambil mobil secara kredit. Dan mengirimkan uang mobilnya sebesar lima juta, agar dia bisa menggunakan dengan baik uang itu. Karena aku setiap bulannya, tidak akan memberikan uang bulanan seperti biasanya lagi.
Aku dan Chelsea segera pergi dari showroom mobil, setelah membayar mobil baru Chelsea secara cash. Aku akan mengajak Chelsea bermalam di hotel, sebelum aku pulang ke rumah.
Akan tetapi saat perjalanan aku dan Chelsea, yang akan pergi ke hotel. Siska adikku melihat aku dan Chelsea, saat di lampu merah. Dan ia malah mengikuti mobilku, sampai ia memberhentikan mobil yang sedang aku kendarai.
"Kak, siapa wanita yang bersama dengan kakak?" tanya Siska yang datang menghampiriku di dalam mobil.
"Ini teman kakak dek, yang mau mengajak kakak berbisnis." aku berharap Siska percaya dengan ucapanku.
"Aku tidak percaya itu," sahutnya sambil tersenyum miring ke arahku.
__ADS_1
Waduh, gawat Siska malah tidak percaya dengan ucapanku.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, kakak mau mengantarkan teman kakak pulang." aku segera melajukan mobil yang aku kendarai. Menghindar dari pertanyaan Siska, dan semoga saja dia percaya dengan ucapanku.