Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 37 Pergi ke kampung


__ADS_3

Retno benar-benar kaget mendengar berita dari Arsyaka, ia bahkan sampai memegang dadanya. Karena Retno tidak menyangka pada Samara, yang akan mengontrakkan rumah pemberian dari almarhum suaminya.


"Apa...!"


"Yang benar kamu?" tanya Retno pada Arsyaka. Untuk memastikan ia tidak salah dengar, dengan ucapan dari Arsyaka yang mengatakan. Kalau Samara telah mengontrakkan rumah pemberian dari almarhum suaminya.


"Iya benar Bu, buat apa Arsyaka membohongi ibu. Arsyaka harap! Besok ibu mau pergi menemui Samara di tempat sekolah anak-anak. Karena sampai sekarang ini, nomor telepon Samara tidak aktif, dan Arsyaka juga tidak tahu mereka semua tinggal di mana sekarang ini bu," sahut Arsyaka yang tertunduk lesu. Karena Samara telah mengambil sertifikat surat rumah barunya, dan mengontrakkan rumah pemberian dari almarhum ayahnya.


"Ya sudah besok ibu akan pergi ke sekolah anak-anakmu, dan datang menemui Samara. Ibu juga akan memberi perhitungan kepadanya. Awas kau Samara, aku akan membuat kamu dan juga keluargamu menderita!" gerutu Retno yang kesal dengan Samara.


***


Keesokan harinya.


Retno pergi ke sekolah TK Islam Mutia 4, tempat putra bungsunya Arsyaka dan Samara yang bersekolah di sana.


Dan ibu-ibu TK Islam Mutia 4 yang sedang menunggu anak-anaknya, melihat kedatangan Retno yang akan datang menghampiri mereka semua.


"Itu bukannya mertuanya Bu Samara ya?" lirih mama Ardi yang melihat kedatangan Retno.


"Iya benar, mau apa yah dia ke sini?" sahut mamanya Restu.


Ibu-ibu yang lainnya menggelengkan kepalanya. Karena mereka semua tidak tahu dengan tujuan Retno, yang datang ke sekolah Islam Mutia 4 tempat Arsya bersekolah.


"Assalamualaikum ibu-ibu," sapa ramah Retno kepada ibu-ibu yang berada di sekolah TK Islam Mutia 4. Retno yang sudah berada di dekat ibu-ibu, matanya terus mencari keberadaan Samara. Tapi ia tidak melihat keberadaannya Samara di sekitar tempat sekolah anaknya.


"Waalaikumsalam," jawab mereka semua secara bersamaan.


"Ibu-ibu saya mau tanya nih! Emangnya Samara belum datang menjemput anaknya?" tanya Retno pada ibu-ibu.

__ADS_1


"Masa ibu mertuanya tidak tahu sih! Kalau Bu Samara tidak mungkin menjemput anaknya di sekolah ini lagi, kan mereka itu sudah meminta ijin untuk pindah sekolah," jelas mamanya Endi.


Retno mengkerutkan keningnya. Sebelum menanyakan lebih lanjut, tentang Samara dan anaknya yang tidak bersekolah di sini. Karena ia lagi-lagi di buat kaget dengan ucapan dari ibu-ibu yang berada di sekolah TK Islam Mutia 4.


"Kemana Samara dan ketiga anaknya pergi?" batin Retno yang baru mengetahui ke pindahan ketiga cucunya, yang tidak bersekolah di sini lagi.


"Ya wajarlah, kalau mertuanya Samara tidak mengetahui ke pindahan cucunya dari sekolah ini. Toh dia sendiri yang mengusir Samara dan ketiga anaknya dari rumahnya," ucap Bi Lela yang merupakan tetangganya Samara, dan ia baru saja datang menghampiri mereka semua yang berada di sekolah TK Islam Mutia 4.


"Jangan sembarang bicara yah?" Retno kesal dengan ucapan Bi Lela yang baru saja datang langsung memojokkan dirinya.


"Saya tidak sembarang bicara kok. Karena saya melihat sendiri, kalau Samara dan ketiga anaknya pergi meninggalkan rumahnya saat keadaan hujan. Bahkan saya juga mendengar kata talak dari anak kamu yang....."


"Diam," bentak Retno yang memotong ucapan dari Bi Lela yang belum selesai berbicara.


"Saya datang ke sini hanya ingin bertemu dengan Samara, yang telah mencuri dan membawa kabur sertifikat surat rumah anak saya," ujar Retno yang menjelekkan nama Samara di depan ibu-ibu.


"Samara itu wanita licik. Asal kalian semua tahu, rumah itu di belikan oleh almarhum suamiku. Tapi Samara mengubah surat rumah itu menjadi miliknya, dan ia juga mengambil sertifikat surat rumah anakku yang baru di beli," tutur Retno yang terus menjelekkan Samara.


"Bukannya yang licik itu kamu." Bi Lela segera menimpali ucapan dari Retno dan ia terus membela Samara.


Karena saat kejadian Samara dan ketiga anaknya pergi dari rumah, dan datang ke rumah lagi sambil membawa semua barang-barang yang berada di dalam rumah. Bi Lela melihat dan menanyakan semua yang ingin dia ketahui pada Samara.


"Anaknya selingkuh malah di dukung dan di bela, ibu macam apa kamu itu?" lanjut Bi Lela dengan menatap sinis pada Retno.


"Wanita mana pun, pasti tidak mau. Jika suaminya berselingkuh, apalagi mertuanya malah mendukung putranya berselingkuh."


"Iya harusnya sebagai orang tua itu! Jangan mendukung putranya kalau berselingkuh, harusnya itu menasihatinya,"


"Wajar ya Bu Samara bercerai dengan suaminya. Karena mempunyai mertua yang seperti itu. Bisa-bisa stress dan makan hati,"

__ADS_1


Suara ibu-ibu TK Islam Mutia 4 yang terus menyindir Retno. Karena Retno membela dan mendukung Arsyaka, yang berselingkuh dengan Chelsea.


Raut wajahnya Retno pun amat kesal pada Bi Lela dan ibu-ibu yang terus membela Samara. Retno menghentakkan kakinya, sebelum pergi meninggalkan ibu-ibu TK Islam Mutia 4.


"Huuuh," suara sorakan ibu-ibu pada Retno yang pergi meninggalkan sekolah TK Islam Mutia 4.


Retno pun segera pergi meninggalkan ibu-ibu, dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.


"Aku harus memberitahukan semua ini pada Arsyaka," ucap Retno mengambil handphonenya di tas. Karena ia akan menghubungi Arsyaka yang sedang bekerja di kantor.


"Halo Bu, apakah ibu sudah berhasil mendapatkan sertifikat rumah baruku dari Samara?" tanya Arsyaka yang antusias ingin mengetahui kabar baik dari ibunya. Karena ia percaya pada ibunya. Kalau ibunya itu pasti berhasil mengambil sertifikat surat rumah barunya, yang berada di tangan Samara.


"Boro-boro bisa mengambil sertifikat surat rumah kamu, ibu saja tidak tahu keberadaannya Samara...."


"Bukannya ibu pergi ke tempat sekolah anak-anakku?" Arsyaka menyela ucapan ibunya.


"Iya, ini ibu masih di tempat sekolah anakmu. Tapi ibu tidak bertemu dengan Samara dan anaknya di sini. Kata ibu-ibu di sekolah sih, mereka itu sudah pindah sekolah, dan ibu juga tidak tahu mereka pindah ke mana." Retno menjelaskan semuanya pada Arsyaka.


"Emangnya ibu tidak menanyakan pada ibu-ibu di sekolah, tempat tinggal Samara yang sekarang ini Bu?" tanya Arsyaka lagi.


"Ibu males bertanya kepada mereka semua. Karena mereka semua itu terus membela Samara, dan mereka semua juga malah menyalahkan ibu yang membela kamu. Padahal wajar dong, kalau ibu membela anaknya. Makanya ibu segera pergi meninggalkan sekolah, tanpa bertanya pada mereka semua," sahut Retno yang masih geram kepada ibu-ibu yang terus membela Samara.


"Sudah kamu tidak usah khawatir tentang sertifikat surat rumah kamu. Karena ibu besok akan pergi menemui orang tuanya Samara di kampung, pasti Samara dan anak-anaknya pergi ke Desa Bukit Pelangi. Mau tinggal di mana mereka! Kalau tetap tinggal di sini?" lanjut Retno sambil menyunggingkan senyuman penuh arti. Karena ia akan menjalankan rencananya, saat bertemu dengan Samara dan kedua orang tuanya yang tinggal di Desa Bukit Pelangi.


"Yang ibu katakan benar, tidak mungkin Samara masih berada di kota ini. Tapi.... maaf Bu, aku tidak bisa menemani ibu pergi ke kampung halamannya Samara. Karena aku baru saja masuk bekerja," ujar Arsyaka yang tidak bisa menemani ibunya, yang akan pergi ke kampung halamannya Samara.


"Iya tidak apa-apa kok. Ibu bisa pergi bersama dengan Siska, dan sesampainya di sana. Ibu akan mengusir Samara dan kedua orang tuanya. Karena ibu sudah mendapatkan sertifikat surat lahan perkebunan milik almarhum ayahmu, tanpa harus berbagi dengan kedua orang tuanya Samara. Karena itu semuanya akan menjadi milik keluarga kita." Retno memberitahukan tentang sertifikat surat lahan perkebunan kepada Arsyaka. Karena Arsyaka belum mengetahui itu semua.


"Ibuku memang pintar." Arsyaka memuji ibunya, yang berhasil mengalihkan surat warisan harta almarhum ayahnya menjadi milik keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2