Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 74 Kekhawatiran Samara


__ADS_3

"Assalamualaikum. Bu Laela bolehkah saya meminta nomor telepon satpam sekolah?" pinta Samara pada Bu Laela guru sekolah anaknya. Ketika Bu Laela menerima panggilan telepon dari Samara.


"Waalaikumsalam. Bisa Bu, tapi kalau saya boleh tahu? Ada masalah apa Bu Samara sama satpam di sekolah?" jawab Bu Laela sambil bertanya balik pada Samara. Karena Samara langsung meminta nomor telepon satpam sekolah, tanpa menjelaskan tujuannya terlebih dahulu.


"Begini Bu, saya mau melihat rekaman cctv yang ada di sekitar sekolah. Karena anak-anak saya belum pulang ke rumah..." Samara pun mulai menceritakan pada Bu Laela, tentang perkataan dari Iwan yang melihat ketiga anaknya yang naik mobil seseorang.


"Oh begitu, ya sudah saya akan kirimkan nomor telepon satpam sekolah. Semoga saja Candra dan Kirana serta Arsya tidak di culik," ucap Bu Laela sambil mengakhiri panggilan telepon dari Samara.


Degh! Detak jantung Samara berdetak kencang. Saat Bu Laela mengatakan, kata penculikan. Ia menjadi khawatir dan takut terjadi sesuatu pada ketiga anaknya.


"Semoga ketiga anakku, tidak di culik." Samara membatin dengan raut wajah yang panik dan juga ketakutan.


"Kamu kenapa Ra? Apakah guru ketiga anakmu tidak memberikan nomor telepon satpam sekolah?" tanya Rayanza yang melihat raut wajah Samara, yang menjadi pucat dan seperti orang yang ketakutan.


"A... aku sudah menerima nomer telepon satpam sekolah," sahut Samara yang baru saja mendapatkan notifikasi pesan dari Bu Laela, yang mengirimkan nomor telepon satpam sekolah. Ia tidak menceritakan kepada Rayanza, tentang kepanikannya yang takut ketiga anaknya di culik.


"Ya sudah kamu cepat hubungi satpam sekolah." Rayanza segera menyuruh Samara. Untuk menghubungi nomor telepon satpam sekolah.


"Baiklah," balas Samara. Ia pun segera menghubungi nomor telepon satpam sekolah, dan menunggu satpam sekolah menerima panggilan telepon darinya.


Samara yang sudah beberapa kali menghubungi nomor telepon satpam sekolah, tapi panggilan telepon darinya tidak di jawab oleh pak satpam.


"Pak satpamnya tidak menerima panggilan telepon dariku, Ray. Bagaimana ini?" Samara memberitahukan pada Rayanza, tentang satpam sekolah yang tidak menerima panggilan telepon darinya.


"Kamu kirim pesan terlebih dahulu, mungkin saja. Pak satpam tidak mau menerima panggilan telepon dari orang yang tidak ia kenal," ucap Rayanza yang memberi saran pada Samara.

__ADS_1


Samara pun mengikuti saran dari Rayanza, ia segera mengirimkan pesan pada pak satpam.


[Pak satpam, ini saya Samara orang tua dari Candra dan Kirana serta Arsya, yang tadi siang bapak memberikan informasi tentang ketiga anak saya yang sudah pulang dari sekolah, tapi mereka berdua sampai sekarang ini belum pulang ke rumah. Saya mau melihat rekaman cctv yang ada di sekitar sekolah. Karena penuturan dari Iwan temannya anak saya, dia melihat anak saya naik mobil seseorang.]


Samara menunggu balasan pesan dari pak satpam, dan berharap pak satpam bisa datang ke sekolah. Agar ia dan Rayanza bisa melihat rekaman cctv, dan mengetahui ketiga anaknya yang pergi bersama seseorang.


Beberapa menit kemudian.


Samara belum menerima balasan pesan dari pak satpam, dan pesan itu hanya di baca tanpa di balas oleh pak satpam. Samara juga berusaha menghubungi pak satpam, tapi lagi-lagi panggilan telepon darinya tidak di angkat oleh pak satpam.


"Bagaimana Ra? Apakah pak satpam akan segera datang ke sini?" tanya Rayanza lagi.


Samara menggelengkan kepalanya, pertanda ia tidak tahu dan bingung. Karena pak satpam tidak menerima panggilan telepon darinya, dan tidak membalas pesan yang sudah Samara kirim.


"Coba kamu hubungi guru anakmu lagi saja, Ra. Dan meminta pada Bu guru. Untuk menghubungi satpam sekolah, mungkin saja. Kalau Bu guru yang menghubunginya, akan cepat di terima panggilan teleponnya." Rayanza yang paham dengan sikap Samara, ia kembali memberi saran pada Samara. Agar Samara menghubungi nomor telepon Bu Laela.


"Halo Bu, ada apa lagi? Apakah Candra dan Kirana serta Arsya sudah di temukan?" Bu Laela langsung bertanya pada Samara. Saat Samara menghubunginya lagi.


"Begini Bu Laela, pak satpam tidak menjawab panggilan telepon dari saya. Bahkan pesan dari saya hanya di baca tanpa di balas, jadi saya mau minta tolong lagi sama Bu Laela. Untuk menghubungi pak satpam, dan menyuruhnya datang ke sekolah. Karena saya menunggu kedatangannya, untuk melihat rekaman cctv di sekitar sekolah. Agar saya bisa mengetahui, siapa orang yang telah mengajak anak saya pergi," jawab Samara menjelaskan pada Bu Laela.


"Oh, baiklah Bu. Saya akan menghubungi pak satpam," sahut Bu Laela.


"Terima kasih Bu, maaf kalau saya mengganggu waktu Bu Laela," ujar Samara.


"Iya, tidak apa-apa Bu. Saya tidak merasa terganggu, kalau begitu saya matikan panggilan teleponnya, yah Bu." Bu Laela segera mengakhiri panggilan telepon dari Samara. Sebab ia mau menghubungi pak Ujang, yang merupakan satpam yang berkerja di sekolah.

__ADS_1


Saat Bu Laela menghubungi nomor telepon satpam sekolah, yang bernama pak Ujang. Panggilan telepon dari Bu Laela langsung di angkat oleh pak Ujang .


"Pak, kenapa tadi tidak menjawab dan membalas pesan dari orang tuanya Candra?" tanya Bu Laela yang kesal dengan pak Ujang. Karena tidak menerima panggilan telepon dari Samara, dan ia juga tidak membalas pesan dari Samara.


"Maaf Bu Laela, tadi itu saya lagi buang air besar. Jadi tidak sempat menerima panggilan telepon dari bundanya Candra, dan ketika saya mau membalas pesan dari bundanya Candra. Saya lagi-lagi mau buang air besar," jawab pak Ujang menjelaskan pada Bu Laela, penyebab dirinya yang tidak bisa menerima panggilan telepon, dan juga tidak bisa membalas pesan dari Samara.


"Oh gitu, ya sudah kamu sekarang cepat pergi ke sekolah. Karena orang tuanya Candra sedang menunggumu di sana," ucap Bu Laela yang menyuruh pak Ujang. Untuk segera pergi menemui Samara dan Rayanza yang berada di sekolah.


"Baiklah Bu, saya akan segera pergi ke sana," balas pak Ujang.


Ketika panggilan telepon dari Bu Laela sudah selesai. Pak Ujang memutuskan membalas pesan dari Samara, sebelum dirinya pergi ke sekolah.


[Maaf Bu, saya baru membalas pesan dari ibu. Tidak lama lagi saya akan sampai di sekolah.]


Pak Ujang yang sudah selesai mengirimkan pesan pada Samara, ia bergegas pergi menuju sekolah.


"Pak buru-buru banget, mau pergi ke mana?" tanya Rukoyah istri pak Ujang, yang melihat suaminya akan pergi ke luar.


"Bapak mau pergi ke sekolah," sahutnya sambil melangkah pergi menuju motornya.


"Bukannya, jam segini anak-anak sudah pada pulang dari sekolah, pak. Kenapa bapak mau pergi ke sana lagi? Terus ini obat diarenya tidak di minum dulu, pak?" tanya Rukoyah sambil memperlihatkan obat diare pada suaminya yang akan pergi ke sekolah.


"Ada urusan sebentar di sekolah, sini Bu obat diarenya." Ujang menyuruh istrinya memberikan obat diare kepadanya.


"Iya pak, ibu ambilkan minumannya dulu," timpal Rukoyah sambil pergi mengambil minuman untuk suaminya, yang akan meminum obat diare. Karena semenjak pulang dari sekolah, suaminya bulak balik buang air besar terus.

__ADS_1


"Ini pak, minumannya." Rukoyah memberikan minuman dan obat diare pada suaminya.


Pak Ujang pun menerima obat dan minuman dari istrinya. Agar ia bisa cepat sembuh, dan tidak sering buang air besar. Setelah selesai meminum obat diare, pak Ujang segera pergi menghampiri Samara dan Rayanza yang menunggu kedatangannya di sekolah.


__ADS_2