Khianat Cinta

Khianat Cinta
bab 95 Memberitahukan yang sebenarnya


__ADS_3

"Maaf Om, Tante." Samara hanya mampu mengatakan kata maaf, sambil menundukkan kepalanya.


"Yang di katakan oleh Om Haidar memanglah benar. Rayanza terluka seperti ini, semuanya gara-gara dia mau menolongku dan ketiga anakku," sambung Samara dalam hatinya.


"Pah, ini semua bukan salah Samara," ucap Rahayu yang membela Samara.


"Mama jangan membela dia, lihatlah sekarang ini. Rayanza terluka pasti semua itu gara-gara dia yang..."


"Papa..." Rahayu segera menyela ucapan suaminya, yang ingin melampiaskan kekesalannya pada Samara.


Ketiga anaknya Samara yang melihat itu, mereka bertiga memeluk Samara.


"Jangan marah-marah di depan anak-anak, pah. Lihat tuh, mereka bertiga mulai ketakutan," lanjut Rahayu sambil menunjuk ke arah anaknya Samara.


________


Di dalam kamar rawat Rayanza.


Rayanza dan Raden yang mendengar suara keributan di luar kamar rawat Rayanza, mereka berdua saling lirik.


"Kamu dengar suara keributan di luar kamar?" tanya Rayanza pelan pada Raden.


"Iya aku mendengarnya, Ray. Aku pergi ke luar kamar dulu sebentar,'' jawab Raden yang berpamitan pergi pada Rayanza. Karena ia mau keluar kamar. Untuk melihat orang yang tengah ribut di luar kamar rawat Rayanza.


"Iya," balasnya.


Raden segera bangun dari tempat duduknya, untuk membukakan pintu kamar Rayanza. Akan tetapi, saat Raden membuka pintu kamar, ia melihat kedatangan Haidar dan Rahayu. Raden juga melihat Samara dan ketiga anaknya, yang baru datang ke kamar rawat Rayanza. Setelah Samara dan ketiga anaknya pergi ke kantin.


"Om dan Tante ternyata sudah datang ke sini," ucap Raden yang  menyalami kedua orang tuanya Rayanza.


"Bagaimana keadaan anakku?" tanya Haidar, sambil memicingkan matanya ke arah Samara dengan penuh kebencian.


"Rayanza tidak mengalami luka yang serius, Om. Yuk kita masuk ke dalam," jawab Raden yang mempersilahkan mereka semua. Untuk masuk ke dalam kamar rawat Rayanza.


"Syukurlah. Kalau Rayanza tidak mengalami luka yang serius, tapi kalau sampai ada luka yang serius! Orang pertama yang akan aku salahkan adalah..."

__ADS_1


"Ayo pah, kita masuk ke dalam kamar." Rahayu lagi-lagi menyela ucapan suaminya, dan mengajaknya masuk ke dalam kamar rawat Rayanza.


Raden yang melihat Samara dan ketiga anaknya tidak ikut masuk ke dalam kamar bersama kedua orang tuanya Rayanza, ia pun segera menanyakan tentang itu pada Samara.


"Kenapa kamu masih berdiam diri di sini, Ra? Ayo masuk ke dalam,"


"Aku dan anak-anak di sini saja," sahut Samara yang menolak ajakan dari Raden.


"Kamu masuk aja ke dalam kamar, Ra. Aku akan menemani ketiga anakmu di sini." Raden tetap menyuruh Samara untuk masuk ke dalam kamar.


"Tapi..."


"Sudah kamu cepat masuk ke dalam kamar, tadi Rayanza terus menanyakan kamu dan ketiga anakmu. Tapi sebaiknya kamu saja yang masuk ke dalam kamar, biar anak-anakmu bersamaku di sini," ujar Raden yang memotong ucapan Samara.


Samara yang mendengar itu, ia pun memutuskan masuk ke dalam kamar Rayanza. Meski di dalam kamar Rayanza ada Haidar yang tidak menyukai dirinya.


Saat Samara masuk ke dalam kamar, ia melihat Rayanza tersenyum senang melihat kedatangannya. Sedangkan Haidar masih saja, menatap Samara dengan tatapan tidak suka.


"Bagaimana keadaanmu, Ray? Apakah kepalamu masih sakit?" tanya Samara.


Samara dengan ragu-ragu mendekati Rayanza, yang sedang berada di dekat kedua orang tuanya. Apalagi tatapan Haidar masih menatapnya dengan penuh kebencian.


"Sini Ra," ucap Rahayu sambil melambaikan tangannya. Agar Samara segera mendekat ke arah tempat tidur Rayanza.


Haidar yang melihat Samara sudah mendekati Rayanza, ia membuang nafas secara kasar, dan kembali menatap tajam pada Samara.


Rayanza yang memperhatikan sikap papanya, yang menatap tajam ke arah Samara. Rayanza pun segera menanyakan itu pada papanya.


"Papa kenapa sih? Dari tadi aku memperhatikan tatapan mata papa, yang menatap Samara seperti itu?"


"Papa kesal sama Samara, gara-gara dia kamu jadi terluka seperti ini," jawab Haidar sambil menunjuk ke arah Samara.


"Apakah papa sudah tahu tentang orang yang menculik ketiga anaknya Samara, dan yang membuatku terluka seperti ini?" tanyanya lagi.


"Papa sudah tahu, pasti yang mencelakai kamu adalah para penculik anaknya Samara. Kamu jangan jadi sok jagoan deh, Ray. Lihatlah keadaanmu sekarang ini, yang mengalami luka seperti ini gara-gara...."

__ADS_1


"Cukup pah! Jangan salahkan aku yang mau menolong Samara dan ketiga anaknya, asal papa tahu! Orang yang menculik ketiga anaknya Samara, dan yang membuatku terluka seperti ini, adalah orang yang selalu papa bicarakan padaku. Agar aku mau menikah dengan anaknya," ucap Rayanza yang memotong ucapan papanya, dan memberitahukan tentang para penculik ketiga anaknya Samara.


"Ma... maksud kamu Om Reno, Ray?" tanya Rahayu yang ingin memastikan kebenarannya.


"Iya benar mah," sahut Rayanza yang membenarkan ucapan mamanya.


"Tidak... tidak mungkin Reno melakukan seperti itu, Ray?" Haidar tidak percaya dengan ucapan Rayanza.


"Yang di katakan oleh Rayanza benar, Om. Kalau Om tidak percaya, Om bisa pergi ke kantor polisi. Karena Om Reno dan anak istrinya sudah di tangkap oleh polisi," timpal Samara yang ikut membenarkan ucapan Rayanza.


"Apa...! Tiya dan Ajeng mamanya pun ikut di penjara?" tanya Haidar lagi. Karena ia tidak menyangka. Kalau Reno dan anak istrinya masuk ke dalam penjara, akibat menculik ketiga anaknya Samara dan mencelakai Rayanza putranya.


"Iya pah. Bahkan yang membuat kepalaku terluka seperti ini, adalah perbuatan Tante Ajeng," jawab Rayanza memberitahukan tentang perbuatan Ajeng, yang telah memukul dirinya. Rayanza pun mulai menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.


Haidar yang mendengar cerita dari Rayanza, ia pun meminta maaf pada Rayanza dan juga Samara. Haidar menyesali perbuatannya, yang memaksa Rayanza untuk menikah dengan Tiya. Sehingga Reno melakukan berbagai cara, agar Tiya bisa menikah dengan Rayanza.


Samara dan Rayanza pun memaafkan Haidar, dan semua masalah yang terjadi sudah bisa mereka selesaikan dengan baik-baik.


"Pah, mah. Rayanza ingin meminta doa dan restu dari papa dan mama. Karena Rayanza mau melamar Samara menjadi istriku," ucap Rayanza yang meminta doa dan restu pada kedua orang tuanya.


Samara yang mendengar ucapan Rayanza, benar-benar kaget dengan apa yang di katakan Rayanza pada kedua orang tuanya.


"Mama dan papa sih, pasti merestui. Tapi bagaimana dengan Samara? Memangnya Samara mau menikah denganmu?" Rahayu melirik ke arah Samara dan Rayanza secara bergantian.


Rayanza yang mendengar ucapan mamanya, secara refleks menepuk pelan kepalanya yang masih sakit.


"Aduh sakit."


"Kamu kenapa sih, Ray? Malah pukul kepala kamu yang masih sakit segala? Apa jangan-jangan! Kamu meminta restu sama mama dan papa. Tapi kamu belum mengungkapkan perasaan kamu dengan Samara?" cerca Rahayu pada Rayanza.


Rayanza menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum malu-malu. Karena ia sampai lupa memberitahukan pada Samara, tentang dirinya yang akan melamar Samara menjadi istrinya. Meski Samara sudah mengetahui tentang perasaan cintanya. Saat Rayanza mengungkapkan rasa cintanya pada Samara, di depan orang-orang yang menculik ketiga anaknya Samara.


"Papa merestui hubungan kalian berdua, yuk mah kita pergi dari sini. Biarkan Rayanza dan Samara berbicara empat mata di sini," ajak Haidar pada Rahayu istrinya. Untuk pergi dari dalam kamar rawat Rayanza.


Setelah kepergian Haidar dan Rahayu dari dalam kamar. Rayanza memegang tangannya Samara, yang berada di dekatnya.

__ADS_1


"Samara, kamu pasti sudah mengetahui perasaan cintaku padamu. Sejujurnya, sudah dari jaman kuliah aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa mengungkapkan perasaan ini. Karena saat itu, kamu dan Arsyaka sudah berpacaran dan akan menikah. Tapi sekarang ini, aku berani mengungkapkan perasaanku selama ini. Dan aku berharap, kamu mau menerimaku menjadi pendamping hidupmu," ucap Rayanza yang mengungkapkan perasaan cintanya pada Samara, dan ia berharap Samara mau menerima dirinya sebagai pasangan hidupnya.


__ADS_2