
Samara berteriak memanggil nama ketiga anaknya dengan kencang.
"Candra, Kirana. Arsya..." Samara terus mencoba memanggil nama ketiga anaknya. Berharap mereka bertiga bisa mendengar suara teriakannya, dan tidak ikut pergi dengan lelaki itu.
Ketiga anaknya Samara yang mendengar suara teriakan Samara, menengok ke arah Samara yang sedang berlari menghampiri mereka bertiga.
"Jangan ikut dengan lelaki itu, Nak!" ucap Samara yang berusaha mencegah ketiga anaknya, yang akan masuk ke dalam mobil lelaki yang ada di dalam rekaman cctv.
Akan tetapi, ketiga anaknya Samara melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Samara. Sebelum mereka bertiga masuk ke dalam mobil lelaki itu, dan pergi meninggalkan Samara yang berusaha mengejar ketiga anaknya.
"Candra, Kirana. Arsya ini bunda, Nak. Kalian bertiga jangan tinggalkan bunda," teriak Samara sambil mengarahkan tangannya ke depan. Ketika ia melihat ketiga anaknya, yang akan masuk dan duduk di bangku belakang mobil lelaki itu yang berwarna merah.
Tapi usaha Samara tidak membuahkan hasil. Sebab ketiga anaknya Samara tetap masuk ke dalam mobil, dan menutup pintu mobilnya. Ketiga anaknya Samara pun pergi bersama lelaki yang tidak di kenal olehnya.
"Jangan tinggalkan bunda..." Samara berteriak histeris melihat ketiga anaknya yang sudah pergi meninggalkan dirinya, yang berusaha mengejar ketiga anaknya.
_______
"Ra, kamu kenapa?" tanya Rayanza yang menghentikan mobilnya, dan berusaha membangunkan Samara yang belum bangun dari tidurnya. Karena saat Rayanza menyetir mobil, ia melihat Samara yang sedang tidur, terus berteriak memanggil nama ketiga anaknya.
"Jangan ikut dengan lelaki itu, Nak." Samara yang masih tidur, ia masih berteriak dan berusaha menghentikan ketiga anaknya yang ia lihat di dalam mimpi.
"Ini bunda, Nak. Jangan tinggalkan bunda." Samara mengatakan kata itu sambil berderai air mata.
Rayanza yang bingung dengan keadaan ini, ia terus berusaha membangunkan Samara. Tapi Samara tidak kunjung bangun dari tidurnya, meski Rayanza mengerakkan tangannya Samara yang duduk di sebelahnya. Rayanza berharap Samara bisa cepat bangun dari tidurnya, yang sedang memimpikan ketiga anaknya.
"Sepertinya Samara sedang memimpikan ketiga anaknya, aku akan mencoba membangunkan Samara dengan membaca ayat suci Alquran." Rayanza segera mengangkat kedua tangannya, dan mengusap wajah Samara. Ketika ia sudah selesai membaca basmallah dan ayat suci Alquran yang ia bisa.
Rayanza sangat berharap sekali, dengan membaca basmallah dan juga ayat suci Alquran bisa membuat Samara cepat bangun dari tidurnya.
"Ra, bangun." ucap Rayanza yang membangunkan Samara lagi.
Tidak lama kemudian.
Samara bangun dari tidurnya, sambil mengedarkan pandangannya yang masih berada di dalam mobil Rayanza.
"Ray, mana anak-anakku?" tanya Samara yang tidak melihat keberadaan ketiga anaknya.
__ADS_1
"Anakmu belum di temukan, Ra. Pasti tadi itu, kamu sedang memikirkan ketiga anakmu. Sehingga membuat kamu bisa memimpikan mereka bertiga," jawab Rayanza menjelaskan kepada Samara. Bahwa yang ia lihat barusan, adalah sebuah mimpi.
"Ah iya, kamu benar Ray. Memang tadi itu, aku sedang memikirkan ketiga anakku sampai aku bisa tidur dan memimpikan mereka bertiga. Tapi di dalam mimpiku itu terlihat sangat nyata sekali, Ray. Aku melihat ketiga anakku naik mobil berwarna merah bersama lelaki yang ada di rekaman cctv." Samara menceritakan tentang mimpinya itu pada Rayanza.
"Entah kenapa? Di saat aku mendengar suaramu yang memanggilku. Aku bener-bener kesulitan sama sekali, untuk bangun dari tidurku," lanjut Samara di dalam hatinya, yang tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada dirinya. Saat ia berada di alam mimpi.
Rayanza yang melihat kebingungan di wajah Samara, mencoba menenangkan Samara yang termenung. Setelah menceritakan tentang mimpinya, yang bertemu dengan ketiga anaknya.
"Kita akan berusaha mencari keberadaan ketiga anakmu, Ra. Apalagi sekarang ini, kita sudah melapor pada polisi tentang kehilangan ketiga anakmu. Semoga saja, polisi bisa dengan cepat menemukan keberadaan ketiga anakmu. Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau membeli minuman di warung itu,'' sahut Rayanza sambil menunjuk ke arah warung kecil yang berada di pinggir jalan.
Samara mengagukkan kepalanya. Rayanza yang mengerti dengan maksud Samara, ia segera keluar dari dalam mobilnya. Untuk pergi ke warung yang berada di pinggir jalan.
Sesampainya Rayanza di warung itu.
"Pak saya beli air mineralnya dua," ucap Rayanza pada pemilik warung.
"Iya," sahutnya sambil mengambil air mineral. Untuk di berikan pada Rayanza.
"Ini pak air mineralnya." bapak pemilik warung memberikan dua air mineral pada Rayanza, yang ia masukkan ke dalam plastik.
"Halo Nay, kamu dan Reza lagi di mana?" tanya Rayanza. Ketika Nayla menerima panggilan telepon darinya.
"Aku lagi di jalan Ray, masih mencari keberadaan ketiga anaknya Samara. Apakah kamu dan Samara sudah menemukan ketiga anaknya Samara?" jawab Nayla sambil bertanya balik pada Rayanza.
"Aku belum menemukan mereka bertiga, Nay. Tadi di jalan, saat aku sedang mencari sebuah restoran. Samara tidur dan memimpikan ketiga anaknya." Rayanza pun mulai menceritakan tentang kejadian yang di alami Samara pada Nayla, dan menyuruh Nayla dan Reza pergi ke sebuah restoran. Karena Rayanza akan mengajak Samara pergi ke sana.
"Baiklah, aku dan Reza akan pergi ke sana," balas Nayla sambil mematikan panggilan telepon dari Rayanza.
Setelah selesai berbicara dengan Nayla. Barulah Rayanza pergi menghampiri Samara, yang berada di dalam mobilnya.
"Ini Ra, minum dulu." Rayanza memberikan air mineral yang ia beli kepada Samara.
"Terima kasih, Ray." Samara menerima pemberian dari Rayanza, dan segera meminum air mineral itu.
"Kita pergi ke restoran dulu yah, Ra." ucap Rayanza.
"Iya," balasnya singkat.
__ADS_1
Rayanza segera menyalakan mesin mobilnya. Untuk pergi mencari restoran terdekat.
Di perjalanan menuju restoran.
Rayanza sengaja mengajak Samara berbicara, dan mencoba membuat Samara tidak terus menangis. Karena memikirkan ketiga anaknya yang hilang.
Sesampainya di restoran.
Samara merasa dejavu dengan restoran yang ia lihat saat ini.
"Kok, restoran ini sama persis dengan yang ada di dalam mimpiku. Apa jangan-jangan! Ketiga anakku pernah datang ke restoran ini bersama lelaki itu," gumamnya dalam hati.
"Ayo Ra, kita turun." Rayanza mengajak Samara turun dari mobil.
"I... iya Ray." Samara pun segera turun dari mobil sambil memperhatikan sekitar restoran, yang sama persis seperti di dalam mimpinya.
"Kamu kenapa diam saja, Ra?" tanya Rayanza yang heran melihat Samara berdiam diri, sambil melihat sekeliling restoran.
"Restoran ini sama persis dengan yang ada di mimpiku, Ray." Samara memberitahukan kepada Rayanza tentang restoran ini, yang sama persis seperti di dalam mimpinya.
"Yang benar kamu, Ra?" tanya Rayanza lagi. Untuk memastikan kebenarannya.
"Iya Ray, restoran ini sama persis dengan mimpiku barusan. Apa jangan-jangan! Ketiga anakku pernah datang ke restoran ini?" jawab Samara yang sangat yakin sekali.
"Kalau memang benar begitu, aku akan meminta rekaman cctv di restoran ini. Tapi sebelum melihatnya, kamu harus makan terlebih dahulu. Yuk kita masuk ke dalam restoran," ajak Rayanza pada Samara.
"Baiklah," balasnya.
Rayanza dan Samara segera masuk ke dalam restoran, dan memanggil pelayan restoran. Untuk memesan makanan pada pelayan restoran.
Samara tercengang kaget. Ketika Samara mendengar ucapan Rayanza, yang memesan makanan pada pelayan restoran yang begitu banyak sekali.
"Kamu banyak sekali memesan makanannya?" tanya Samara pada Rayanza.
"Iya, kamu harus menghabiskan semua makanannya." Rayanza menjawab pertanyaan Samara sambil tersenyum.
"Aku tidak mungkin makan sebanyak itu, Ray. Aku jadi memikirkan ketiga anakku lagi, apakah mereka bertiga sudah makan?" lirih Samara yang mulai teringat lagi dengan ketiga anaknya.
__ADS_1