Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 19 Semakin Kecewa


__ADS_3

Samara yang tidak bisa menghubungi suaminya, menghembuskan nafas pelan sambil mengusap dadanya. Karena ia begitu kesal kepada Arsyaka suaminya, yang tidak menjawab panggilan telepon darinya. Samara menutupi kesedihan dan kekecewaannya itu, di depan anak-anaknya dan Rayanza yang berada di sampingnya.


"Keputusan yang aku ambil ini, adalah keputusan yang paling tepat. Karena semenjak Mas Syaka kenal wanita itu, dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Dan selalu memprioritaskan wanita itu," gerutu kesal Samara dalam hatinya.


Rayanza yang sedang menyetir mobil, melirik Samara yang duduk di sebelahnya sambil memangku Arsya.


"Pasti Arsyaka tidak menjawab panggilan darimu, iya kan?" tanya Rayanza.


Samara hanya menganggukkan kepalanya, dan termenung sedih.


"Bunda aku mau ketemu ayah Bun," rengekan Arsya yang ingin bertemu dengan Arsyaka ayahnya.


"Bunda sudah mencoba menghubungi ayah sayang. Tapi panggilan telepon dari bunda, tidak di jawab oleh ayah." Samara mengelus rambutnya Arsya.


"Mungkin saja, ayah lagi di jalan sayang! Jadi ayah tidak bisa mengangkat panggilan telepon dari bunda, sudah Arsya jangan menangis lagi. Nanti ayah pasti pulang kok," lanjut Samara yang mencoba menenangkan Arsya, yang masih menangis meminta bertemu dengan ayahnya. Karena sejak Arsya bangun dari tidurnya, ia terus menangis dan meminta ingin bertemu dengan ayahnya. Samara yang berusaha menghubungi Arsyaka, tapi tidak di angkat panggilan telepon darinya. Sampai nomor telepon Arsyaka, sekarang ini sudah tidak aktif lagi.


"Arsya jangan menangis terus. Om ajak Arsya beli main yang Arsya suka, mau tidak?" Rayanza pun mencoba merayu Arsya dengan membelikan mainan baru. Agar Arsya berhenti menangis.


"Aku maunya ketemu ayah Om. Tapi mainan baru juga mau," sahut Arsya dengan suara khas anak kecil, yang mencoba menghentikan tangisannya.


Samara dan Rayanza yang mendengar suara jawaban dari Arsya tersenyum, karena melihat Arsya sudah berhenti menangis. Sedangkan Candra dan Kirana yang berada di bangku belakang mobil Rayanza, mereka berdua pun ikut meminta ingin di belikan mainan baru.


"Om aku juga mau dong! di belikan mainan baru," ucap Candra.


"Aku juga mau," timpal Kirana yang ikut meminta di belikan mainan baru pada Rayanza.


"Eeeh, kok malah  pada minta di belikan mainan baru sih," ujar Samara sambil melirik ke arah Candra dan Kirana, yang duduk di bangku belakang mobilnya Rayanza.


"Sudah Ara, tidak apa-apa. Kalau begitu! Kita berhenti beli mainan terlebih dahulu. Sebelum pulang ke rumah yah?" sahut Rayanza yang di sambut dengan gembira oleh ketiga anaknya Samara.


"Hore," suara sorak bahagia ketiga anaknya Samara, yang akan di belikan mainan baru oleh Rayanza.

__ADS_1


"Yeh. Aku punya mainan baru," celoteh Arsya yang sudah berhenti menangis.


"Aku juga mau beli mainan baru," timpal Kirana.


"Aku juga dong." Candra pun ikut menimpali ucapan kedua adiknya, yang akan di belikan mainan baru oleh Rayanza.


Rayanza berhasil membuat Arsya tidak menangis lagi, dan sedikit melupakan keinginannya, yang ingin bertemu dengan Arsyaka ayahnya.


Mobil yang di kendarai oleh Rayanza pun berhenti di sebuah toko mainan. Untuk membelikan mainan baru kepada ketiga anaknya Samara.


Saat Samara dan ketiga anaknya serta Rayanza turun dari mobil. Ibu-ibu arisan yang waktu itu berada di rumah ibu Prita, dan mengenal Samara yang merupakan menantunya Retno. Mereka bertiga melihat Samara yang turun dari mobil bersama dengan Rayanza dan juga ketiga anaknya.


"Itu bukannya mantan menantunya jeng Retno?" tunjuk Bu Nita ke arah Samara yang sedang berjalan kaki ke sebuah toko mainan.


"Iya benar, pantas saja anaknya jeng Retno menceraikannya. Ternyata! Menantunya jeng Retno itu, beneran selingkuh," cibir Bu Dila sambil menatap sengit pada Samara.


"Jeng Retno sekarang beruntung, bisa mendapatkan menantu baru. Dan yang pasti! Lebih cantik dari mantan menantunya itu," timpal Bu Maya dengan senyuman miring.


"Itu bukannya ibu-ibu arisan, yang berada di rumah mamanya Sindi. Maksud mereka itu apa sih? Kenapa mereka mengatakan aku yang berselingkuh? Padahal jelas-jelas yang berselingkuh itu Mas Syaka, tapi kenapa aku yang malah di tuduh berselingkuh. Aku harus menghampiri mereka," batin Samara yang melihat ketiga ibu itu, yang sedang membicarakannya.


"Ray, aku titip anak-anak sebentar yah. Sayang bunda pergi ke toilet dulu ya." Samara berpamitan terlebih dahulu pada Rayanza dan juga anak-anaknya. Sebelum ia pergi mendekati ketiga ibu-ibu itu.


"Iya," sahutnya sambil mengajak anak-anaknya Samara, yang sedang memilih mainan yang akan di beli oleh ketiga anaknya Samara.


Samara yang berpamitan pergi ke toilet, ia datang menghampiri ketiga ibu-ibu itu. Samara pun langsung bertanya kepada mereka bertiga. "Maksud ibu ini apa? Saya mendengarkan semua pembicaraan kalian semua, yang mengatakan kalau saya itu berselingkuh?"


"Ya emang bener kan, situ selingkuh. Buktinya tuh liat!" tunjuk Bu Dila ke arah Rayanza dan ketiga anaknya Samara.


"Lelaki itu temanku, bukan seperti yang ibu pikiran." Samara mencoba menjelaskan atas tuduhan dari ibu Dila, yang menganggapnya berselingkuh dengan Rayanza.


"Yang namanya selingkuh, mau di tutupi bagaimana pun. Pasti bakalan ketahuan, untungnya anak jeng Retno sudah menceraikan kamu. Dan besok mereka berdua akan menikah di pulau Dewata Bali, yuk aaah kita pergi." Bu Maya mengajak teman-temannya. Untuk pergi meninggalkan Samara, yang datang menghampiri mereka bertiga.

__ADS_1


Degh! Detak jantung Samara berdetak. Samara menutup mulutnya, karena kaget mendengar pernikahan Arsyaka dengan Chelsea selingkuhan suaminya. Saat Bu Maya memberitahukan kepadanya, perihal pernikahan Arsyaka dengan Chelsea, yang akan di adakan besok di pulau Dewata Bali.


"Pantas saja! Panggilan teleponku, tidak di jawab olehnya. Karena dia besok akan menikah dengan wanita itu," lirih Samara yang berlari pergi ke arah pintu toilet. Karena Samara tidak ingin terlihat oleh siapapun. Samara menangis di dalam toilet, mencoba menenangkan hatinya yang sedang bersedih.


"Sebegitu cintanya kamu dengan wanita itu Mas! Sampai kamu melupakanku, yang sudah sepuluh tahun menjalani hidup berumah tangga denganmu." Samara membatin dengan rasa sedih dan pilu. Karena ia tidak menyangka. Kalau Arsyaka akan menikahi Chelsea secepat itu, dan melupakan dirinya yang menemani Arsyaka selama ini.


Drtdrtdrt, suara panggilan telepon dari Rayanza. Samara segera menghapus air matanya.


"Aku tidak boleh menangisi lelaki seperti Mas Syaka lagi. Pasti aku dan anak-anak akan hidup bahagia, meski tanpamu Mas," batin Samara yang menguatkan dirinya sendiri. Sebelum menerima panggilan telepon dari Rayanza.


"Iya Ray," ucap Samara yang sudah menerima panggilan telepon dari Rayanza.


"Aku dan anak-anak sudah selesai membeli mainan. Kamu masih di dalam toilet?" tanya Rayanza memastikan kebenarannya. Karena ia mendengar suara air yang mengalir, saat Samara menerima panggilan telepon darinya.


"Iya Ray, aku akan segera pergi ke sana." Samara segera mematikan panggilan telepon dari Rayanza, dan bergegas pergi menghampiri Rayanza yang bersama dengan ketiga anaknya.


Samara yang sudah berada di dekat Rayanza dan ketiga anaknya, segera mengajak mereka semua untuk pulang ke rumahnya.


________


Beberapa hari kemudian.


Samara yang sudah mengetahui perihal pernikahan Arsyaka dan Chelsea, membuat ia kebingungan. Saat Arsya anak bungsunya yang terus menanyakan tentang Arsyaka, yang sudah tiga hari belum pulang ke rumahnya.


"Bunda ini sudah tiga hari loh, kok ayah belum pulang juga sih?" tanya Arsya yang merindukan ayahnya.


"Ayah pasti pulang sayang! Cuman bunda juga tidak tahu kapan ayah akan pulangnya. Karena bunda sudah beberapa kali menghubungi ayah, tapi nomor telepon ayah selalu tidak aktif," jawab Samara yang berusaha menjelaskan kepada Arsya putra bungsunya. Berharap Arsya bisa mengerti, dan tidak terus-menerus menanyakan. Kapan ayahnya akan pulang?.


"Tapi Arsya kangen bun, sama ayah," tutur Arsya sambil menundukkan kepalanya.


"Arsya udah deh! Jangan menanyakan ayah terus, kamu kan sudah tahu. Kalau ayah itu sibuk terus," gerutu Candra yang memang sudah mengetahui kesibukan ayahnya, yang sudah tidak memiliki waktu bermain bersama dengannya dan adik-adiknya.

__ADS_1


"Sayang kamu tidak boleh...." Samara yang akan menimpali ucapan dari Candra, ia urungkan niatnya. Karena Samara mendapatkan panggilan telepon dari pihak rumah sakit, membuat Samara kaget dan menitikkan air matanya. Atas jawaban dari pihak rumah sakit.


__ADS_2