Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 97 Kekhawatiran dan kepanikan


__ADS_3

Samara dan Rayanza serta ketiga anaknya melihat Vina dan Ervan berjalan kaki menghampiri mereka semua, bersama seorang wanita yang tidak asing bagi mereka semua.


"Ternyata calon istrinya Ervan itu dia," batin Rayanza yang sudah mengenal calon istrinya Ervan.


"Tante Samara dan Om Ray serta kalian bertiga, ini dia calon mamaku." Vina segera memperkenalkan calon mama tirinya pada Samara dan Rayanza serta ketiga anaknya. Saat ia dan Ervan serta calon mama tirinya, sudah berada di dekat mereka semua.


"Aku tidak mau berkenalan dengan mama tirimu," ucap Candra yang langsung masuk ke dalam sekolah.


"Iya aku juga," timpal Kirana yang segera mengikuti Candra, yang sudah pergi lebih dulu masuk ke dalam sekolah.


"Candra, Kirana... kalian berdua jangan seperti itu, Nak." Samara memanggil kedua anak kembarnya, yang langsung masuk ke dalam sekolah.


"Biarkan saja, Ra. Namanya juga anak-anak," bisik Rayanza di telinga Samara, yang mengerti dengan sikap Candra dan Kirana.


"Itu Candra dan Kirana kenapa tidak mau berkenalan dengan calon mamaku? Pasti mereka berdua itu iri melihat kebahagiaanku, yang akan mempunyai mama," ucap Vina sambil melipat kedua tangannya dan tersenyum miring.


"Maafkan kelakuan Candra dan Kirana yah, Vin." Samara meminta maaf pada Vina.


Akan tetapi. Arsya yang mendengar ucapan Vina, ia langsung mendorong tubuh Vina. "Kedua kakakku tidak seperti yang kamu katakan!"


"Arsya, kamu jangan seperti itu Nak." Samara segera mendekati Arsya yang mendorong tubuh Vina. Samara juga membantu membangunkan Vina yang terjatuh, akibat di dorong oleh Arsya.


"Aku tidak butuh bantuanmu,'' ucap Vina yang menepis uluran tangan Samara, yang mau menolongnya. Tapi ia menerima uluran tangan dari calon mama tirinya, yang datang menolongnya.


"Apakah ada bagian yang terluka, cantik?" tanya Chelsea yang merupakan calon istrinya Ervan.


"Hanya luka kecil, mah." Vina segera menimpali pertanyaan dari Chelsea.


"Maafkan Arsya yah, Vin." Samara kembali meminta maaf pada Vina atas nama anaknya.


Vina tidak menjawab permintaan maaf dari Samara, ia membuang muka malas.


"Kelakuan anak-anakmu kasar sekali. Apa kamu tidak bisa mengajarinya?" bisik Chelsea di telinga Samara, sambil menyunggingkan senyuman mengejek pada Samara.

__ADS_1


"Jangan pernah kamu mengatakan itu pada anakku, sikap anakku barusan seperti itu. Karena mereka tidak mau berkenalan dengan seorang wanita, yang telah merebut ayahnya. Tapi bagaimana? Jika Ervan dan Vina mengetahui tentang dirimu yang menjadi..."


"Kamu jangan coba-coba! Mengancam ku, aku tidak akan membiarkan kamu memberitahukan pada mereka." Chelsea dengan cepat memotong ucapan Samara, yang mengancamnya. Karena ia khawatir Samara akan memberitahukan pada Ervan dan Vina, tentang dirinya yang merebut ayah dari ketiga anaknya Samara.


Sementara itu.


Ervan yang melihat Chelsea berbicara dengan Samara, ia pun segera mendekati mereka berdua.


"Apakah kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Ervan pada Samara dan Chelsea.


"Aku tidak begitu kenal dengan mereka, Mas. Tadi itu aku cuman bilang pada ibunya teman Vina, untuk mengajarkan sikap anaknya. Sebaiknya kita segera pergi dari sini, Mas." jawab Chelsea yang segera mengajak Ervan pergi dari sekolah.


"Sayangnya mama, kamu sana masuk ke sekolah. Karena mama dan papa mau pergi dari sini," sambung Chelsea yang menyuruh Vina, untuk masuk ke dalam sekolah.


"Iya mah," sahutnya.


Saat Ervan dan Chelsea masuk ke dalam mobil. Vina segera mendekati Arsya yang berada di dekat Samara dan Rayanza. Sebelum ia masuk ke dalam sekolah.


"Buat apa aku iri dengan kebahagiaanmu? Toh, sebentar lagi bundaku akan menikah dengan papa Ray. Jadi aku dan kedua kakakku tidak iri sama sekali, dengan kebahagiaanmu yang akan mempunyai mama tiri," sahut Arsya yang memberitahukan tentang Rayanza, yang akan menjadi ayah sambungnya.


"Huuuh, pantas saja Tante Samara menolak lamaran papaku waktu itu. Karena ia mau menikah dengan Om Ray," gerutu Vina di dalam hatinya, yang sangat kesal mendengar ucapan Arsya. Vina pun menghentakkan kakinya, sebelum masuk ke dalam sekolah.


"Bunda, papa Ray. Arsya pamit mau masuk ke dalam sekolah," pamit Arsya pada Samara dan Rayanza.


"Iya sayang," sahut Samara dan Rayanza secara bersamaan.


Samara dan Rayanza segera masuk ke dalam mobil, dan pergi meninggalkan sekolah ketiga anaknya. Karena mereka berdua akan pergi ke sebuah butik, untuk melakukan fitting baju pengantin.


Sesampainya di butik Ladyna Wedding organizer. Samara dan Rayanza segera masuk ke dalam butik, untuk melakukan fitting baju pengantin. Akan tetapi, lagi-lagi mereka berdua bertemu dengan Chelsea dan Ervan.


"Kita bertemu lagi di sini," ucap Ervan yang melihat kedatangan Rayanza dan Samara, yang datang ke butik Ladyna Wedding organizer.


"Iya," sahut Rayanza singkat.

__ADS_1


"Kalian berdua kenapa datang ke sini? Apa jangan-jangan! Kalian berdua akan menikah?" tanya Ervan yang ingin memastikan kebenarannya.


"Iya benar, aku dan Samara akan menikah bulan depan. Kalau kamu dan Chelsea kapan menikahnya?" jawab Rayanza sambil bertanya balik, perihal pernikahan Ervan dan Chelsea.


Suara deringan ponsel milik Ervan, menghentikan pertanyaan dari Rayanza. Karena Ervan mau mengambil handphonenya, yang ia taruh di saku celananya.


"Tidak lama lagi, kami berdua akan segera menikah. Aku mau menjawab panggilan telepon dulu," jawab Ervan yang langsung berpamitan pergi kepada Chelsea dan Rayanza serta Samara. Karena ia mau menerima panggilan telepon.


Saat Ervan sedang menerima panggilan telepon. Samara yang mendengar jawaban Ervan, ia menggelengkan kepalanya. Sebelum ia bertanya pada Chelsea, yang akan menikah dengan Ervan.


"Perasaan kamu itu belum lama bercerai dengan Mas Syaka. Tapi sekarang ini, kamu sudah mau menikah saja. Bukannya masa iddah kamu belum selesai yah?"


"Kamu jangan ikut campur dengan urusanku, aku menikah dengan dia secara siri. Jadi aku bisa menikah dengan Mas Ervan, tanpa harus menunggu masa iddah selesai," jawab Chelsea dengan pendiriannya, yang ingin segera menikah dengan Ervan secepatnya. Karena ia dan mamanya tidak mau hidup miskin seperti dulu lagi, sebab sekarang ini mereka berdua tidak memiliki penghasilan. Semenjak Linda bercerai dengan Rasyid papanya Reza.


"Ha-ha-ha, kamu lucu sekali. Mau menikah secara negara atau siri, tetap saja harus menunggu sampai masa iddah selesai," ujar Rayanza sambil tertawa.


"Apa jangan-jangan! Kamu mengaku pada Ervan. Kalau kamu itu masih gadis? Tapi aku cuman mau sedikit mengingatkanmu saja! Apa kamu tidak ingat dengan bagian di bawah perutmu, yang ada bekas sayatan operasi Caesar?" timpal Samara yang mengingatkan Chelsea, tentang dirinya yang pernah melakukan operasi Caesar. Saat Chelsea dan Arsyaka mengalami tabrakan beruntun. Sehingga membuat Chelsea yang sedang hamil besar, harus melakukan operasi Caesar demi menyelamatkan anak yang berada di dalam kandungannya.


Degh!


"Yang di katakan Samara ada benarnya juga. Kenapa aku dan mama tidak kepikiran sampai ke situ, bagaimana ini?" batin Chelsea yang mulai khawatir dan panik. Jika Ervan dan keluarganya, mengetahui tentang dirinya yang pernah melakukan operasi Caesar. Karena Chelsea mengaku dirinya masih gadis pada Ervan dan keluarganya.


"Aku tidak bisa membayangkan. Saat kalian berdua resmi menikah, dan akan melakukan malam pertama. Pasti Ervan akan mengetahui itu semuanya," sambung Samara sambil tersenyum senang melihat kekhawatiran dan kepanikan di raut wajah Chelsea.


"Kenapa kamu diam saja? Apa yang di katakan Samara itu benar?" tanya Rayanza pada Chelsea.


Akan tetapi, Chelsea masih berdiam diri dan tidak menjawab pertanyaan dari Samara dan Rayanza yang memanglah benar adanya.


"Saranku sih, sebaiknya kamu berterus terang pada Ervan dan keluarganya. Jangan sampai mereka semua tahu itu dari orang lain, apalagi kalau ketahuannya saat kalian berdua akan..."


"Diam kau," bentak Chelsea yang menghentikan ucapan Samara.


"Sekali lagi aku ingatkan pada kalian berdua. Jangan ikut campur dengan urusanku,'' lanjut Chelsea yang segera pergi meninggalkan Samara dan Rayanza.

__ADS_1


__ADS_2