Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 59 Karma


__ADS_3

POV Arsyaka.


Semenjak Siska adikku menghilang, ibu tinggal bersamaku dan Chelsea di rumahku. Sedangkan rumah ibu di biarkan kosong, tapi ibu kadang sesekali pergi ke rumahnya. Untuk membersihkan rumah bersama pembantuku Bi Mirna.


Seperti hari ini, ibu dan Bi Mirna akan pergi ke rumahnya. Aku pun mengantarkan ibu dan Bi Mirna sampai ke depan rumah.


"Ibu dan Mirna mau pergi ke rumah ibu dulu," pamit ibu kepadaku.


"Iya Bu, hati-hati di jalannya. Maaf Arsyaka tidak bisa mengantarkan ibu pergi ke rumah. Karena hari ini Chelsea ada jadwal kontrol ke dokter kandungan," sahutku.


"Iya, ibu sudah tahu itu. Ibu pergi dulu," ibu dan Bi Mirna pun pergi meninggalkan rumahku.


Saat aku masuk ke dalam rumah, aku melihat Chelsea yang keluar dari dalam kamar sambil memanyunkan bibirnya. Bahkan tatapan matanya seperti orang yang sangat kesal, entah apa yang membuatnya seperti itu? Aku pun memutuskan pergi menghampirinya.


"Hanny," bisik ku di telinganya sambil memeluk tubuhnya.


"Lepasin," ucapnya ketus.


"Kamu kenapa sih Hanny?" tanyaku lembut, sambil membalikkan badannya menghadap ke hadapanku.


"Aku gak suka yah, uang bulanan ku Mas kurangi. Apalagi harus berbagi uang bulanan dengan ibumu," jawabnya.


"Kamu harus mengerti dong Hanny, aku memberikan uang bulanan yang lebih untuk ibu. Agar ibu tidak sedih memikirkan Siska, yang sekarang ini menjadi buronan polisi dan pergi bersama kekasihnya entah kemana? Aku sampai sekarang saja tidak tahu keberadaannya. Dan Mas rasa, uang bulanan yang Mas berikan sudah lebih dari cukup untukmu. Hanny," ujarku yang berusaha memberikan pengertian pada Chelsea.


"Selalu dan selalu itu terus yang kamu katakan padaku, aku bukan mantan istrimu yang bisa kamu perlakukan seperti itu, dan harus aku yang selalu mengerti dengan kondisi ibumu. Aku ini istrimu, yang seharusnya kamu berikan uang lebih besar dari sebelumnya. Apalagi sekarang ini aku sedang hamil, banyak keperluan yang ingin aku beli untuk anakmu, Mas. Jadi aku harap! Mulai bulan depan. Mas harus memberikan uang bulanan seperti biasanya. Kalau bisa Mas berikan aku uang bulanan yang lebih banyak lagi," ucap Chelsea yang menginginkan uang bulanan yang lebih besar kepadaku.


"Iya Hanny, ya sudah jangan marah-marah begitu. Yuk kita pergi cek kandunganmu," aku mengiyakan saja permintaannya. Karena aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada anakku yang berada di dalam kandungannya.


"Tapi nanti pulangnya, aku mau pergi shopping," pintanya lagi.


"Iya sayang," sahutku pasrah.


"Kok sayang sih." Chelsea melipatkan kedua tangannya dan menatap tajam ke arah mataku. Aku sampai lupa, kalau Chelsea itu tidak suka, aku memanggilnya dengan kata sayang. Karena kata itu sering aku katakan pada Samara dan ketiga anakku.

__ADS_1


"Maaf Hanny, aku keceplosan," kilahku. Semoga saja Chelsea tidak marah lagi.


"Ya sudah tidak apa-apa untuk kali ini. Tapi aku ingatkan sekali lagi! Kalau aku itu paling tidak suka, dengan kata yang sering kamu katakan pada mantan istrimu itu." Chelsea kembali mengingatkan aku lagi, tentang hal yang tidak ia sukai.


"Iya Hanny, aku janji tidak akan mengatakan itu lagi. Yuk kita sekarang pergi ke rumah sakit," ajakku lagi. Aku lebih memilih mengalah, dan mencoba mengerti dengan keadaan Chelsea yang sedang berbadan dua. Mungkin saja Chelsea seperti itu karena bawaan hamil. Soalnya waktu Samara hamil si kembar, dia juga meminta uang lebih kepadaku.


"Kok aku jadi kepikiran dan merindukan ketiga anakku," batinku yang tiba-tiba saja ingat dengan ketiga anakku yang ikut pergi bersama Samara.


"Mas, katanya tadi mau ngajak aku pergi cek kandungan. Tapi kenapa Mas masih berdiam diri di sini?" ucapan Chelsea menyadarkan aku, yang sedang melamun memikirkan ketiga anakku. Semoga mereka bertiga baik-baik saja, meski aku tidak bisa bertemu dengan mereka bertiga.


"Mas," panggil Chelsea sambil menggoyangkan tanganku.


"Iya Hanny, ayo kita pergi sekarang." aku dan Chelsea pun langsung pergi ke rumah sakit. Untuk mengecek kandungan Chelsea, yang sudah memasuki trimester kedua.


Sesampainya di rumah sakit, aku dan Chelsea yang sudah membuat janji dengan Dokter Saras SpOG. Kini tinggal menunggu panggilan dari suster, yang akan memanggil nama Chelsea untuk masuk ke dalam ruangan Dokter Saras SpOG.


Tidak lama kemudian.


Suster pun memanggil nama Chelsea.


"Iya sus," sahut Chelsea.


Aku dan Chelsea pun masuk ke dalam ruangan Dokter Saras SpOG. Untuk memeriksa kandungan Chelsea.


Dokter Saras pun menjelaskan kepadaku dan Chelsea, tentang perkembangan bayi yang ada di dalam kandungan Chelsea. Menurut penuturan Dokter Saras SpOG, bayiku sehat dan posisi bayi yang membelakangi itu tidak bisa terlihat jenis kelaminnya.


Aku tidak mempermasalahkan tentang jenis kelamin bayi yang ada di dalam kandungan Chelsea, aku akan menerimanya dengan senang hati. Karena aku sudah memiliki anak laki-laki dan juga perempuan, dari hasil pernikahanku dengan Samara.


"Aduh lagi-lagi, aku jadi memikirkan ketiga anakku itu," gumamku dalam hati sambil menghela nafas panjang.


"Mas ayo kita pergi," ucap Chelsea yang mengajak aku pergi ke luar dari ruangan Dokter Saras.


"Iya Hanny," sahutku.

__ADS_1


Aku dan Chelsea yang sudah selesai memeriksa kandungan. Kini Chelsea mengajak aku pergi ke mall, dan setelah selesai shopping di mall. Aku dan Chelsea segera pulang ke rumah, dan sesampainya di rumah aku sudah melihat ibu dan Bi Mirna yang sudah berada di dalam rumahku.


"Waduh belanjaannya banyak banget, ibu di belikan tidak nih?" tanya ibu antusias sekali. Karena ibu melihat barang belanjaan yang di beli oleh Chelsea di mall.


"Gak adalah, kalau mau beli aja sendiri," sahut Chelsea sambil melangkah pergi masuk ke dalam kamar.


"Mas bawa semua barang belanjaan ku ke kamar. Sekarang!" lanjutnya lagi sambil menengok ke arahku.


"Iya Hanny," jawabku.


"Kamu pelit banget sama ibu sendiri, masa istrimu di belikan barang belanjaan yang banyak. Sementara ibu hanya melihat saja," gerutu ibu yang mengeluarkan ucapannya. Saat Chelsea sudah masuk ke dalam kamar.


"Ibu kan, sudah Arsyaka belikan uang bulanan yang lebih besar dari Chelsea. Pakai aja itu Bu, kalau ibu mau beli apa-apa. Tapi bulan depan Arsyaka tidak bisa memberikan ibu uang bulanan yang lebih besar lagi. Karena Chelsea juga meminta uang bulanan yang lebih besar," ucapku yang memberitahukan kepada ibu.


"Chelsea itukan punya orang tua yang kaya raya, minta saja sama orang tuanya. Sedangkan uang gaji kamu berikan pada ibu semuanya," ibu berbicara dengan suara yang agak sedikit keras. Sehingga membuat Chelsea yang berada di dalam kamar, keluar dari dalam kamar karena mendengar suara ibu.


"Aku ini istrinya Bu, jadi aku berhak atas uang gaji suamiku," sahut Chelsea yang menimpali ucapan ibu.


Aku mendengar suara ibu dan Chelsea yang meributkan masalah uang bulanan, yang keduanya itu sama-sama menginginkan uang bulanan yang lebih besar dari sebelumnya.


Semenjak perdebatan itu, aku memutuskan untuk mengambil uang dari perusahaan tanpa sepengetahuan dari pak David dan para karyawan.


Chelsea dan ibu pun tidak mengetahui kelakuanku itu, dan sampai pada akhirnya mereka semua mengetahui kelakuanku yang korupsi di perusahaan pak David.


Pak David tidak akan memasukkan aku ke dalam penjara. Jika aku mengganti rugi uang perusahaan yang sudah aku ambil. Aku yang mencoba meminta bantuan pada papanya Chelsea, tidak mendapatkan bantuan sama sekali dari papanya Chelsea.


Aku pun terpaksa menyerahkan rumah baruku pada pak David, untuk membayar itu semua. Saat aku dan Chelsea serta ibu, yang sudah selesai mengemasi barang-barang yang di bantu oleh Bi Mirna.


Tiba-tiba saja hujan turun sangat deras sekali, seketika aku jadi teringat dengan kejadian dulu. Saat aku mengusir Samara dan ketiga anakku di rumah pemberian almarhum ayahku. Apakah ini sebuah karma untukku? Aaah tidak-tidak, itu pasti bukan. Karena aku sangat yakin sekali, kalau itu bukanlah karma. Tapi hanya sedikit kesalahanku yang ceroboh dalam bertindak, dan aku yakin setelah orang tuanya Chelsea mengetahui keadaanku yang pengangguran. Pasti papanya Chelsea akan mengajak aku bekerja di perusahaannya.


"Hey sudah kalian semua pergi dari sini. Jangan jadikan hujan sebagai alasan, untuk tetap di rumah ini," ucap orang suruhannya pak David, yang mengusirku di depan rumah.


"Iya Bang, ini juga mau pergi," sahutku.

__ADS_1


Aku dan Chelsea serta ibu dan Bi Mirna segera pergi meninggalkan rumah baruku, dan kini aku dan Chelsea akan tinggal di rumah ibu.


__ADS_2