Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 39 Ada pelangi setelah hujan


__ADS_3

POV Samara.


Aku menitikkan air mata, melihat ketiga anakku yang sedang tidur. Dan kini mereka bertiga sudah tidak menanyakan tentang ayahnya lagi.


"Kamu menangis nak?" tanya ibuku, yang masuk ke dalam kamarku dan anak-anak.


Aku segera menghapus air mataku, sebelum menjawab pertanyaan dari ibu.


"Aku...." aku segera memeluk ibu dan tak sanggup mengatakan. Kalau aku sangat sedih dan kecewa dengan perbuatannya Mas Syaka dan ibunya. Dan itu semua berimbas pada ketiga anakku, yang akan kehilangan sosok seorang ayah dalam kehidupan mereka bertiga.


Ibu membalas pelukanku dan kemudian mengusap punggungku dengan pelan-pelan. Tidak lama kemudian, ibu pun melepaskan pelukanku.


"Ibu yakin, kamu bisa melewati ini semua. Kamu jangan merasa sendiri, di sini ada ibu dan bapak." Ibu menghapus air mataku.


"Iya Bu," sahutku.


Aku bersyukur sekarang ini aku bisa berkumpul dengan keluargaku. Setelah kepergian aku dan anak-anak, yang pergi meninggalkan rumah pemberian dari almarhum ayah mertuaku.


_____________________


Flashback.


Aku memutuskan menghampiri Mas Syaka dan Chelsea yang berada di dalam mobil, sebelum menghampiri ketiga anakku yang sudah berada di dalam mobil taksi.


Tapi ucapan dari Chelsea membuatku, menyunggingkan senyuman mengejek dan menggelengkan kepala. Bagaimana tidak membuat aku geleng-geleng kepala? Chelsea mengatakan, kalau aku masih mengganggu suaminya. Padahal yang jelas-jelas mengganggu itu dia, bukan aku.


Aku datang menghampiri Mas Syaka, dengan tujuan mengingatkan rasa tanggung jawabnya pada ketiga anaknya. Tapi rasanya, itu tidak akan di lakukan oleh Mas Syaka.


Setelah selesai berbicara dengan Mas Syaka dan Chelsea, aku bergegas pergi menemui anak-anak yang sudah berada di dalam taksi yang aku pesan secara online.


"Bunda itu ayah masuk ke dalam mobil suster?" tanya Candra.


"Iya," jawabku singkat.


"Pak kita pergi ke hotel sekarang!" aku menyuruh supir taksi online. Untuk segera pergi meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan itu.


"Baik Bu," sahut supir taksi yang langsung menyalakan mesin mobilnya, dan pergi menuju ke sebuah hotel. Karena aku dan anak-anak akan pergi menginap di sana, untuk sementara waktu.


Sesampainya di hotel aku langsung mengajak anak-anak masuk ke dalam kamar hotel. Karena hujan di luar masih sangat deras. Mungkin itulah gambaran tentang kesedihan ketiga anakku, jika mereka mengetahui tentang perceraian kedua orang tuanya.

__ADS_1


Aku masih belum sanggup menceritakan itu semuanya pada ketiga anakku, entah kapan aku berani menceritakan itu semuanya? Tapi yang jelas! Untuk sekarang ini, aku benar-benar tidak bisa menceritakan itu semuanya pada ketiga anakku.


*****


Keesokan harinya.


Saat aku menjemput anak-anak dari sekolah, aku melihat Candra dan Kirana yang datang menghampiriku sambil menangis.


"Sayang, kalian berdua kenapa?" tanyaku penasaran dengan kesedihan Candra dan Kirana.


"Kakak kenapa bersedih?" Arsya pun ikut bertanya kepada kedua kakaknya, yang baru keluar dari dalam kelasnya dengan keadaan menangis.


"Bunda, apakah suster itu adalah istri ayah juga?" ucap Kirana dengan berderai air mata.


Degh! Dari mana mereka berdua bisa mengetahui itu semuanya?


"Bu Samara, maafkan Sindi yah." Neti yang merupakan mamanya Sindi datang menghampiriku sambil meminta maaf.


Aku pun mengkerutkan keningku. Karena aku tidak mengetahui kedatangan Mamanya Sindi, yang datang langsung meminta maaf.


"Maksudnya?"


Aku menghela nafas berat. Mungkin ini sudah waktunya, ketiga anakku harus mengetahui tentang permasalahan yang terjadi dengan kedua orang tuanya.


"Iya tidak apa-apa kok," sahutku dengan memaksakan sebuah senyuman. Agar Neti tidak merasa bersalah, dengan semua yang sudah terjadi. Dan memang seharusnya, ini semua harus di ketahui oleh anak-anakku.


"Sekali lagi aku minta maaf yah Bu Samara," ucap mamanya Sindi, sebelum pergi meninggalkanku dan anak-anak.


Aku hanya membalas ucapan mamanya Sindi, dengan mengagukkan kepala.


"Bunda, apa benar ayah menikah lagi?" tanya Candra.


"Nanti bunda jelasin semuanya. Sekarang kita pulang yuk," ajakku pada anak-anakku.


"Pulang ke hotel lagi Bun?" Kirana menghentikan langkah kakiku, yang akan naik ke atas motor. Karena pertanyaannya itu.


"Iya sayang, kan pakaian bunda dan kalian masih ada di sana. Yuk naik," aku menyuruh ketiga anakku untuk segera naik ke atas motor, dan setelah ketiga anakku sudah naik ke atas motor. Aku segera pergi meninggalkan sekolah dan pergi menuju hotel.


Sesampainya di hotel.

__ADS_1


Sebelum aku dan anak-anak masuk ke dalam kamar hotel, aku mengajak ketiga anakku untuk makan siang di sebuah restoran yang ada di hotel ini.


Ketika aku dan anak-anak sedang menunggu makanan datang, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan antara sepasang suami istri, yang sedang mencari sebuah rumah kontrakan.


"Sepertinya kalau rumah itu di kontrakan, pasti! Mas Syaka tidak akan meminta uang pembagian dari hasil penjualan rumah itu," batinku yang mendapatkan ide. Untuk mengontrakkan rumah itu, pada sepasang suami istri yang sedang mencari rumah kontrakan.


Sebelum pergi menghampiri mereka berdua, aku meminta ijin pada ketiga anakku terlebih dahulu. Karena aku ingin menemui mereka berdua, yang tidak jauh dari tempa duduk aku dan anak-anak.


"Permisi Mbak, Mas." ucapku yang datang menghampiri mereka berdua.


"Iya Mbak ada apa?" tanyanya.


"Maaf yah, tadi itu aku mendengar pembicaraan Mbak dan Mas, yang sedang mencari sebuah rumah kontrakan. Apakah benar?" jawabku sambil bertanya balik pada mereka berdua.


"Iya benar Mbak," sahutnya.


"Bagaimana kalau Mbak dan Mas mengontrak di rumahku saja," aku menawarkan rumah pemberian dari almarhum ayah mertuaku. Untuk di kontrakan pada mereka berdua, karena aku tidak mau tinggal di rumah itu lagi. Jadi lebih baik aku kontrakan saja rumah itu, dan uang dari hasil mengontrakkan rumah bisa aku gunakan untuk modal usahaku.


Hujan yang turun dengan derasnya kemarin, mendatangkan sebuah pelangi yang menghiasi hatiku saat ini. Bagaimana tidak membuat hatiku senang? Karena bak gayung yang di sambut oleh air. Alia dan suaminya mau mengontrak di rumahku. Bahkan mereka berdua, langsung membayar uang kontrakan rumah selama setahun.


Aku harus berpikir realistis. Karena aku memang membutuhkan uang, untuk kelangsungan kehidupanku dan anak-anak. Karena Mas Syaka, sepertinya tidak akan memberikan uang nafkah pada ketiga anaknya.


Sebelum Alia dan suaminya akan tinggal di rumahku, aku mengambil semua barang-barang yang ada di dalam rumah terlebih dahulu.


Aku juga memutuskan menjual seluruh barang-barang itu. Karena aku juga tidak mau menggunakan barang-barang itu lagi, jadi lebih baik aku jual dan membeli barang-barang yang baru.


Aku tidak henti-hentinya bersyukur. Karena dengan uang itu, aku bisa mengajak ketiga anakku pergi dari kota ini. Dan melangsungkan kehidupan tanpa harus bertemu dengan keluarganya Mas Syaka.


Flashback off.


______________


Yang membuat aku bersedih dan kecewa pada Mas Syaka dan keluarganya, mereka semua itu benar-benar tidak perduli lagi dengan ketiga anakku, dan yang di pikiran Mas Syaka hanya ingin mendapatkan hartanya kembali.


Karena aku mendapatkan kabar dari Alia dan suaminya. Kalau Mas Syaka datang ke rumah, dan sepertinya kedatangannya itu! Ingin mengambil sertifikat surat rumah barunya yang sekarang ini sudah menjadi milikku.


Aku juga tidak habis pikir dengan pemikirannya Mas Syaka, yang dengan penuh rasa percaya diri dan tidak tahu malu. Mas Syaka berani meminta uang kontrakan rumah itu pada Alia dan suaminya.


Sejak pemberitahuan dari Alia dan suaminya itu, sudah aku pastikan! Kalau mereka semua pasti akan mencari keberadaanku dan pergi ke kampung halamanku.

__ADS_1


Beruntungnya aku sudah mengajak pergi kedua orang tuaku dari kampung, dan mengajaknya tinggal bersamaku di kota Surabaya.


__ADS_2