Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 55 Resmi menjadi janda


__ADS_3

POV Samara.


Di saat aku selesai bertelepon dengan Rayanza, terdengar suara bapak yang memanggilku.


"Samara," panggil bapak.


"Iya pak," sahutku sambil menengok ke belakang, melihat kedatangan bapak yang datang menemuiku.


"Ada apa pak?" tanyaku pada bapak.


"Bapak mau memperkenalkan kamu sama anak temannya bapak, dia sudah berada di dalam toko kita," ucap bapak yang mengajakku bertemu dengan anak temannya bapak, yang telah membantu bapak. Disaat aku dan bapak pindah ke kota ini, dalam mencari rumah serta tempat usaha. Untuk berjualan kue, yang sekarang ini aku rintis bersama kedua orang tuaku.


Aku dan bapak pun bergegas pergi, menemui anak temannya bapak yang sudah masuk ke dalam toko kueku.


"Nak Ervan, ini Samara putriku. Waktu nak Ervan datang ke sini, Samara lagi pergi ke Jakarta. Jadinya baru sekarang ini, bisa memperkenalkan Samara pada nak Ervan," ucap bapak yang mau memperkenalkanku dengan anak temannya bapak, yang ternyata bernama Ervan.


Aku dan Ervan pun saling berkenalan dan menjabat tangan. Tidak lama kemudian ibu datang membawa minuman dan juga kue.


"Ayo silahkan di minum dan di cobain kuenya," ucap ibu yang mempersilahkan Ervan. Untuk meminum dan memakan kue yang ibu bawa.


"Iya Bu, aku cobain kuenya ya," sahutnya sambil mengambil kue dan juga minum yang di bawa oleh ibu.


"Pantas saja, yang beli kue di sini tadi rame banget, ternyata kue buatan ibu dan Samara memang enak." Ervan memuji kue buatanku dan juga ibu.


"Aaah Nak Ervan bisa saja memujinya," balas ibu sambil tersenyum.


Aku dan kedua orang tuaku terlibat obrolan ringan dengan Ervan, di saat belum ada pembeli yang datang ke dalam toko kueku.


Saat aku melihat jam yang akan menuju waktu pulang anak-anak dari sekolah, aku segera pergi berpamitan kepada kedua orang tuaku. Untuk menjemput ketiga anakku yang akan pulang sekolah.


Aku yang akan melangkah pergi meninggalkan toko kue, mendengar suara Ervan yang meminta ijin kepada bapakku.


"Pak, apakah aku boleh menemani Samara yang akan pergi menjemput anak-anaknya?" tanya Ervan yang meminta ijin kepada bapak. Untuk menemaniku menjemput sekolah ketiga anakku.


"Bapak sih tidak melarang, kalau kamu mau menemani Samara menjemput anaknya. Pasti kamu juga mau sekalian menjemput anakmu, yang satu sekolah dengan anaknya Samara," jawab bapak yang memberikan ijin pada Ervan, yang mau menemaniku menjemput anak-anak di sekolah.


Aku menghentikan langkahku yang akan pergi, dan mengkerutkan keningku. Karena aku mendengar ucapan bapak, yang mengatakan bahwa Ervan memiliki anak. Aku mengiranya, kalau Ervan itu belum menikah dan mempunyai anak.


"Ervan kamu mempunyai anak yang bersekolah dengan anakku?" tanyaku pada Ervan.


"Iya," sahutnya singkat.

__ADS_1


"Lebih baik jemput anak masing-masing saja pak, aku tidak mau nanti istrinya Ervan melihat aku dekat dengan Ervan," aku menolak ajakan dari Ervan, yang mau menemaniku menjemput anak-anak dari sekolah.


"Istriku sudah meninggal dunia," ucap Ervan yang menceritakan tentang istrinya yang sudah meninggal dunia.


"Maaf," lirihku pelan. Karena telah membuat Ervan bersedih, mengingat almarhum istrinya. Aku tidak tahu, kalau istrinya Ervan telah meninggal dunia.


"Iya, tidak apa-apa," balasnya.


"Pak, bu. Aku dan Samara pamit pergi menjemput anak-anak dulu," lanjutnya yang berpamitan dengan kedua orang tuaku.


"Iya hati-hati di jalannya," ucap ibu dan bapak secara bersamaan.


"Ayo Samara kita pergi menjemput anak-anak," ajaknya kepadaku.


"Iya," sahutku.


Setelah berpamitan kepada kedua orang tuaku, aku dan Ervan pun pergiĀ  menjemput anak-anak di sekolah.


Sesampainya di sekolah anak-anak. Aku dan Ervan datang tepat waktu. Karena anak-anak sudah keluar dari dalam kelasnya, anak-anak langsung berlari pergi menghampiriku yang baru keluar dari dalam mobilnya Ervan.


Ketiga anakku dan anaknya Ervan, langsung bersalaman kepadaku dan juga Ervan.


"Bunda dan papanya kak Vina jemput aku pulang sekolah," tanya Arsya.


"Oh ini, bundanya kalian bertiga. Perkenalkan Tante, namaku Vina Azahra panggil saja aku Vina." Vina putrinya Ervan mengulurkan tangannya kepadaku.


Aku pun segera menerima uluran tangannya, dan berkenalan dengan Vina putrinya Ervan. Aku kira, putrinya Ervan seumuran dengan Candra dan Kirana, tapi ternyata umurnya di atas kedua anak kembarku. Setelah selesai berkenalan dengan Vina, aku dan anak-anak serta Ervan segera masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan menuju pulang.


Aku menengok ketiga anakku dan Vina anaknya Ervan yang duduk di bangku belakang, mereka semua terlihat akrab sekali.


Tidak lama kemudian.


Aku dan anak-anak telah sampai di depan rumah. Sebelum aku turun dari mobil, aku mengucapkan terima kasih pada Ervan.


"Dadah," ucap ketiga anakku yang melambaikan tangannya pada Vina.


Vina yang kini duduk di depan bersama Ervan papanya, ia pun ikut melambaikan tangannya ke arah anak-anakku.


Setelah Ervan dan Vina sudah pergi menjauh dari rumah, aku mengajak ketiga anakku masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian. Setelah itu, barulah makan siang bersama. Sebelum aku dan anak-anak pergi ke toko kueku.

__ADS_1


Akan tetapi, di saat aku menunggu kedatangan anak-anak untuk makan siang bersama. Tiba-tiba saja Rayanza meneleponku lagi, aku pun segera menerima panggilan telepon dari Rayanza.


"Assalamualaikum," ucap salam Rayanza.


"Waalaikumsalam," jawabku.


"Ra, aku minta kamu memasang cctv di rumah dan juga di toko kuemu. Karena saat aku dan polisi pergi ke rumah Arsyaka, di dalam rumahnya tidak ada Siska adiknya. Aku dan pihak kepolisian, sedang berusaha mencari keberadaan Siska dan kekasihnya. Tapi sepertinya mereka berdua kabur dari kota Jakarta," jelas Rayanza.


"Baiklah Ray, aku akan memasang cctv di rumah dan juga di toko kueku," sahutku. Karena aku juga tidak mau sampai terjadi sesuatu pada anak dan keluargaku di sini.


"Kamu hati-hati ya di sana, kalau ada apa-apa di sana. Kamu hubungi saja aku, karena aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada kamu dan anak-anak serta kedua orang tuamu," ujar Rayanza yang mengkhawatirkan keadaanku dan anak-anak serta kedua orang tuaku.


"Iya Ray," balasku.


"Nanti setiap hari Sabtu dan Minggu, aku akan pergi ke Surabaya untuk menemuimu dan anak-anak," aku mengkerutkan kening, mendengar ucapan Rayanza yang mau pergi menemuiku dan anak-anak setiap hari Sabtu dan Minggu.


"Maksudnya?" tanyaku yang heran dengan ucapan Rayanza barusan.


"Aku ada kerjaan di Surabaya setiap hari Sabtu dan Minggu, jadi aku bisa bertemu dengan kamu dan juga anak-anak. Aku matikan panggilan teleponnya dulu ya," jawab Rayanza yang langsung mengakhiri panggilan teleponnya.


"Bunda lagi telepon dengan siapa?" tanya Candra yang sudah datang menghampiriku bersama dengan Arsya dan juga Kirana.


"Itu tadi Om Ray," sahutku.


"Aku kira, tadi itu bunda sedang bertelepon dengan ayah," lirih Arsya yang sepertinya merindukan ayahnya.


"Arsya jangan bilang seperti itu di depan bunda," bisik Candra di telinga Arsya, yang masih bisa aku dengar ucapannya.


Aku tahu, pasti ketiga anakku merindukan ayahnya. Tapi Mas Syaka sebagai ayah dari ketiga anakku, sepertinya tidak merindukan ketiga anaknya. Bahkan saat aku berada di Jakarta, dan sedang berbicara dengan Mas Syaka, ia tidak menanyakan kabar ketiga anaknya.


"Bun, aku sudah lapar mau makan siang," ucap Kirana.


"Iya sayang," aku pun segera mengambil makanan untuk ketiga anakku. Aku dan anak-anak pun makan siang bersama.


________________


Beberapa bulan kemudian.


Kini aku sudah resmi menjadi seorang janda, kehidupanku bersama anak dan kedua orang tuaku berjalan baik-baik saja. Meski sampai sekarang ini, Siska mantan adik iparku belum ditemukan. Dan selama beberapa bulan terakhir ini, Rayanza sering datang menemuiku dan anak-anak setiap hari Sabtu dan Minggu.


Ketiga anakku pun semakin dekat dengan Vina anaknya Ervan, cucunya teman bapak yang sering main ke rumah dan juga ke toko kueku.

__ADS_1


Tok-tok terdengar suara ketukan pintu, aku yang berada di ruang tamu segera membuka pintu rumah.


Saat aku membuka pintu, aku kaget melihat kedatangan Rayanza dan juga Ervan yang datang membawa kedua orang tuanya masing-masing.


__ADS_2