Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 36 Mencari Samara


__ADS_3

POV Arsyaka.


Aku segera pergi menghampiri dua orang itu, satu pria dan satunya lagi seorang wanita. Mereka berdua sedangĀ  berada di halaman depan rumahku, aku pun bergegas menghampiri mereka berdua. Sebelum mereka berdua masuk ke dalam rumahku.


"Permisi, kalian berdua ini siapa?" tanyaku pada mereka berdua, yang akan masuk ke dalam rumahku.


"Aku dan istriku mengontrak di rumah ini, dan sudah beberapa hari tinggal di sini," jawabnya.


Aku kaget mendengar ucapan dari mereka, yang mengatakan mengontrak di rumahku ini.


"Kenapa Samara tidak memberitahuku terlebih dahulu?" batinku yang sangat kesal pada Samara.


"Aku adalah suami dari Samara, yang mengontrakkan rumah ini pada kalian berdua. Bisakah aku ijin masuk ke dalam rumahku? Karena ada barang yang tertinggal di dalam rumah ini," ucapku meminta ijin kepada mereka berdua. Karena inti tujuanku datang ke rumah ini, yaitu ingin mengambil sertifikat rumah baruku yang kemungkinan besar tertinggal di dalam rumah ini.


"Tapi mbak Samara sudah mengambil semua barang yang ada di dalam rumah ini. Sebelum aku dan suamiku tinggal di sini. Kalau Mas tidak percaya! Silahkan lihat ke dalam rumah, tanpa harus memeriksa seluruh isi yang ada di dalam rumah ini," jawab istri yang mengontrakkan rumahku ini.


Aku segera masuk ke dalam rumah, yang sudah beberapa hari ini aku tidak tinggal lagi di rumah ini. Tapi saat kakiku ini melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja kakiku lemas dan membuatku terjatuh ke bawah lantai.


Karena aku sangat kaget melihat keadaan di dalam rumah ini sudah berbeda, tidak seperti dulu lagi.


"Mas kenapa?" tanya mereka berdua yang kaget melihat aku terjatuh di lantai.


"Mas tolong bisa bantu aku berdiri. Kakiku ini baru saja sembuh dari kecelakaan, dan aku juga kaget melihat isi di dalam rumah ini sudah berubah," jawabku yang meminta bantuan pada mereka, dan menjelaskan keadaanku yang sebenarnya terjadi.


Aku merasakan kedua kakiku yang tiba-tiba saja lemas tak berdaya, saat melihat isi di dalam rumah ini yang sudah berbeda dengan sebelumnya.


Mereka berdua pun mencoba membantu aku berdiri, dan mengajakku duduk di ruang tamu.


"Bi, Bi Irah," teriak istri yang mengontrak rumahku ini, sepertinya dia memanggil pembantunya. Karena aku melihat wanita tua yang masuk ke ruang tamu, dan datang menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Ada apa Tuan dan Nyonya memanggil saya?" tanyanya.


"Bu Irah tolong buatkan minuman untuk orang ini," ucapnya pada pembantunya menyuruh membuatkan minuman untukku.


"Baik Nyonya," sahutnya sambil pergi ke arah dapur, dan tidak lama kemudian pembantu itu datang menaruh minuman yang di bawanya ke arahku.


"Silahkan di minum Mas," ujarnya menawarkan minuman itu kepadaku. Aku pun meminum air yang di sediakan di rumah ini.


"Maaf yah Mas, bukannya aku mau mengusir Mas. Tapi sebaiknya Mas pergi meninggalkan rumah ini, dan Mas juga sudah lihat kan! Isi di dalam rumah ini sudah berbeda tidak seperti sebelumnya," ucap lelaki itu mengusir aku yang baru selesai minum, dan belum lama duduk di ruang tamu rumah ini. Andai saja kondisi kakiku tidak seperti ini, sudah ku layangkan pukulan kepadanya.


Aku mengepalkan tangan, dan ingin rasanya menghajar orang di hadapanku ini. Apalagi jika aku bertemu dengan Samara, ingin rasanya melampiaskan kekesalanku pada Samara.


"Sebelum aku pergi dari rumah ini, aku meminta uang kontrakan rumah ini pada kalian," ujarku. Agar Samara tidak bisa menerima uang dari hasil mengontrakkan rumah ini.


"Kamu datang ke sini mau minta sumbangan apa bagaimana? Sudah ngaku-ngaku suaminya mbak Samara, sekarang gak tahu malunya minta uang kontrakan rumah ini. Lebih baik sekarang juga, kamu pergi keluar dari rumah ini!" istri yang mengontrak rumah ini marah-marah padaku. Bahkan mereka berdua menarik tanganku, dan melemparkan aku di depan rumah.


"Berani sekali yah kalian berdua mengusir aku di rumahku sendiri. Aku akan menuntut tindakan kalian berdua," ucapku yang kesal pada mereka berdua.


"Aku juga bisa menuntut kamu! Karena sudah mengganggu kenyamanan keluargaku, yang tinggal di rumah ini. Apalagi kamu datang ke sini mau meminta uang kontrakan rumah ini, dan mengaku-ngaku sebagai suaminya mbak Samara. Padahal mbak Samara sudah menjelaskan kepadaku dan juga istriku. Kalau ada orang yang mengaku sebagai suaminya, dia bilang itu bukanlah suaminya. Tapi mantan suaminya, cuman mantan suami saja minta uang kontrakan rumah ini. Sungguh tidak tahu malu," cetus lelaki itu.


"Mas lebih baik pergi dari rumah ini, dan perlu Mas ketahui! Aku sudah membayar kontrakan rumah ini pada mbak Samara selama setahun. Jadi aku harap! Mas tidak menggangu kami lagi," timpal istrinya sambil mengajak suaminya masuk ke dalam rumah.


Aku pun mencoba berdiri dan berjalan kaki secara pelan-pelan menuju mobilku, yang terparkir di luar gerbang rumah ini.


Aku harus menemui Samara dan meminta uang dari hasil mengontrakkan rumah ini. Tapi yang lebih pentingnya! Aku harus meminta sertifikat rumah baruku, yang pasti berada di tangan Samara.


Sesampainya di mobil.


Aku segera duduk, dan mengambil handphoneku yang berada di saku celanaku. Setelah itu, aku segera mencari nomor telepon Samara, dan memintanya untuk bertemu denganku.

__ADS_1


"Maaf nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan...." suara operator yang terus aku dengar. Aku tidak bisa menghubungi Samara.


"Huuuh sial," teriakku di dalam mobil, melampiaskan kekesalanku yang tidak bisa menghubungi Samara.


Aku mengatur emosiku terlebih dahulu. Sebelum pergi meninggalkan rumah ini, dan pergi ke rumah ibuku yang tidak begitu jauh dari sini.


Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang, menuju rumah ibuku. Dan sesampainya di rumah ibu.


"Bu, ibu." aku berteriak memanggil ibuku. Sebelum masuk ke dalam rumah ibu, karena kedua kakiku masih terasa lemah dan tidak kuat untuk berjalan masuk ke dalam rumah ibu.


"Kamu ada apa datang ke rumah ibu? Sambil berteriak-teriak segala! Bukannya hari ini kamu masuk kerja?" tanya ibu yang sudah datang menghampiriku.


"Nanti saja aku jelasin di dalam rumah, tapi aku minta tolong sama ibu. Kakiku ini masih merasakan rasa sakit, dan tiba-tiba saja menjadi lemah seperti ini Bu," jelasku pada ibu, dan meminta ibu untuk membantuku masuk ke dalam rumah ibu.


"Kamu ini ada-ada saja," ucap ibu yang segera datang menghampiriku, dan membantu aku masuk ke dalam rumah.


"Kamu ada apa datang ke rumah ibu? Gak biasanya kamu ke sini?" tanya ibuku lagi. Saat aku dan ibu sudah duduk di ruang tamu rumah ibu.


"Aku ingin meminta bantuan pada ibu, untuk menemui Samara besok di sekolahannya anakku..."


"Ibu tidak mau bertemu dengan mantan istrimu itu Arsyaka!" ucap ibu yang memotong ucapanku yang belum selesai berbicara.


"Dengarkan aku dulu Bu! Jangan di potong dulu, aku ingin memberitahukan pada ibu. Kalau surat sertifikat rumah baruku hilang, aku sangat yakin sekali! Sertifikat rumah baruku ada pada Samara Bu,'' tuturku memberitahukan kepada ibu, tentang sertifikat surat rumah baruku yang hilang.


"Ya sudah ayo kita pergi ke rumah itu saja, kita temui Samara di sana. Ibu akan menemani kamu, dari pada kamu menyuruh ibu menemui Samara di tempat sekolah anak-anakmu," ajak ibu yang ingin pergi menemui Samara di rumah pemberian almarhum ayahku.


"Tadi aku sudah pergi ke rumah pemberian almarhum ayah Bu, dan di sana tidak ada Samara. Makanya aku menyuruh ibu besok, untuk menemui Samara di sekolah anak-anakku Bu. Tapi ada satu hal yang harus ibu ketahui! Samara telah mengontrakkan rumah itu Bu," aku pun menjelaskan semuanya pada ibuku.


"Apa......!" ibu pasti kaget mendengar berita ini.

__ADS_1


__ADS_2