Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 106 Menolong Rayanza


__ADS_3

Sementara itu.


Rayanza yang baru saja sadar dari pengaruh obat bius, ia begitu kaget melihat seorang wanita yang berpakaian seksi berada di dekatnya.


"Kamu siapa?" tanyanya pada seorang wanita yang berada di hadapannya.


"Namaku Laura," jawabnya sambil tersenyum manis.


"Aku tidak kenal sama kamu, dan sekarang ini aku di mana?"


"Ssst." Laura menutup mulut Rayanza dengan satu telunjuk tangannya.


"Kamu tidak perlu menanyakan masalah itu, yang harus kamu tahu sekarang ini, tugasku melayani kamu," sambungnya sambil mengusap tubuh Rayanza dengan tangannya.


Rayanza mendorong Laura yang berada di dekatnya, dan ia segera bangun dari tempat tidur dan pergi menuju pintu keluar. Akan tetapi, saat Rayanza akan melangkahkan kakinya pergi ke arah pintu keluar. Tiba-tiba saja reaksi dari obat perangsang mulai ia rasakan, sensasinya begitu membuat Rayanza sulit mengontrol dirinya sendiri.


Laura yang melihat itu, ia segera mendekati Rayanza sambil menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.


"Akhirnya reaksi obatnya mulai dia rasakan," batinnya.


"Ayo tampan, kita bersenang-senang dulu. Sebelum kamu keluar dari sini," ucap Laura yang memeluk Rayanza dari belakang, dan tangannya Laura mengusap-usap di bagian dadanya Rayanza.


Rayanza yang merasakan itu, ia hanya menutupi matanya dan merasakan sentuhan lembut dari tangan Laura. Akan tetapi, beberapa menit kemudian. Rayanza yang sedang menutup matanya, tiba-tiba saja ia teringat dengan Samara yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Samara..." lirih Rayanza yang memanggil nama Samara.


Rayanza segera melepaskan pelukan dari Laura, yang berhasil membuka kancing kemeja yang ia kenakan. Di saat Rayanza menutup matanya.


"Kamu jangan pergi dulu tampan,'' cegah Laura yang berhasil memegang satu tangan Rayanza.


Rayanza tidak menanggapi ucapan dari Laura, ia melepaskan genggaman tangan Laura dan berusaha mengontrol dirinya. Rayanza pun segera pergi menuju pintu kamar hotel.


"Mana kuncinya?" teriak Rayanza yang menanyakan kunci kamar hotel. Ketika ia sudah sampai di depan pintu keluar, tapi tidak bisa di buka pintunya.


"Aku kan sudah memberitahumu. Kalau kamu tidak bisa pergi dari sini, sebelum aku dan kamu bersenang-senang dulu di sini. Ayolah tampan, jangan malu-malu begitu. Aku tahu! Sekarang ini, kamu membutuhkanku sebagai penawarnya. Apalagi bagian itu mu sudah mulai berdiri, kamu tidak akan bisa menahan lebih lama lagi. Karena rasanya itu tidak enak. Jika sampai tidak tersalurkan, ayolah ikut denganku tampan. Aku akan membantumu, dan memberikan pelayanan yang sangat memuaskan," jawab Laura yang sudah tidak sabar ingin membuat Rayanza merasakan sesuatu yang belum pernah Rayanza rasakan.


"Aku tidak sudi, melakukan itu dengan wanita sepertimu. Aku sudah punya istri, sebaiknya kamu cepat berikan kunci pintu kamarnya?" Rayanza mengarahkan tangannya ke arah Laura. Agar Laura memberikan kunci pintu kamar hotel.


Laura tidak menanggapi ucapan Rayanza, ia segera pergi meninggalkan Rayanza dan memperhatikan Rayanza sambil duduk di atas tempat tidur.


"Sebaiknya aku buka saja bajuku ini, pasti dia tidak akan memberontak lagi." Laura pun segera membuka satu persatu pakaian yang ia kenakan.

__ADS_1


"Aku yakin sekali, dia tidak akan bisa bertahan lama merasakan reaksi dari obat perangsang. Hahaha," sambung Laura sambil tertawa. Ketika ia sudah selesai melepaskan pakaian yang ia kenakan.


Rayanza yang melihat itu, ia tetap berusaha mengontrol dirinya, dan menutup matanya dari pemandangan yang di perlihatkan oleh Laura.


"Tidak usah seperti itu tampan, aku bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Ke marilah tampan," ucap Laura yang berusaha menggoda Rayanza.


"Aku harus kuat menahan rasa ini," lirih Rayanza.


Laura yang melihat Rayanza masih berdiam diri di dekat pintu keluar kamar, ia pun memutuskan untuk datang menghampiri Rayanza lagi.


"Sebaiknya aku mendekatinya lagi, pasti dia malu untuk datang menghampiriku," gumamnya dalam hati.


Laura pun segera bangun dari tempat tidurnya, dan datang menghampiri Rayanza. Karena ia akan berusaha menggoda Rayanza. Agar mau berhubungan dengannya.


_______


Di saat Samara sedang mencari keberadaan Rayanza yang ada di salah satu kamar hotel, dan akhirnya ia berhasil menemukan kamarnya. Tapi Samara tidak bisa membuka pintunya.


"Pintu kamarnya di kunci lagi. Seharusnya tadi itu aku meminta kunci cadangan kamar pada resepsionis hotel terlebih dahulu, sebelum aku pergi mencari Rayanza yang ada di dalam kamar ini." Samara berdecak kesal. Karena ia terburu-buru pergi mencari keberadaan Rayanza, sampai melupakan meminta kunci cadangan kamar hotel. Ketika ia berhasil menangkap Linda.


Tok-tok


"Ray, Rayanza..." Samara mengetuk pintu kamar hotel sambil memanggil nama Rayanza.


Laura yang mendengar suara ketukan pintu, iya berusaha menarik tangannya Rayanza ke arah tempat tidur. Agar ketika Samara masuk ke dalam kamar, melihat Rayanza tengah berada di tempat tidur bersamanya.


"Lepaskan!" Rayanza berusaha melepaskan tangannya yang di pegang Laura.


Saat Rayanza bisa melepaskan tangannya. Laura yang tidak kehabisan akal, ia mengangkat satu kakinya. Ketika Rayanza akan melangkahkan kakinya, menuju pintu keluar kamar.


Bruk!


Rayanza terjatuh ke bawah lantai.


"Kita lakukan sekarang. Sebelum istrimu masuk ke dalam," ucap Laura yang berhasil membuat Rayanza jatuh ke bawah lantai.


"Aku tidak mau," jawabnya yang berusaha berdiri. Akan tetapi, reaksi dari obat perangsang membuat ia tidak bisa lagi menahan lebih lama.


"Aaakh," jerit Rayanza yang kesulitan mengontrol dirinya.


"Hahaha, kamu pasti sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. Sini biar aku bantu," ujar Laura yang segera mendekati Rayanza, dan ia memberikan sentuhan lembut di bagian tubuh Rayanza yang terbaring di bawah lantai.

__ADS_1


Brak!


Pintu kamar hotel berhasil Samara buka dengan menyuruh dua orang pelayan hotel, yang ia temukan. Ketika Samara sedang kebingungan mencari cara, untuk menyelamatkan Rayanza dari Laura.


Samara yang melihat Laura berada di atas tubuh Rayanza, ia segera mendekati mereka berdua dan menjambak rambut Laura dengan sangat kuat.


"Aaawww,"


"Berani-beraninya kau menyentuh tubuh suamiku," geram Samara pada Laura.


Plak!


Plak.


Bagh


Bugh


Samara yang sangat kesal, ia meluapkan kekesalannya dengan cara menampar dan memukul Laura.


"Bu sudah Bu," dua orang pelayan hotel berusaha memisahkan Samara yang sedang memberikan pelajaran kepada Laura.


"Samara..." Rayanza pun ikut memanggil nama Samara dengan pelan, berharap Samara bisa meredakan emosinya.


Samara yang mendengar suara Rayanza, ia mendorong tubuh Laura. Sebelum menghampiri Rayanza.


"Ray, kamu tidak di apa-apakan sama wanita itu?" tanya Samara.


"A... aku tidak..."


"Pak cepat bawa wanita itu keluar dari dalam kamar ini," perintah Samara pada dua orang pelayan hotel. Karena Samara bisa mengerti dengan keadaan Rayanza sekarang ini, dan ia juga sangat yakin sekali. Kalau Rayanza dan Laura belum melakukannya, sebab Rayanza masih memakai pakaian yang lengkap. Meski kancing kemeja Rayanza sudah terbuka, dan tidak seperti Laura yang tidak mengenakkan apapun.


"Tapi Bu, dia tidak..."


"Cepat pakai pakaianmu, atau aku permalukan kamu di depan umum." Samara menyela ucapan salah satu dari dua orang pelayan hotel. Karena ia mengetahui maksud ucapannya, yang melihat Laura tidak memakai apapun.


"I... iya," sahutnya yang segera memakai pakaiannya.


Setelah Laura mengenakan pakaiannya, dua orang pelayan hotel segera membawa Laura keluar dari dalam kamar.


"Ray," lirih Samara.

__ADS_1


"Ra, bantu aku," pinta Rayanza pada Samara.


Samara pun menuruti keinginan Rayanza, yang sudah tidak bisa menahan dirinya dari obat perangsang yang ia minum.


__ADS_2