
Samara yang memutuskan pergi menjemput ketiga anaknya, meski jam pulang sekolah masih lama. Karena Samara ingin pergi meninggalkan Arsyaka yang datang bersama ibu dan adiknya, ke rumah yang di tempati oleh Samara dan ketiga anaknya.
Sesampainya Samara di sekolah TK Islam Mutia 4, ia menunggu Arsya putra bungsunya yang belum keluar dari dalam sekolah.
"Bunda Arsya sini!" teriak mamanya Endi yang memanggil Samara.
Samara membalas panggilan dari mamanya Endi, dengan mengagukkan kepalanya, dan memarkirkan motornya terlebih dahulu. Sebelum pergi menghampiri ibu-ibu, yang sedang menunggu anaknya pulang dari sekolah.
"Bunda Arsya, kok tidak jualan kue lagi sih?" tanya mamanya Restu. Saat Samara sudah berada di dekat ibu-ibu yang akan menjemput anaknya di sekolah TK Islam Mutia 4.
"Iya libur dulu hari ini! Karena kemarin itu ada urusan keluarga. Jadi tidak sempat membuat kue, dan di tambah bahan-bahannya juga sudah habis, belum belanja lagi,'' sahut Samara menjelaskan kepada ibu-ibu itu.
"Besok jualan kue lagi gak?" tanya Bi Lela tetangganya Samara, yang suka dengan kue buatannya Samara.
"Insya Allah Bi, kebetulan aku sudah membeli bahan-bahannya. Tadi sepulang mengantarkan anak-anak ke sekolah, aku langsung pergi belanja ke pasar," jawab Samara.
"Kalau begitu! Aku mau pesan kue buat putriku. Karena besok teman-teman kuliahnya akan main ke rumah, ini uangnya." Bi Lela memberikan uang pada Samara.
Samara pun menerima uang pesanan kue dari Bi Lela.
"Aku juga mau pesan buat besok. Karena kue buatan bunda Arsya udah enak murah lagi," celetuk bundanya Ardi yang memuji kue buatan Samara.
"Besok juga aku mau beli,"
"Iya aku juga mau."
"Aku pesan kuenya campur yah bunda Arsya,"
Suara ibu-ibu yang mau memesan kue buatan Samara.
"Iya ibu-ibu. Nanti besok pesanan kue ibu-ibu akan saya buatkan," jawab Samara sambil tersenyum senang.
"Alhamdulillah. Aku mendapatkan pesanan kue dari ibu-ibu untuk besok," batin Samara yang penuh rasa syukur. Karena mendapatkan pesanan kue dari ibu-ibu TK Islam Mutia 4.
Tidak lama kemudian.
Anak-anak TK Islam Mutia 4 pun keluar dari dalam sekolah. Arsya yang sudah selesai belajar di sekolah, segera pergi menghampiri Samara yang menjemputnya dan bersalaman kepada bundanya.
"Yuk, kita jemput kak Candra dan kak Kirana," ajak Samara ketika Arsya sudah datang menghampiri Samara sambil mengulurkan tangannya. Untuk bersalaman pada Samara bundanya.
__ADS_1
"Iya bunda," sahut Arsya, ia pun segera naik ke atas motor yang di kendarai oleh Samara.
Motor yang di kendarai oleh Samara, segera pergi ke sekolah SD negeri Harapan Jaya. Untuk menjemput Candra dan Kirana yang bersekolah di sana.
Saat Samara dan Arsya menunggu putra putrinya yang belum keluar dari dalam sekolah, ia mendapatkan pesan teks dari Nayla.
[Ara, apakah Arsyaka mengetahui kamu menggugat cerai dirinya? Sehingga dia dan ibu serta adiknya menuduh kamu berselingkuh dengan Rayanza?]
Samara pun segera membalas pesan dari Nayla sahabatnya.
[Dia belum mengetahuinya Nay. Mungkin saja kedatangannya, hanya untuk mengambil pakaian yang masih berada di dalam rumah. Nayla tolong berikan berkas itu pada pengacara keluargamu. Karena aku sudah yakin dengan keputusan ini,]
Kekecewaan Samara atas ucapan Arsyaka yang telah menuduhnya berselingkuh dengan Rayanza, membuat Samara mengambil pilihan untuk melanjutkan gugatan perceraiannya dengan Arsyaka.
"Bismillah. Semoga ini menjadi keputusan yang terbaik," batin Samara sebelum mengirimkan pesan teks itu kepada Nayla.
"Bunda, Arsya mau beli itu." Arsya menggoyangkan tangannya Samara. Dan menunjukkan ke arah pedagang, yang berada di sekitar sekolah SD negeri Harapan Jaya.
"Arsya sudah lapar yah?" tanya Samara sebelum mengijinkan Arsya membeli jajanan yang berada di sekolah.
"Iya Bun," sahutnya sambil tersenyum.
Samara memasukkan kembali handphone miliknya, ke dalam tas yang ia bawa. Karena tidak mendapatkan balasan pesan lagi dari Nayla, ia pun melihat Arsya yang sudah membeli jajanan yang ada di sekitar sekolah.
Arsya makan begitu lahapnya, membuat Samara tersenyum senang melihat anaknya yang sedang makan, dan menghabiskan makanan yang sudah Arsya beli.
"Pelan-pelan sayang makannya." Samara mengelap sisa makanan yang berada di sekitar mulut Arsya yang sangat berantakan.
"Iya bunda, hehehe..." Arsya terkekeh melihat bundanya bisa tersenyum lagi.
"Maafin Arsya ya bunda. Karena Arsya terus meminta bertemu dengan ayah. Sehingga membuat bunda bersedih, dan tidak bisa menemani ayah yang sedang sakit. Maafkan Arsya Bun," gumam Arsya sambil menggenggam erat tangan Samara.
Samara melepaskan genggaman tangan dari Arsya, dan mengganti dengan memeluk tubuh Arsya yang berada di dekatnya.
"Maafkan bunda sayang. Mungkin keputusan bunda kali ini, membuat kamu akan semakin sulit bertemu dengan ayah," batin Samara sambil mengusap punggung putra bungsunya itu.
Tidak lama kemudian lonceng bel pun berbunyi. Murid-murid pun segera keluar dari dalam kelasnya.
"Bunda yuk kita pulang dulu ke rumah. Setelah itu, barulah kita pergi menjenguk ayah ya Bun,"ucap Kirana.
__ADS_1
Samara yang bingung menjawab ucapan dari Kirana, mencoba memberikan senyuman manis. Atas ucapan dari Kirana yang ingin bertemu dengan ayahnya.
"Arsya juga mau ikut menjenguk ayah," timpal Arsya antusias sekali. Saat Kirana meminta pada Samara, untuk pergi menemui ayahnya.
"Candra juga ikut Bun." Candra pun ikut menimpali ucapan dari kedua adiknya itu.
"Yuk naik, kita pulang sekarang." Samara mengalihkan pembicaraan antara ketiga anaknya, yang meminta bertemu dengan ayahnya.
Ketiga anaknya pun segera naik ke atas motor. Karena mereka semua ingin segera sampai ke rumah, dan setelah itu pergi menjenguk ayahnya.
"Maafkan bunda nak, yang tidak bisa mempertemukan kamu dengan ayah," gumamnya dalam hati. Karena Samara tidak mau mengajak pergi ketiga anaknya, yang pasti akan bertemu dengan Chelsea yang sudah menjadi ibu tiri bagi ketiga anaknya.
Samara tidak sanggup menceritakan, tentang permasalahannya yang akan berdampak pada ketiga anaknya. Apalagi! Jika Samara resmi bercerai dengan Arsyaka suaminya.
Sesampainya Samara dan ketiga anaknya di rumah, mereka bertiga segera lari masuk ke dalam rumah.
"Ayah!" teriak ketiga anaknya, yang melihat ayahnya sudah berada di dalam rumah.
Mereka bertiga pun segera pergi menghampiri Arsyaka, yang sedang duduk di kursi roda. Arsyaka pun merentangkan kedua tangannya, agar ketiga anaknya mau memeluknya.
"Ayah sudah sembuh?" tanya Candra yang berada di dalam pelukan ayahnya.
"Alhamdulillah sayang," jawabnya.
Samara yang sudah masuk ke dalam rumah, kaget melihat Arsyaka belum pulang dari rumahnya. Karena ia tidak melihat kendaraan mobil milik ibu mertuanya, yang terparkir di depan rumahnya.
"Aku kira! Mas Syaka sudah pulang dari sini. Karena mobil ibunya sudah tidak ada di depan rumah, tapi kenapa dia masih di sini?" batin Samara yang kaget melihat Arsyaka masih berada di dalam rumahnya.
"Bunda, ayah sudah pulang." Arsya memberitahukan kepada Samara sambil tersenyum senang, melihat ayahnya sudah berada di dalam rumah.
"Iya sayang." Samara bersikap normal seperti biasanya, dan mengulurkan tangannya ke arah Arsyaka yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Karena Samara tidak mau ketiga anaknya, mengetahui permasalahan yang ada di antara Samara dan Arsyaka.
"Kalian ganti baju dulu, setelah itu baru makan siang." Samara menyuruh ketiga anaknya untuk mengganti pakaian.
"Baik Bun," sahut ketiga anaknya, dan segera masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
Setelah ketiga anaknya sudah masuk ke dalam kamar. Samara menatap tidak suka, dengan kehadiran Arsyaka yang masih berada di dalam rumahnya.
"Kenapa Mas masih di sini?" tanya Samara dengan tatapan sinis.
__ADS_1