
POV Samara.
Akhirnya aku berhasil mendapatkan tanda tangan Mas Syaka dan juga ibunya, dan bisa mengambil kembali apa yang berhak bapakku dapatkan dari hasil kerja kerasnya di perkebunan. Aku juga bisa mengambil uang penjualan mobilku yang telah di jual oleh Mas Syaka, dan memasukkan uang penjualan mobilku itu dengan cara mengambil lahan perkebunan milik keluarganya Mas Syaka.
Aku pun segera mengambil surat itu. Setelah Mas Syaka dan ibunya selesai mendatangi surat itu, sedangkan tatapan matanya Chelsea seperti tidak senang dengan apa yang aku dapatkan.
"Terima kasih telah bekerja sama dengan baik, aku hanya mengambil hak keluargaku saja. Dan ini untukmu," aku memberikan sertifikat surat rumah barunya Mas Syaka ke hadapan mereka bertiga.
"Aku menikah denganmu secara baik-baik, dan bercerai denganmu pun ingin dengan baik-baik pula. Aku pamit pergi. Yuk pak Rudi. Nay, kita pergi dari sini," ajakku pada Nayla dan pak Rudi. Tidak ada jawaban dari mereka bertiga, aku dan Nayla serta pak Rudi melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih duduk di kafe.
"Dasar wanita licik, aku tidak rela! Harta warisan yang berupa lahan tanah perkebunan milik suamiku, menjadi milik keluarga dia," ucapan ibunya Mas Syaka yang pelan, masih bisa aku dengar ucapannya. Dan saat aku menengok ke belakang. Ibunya Mas Syaka menatap tajam padaku, seperti tidak suka dengan keberhasilan yang aku dapatkan.
"Kamu sih! Ceroboh banget, tidak memberitahu ibu terlebih dahulu melakukan itu semua. Padahal ibu sudah menyusun rencana dengan baik, agar perkebunan itu hanya menjadi milik keluarga kita. Tapi semua itu berantakan oleh perbuatan mu," lanjut ibu yang marah kepada Mas Syaka. Sedangkan Mas Syaka yang aku lihat, ia menyugarkan rambutnya lalu dia tertunduk lesu. Karena semua perbuatannya itu, bisa aku ketahui semuanya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan ibu barusan. Ibu mungkin bisa membohongi bapakku, yang terlalu percaya dengan ucapannya waktu itu. Sehingga dengan gampangnya, bapakku memberikan tanda tangannya. Tapi mereka tidak bisa membohongi dan membodohi ku. Karena aku tidak sebodoh yang mereka pikirkan.
______
Saat aku akan pergi dari pengadilan agama. Aku mendapatkan pesan teks dari Rayanza.
[Ra datang temui aku di restorannya Nayla,]
Aku pun segera mengetik pesan, untuk membalas pesan dari Rayanza.
[Iya Ray, ini aku dan Nayla akan pergi ke sana.]
Setelah mengirimkan pesan pada Rayanza. Aku segera memberitahukan kepada Nayla, dan mengajak Nayla pergi ke restoran Andini Food miliknya. Karena di sana ada Rayanza yang ingin bertemu denganku dan juga Nayla. Sepertinya Rayanza ingin mendengar hasil keputusan sidang perceraianku, sebab Rayanza tidak bisa datang menghadiri sidang perceraianku dengan Mas Syaka.
Sesampainya di restoran Andini Food. Aku dan Nayla segera masuk ke dalam restoran, dan mencari Rayanza yang sudah duduk di dalam restoran milik Nayla.
__ADS_1
Nayla dan aku yang sudah menemukan tempat duduknya Rayanza, segera pergi menghampirinya yang sedang menuggu kedatanganku dan juga Nayla.
"Bagaimana hasil putusan sidang terakhir perceraianmu Ra?" tanya Rayanza yang sudah aku duga akan pertanyaannya itu, yang ingin mengetahui hasil putusan sidang terakhir perceraianku.
"Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar Ray. Apalagi aku bisa mendapatkan hak asuh anak," sahutku menjelaskan itu semua dengan tersenyum senang. Karena aku telah terbebas dari suami seperti Mas Syaka, dan hak asuh anak jatuh ke tanganku.
"Syukurlah, tapi bagaimana dengan surat perjanjian yang kamu buat? Apakah Arsyaka mau mendatangani surat perjanjian itu?" tanya Rayanza lagi.
"Sahabatku ini, memang the best banget. Bisa membuat Arsyaka dan ibunya, berhasil mendatangani surat perjanjian itu. Yah meski dengan keadaan terpaksa hahaha," jawab Nayla sambil tertawa bahagia.
"Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milik keluargaku saja, dan tidak mau ada keributan lagi dengan Mas Syaka dan juga keluarganya. Aku menikah dengannya secara baik-baik, dan bercerai dengannya juga ingin dengan cara baik-baik. Masalah Mas Syaka yang telah menyakiti hatiku, biarkan Allah yang membalas perbuatannya," tuturku memberitahukan kepada Rayanza.
"Semoga setelah permasalahan ini, kamu bisa menemukan kebahagiaan. Dan bisa mendapatkan lelaki yang menyayangimu serta ketiga anakmu Ra," ucap Nayla sambil mengusap punggung tanganku, yang berada di atas meja makan.
"Aamiin," aku mengamini doanya Nayla.
"Aku tidak mau memikirkan masalah pasangan terlebih dahulu. Lebih baik kalian berdua yang belum menikah ini, segera menemukan jodohnya," lanjutku lagi sambil melirik ke arah Nayla dan Rayanza. Semoga mereka berdua mengerti dengan maksud ucapanku, yang menginginkan mereka berdua bisa segera menikah.
"Cie cie, jawab aminnya kompak banget. Mungkin pertanda jodoh kali yah," celetukku sambil tersenyum manis.
"Apaan sih Ra," wajah Nayla tersipu malu. Aku tahu! Kalau Nayla itu masih memendam perasaan cinta pada Rayanza, sehingga dia tidak bisa mengungkapkan perasaan cintanya yang dari dulu sampai sekarang ini. Makanya dia masih betah menjomblo.
"Aku pamit pulang duluan yah," pamitku pada Rayanza dan Nayla.
"Aku antar kamu ya," sahut Rayanza.
"Tidak usah repot-repot mengantar aku Ray, lebih baik kamu tetap di sini menemani Nayla. Aku bisa pulang sendiri kok, kamu tidak perlu khawatir begitu. Oh iya! Aku cuman mau memberitahukan pada kalian berdua. Besok pagi aku akan kembali ke Surabaya. Karena urusan aku di Jakarta sudah selesai," pamitku pada Rayanza dan Nayla. Aku pun bergegas pergi meninggalkan restoran Andini Food, dan pergi menuju hotel tempat aku menginap selama berada di Jakarta.
___________
__ADS_1
Keesokan paginya.
Aku yang sudah memesan taksi online, yang akan mengantarku pergi ke bandara Soekarno Hatta. Agar aku bisa segera sampai di kota Surabaya. Karena aku sudah merindukan ketiga anakku, dan juga kedua orang tuaku.
Tidak lama kemudian.
Taksi online yang aku pesanan datang, aku pun segera masuk ke dalam mobil.
Supir taksi mobil pun segera menyalakan mesin mobilnya. Untuk mengantarkan aku pergi ke bandara Soekarno Hatta, akan tetapi di tengah perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta.
Aku melihat sebuah mobil yang terus mengikuti mobil taksi yang sedang membawaku pergi, bahkan seingatku mobil itu dari sejak kepergianku dari hotel tempat aku menginap. Mobil itu seperti mengikuti kemana arah mobil taksi ini.
"Pak, sepertinya mobil di belakang mengikuti mobil ini terus," ucapku memberitahukan kepada supir taksi.
"Iya benar Bu, aku percepat yah Bu kecepatan mobilnya. Karena itu mobil mau mengejar mobilku," sahut supir taksi, yang akan mempercepat laju mobil yang ia kendarai.
"Ya sudah tidak apa-apa pak. Tapi sebaiknya......"
"Baiklah Bu," jawabnya.
Dugaan supir taksi itu ternyata benar, mobil di belakang segera membelokkan mobilnya. Sehingga mobil yang di kendarai oleh supir taksi pun berhenti, dan kemudian aku melihat orang-orang itu segera keluar dari dalam mobilnya. Mereka semua pun pergi menghampiri mobil taksi, dan mengetuk kaca mobil secara kasar dan juga menodongkan senjatanya ke arah supir taksi.
"Ayo cepat buka pintu mobilnya. Kalau tidak di buka! Aku akan memecahkan kaca mobil ini," ancamnya pada supir taksi.
"I....iya." jawab supir taksi yang ketakutan. Karena orang-orang itu berjumlah lima orang, dan keadaan di sekitar sini pun sangat sepi sekali.
Pak supir pun membuka pintu mobilnya, dan mereka yang berdiri di posisi tempat aku duduk di bangku belakang mobil. Langsung menarik paksa tanganku, dan mengeluarkan aku dari dalam mobil.
Aku menundukkan kepalaku, dan berusaha tetap tenang menghadapi mereka semua. Aku juga tidak mau melihat wajah mereka semua, yang seperti akan membius aku dengan menggunakan sapu tangan.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" lirihku sebelum terkulai lemah dan pingsan.