Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 83 Pergi Ke Jakarta


__ADS_3

Pihak kepolisian yang sudah selesai menggeledah seisi rumah Chelsea, mereka semua tidak menemukan keberadaan Arsyaka dan ketiga anaknya Samara.


"Apakah pak polisi menemukan Arsyaka di dalam rumah ini?" tanya Anton yang melihat para polisi, yang datang ke ruang tamu.


"Kami tidak menemukan keberadaan pak Arsyaka Yudha Pratama, dan ketiga anaknya di dalam rumah ini," jawab salah satu dari polisi, yang ikut menggeledah seisi rumah Chelsea.


"Kan saya sudah bilang dari tadi, pada gak percaya sih," ucap Linda yang kesal pada mereka semua, yang tidak percaya dengan ucapannya.


"Maaf Bu, saya hanya menjalankan tugas. Dan kalau misalkan ibu bertemu dengan pak Arsyaka Yudha Pratama, tolong hubungi pihak kepolisian." Arga yang menjadi perwakilan dari pihak kepolisian meminta maaf kepada Linda.


"Iya pak," sahutnya.


"Kalau begitu kita semua pamit pergi," ujar Arga yang berpamitan pada Chelsea dan Linda.


Ketika para polisi dan Anton, yang sudah pergi meninggalkan rumah Chelsea. Samara pergi menghampiri Chelsea dan Linda, yang masih duduk di ruang tamu sambil menatap ke arahnya.


"Para polisi dan bapakmu sudah pergi dari rumahku, kenapa kamu masih di sini?" tanya Chelsea yang menatap tidak suka pada Samara, yang datang menghampirinya.


"Sebelum aku pergi meninggalkan rumahmu. Sebaiknya kamu beritahu aku, di mana alamat rumah Arsyaka?" jawab Samara yang meminta pada Chelsea. Untuk memberitahukan alamat rumah Arsyaka di kota ini. Karena Samara sangat yakin sekali, kalau Chelsea mengetahui tempat tinggal Arsyaka dan ibunya di kota Surabaya.


"Aku tidak tahu," sahut Chelsea yang memang tidak mengetahui tempat tinggal Arsyaka dan ibunya. Setelah ia mengusir mereka berdua dari rumahnya.


"Jangan bohong kamu, aku..."


"Anakku mengatakan apa adanya. Setelah Arsyaka dan ibunya pergi dari rumahku ini, aku sudah tidak peduli lagi pada mereka berdua mau tinggal di mana." Linda dengan cepat menyela ucapan Samara, dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


"Kamu cari saja dia ke rumahnya yang ada di Jakarta." Chelsea menyuruh Samara mencari keberadaan Arsyaka dan ketiga anaknya, di rumah Arsyaka yang ada di kota Jakarta.


"Bukannya tadi kamu bilang, kalau dia tidak mempunyai pekerjaan. Bagaimana dia bisa pulang ke Jakarta? Kalau dia tidak punya uang?" tanya Samara.


"Aku memberikan gaji terakhir untuknya, dan mungkin saja dia dan ibunya mengajak ketiga anakmu pergi ke Jakarta. Untuk di jadikan seorang pengemis,'' jawab Linda dengan menyunggingkan senyuman mengejek.


Samara yang mendengar jawaban dari Linda mengepalkan kedua tangannya, ia benar-benar geram kepada mantan suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan ketiga anakku di perlakukan seperti itu olehmu, Mas." Samara membatin di dalam hatinya. Ia pun segera membalikkan badannya, dan pergi meninggalkan rumah Chelsea tanpa berpamitan kepadanya.


"Kamu kenapa lama sekali di dalam, Ra?" tanya Anton yang akan masuk ke dalam rumah Chelsea lagi. Untuk pergi menghampiri Samara, yang belum keluar dari dalam rumah Chelsea.


"Aku tadi menanyakan tentang tempat tinggal Mas Syaka, pak. Aku kira Chelsea dan mamanya mengetahui tempat tinggal Mas Syaka, akan tetapi. Chelsea dan mamanya tidak mengetahui tempat tinggal Mas Syaka di kota ini, dan kemungkinan besar! Mas Syaka dan ibunya mengajak ketiga anakku pergi ke rumahnya yang ada di kota Jakarta," jawab Samara memberitahukan kepada bapaknya. Penyebab Samara tidak langsung pergi meninggalkan rumah Chelsea.


Saat Linda akan menutupi pintu rumahnya, ia melihat Samara dan bapaknya yang sedang berbicara di depan pintu rumahnya.


"Hey, kalian berdua cepat pergi dari rumahku." Linda mengusir Samara dan bapaknya, yang masih berada di depan pintu rumahnya.


"Ini juga kita mau pergi. Ayo Ra, kita segera pergi dari rumah ini." Anton segera menarik tangannya Samara, dan mengajaknya pergi ke arah motornya yang terparkir di halaman rumah Chelsea.


"Baguslah," timpal Linda sambil menutup pintu rumahnya.


Bruk!


Linda menutup pintu rumahnya dengan kasar. Sehingga membuat Anton menggelengkan kepalanya, melihat Linda melakukan seperti itu.


"Kamu kenapa lagi Ra?" tanya Anton.


"Pak, tolong antarkan aku pergi ke bandara. Aku mau pergi ke Jakarta sekarang ini, pak." jawab Samara yang meminta pada bapaknya. Untuk mengantarkannya pergi ke bandara Juanda Surabaya.


"Kita pulang dulu, Ra. Barulah kita pergi ke Jakarta, cepat kamu duduk." Anton menyuruh Samara untuk duduk di motornya.


"Iya pak," sahut Samara yang segera duduk di belakang bapaknya, yang akan mengajaknya pulang ke rumahnya. Sebelum Samara pergi ke bandara Juanda Surabaya, untuk pergi ke rumah Arsyaka yang ada di kota Jakarta.


Di tengah perjalanan.


Handphone Samara terus berdering, ia pun segera mengambil handphonenya. Untuk memeriksa, siapa orang yang terus menghubunginya.


"Pak, bisa berhenti sebentar," ucap Samara yang meminta ijin pada bapaknya. Untuk menepikan motor yang di kendarai oleh bapaknya.


"Iya Ra," sahutnya sambil mematikan motornya, dan berhenti di sebuah warung yang berada di pinggir jalan.

__ADS_1


Anton pergi ke warung itu untuk membeli minuman. Sedangkan Samara menerima panggilan telepon dari Nayla.


"Halo, Nay. Ada apa?" tanya Samara pada Nayla, yang dari tadi terus menghubunginya.


"Kamu sekarang ini, lagi di mana? Tadi aku mendapatkan panggilan telepon dari Rayanza. Kalau dia tidak bisa menemanimu pergi ke kantor polisi, dan Rayanza menyuruh aku untuk menemanimu pergi ke kantor polisi. Tapi saat aku sampai di rumahmu, ibumu mengatakan kalau kamu dan bapakmu sudah pergi ke kantor polisi. Akan tetapi, saat aku sudah berada di kantor polisi. Kamu tidak ada, dan kata polisi yang ada di sini. Kalau kamu itu sedang pergi bersama polisi, yang menangani kasus penculikan ketiga anakmu," jawab Nayla menjelaskan semuanya pada Samara.


"Aku lagi di jalan arah pulang ke rumah, Nay. Aku akan mencari ketiga anakku di kota Jakarta," sahutnya.


"Kenapa harus ke kota Jakarta, Ra? Bukannya ketiga anakmu di culik di kota ini?" tanya Nayla lagi.


"Kita bicarakan semua ini di rumahku saja," jawab Samara yang menyuruh Nayla pergi ke rumahnya.


"Baiklah, aku dan Reza akan pergi ke rumahmu." Nayla pun mematikan panggilan teleponnya, dan mengajak Reza pergi ke rumah Samara.


Sementara itu.


Anton yang melihat Samara sudah selesai menerima panggilan telepon, ia segera pergi menghampiri Samara yang berdiam diri di dekat motornya, yang terparkir di pinggir jalan.


"Ini Ra, minum dulu." Anton menyodorkan minuman yang ia beli pada Samara.


"Terima kasih, pak." Samara mengambil minuman dari bapaknya, dan meminum terlebih dahulu. Sebelum ia dan bapaknya melanjutkan kembali, perjalanan mereka berdua yang akan pulang ke rumah.


Saat Samara dan bapaknya sudah sampai di rumah, tidak lama kemudian. Nayla dan Reza pun datang ke rumah Samara.


Mereka semua pun segera masuk ke dalam rumah, dan duduk di ruang tamu. Untuk membicarakan tentang informasi dari pihak kepolisian, tentang pelaku yang menculik ketiga anaknya.


"Siapa yang melakukan penculikan terhadap ketiga anakmu?" tanya Nayla penasaran. Akan tetapi, bukan hanya Nayla saja yang penasaran. Santi dan Rina serta Reza pun penasaran dengan pelaku penculikan ketiga anaknya Samara.


"Yang melakukan itu adalah Mas Syaka," jawaban dari Samara. Membuat Nayla dan Reza serta Santi dan Rina yang baru mengetahui itu semuanya, benar-benar kaget dan tidak menyangka.


"Jadi yang menculik ketiga anakmu adalah Arsyaka," lirih Nayla.


"Iya benar, maka dari itu. Aku ingin pergi mencari ketiga anakku ke kota Jakarta. Karena kemungkinan besar, Mas Syaka mengajak ketiga anakku pergi ke rumahnya yang di Jakarta." Samara pun memberitahukan tentang keinginannya, yang ingin mencari keberadaan ketiga anaknya di rumah Arsyaka yang ada di kota Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2