
Di kantor polisi.
Pihak kepolisian sedang melacak keberadaan plat nomor mobil milik lelaki, yang menculik ketiga anaknya Samara.
Tidak lama kemudian.
Polisi yang bertugas melacak keberadaan mobil lelaki itu, segera pergi ke dalam ruangan Brigadir Jenderal Marko. Untuk memberikan keterangan, kalau ia telah berhasil melacak keberadaan mobil lelaki itu.
"Lapor pak, saya sudah mendapatkan lokasinya," ucap Arga yang melapor pada Brigadir Jenderal Marko.
"Kalau begitu, mari kita pergi menuju lokasi." Brigadir Jenderal Maroko mengajak anak buahnya. Untuk segera pergi menuju lokasi. Agar bisa menangkap lelaki, yang telah menculik ketiga anaknya Samara.
"Siap pak," sahutnya.
Para polisi pun segera pergi menuju lokasi keberadaan lelaki itu, yang berada di sebuah klub malam yang bernama Foreplay Club.
Dan sesampainya di lokasi.
Para polisi berhasil menemukan mobil lelaki itu, yang terparkir di depan Foreplay Club.
"Kita harus berpencar. Agar kita bisa menangkapnya dengan mudah," ucap Brigadir Jenderal Marko, yang menyuruh anak buahnya untuk pergi secara berpencar.
"Siap pak," sahut mereka semua secara bersamaan.
Para polisi pun segera berpencar mencari keberadaan lelaki itu. Sedangkan lelaki itu, sudah mengetahui kedatangan polisi. Saat ia akan pergi meninggalkan Foreplay Club, ia melihat polisi yang menemukan keberadaan mobilnya, yang terparkir di depan Foreplay Club.
"Itu sepertinya para polisi," lirihnya yang melihat para polisi yang sedang mengamati mobilnya.
"Aku harus segera melaporkan semua ini kepada bos," ucapnya yang segera mengambil handphonenya. Untuk menghubungi bosnya.
"Ada apa kamu menghubungiku?" tanyanya.
"Bos di sini ada para polisi yang sedang melihat mobilku. Apa jangan-jangan! Polisi itu sudah mengetahui tentang aksi penculikan tadi siang," jawabnya yang memberitahukan kepada bosnya, tentang kedatangan para polisi yang datang ke Foreplay Club.
"Huuuh sial, padahal aku sudah merencanakan semuanya dengan baik. Tapi kenapa? Polisi bisa dengan cepat menemukan mobilmu," gerutunya yang kesal sekali. Karena aksi penculikannya, bisa dengan cepat di ketahui oleh para polisi.
"Jika kamu tertangkap oleh polisi. Jangan sampai! Kamu memberitahukan kepada polisi tentangku, kamu cepat hapus semua file yang ada di handphonemu itu," lanjutnya lagi sambil mematikan panggilan telepon.
Lelaki itu pun segera menuruti perintah dari bosnya, ia pun segera mencari cara. Agar ia tidak sampai tertangkap oleh polisi, yang sedang mencari keberadaannya.
__ADS_1
________
Sementara itu.
Di sebuah kamar.
Arsyaka sedang berusaha menenangkan ketiga anaknya, yang ingin pulang dan bertemu dengan Samara.
"Ayah, aku ingin pulang tidak mau di sini," ucap Arsya yang merengek pada Arsyaka ayahnya. Karena ia dari tadi terus meminta pulang kepada Arsyaka.
"Huhu, aku juga mau pulang ke rumah, yah." Kirana menimpali ucapan Arsya sambil menangis.
"Kalian jangan terus meminta pulang ke rumah, katanya tadi siang kangen sama ayah. Masa sekarang sudah mau minta pulang saja," sahut Arsyaka yang tidak menuruti kemauan anaknya yang ingin pulang ke rumah.
"Tolong antarkan aku dan adikku pulang, ini sudah malam yah. Pasti bunda mengkhawatirkan keadaanku dan adikku, yah. Apalagi kami bertiga pergi bersama ayah, tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada bunda." Candra memohon pada Arsyaka ayahnya. Agar Arsyaka mau mengantarkan mereka bertiga pulang ke rumah.
"Besok saja pulangnya, yah. Ayah sudah minta ijin kok, sama bunda kalian bertiga. Sekarang kalian bertiga, sebaiknya tidur jangan menangis terus." Arsyaka pun berusaha membujuk ketiga anaknya. Agar mereka bertiga tidak terus-menerus meminta pulang ke rumahnya.
"Gak mau. Aku mau pulangnya sekarang, yah." Arsya berteriak dengan kencang, dan tetap ngotot ingin pulang ke rumah.
Retno yang datang membawa makanan dan minuman untuk ketiga cucunya, sangat kesal melihat ketiga cucunya yang terus menangis.
"Iya Bu, dari tadi juga Arsyaka sudah berusaha menenangkan mereka bertiga. Tapi mereka bertiga,masih menangis saja, dan terus meminta pulang ke rumah," sahut Arsyaka menjelaskan kepada ibunya.
"Ayah tolong hubungi nomor bunda, aku dan adik-adikku akan berhenti menangis. Kalau ayah menghubungi bunda," ujar Candra yang meminta pada ayahnya, untuk menghubungi nomor telepon Samara bundanya.
Retno yang mendengar itu langsung mengeluarkan bola matanya ke arah Arsyaka, berharap Arsyaka tidak menuruti kemauan ketiga anaknya.
Sedangkan Arsyaka yang mengetahui maksud tatapan mata ibunya, segera meragap saku celananya, yang ia taruh handphone miliknya di dalam sana. Akan tetapi, ia tidak merasakan adanya handphone yang ia taruh di dalam saku celananya.
"Astaghfirullah. Bu handphoneku sepertinya tertinggal di mobil tadi," ucap Arsyaka sambil menepuk keningnya.
"Kamu ini ada-ada saja, sampai handphone tertinggal segala," gerutu Retno yang kesal pada Arsyaka.
"Kalau memang tidak ada handphone ayah, antarkan kami pulang ke rumah saja yah." Candra memohon pada ayahnya lagi, berharap ayahnya mau mengantarkan ia dan kedua adiknya pulang ke rumah.
"Aku mau pulang..." Arsya berteriak lagi dengan suara yang sangat kencang.
"Hey, kalian semua berisik sekali. Ada apa ini?" tanyanya pada Arsyaka dan Retno.
__ADS_1
Karena di saat ia sedang selesai berbicara dengan anak buahnya, ia mendengarkan suara yang berisik di dalam kamar Arsyaka dan ketiga anaknya.
"Be.. begini bos, anak-anakku meminta ingin pulang, dan aku baru ingat. Kalau handphoneku tertinggal di mobil..."
"Kamu ceroboh sekali. Hey wanita tua, cepat matikan handphonemu. Jangan sampai polisi, bisa mendeteksi keberadaan kita semua," ucapnya yang segera memotong ucapan Arsyaka yang belum selesai berbicara, dan ia menyuruh Retno untuk mematikan handphonenya.
"Memangnya polisi sudah mengetahui keberadaan kita bos?" tanya Retno.
"Iya, aku sangat yakin sekali. Karena saat ini, polisi sedang memeriksa mobil itu. Apalagi di dalam mobil itu, ada handphone milik Arsyaka yang tertinggal. Cepat matikan handphonemu, sekarang!'' jawabnya.
"Baik bos," timpal Retno yang segera mengambil handphonenya, dan langsung menonaktifkan handphone miliknya.
____________
Sementara itu.
Para polisi yang sedang berusaha mencari keberadaan lelaki itu, di dalam klub malam. Hingga sampai jam dua dini hari, para polisi belum berhasil menemukan keberadaan lelaki itu.
Polisi yang bertugas mengawasi mobil lelaki itu, mereka semua belum melihat tanda-tanda kedatangan lelaki itu yang akan masuk ke dalam mobilnya.
"Bagaimana ini pak? Lelaki itu sepertinya sudah mengetahui kedatangan kita di sini, dan sepertinya ia sudah kabur dari sini. Karena sampai sekarang saja, dia belum datang ke mobilnya," ucap Arga yang bertanya kepada Brigadir Jenderal Marko.
Marko berpikir sejenak, sebelum menjawab pertanyaan dari Arga.
''Bagaimana? Kalau kita menggeledah mobilnya saja, pak." Ricky memberi usul kepada Brigadir Jenderal Marko. Agar mengeledah mobil lelaki itu.
"Ya sudah, kalian semua segera membuka mobil itu, dan menggeledah isi mobilnya." Brigadir Jenderal Marko yang setuju dengan usul dari Ricky, segera menyuruh anak buahnya. Untuk membuka paksa pintu mobil milik lelaki itu.
Ketika para polisi berhasil membuka pintu mobil lelaki itu, mereka semua segara mencari barang bukti yang berada di dalam mobil.
"Lapor pak. Saya menemukan handphone yang tertinggal di dalam mobil, ini handphonenya." Arga segera memberikan handphone milik Arsyaka, yang tertinggal di dalam mobil kepada Marko.
Marko pun menerima handphone itu, dan segera memeriksa handphone milik Arsyaka.
"Ayo kita semua pulang dari sini, dan bawa mobil itu juga sebagai barang bukti." Marko menyuruh anak buahnya. Untuk pergi meninggalkan klub malam ini, dan menyuruh mereka semua membawa mobil milik lelaki itu sebagai barang bukti.
"Besok pagi, kita lanjutkan lagi kasus ini," lanjutnya.
Para polisi pun segera pergi meninggalkan klub malam ini, dan akan melakukan penyelidikan kasus ini keesokan harinya.
__ADS_1