Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 25 Kebohongan Arsyaka


__ADS_3

POV Samara.


Saat anak-anak sudah masuk ke dalam kamar, aku segera menanyakan tentang tujuan kedatangan Mas Syaka yang masih berada di dalam rumah ini.


Tapi Mas Syaka hanya diam, dan tidak langsung menjawab pertanyaan dariku. Aku pun memutuskan untuk menanyakan kembali. Sebelum ketiga anakku keluar dari dalam kamar.


"Mas kenapa masih di sini?" tanyaku sekali lagi.


"I... ini rumah kita sayang, memangnya Mas mau tinggal di mana? Kalau bukan di sini, bersama kamu dan ketiga anak kita," jawaban dari Mas Syaka. Membuat aku menggelengkan kepala. Mungkin saja Mas Syaka mengira. Kalau aku belum mengetahui perselingkuhannya dengan Chelsea, dan rumah baru yang telah Mas Syaka beli tanpa sepengetahuanku.


"Kemana saja Mas selama beberapa hari ini, sampai tidak bisa di hubungi? Dan siapa wanita yang bersama Mas? Saat Mas mengalami kecelakaan?" aku sengaja mencerca banyak pertanyaan. Karena aku ingin mengetes kejujuran Mas Syaka.


"Mas kan sudah bilang sama kamu. Kalau Mas dan ibu akan pergi menghadiri acara pernikahan saudara Mas, yang berada di kota terpencil. Sehingga tidak ada sinyal di sana dan..."


"Kapan Mas bilang?" tanyaku cepat, dan segera memotong ucapan Mas Syaka. Karena aku tidak mendengar sama sekali, saat Mas Syaka mengatakan itu semuanya kepadaku.


"Waktu semalam, sebelum Mas dan ibu pergi ke acara pernikahan saudara Mas. Mungkin saja, kamu sudah tertidur. Sehingga tidak mendengarkan ucapan Mas, dan gadis yang bersama Mas waktu kecelakaan. Dia adalah sepupu Mas yang baru datang dari kota...." .


"Bali, dan yang pasti wanita itu baru saja melangsungkan pernikahan di pulau Dewata Bali. Benar begitu Mas?" aku segera menyela ucapan dari Mas Syaka lagi. Karena aku sudah muak dengan kebohongan, yang akan Mas Syaka katakan. Aku mengatakan dengan sesantai mungkin, dan menyunggingkan senyuman. Tapi ucapanku itu, membuat Mas Syaka menundukkan kepalanya.


Untuk apalagi Mas Syaka masih berbohong kepadaku. Karena aku sudah mengetahui perselingkuhannya dengan Chelsea, bahkan pernikahan yang dia adakan di pulau Dewata Bali, aku sudah mengetahui itu dari ibu-ibu arisan.


"Kenapa Mas diam? Sudahlah Mas, aku tidak mau di bohongi lagi. Karena aku sudah mengetahui semuanya, lebih baik Mas pergi dari sini," aku mengusir Mas Syaka dari rumah ini. Untuk apalagi  Mas Syaka masih berada di sini, lebih baik dia tinggal bersama dengan Chelsea istri barunya. Karena aku akan menggugat cerai Mas Syaka.


"Maafkan aku," ucapnya lirih, dan aku melihat dia menitikkan air mata.


"Ayah, kenapa bersedih bunda?" tanya Arsya yang sudah keluar dari dalam kamar, bersama dengan kedua kakaknya.

__ADS_1


Aku menghembuskan nafas panjang. Sebelum aku menjawab pertanyaan dari putra bungsuku. Sepertinya aku harus menceritakan pada ketiga anakku, tentang hubunganku dengan Mas Syaka ayah dari ketiga anakku. Agar anak-anakku, bisa mengerti dengan kondisi kedua orang tuanya yang tidak bisa bersama lagi.


"Sayang ayah itu..."


"Sedang sakit di bagian kedua kaki ayah. Karena ayah mengalami lumpuh, dan tidak bisa berjalan, itulah yang membuat ayah bersedih. Karena ayah tidak bisa menggendong Arsya lagi," ucapanku yang belum selesai aku katakan. Tapi Mas Syaka malah menyela ucapanku, dan ia juga malah memberitahukan tentang kondisinya yang mengalami lumpuh. Aku membuang muka kesal, atas ucapan Mas Syaka barusan. Meski ucapannya benar adanya, dan pasti membuat ketiga anakku, akan menahan kepergian dirinya.


"Apakah kaki ayah masih bisa sembuh?" tanya Kirana putriku.


"Kata Dokter masih bisa sembuh, tapi tidak tahu kapan?" jawabnya dengan raut wajah sedih.


"Aku akan membantu ayah berjalan lagi, seperti ayah mengajari aku berjalan di waktu aku masih kecil," sahut Candra.


"Ayah, aku juga akan membantu ayah berjalan," timpal Arsya.


"Aku juga yah," Kirana pun ikut menimpali ucapan dari Candra dan Arsya.


"Bunda biarkan Candra yang mendorong ayah ke meja makan," ucap Candra saat aku akan mendekati Mas Syaka, untuk mendorong dirinya ke tempat meja makan.


Ku anggukkan kepala, membiarkan Candra mendorong ayahnya, yang berada di kursi roda menuju meja makan. Dan kami semua makan siang bersama.


Saat sedang makan bersama, handphone milik Mas Syaka terus berbunyi. Tapi panggilan itu, tidak langsung di angkat oleh Mas Syaka. Hingga sampai panggilan, yang entah ke berapa kali. Mas Syaka buru-buru menghabiskan makanannya, dan menerima panggilan dari handphonenya.


"Ayah sudah selesai makannya, ayah mau menerima panggilan telepon dari bos." Mas Syaka pamit sambil mendorong sendiri kursi rodanya, dan ia pun pergi menjauh dari tempat meja makan.


Aku melihat Kirana putriku bangun dari tempat duduknya, dan seperti akan pergi menghampiri ayahnya, yang pergi mendorong kursi roda dengan kedua tangannya.


"Ayo sayang, cepat habiskan makanannya." aku menghentikan Kirana, yang akan pergi menemui ayahnya. Untuk membantu mendorong kursi roda, yang di gunakan oleh ayahnya. Aku dan ketiga anakku melanjutkan makan siang.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang dan mencuci piring, aku yang akan pergi ke dalam kamar. Melihat pintu kamar tamu sedikit terbuka, dan aku pergi ke arah kamar tamu. Untuk menutup pintu. Akan tetapi! Saat aku akan menutup pintu kamar tamu. Aku tidak sengaja mendengar suara pembicaraan Mas Syaka, dengan orang yang Mas Syaka hubungi di dalam kamar tamu.


"Mas Syaka menelepon siapa sih? Tidak mungkin menelepon bos! Sampai sekarang belum selesai," aku yang penasaran dengan pembicaraan Mas Syaka, memutuskan untuk mendengarkan pembicaraannya.


"Aku tidak tahu dia tahu dari mana? Dan aku sudah mengatakan itu," ucap Mas Syaka.


Dan aku tidak mendengar suara balasan, dari orang yang menghubungi Mas Syaka.


"Iya, tenang saja bu. Meski tadi dia sempat mengusir aku pergi dari rumah ini. Tapi ibu tidak perlu khawatir! Karena ketiga anakku pasti akan menghalangi kepergianku, aku akan tetap tinggal di sini. Karena Chelsea tidak mungkin mengurus aku, dengan kondisinya yang tengah hamil muda. Samara pasti bisa menerima Chelsea sebagai madunya, toh dia di sini tidak memiliki keluarga selain keluarga kita. Pekerjaan juga dia tidak punya, dan hanya mengandalkan uang bulanan dariku." Mas Syaka ternyata sedang menghubungi ibunya, dan dia merasa percaya diri sekali mengatakan itu pada ibunya.


Meski aku tidak mempunyai keluarga disini, dan tidak memiliki pekerjaan yang hasilnya besar. Tapi aku masih sanggup membiayai ketiga anakku dengan berjualan kue, dari pada aku harus di madu. Apalagi kedatangan dirinya kesini, hanya meminta aku untuk mengurus dirinya yang sedang mengalami lumpuh di kedua kakinya. Bukan karena dia memilih aku dan anak-anak, tapi ia hanya ingin tinggal bersamaku dan ketiga anaknya. Agar aku mau mengurus dirinya.


Aku tidak jadi menutup pintu kamar tamu, dan segera pergi ke dalam kamarku. Untuk menghubungi Nayla, dan menanyakan lebih lanjut tentang gugatan perceraian ku dengan Mas Syaka.


Saat aku membuka handphoneku, aku jadi tahu! Kenapa Nayla tidak membalas pesan dariku? Itu karena aku belum mengirimkan pesan pada Nayla. Mungkin saja, saat Arsya memanggilku meminta di belikan jajanan di sekolah tidak aku kirim pesannya, dan aku malah langsung memasukkan handphoneku ke dalam tas.


Aku pun segera mengirimkan pesan pada Nayla, dan setelah itu barulah menghubungi Nayla.


"Assalamualaikum. Nay maaf, tadi aku tidak membalas pesan dari kamu," ucapku saat Nayla menerima panggilan telepon dariku.


"Waalaikumsalam. Oh iya tidak apa-apa kok. Tapi ini ada pesan masuk dari kamu?" jawab Nayla sambil menanyakan tentang pesan yang baru aku kirim kepadanya.


"Iya itu barusan aku kirim balasannya. Karena aku sudah mengetik balasan pesan, untuk di kirim ke kamu. Tapi tidak terkirim," jelas ku.


"Oh begitu, tapi ini kamu beneran sudah yakin dengan keputusan ini?" Nayla sepertinya sudah membaca pesan dariku, sambil menerima panggilan telepon. Dan Nayla menanyakan itu, pasti karena dia ingin memastikan keputusan yang akan aku ambil.


"Iya Nay, aku sudah yakin dengan keputusanku ini. Sebaiknya kamu cepat urus gugatan perceraian ku dengan Mas Syaka karena aku ingin..."

__ADS_1


"Bunda..." aku menengok ke arah suara panggilan dari anakku, yang membukakan pintu kamar yang tidak aku kunci.


__ADS_2