
"Jadi lelaki yang ada di dalam rekaman cctv itu, adalah orang suruhannya Mas Syaka,'' lirih Samara dengan penuh rasa yakin. Karena ia mendapatkan bukti handphone milik Arsyaka, yang berhasil polisi temukan di dalam mobil lelaki itu.
"Iya bisa jadi, Bu." sahut Arga selaku polisi yang bertugas menyelidiki kasus penculikan ketiga anaknya Samara.
"Kalau begitu, cepat tangkap mantan menantuku itu, pak." Anton yang geram dengan perbuatannya Arsyaka, menyuruh Arga untuk segera menangkap Arsyaka.
"Saya pasti akan menindak lanjuti kasus penculikan ini, pak. Meski ketiga anaknya Bu Samara pergi dengan ayahnya, tapi kalau boleh saya tahu! Apakah sebelum terjadi kasus penculikan ini. Pak Arsyaka sempat meminta ijin terlebih dahulu kepada Bu Samara, tapi Bu Samara tidak mengijinkannya?" tanya Arga pada Samara.
"Semenjak saya bercerai dengan mantan suami saya, dia tidak pernah menjenguk ketiga anaknya. Tapi kalau dia mau bertemu dengan ketiga anaknya, pasti saya akan memberikan ijin. Akan tetapi untuk sekarang ini. Dia tidak ijin terlebih dahulu kepada saya, pak." Samara menjawab pertanyaan dari Arga, dan menceritakan tentang apa yang di lakukan oleh Arsyaka mantan suaminya. Semenjak Samara dan Arsyaka bercerai.
"Ya meskipun pak Arsyaka adalah ayah dari ketiga anaknya Bu Samara, dan ini sudah termasuk dalam kasus penculikan. Akan tetapi masalah ini, masih bisa di bicarakan dengan secara kekeluargaan, dengan catatan! Bu Samara dan mantan suami ibu, bisa bertemu dan berbicara dengan baik-baik,'' ujar Arga.
"Bagaimana mau di bicarakan secara kekeluargaan? Saya tidak tahu tempat tinggal mantan menantuku itu, lebih baik pak polisi tangkap saja mantan menantuku itu," sahut Anton yang menyuruh Arga menangkap Arsyaka, yang telah menculik ketiga cucunya.
"Yang di katakan oleh bapak saya benar, pak. Saya juga tidak tahu, tempat tinggal mantan suami saya. Sekarang ini pak," timpal Samara yang membenarkan ucapan bapaknya.
"Ibu dan bapak tidak perlu khawatir tentang masalah tersebut, saya sudah berhasil menemukan tempat tinggal mantan suaminya Bu Samara. Untuk lebih jelasnya, lebih baik sekarang ini kita pergi ke rumahnya." Arga mengajak Samara dan Anton pergi meninggalkan kantor polisi. Karena ia akan mengajak mereka berdua ke rumah Arsyaka.
Samara dan bapaknya mengikuti mobil polisi yang berada di depan. Karena mereka berdua pergi mengikuti mobil polisi dengan menggunakan motor.
Ketika Samara dan bapaknya serta para polisi sudah sampai, polisi segera mengetuk pintu rumahnya.
Tok-tok
__ADS_1
Tidak lama kemudian.
Pintu rumah terbuka, dan keluarlah sang pemilik rumah yang kaget melihat kedatangan para polisi yang datang ke rumahnya.
"Selamat siang Bu," ucap Arga pada Linda yang telah membukakan pintu rumahnya.
"A... ada apa? Pak polisi dan dia datang ke rumah saya?" tanya Linda sambil menunjuk ke arah Samara.
"Kami dari pihak kepolisian mau bertemu dengan pak Arsyaka Yudha Pratama," jawab Arga.
"Dia sudah tidak tinggal di rumah ini lagi. Karena dia dan anak saya sudah bercerai," sahut Linda yang memberitahukan yang sebenarnya.
"Kamu jangan bohong!" Samara yang tidak percaya dengan ucapannya Linda, ia segera mendorong tubuh Linda. Karena Samara ingin masuk ke dalam rumahnya Linda, untuk memastikan kebenarannya.
"Aku hanya ingin memastikan ucapanmu saja," balas Samara yang menghiraukan teriakan dari Linda, yang melarangnya masuk ke dalam rumahnya. Karena Samara mau mencari keberadaan ketiga anaknya, di dalam rumah Linda dan Chelsea yang ada di kota Surabaya.
"Pergi kamu dari rumahku." Linda segera menarik tangannya Samara, dan menyuruh Samara ke luar dari dalam rumahnya.
"Aku tidak mau." Samara dengan cepat bisa melepaskan genggaman tangannya, yang di pegang oleh Linda.
"Tenang Bu Samara, di sini ada pihak kepolisian yang akan mengeledah rumah ini," kata Arga yang berusaha menenangkan keributan yang terjadi di rumah ini.
"Aku sudah bilang, kalau di sini tidak ada mantan suamimu," ucap Linda sekali lagi, dengan suara yang agak sedikit keras.
__ADS_1
"Ada apa mah ini, mah?" tanya Chelsea yang keluar dari dalam kamarnya. Karena mendengar suara teriakan dari mamanya, dan ia baru menyadari kalau ada Samara yang masuk ke dalam rumahnya bersama para polisi.
"Di mana kalian berdua menyembunyikan anakku?" tanya Samara pada Chelsea dan Linda, sambil menatap tajam ke arah mata mereka berdua dengan cara bergantian.
"Ngapain sih, kamu cari ketiga anakmu itu di rumahku. Asal kamu tahu! Aku sudah bercerai dengan Arsyaka. Jadi kalau kamu mencari Arsyaka dan ketiga anakmu di rumah ini, sudah bisa di pastikan! Kalau mereka semua itu tidak ada di rumahku," jawab Chelsea sambil melipat kedua tangannya, dan tersenyum miring mendengar pertanyaan dari Samara yang mencari Arsyaka dan ketiga anaknya.
"Mama dari tadi sudah menjelaskan seperti itu, tapi dia tidak percaya." Linda menimpali ucapannya Chelsea.
"Untuk memastikan kebenarannya, saya dari pihak kepolisian mau menggeledah rumah ini Bu," ujar Arga yang meminta ijin. Untuk mengeledah seisi rumah Chelsea.
"Ya silahkan saja, pak." Chelsea mempersilahkan para polisi yang akan mengeledah seisi rumahnya.
"Terima kasih, Bu." Arga mengucapkan rasa terima kasih pada Chelsea, yang memberikannya ijin untuk mengeledah seisi rumahnya. Arga dan para polisi yang lainnya, segera berpencar mencari keberadaan Arsyaka dan ketiga anaknya Samara di dalam rumah Chelsea.
Chelsea dan Linda duduk di ruang tamu. Ketika para polisi sedang menggeledah seisi rumahnya. Samara mendekati Chelsea dan Linda yang sedang duduk di ruang tamu, tanpa mempersilahkan Samara dan bapaknya duduk.
"Kamu jangan sembunyikan ketiga anakku, aku tahu! Kamu dan Arsyaka, pasti menginginkan ketiga anakku. Karena kamu telah kehilangan anakmu, iyakan!" ucap Samara yang mengetahui perihal Chelsea dan Arsyaka, yang kehilangan bayi yang baru di lahirkan oleh Chelsea. Karena saat Samara dan Rayanza serta ketiga anaknya pergi ke rumah sakit, untuk menjenguk Arsyaka. Samara mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit, tentang bayi Arsyaka dan Chelsea yang telah meninggal dunia.
"Ha-ha-ha, kamu menuduh aku menyuruh Arsyaka menculik ketiga anakmu." Chelsea tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Karena ia mendengar ucapan Samara, yang menuduh dirinya menyuruh Arsyaka untuk menculik ketiga anaknya.
"Aku beruntung sekali bisa bercerai dengannya tanpa mempunyai anak. Jadi hal seperti ini tidak akan terjadi padaku. Oh iya, yah! Mungkin saja Arsyaka dan ibunya melakukan penculikan pada ketiga anakmu. Agar dia dan ibunya bisa mendapatkan uang tebusan. Kan secara gitu, yah. Arsyaka dan ibunya sekarang ini, tidak mempunyai tempat tinggal dan juga pekerjaan," sambungnya sambil menyunggingkan senyuman.
Anton yang mendengar ucapan Chelsea kembali mengepalkan tangannya. Karena ia begitu kesal pada Arsyaka, yang melakukan penculikan demi uang. Sedangkan Samara, ia duduk di bangku ruang tamu, meski tanpa di persilahkan duduk oleh Chelsea. Sebab Samara kaget mendengar ucapan Chelsea tentang Arsyaka.
__ADS_1
"Apa... jadi Mas Syaka dan ibunya melakukan aksi penculikan pada ketiga anakku, demi meminta uang tebusan. Tapi rasanya itu tidak mungkin terjadi. Sebab sampai sekarang ini, mereka berdua tidak menghubungiku, untuk meminta uang tebusan. Kalaupun Mas Syaka dan ibunya tidak memiliki pekerjaan dan juga tempat tinggal. Kenapa Mas Syaka bisa menyuruh seorang lelaki untuk menculik anaknya? Uang dari mana dia? Apakah ada seseorang yang membantunya?" batin Samara yang bertanya-tanya tentang aksi Arsyaka yang menculik ketiga anaknya.