
POV Arsyaka.
Sebelum aku memutuskan pergi ke rumah yang di tempati Samara dan ketiga anakku, aku menghubungi Chelsea terlebih dahulu. Berharap dia mau tinggal di rumah baru, yang sudah aku beli untuknya. Karena rasanya aku malu bertemu dengan Samara, dengan kondisi kedua kakiku yang lumpuh. Apalagi dia mungkin sudah mengetahui hubunganku dengan Chelsea, pasti pihak rumah sakit mengatakan pada Samara, tentang wanita yang mengalami kecelakaan bersamaku.
Kalau Samara belum mengetahui semua itu, dia tidak mungkin meninggalkan aku yang baru sadar pasca kecelakaan yang menimpaku.
"Kamu mau menghubungi siapa?" tanya ibu yang masuk ke dalam kamarku, sambil membawakan makanan untukku. Sehingga ibu bisa melihat aku yang sedang menelepon.
"Aku mau menghubungi Chelsea Bu, biar dia mau tinggal di sini. Kan ibu dan Siska tidak mau mengurus aku yang lumpuh ini," jawabku sedikit menyindir ucapan ibu dan Siska, yang tidak mau mengurusku yang mengalami lumpuh di kedua kakiku.
"Ibu bukannya tidak mau mengurus kamu, tapi kamu tahu sendirilah ibumu ini sudah tua, dan Siska juga sibuk dengan kuliahnya. Apa gunanya kamu punya istri dua, kalau harus ibu juga yang harus mengurus kamu. Nih makananmu dan juga obatnya, nanti kamu minum biar cepat sembuh." Ibu meletakkan makanan dan minuman serta obat di dekatku.
"Iya Bu, nanti aku makan. Aku mau menghubungi Chelsea dulu," sahutku sambil terus menghubungi Chelsea. Tapi belum juga di angkat panggilan telepon dariku.
Aku menghela nafas panjang. Karena semenjak berkenalan dengan Chelsea, ia selalu aku prioritaskan. Dan aku selalu ingin terus berdekatan dengan dirinya, sehingga apapun yang ia mau aku selalu memberikannya. Tapi kenapa? Di saat kondisi aku seperti ini! Chelsea malah pergi menjauhiku, meski alasannya karena hormon kehamilan. Tapi setidaknya dia harus berada di dekatku, dan menemani aku dalam kondisi seperti ini.
"Biarkan saja Chelsea mengurus kandungannya. Kalau dia ingin bertemu dengan kamu, pasti Chelsea akan menghubungi kamu. Lebih baik kamu pulang ke rumah Samara, biar Samara yang mengurus kamu. Karena semenjak kamu kecelakaan, dia tidak datang menjenguk kamu," ujar ibu yang menyuruh aku pergi ke rumah yang di tempati oleh Samara istri pertamaku.
"Sebelum ibu dan mama papanya Chelsea datang ke rumah sakit. Samara yang lebih dulu datang menjengukku bersama dengan anak-anakku, tapi dia langsung pergi meninggalkanku. Karena....." aku tidak sanggup melanjutkan ucapanku yang telah menyakiti hati Samara istriku.
"Sudah kamu ibu antar pulang ke rumahnya, kalau kamu takut Samara mengetahui hubungan kamu dengan Chelsea. Biar ibu yang menjelaskannya, ibu akan membela kamu terus. Sampai dia percaya dengan ucapan ibu, toh itu baru ucapan dari Dokter yang mengatakan. Kalau kamu dan seorang wanita mengalami kecelakaan bersama, kamu kan bisa mencari alasan, dan katakan saja! Kalau wanita itu teman kerja kamu. Samara tidak mempunyai bukti hubungan kamu dengan Chelsea," ucapan ibu ada benarnya juga. Samara tidak mempunyai bukti, kalau aku sudah menikah dengan Chelsea. Kenapa aku tidak kepikiran sampai ke situ! Dan aku malah langsung berpikir Samara mengetahui hubunganku dengan Chelsea.
Tapi! Kalau masalah alasan yang ibu berikan aku kurang sependapat, dan itu pasti menimbulkan Samara yang akan mencurigai aku terus. Karena akuĀ tidak pulang beberapa hari ini, tanpa memberitahukannya. Apalagi aku mengalami kecelakaan bersama dengan seorang wanita, takutnya Samara tidak percaya dengan ucapan ibu.
"Tapi alasan yang ibu berikan kurang meyakinkan, pasti akan menimbulkan rasa curiga Samara padaku Bu," aku pun mengatakan kurang setuju dengan alasan yang ibu berikan.
"Kamu tenang saja Syaka, ibu masih mempunyai alasan yang lainnya. Dan pastinya! Samara akan percaya dengan ucapan ibu, cepat kamu makan dan jangan lupa minum obatnya. Setelah itu, barulah kita pergi ke rumahmu," ucap ibu meyakinkanku.
Aku pun segera menghabiskan makanan yang sudah ibu bawa untukku, dan berharap alasan ibu yang lainnya bisa membuat Samara percaya.
__ADS_1
__________
POV Samara.
Aku benar-benar kaget melihat kedatangan Rayanza, dan juga Nayla yang kembali masuk ke dalam rumahku.
"Kamu... Tidak jadi pulang Nay?" tanyaku penasaran dengan kedatangannya Nayla bersama dengan Rayanza.
"Aku sih tadinya mau pulang Ra, pas aku mau pergi meninggalkan rumah kamu. Rayanza yang baru saja datang, menyuruh aku masuk lagi ke rumah kamu," jawab Nayla menjelaskan alasannya yang kembali masuk ke dalam rumahku.
"Aku hanya takut timbul fitnah. Jika berduaan saja dengan kamu, oh iya ini helem kamu tidak ke bawa oleh orang suruhan ku," timpal Rayanza yang ikut menjelaskan, sambil memberikan helem milikku yang tidak di bawa oleh orang suruhannya Rayanza. Ketika mengantarkan motorku, yang tidak aku bawa di rumah sakit. Karena ketiga anakku ingin pulang bersama dengan Rayanza, tapi aku jadi heran! Kenapa bisa helem aku tidak terbawa? Padahal! Helem itu aku taruh di motorku. Tapi ya sudahlah, aku tidak perlu menanyakannya lebih lanjut lagi.
"Terima kasih Ray, aku terus merepotkan kamu. Ayo duduk dulu, aku mau menaruh helem ini. Sekalian membuatkan minuman untuk kamu," sahutku sambil menerima helem yang di berikan oleh Rayanza ke arahku.
"Iya tidak apa-apa Ra."
Rayanza dan Nayla pun duduk di ruang tamu.
"Anak-anak kamu belum pulang sekolah?" tanya Rayanza saat aku sudah duduk di ruang tamu bersama dengan Rayanza dan juga Nayla.
"Belum Ray, ayo silahkan di minum." jawabku sambil mempersilahkan Rayanza dan Nayla minum.
Mereka berdua pun meminum, minuman yang aku buatkan untuk mereka berdua.
"Ra, aku mau pergi ke toilet sebentar ya." Nayla pamit pergi ke toilet.
"Baru juga minum sedikit, sudah mau pergi ke toilet saja," ujar Rayanza yang seperti menggoda Nayla yang akan pergi ke toilet.
"Emang dari tadi aku mau minta izin pergi ke toilet, bukan karena minuman yang aku minum," jelas Nayla.
__ADS_1
"Pantas saja. Saat di ajak masuk ke dalam rumah Ara langsung mau masuk, ternyata ada maunya," celetuk Rayanza. Aku hanya menggelengkan kepalaku, melihat tingkah Nayla dan juga Rayanza yang terus menggoda Nayla.
"Iiikh sok tahu," sahut Nayla yang seperti kesal dengan candaan dari Rayanza. Sehingga ia segera pergi ke arah toilet di dalam rumahku.
"Kamu ini Ray, godain dia terus," ucapku sambil tersenyum. Rayanza pun ikut tersenyum, aku melihat bola mata Rayanza yang seperti mempunyai perasaan cinta pada Nayla.
"Kalian berdua sedang apa di rumah anakku," aku kaget mendengar suara ibu mertua yang datang masuk ke dalam rumah, bersama dengan Siska yang mendorong Mas Syaka di kursi roda.
"Jadi seperti ini kelakuanmu! Selama aku tidak berada di rumah, suami sedang mengalami kecelakaan malah langsung pergi begitu saja," ujar Mas Syaka yang seperti menuduh aku berselingkuh dengan Rayanza. Padahal yang jelas-jelas berselingkuh itu Mas Syaka dengan Chelsea.
"Ini salah paham Arsyaka, aku datang ke sini hanya memberikan helem yang terlupa aku berikan pada Ara." Rayanza berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Bukannya kamu tinggal di luar negeri? Apa itu hanya ke bohongan kamu saja. Sehingga kalian berdua bisa berselingkuh di belakangku!" Mas Syaka kembali menuduh aku berselingkuh dengan Rayanza.
"Kamu kenapa masuk ke rumah langsung marah-marah? Dan menuduh Ara berselingkuh." Nayla yang baru keluar dari dalam kamar mandi langsung bertanya pada Mas Syaka, yang telah menuduh aku berselingkuh dengan Rayanza.
"Aku kira...." Mas Syaka tidak meneruskan apa yang akan dia katakan lagi. Mungkin saja karena telah salah menuduh aku berselingkuh, jadi aku tidak perlu menjelaskan semua tuduhannya itu. Karena yang berselingkuh itu bukan aku, tapi Mas Syaka dengan Chelsea.
"Ara, aku dan Nayla pamit pulang. Nay, ayo kita pulang." Rayanza menarik tangannya Nayla dan mengajaknya pergi keluar rumahku.
"Iya hati-hati. Maaf yah Ray, atas kesalah pahaman ini," balasku yang malu pada Rayanza. Karena Mas Syaka telah menuduh Rayanza dan aku berselingkuh.
Setelah Nayla dan Rayanza pergi menjauh dari rumah. Aku segera pergi keluar rumah, dan membiarkan Mas Syaka dan ibu mertua serta Siska di dalam rumah.
"Kamu mau kemana? Suami baru pulang dari rumah sakit, kenapa langsung pergi?" ibu mertua menarik tanganku, dan mencegahku yang akan pergi.
"Aku mau menjemput anak-anak," sahutku sambil menarik tanganku yang di pegang oleh ibu mertuaku. Aku pun melongos pergi dan menghiraukan ucapan dari ibu mertuaku yang terus menyindirku.
Bukan maksudku yang tidak menghormati kedatangan ibu mertua bersama dengan Mas Syaka dan juga Siska. Tapi kedatangan mereka itulah, yang membuat aku lebih memilih pergi meninggalkan mereka semua. Karena ibu mertuaku malah mendukung putranya menikah dengan Chelsea, padahal! Ibu mertua seorang wanita dan mempunyai anak gadis. Apakah dia rela jika anak gadisnya itu di madu oleh suaminya nanti?
__ADS_1
Aku tahu! Kedatangannya Mas Syaka yang pulang ke rumah, hanya untuk mengambil pakaian yang masih berada di dalam rumah. Dan aku sudah malas berdebat dengan mereka semua, aku semakin yakin dengan keputusan yang akan aku pilih. Setelah Mas Syaka menuduh aku berselingkuh, tanpa bertanya terlebih dahulu kepadaku.