Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 57 Hari Pertama bekerja di kantor


__ADS_3

POV Samara.


Aku mengkerutkan kening. Karena kaget mendengar ucapan dari Tante Erina, yang meminta aku menjadi istrinya Ervan.


"Aku harap kamu mau menjadi istriku," ucap Ervan yang sama dengan ibunya, yaitu meminta aku menjadi istrinya.


"Maaf Tante dan juga Ervan, untuk saat ini. Aku tidak bisa menerima lamarannya," jawabku yang menolak lamaran dari Ervan dan kedua orang tuanya. Karena aku belum kepikiran untuk menikah secepat ini.


"Ra, jangan langsung menolak lamaranku. Aku mencintaimu dan juga menyayangi anak-anakmu, seperti aku menyayangi Vina putriku." Ervan mencoba memohon kepadaku, di depan kedua orang tuaku dan orang tuanya. Aku benar-benar belum siap untuk menikah, dan menerima lamarannya.


"Apalagi yang kamu pikirkan Samara? Kamu sekarang sudah menjadi seorang janda. Ketiga anakmu pasti menginginkan seorang ayah, begitu juga dengan cucuku yang ingin mempunyai ibu sambung, dan kamulah orang yang di inginkan oleh cucuku." Tante Erina menggenggam tanganku, ia dan Ervan sangat berharap aku menerima lamarannya.


"Aku dan Ervan belum lama berkenalan Tante, dan jujur saja. Kalau aku belum kepikiran untuk menikah secepat ini," ujarku yang berharap Tante Erina dan juga Ervan bisa memahami kondisiku, yang baru terbebas dari masa Iddah.


"Berikan waktu, untuk putriku memikirkan itu semuanya, Mbak Erina." Ibu yang mengetahui kebingungan hatiku, meminta pada Tante Erina. Untuk memberikan waktu atas permintaannya itu.


"Tidak baik lama-lama menjadi seorang janda, beruntung kamu di lamar oleh putraku. Jadi kamu tidak perlu bekerja dengan orang yang tadi mengajakmu bekerja, hidupmu dan ketiga anakmu akan terjamin. Jika kamu menikah dengan putraku," bisik Tante Erina di telingaku, yang ucapannya itu terdengar seperti...


Aaah entahlah, aku tidak mau mengatakan itu. Tapi yang jelas saat ini, aku belum siap untuk berumah tangga kembali. Aku menghela nafas kasar. Sebelum menjawab ucapan dari Tante Erina.


"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu Tante," sahutku pelan. Semoga Tante Erina dan Om Martin serta Ervan mau memberikan waktu untukku, yang mau memikirkannya terlebih dahulu.


"Baiklah. Aku akan memberikan waktu selama tiga hari dari mulai sekarang ini," ucap Tante Erina tegas.


"Kok sebentar sekali waktunya, Tan?" tanyaku pada Tante Erina. Karena Tante Erina memberikan waktu hanya tiga hari saja.


"Untuk apa memberikan waktu yang sangat lama, waktu kamu menjalankan masa Iddah. Itu sudah lebih dari cukup, untuk mengenal Ervan dan Vina cucuku. Karena Ervan dan Vina sering bertemu denganmu Samara, bahkan cucuku sudah akrab dengan ketiga anakmu." Om Martin yang menjawab pertanyaanku.


"Ya sudah Martin, nanti tiga hari ke depan Samara akan menjawab lamaran dari Ervan," ucap bapak yang mencoba menengahi.


"Ayo pah, Ervan kita pergi saja dari sini." Tante Erina mengajak pulang suami dan anaknya dari rumahku.


Aku dan kedua orang tuaku, mengantar Om Martin dan Tante Erina serta Ervan sampai depan pintu rumah.


"Vina, ayo kita pulang," panggil Ervan pada Vina putrinya.


"Kok sebentar sekali sih pah? Aku masih ingin bermain bersama Candra dan Kirana serta Arsya," tolak Vina yang tidak mau pulang.


"Kalau Vina masih ingin bermain di sini biarkan saja, nanti Samara yang akan mengantar Vina pulang," ucap ibuku, yang melihat Vina masih ingin bermain bersama ketiga anakku.


"Tidak perlu, ayo Vina kita pulang sekarang." Tante Erina langsung menarik tangannya Vina, dan memaksanya untuk segera pergi dari rumahku.


Setelah kepergian mereka semua, aku dan kedua orang tuaku masuk ke dalam rumah. Sedangkan ketiga anakku masih asyik bermain di halaman rumah bersama Rina adikku.

__ADS_1


Aku yang akan pergi ke dalam kamarku, di panggil oleh bapak dan ibu, yang sepertinya ingin berbicara denganku soal lamaran dari Ervan.


"Bapak akan mendukung apapun keputusan yang akan kamu ambil, atas lamaran dari Nak Ervan dan kedua orang tuanya, yang penting itu semua membuat kamu dan ketiga anakmu bahagia," ucap bapak.


"Ibu setuju dengan apa yang di katakan oleh bapak, Ra. Sebaiknya kamu ikuti kata hati kamu, dan jangan lupa memohon petunjuk kepada Allah SWT." Ibuku pun menimpali ucapan bapak, dan mendukung semua keputusan yang akan aku ambil nantinya.


"Iya pak, Bu. Aku akan melakukan apa yang ibu dan bapak katakan," sahutku sambil memeluk kedua orang tuaku.


_____________


POV Rayanza.


Aku yang sudah berada di dalam mobil bersama kedua orang tuaku, langsung menanyakan tentang ucapan mama dan papa yang tidak mengatakan tentang keinginanku yang ingin melamar Samara. Setelah Samara selesai dari masa Iddah nya.


"Papa bukanya tidak mau melamarkan Samara untukmu, Ray. Berilah Samara waktu. Apalagi dirinya baru saja selesai dari masa Iddah nya. Kalau Samara memang jodohmu pasti dia akan menjadi istrimu," ucap papa sambil menoleh ke arahku yang sedang menyetir mobil.


Aku tidak menanggapi ucapan dari papa, karena kesal pada papa yang tidak mengatakan tentang keinginanku yang ingin melamar Samara pada kedua orang tuanya.


"Papa sengaja mengajak Samara bekerja di perusahaan papa. Agar kamu bisa lebih dekat dengannya, tapi meskipun begitu. Kamu harus tetap bisa mengatur waktu, mana masalah pekerjaan dan urusan pribadi," lanjut papa.


"Iya pah, Ray mengerti itu semua. Ray tidak memasalahkan tentang tawaran papa, yang meminta Samara bekerja di kantor. Karena sejujurnya Ray juga senang, hanya saja pasti Ray ke duluan sama Ervan. Pasti saat ini! Dia dan kedua orang tuanya sedang melamar Samara," ujarku yang berterus terang kepada kedua orang tuaku. Karena aku sudah mengetahui tujuan Ervan yang mendekati Samara dan ketiga anaknya, yaitu ia dan anaknya menginginkan Samara menjadi istri dan ibu bagi putrinya.


"Mama rasa Samara belum tentu menerima lamarannya, dan kalau pun tadi papa melamarkan Samara untukmu, itu juga belum tentu di terima oleh Samara..."


"Mama sok yakin sekali," sahutku yang memotong ucapan mama.


"Semoga saja Samara tidak menerima lamarannya Ervan," batinku penuh harap.


*****


Keesokan paginya.


Aku segera berangkat pergi ke rumah Samara. Untuk mengajaknya pergi bekerja di kantor, sekalian mengantarkan ketiga anaknya pergi ke sekolah.


Sesampainya aku di rumah Samara.


Aku sudah melihat Samara dan ketiga anaknya yang berada di depan rumahnya.


"Assalamualaikum," ucapku.


"Waalaikumsalam," jawab Samara dan ketiga anaknya secara bersamaan.


"Om Ray, tumben pagi-pagi sudah ada di rumah? " tanya Arsya.

__ADS_1


"Iyakan sekarang ini kita bertetangga," jawabku sambil tersenyum.


"Oh iya aku lupa, hehehe..." sahutnya.


"Arsya kamu gimana sih, kan semalam bunda sudah bilang. Kalau nanti pagi Om Ray akan datang ke rumah, kan bunda mau bekerja di perusahaan papanya Om Ray," ujar Candra yang mengingatkan adiknya.


"Om Ray mau mengantarkan Arsya dan kakakku pergi ke sekolah tidak?" tanya Arsya lagi.


"Iya tentu dong sayang," balasku.


"Hore..."


"Berarti tiap hari kita di antar oleh Om Ray,"


Suara ketiga anaknya Samara yang senang di antar ke sekolah olehku.


"Masuk dulu Ray ke dalam, nanti aku ambilkan sarapan dan juga minuman untukmu," tawar Samara padaku.


"Tidak usah Ra, tadi di rumah aku sudah sarapan. Oh iya, ibu dan bapak masih di dalam rumah?" jawabku sambil bertanya balik pada Samara.


"Sudah berangkat ke toko kue, tadi bersama dengan Rina adikku," sahutnya.


"Kalau begitu, yuk kita pergi sekarang," ajakku pada Samara dan anak-anaknya.


Aku dan Samara serta anaknya masuk ke dalam mobilku. Karena aku akan pergi mengantar ketiga anaknya Samara ke sekolah. Setelah itu, barulah aku dan Samara pergi ke kantor.


Saat aku dan Samara dan ketiga anaknya sampai di sekolah, aku melihat Ervan dan Vina anaknya, yang datang menghampiri ketiga anaknya Samara yang keluar dari dalam mobilku.


"Kok kalian bertiga di antar sama Om Ray sih?" tanya Vina pada ketiga anaknya Samara.


"Aku yang minta di antar sama Om Ray." Arsya yang menjawab pertanyaan dari Vina.


"Emangnya kenapa kak? Kalau kita bertiga di antar sama Om Ray?" tanya Kirana kepada Vina.


"Kalian bertiga itu, sebentar lagi akan menjadi saudaraku," sahut Vina sambil melirikku. Sepertinya Vina tidak suka melihatku, dekat dengan ketiga anaknya Samara.


"Kata pak ustadz juga, sesama muslim itu memang bersaudara, kak Vina." Candra menimpali ucapan dari Vina.


"Maksud Vina itu...."


"Anak-anak, cepat masuk ke dalam kelas. Bunda mau pergi bekerja sama Om Ray." Samara segera memotong ucapan dari Ervan, dan menyuruh ketiga anaknya masuk ke dalam kelasnya masing-masing.


"Iya Bun," mereka bertiga pun segera masuk ke dalam sekolah.

__ADS_1


"Samara, aku tunggu dua hari lagi," ucap Ervan sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Maksud Ervan itu apa? Aku harus menanyakan semua itu pada Samara," batinku sambil mengepalkan tangan.


__ADS_2