Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 61 Menolak


__ADS_3

POV Samara.


Aku bener-bener tidak menyangka dengan apa yang Nayla ceritakan. Kalau Mas Syaka akan melakukan seperti itu.


"Aku cuman mau ngasih tau itu aja Ra, selamat makan siang," ucap Nayla mengakhiri panggilan teleponnya.


Aku pun segera memasukkan kembali handphoneku ke dalam tas, dan menunggu pelayan restoran yang akan membawa makanan dan minuman yang aku dan Rayanza pesan.


Tidak lama kemudian pelayan restoran datang membawa makanan dan minuman, dan menaruhnya di atas meja makan.


"Silahkan menikmati makanannya," ucapnya sebelum pergi.


"Iya," sahutku.


"Tadi Nayla menghubungi kamu ada apa Ra?" tanya Rayanza setelah pelayan itu sudah pergi menjauh.


"Itu ngasih tau soal Mas Syaka yang mendapatkan kasus korupsi di kantor. Kita makan siang aja Ray, gak usah bahas itu," jawabku yang tidak mau menceritakan itu semuanya pada Rayanza.


Rayanza pun mengagukkan kepalanya, aku dan Rayanza makan siang bersama.


_________________


Saat aku pulang dari kantor, aku di sambut oleh ketiga anakku.


"Hore bunda sudah pulang," ucap ketiga anakku sambil berlari menghampiriku yang baru keluar dari dalam mobil Rayanza.


Aku pun tersenyum senang melihat ketiga anakku, dan aku juga mengungkapkan rasa terima kasih pada Rayanza.


"Ray, terima kasih sudah mengantarkanku pulang, mau mampir dulu?"


"Aku langsung pulang saja," sahutnya.


"Anak-anak Om pulang dulu ya," pamit Rayanza pada ketiga anakku.


"Iya Om, hati-hati di jalannya," jawab anak-anakku.


Setelah kepergian Rayanza.


Aku dan anak-anak masuk ke dalam rumah.


"Bunda mau mandi dulu ya," pamitku pada anak-anak.


"Iya bun," sahutnya.

__ADS_1


Aku pun segera masuk ke dalam kamarku terlebih dahulu. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Saat aku ke luar dari kamar mandi, aku melihat ketiga anakku yang sedang menungguku sambil duduk di tempat tidur.


"Apakah ada yang mau kalian bicarakan sama bunda?" tanyaku pada ketiga anakku. Karena tidak biasanya mereka menungguku seperti ini.


"Tadi di sekolah kak Vina datang menghampiriku dan Kirana ke dalam kelas, dia bilang sama teman-teman semuanya. Kalau aku dan Kirana akan menjadi saudaranya, karena bunda dan papanya kak Vina akan menikah. Apakah benar begitu Bun?" jawab Candra yang menceritakan kejadian di dalam kelasnya.


"Apa kalian setuju. Jika bunda menikah dengan papanya kak Vina?" aku bertanya lagi kepada anak-anakku, dan meminta pendapatnya terlebih dahulu. Sebelum aku menjawab lamaran dari Ervan.


Mereka bertiga menjawab pertanyaanku dengan menggelengkan kepalanya, itu berarti tandanya! Mereka bertiga tidak setuju, kalau aku menikah dengan Ervan.


Aku tidak menanyakan lagi, tentang alasan ketiga anakku yang tidak mau aku menikah dengan Ervan. Tapi tiba-tiba saja, Kirana mengatakan alasannya.


"Aku tidak mau kak Vina jadi kakakku bun, dia itu kalau lagi main suka semaunya aja."


"Sebenarnya aku juga tidak suka bermain bersama kak Vina, bun. Apalagi harus memiliki kakak seperti dirinya." Arsya pun ikut menimpali ucapannya Kirana.


"Candra juga tidak mau," sahut Candra yang sependapat dengan kedua adiknya.


"Iya sayang, bunda juga tidak mau memaksa kalian bertiga. Jika anak-anak bunda tidak mau bunda menikah dengan papanya kak Vina," ujarku sambil memeluk ketiga anakku.


Tok-tok terdengar suara ketukan pintu dari pintu kamarku.


"Kak, itu di depan ada Vina dan papanya." Rina adikku memberitahukan tentang kedatangan Vina dan Ervan.


"Oh, iya nanti kakak dan anak-anak akan pergi menemuinya," sahutku.


"Anak-anak di depan ada kak Vina sama papanya, yuk kita temui mereka," ajakku pada anak-anakku yang berada di dalam kamar.


"Tapi...."


"Ayo sayang, kita temui dulu," ajakku lagi pada ketiga anakku, yang sepertinya tidak mau bertemu dengan Vina dan Ervan.


"Iya Bun," sahut mereka bertiga.


Aku dan anak-anak pun segera pergi menemui Vina dan Ervan, yang sedang duduk di ruang tamu.


"Sepertinya aku harus mengatakan tentang lamarannya Ervan, jadi tidak perlu menunggu sampai dua hari lagi," batinku yang sudah yakin, dengan keputusan yang akan aku katakan pada Ervan.


Sesampainya di ruang tamu.


Aku menyuruh ketiga anakku untuk bermain bersama dengan Vina. Sedangkan aku mengajak Ervan berbicara di ruang tamu.

__ADS_1


"Aku mau membicarakan tentang jawabanku," ucapku berterus terang.


"Santai aja Ra, waktunya masih dua hari lagi, kok. Tapi kalau kamu mau menjawab sekarang juga tidak apa-apa," jawab Ervan sambil tersenyum.


"Maaf yah Van, aku rasanya tidak bisa menerima lamaran...."


"Aku tidak mau mendengar penolakan darimu." Ervan langsung memotong ucapanku yang belum selesai berbicara.


"Samara, aku sangat berharap! Kamu mau menerima aku menjadi suami dan ayah bagi ketiga anakmu. Vina putriku sangat ingin mempunyai ibu sambung sepertimu," lanjut Ervan sambil menggenggam tanganku.


Aku segera melepaskan genggaman tangannya, dan menjauh dari Ervan yang duduk di sebelahku.


"Maaf sekali lagi, aku katakan padamu. Kalau aku tidak bisa...."


"Pasti kamu menolak lamaranku! Karena kamu mau menerima lamaran dari Rayanza, iyakan!" Ervan lagi-lagi memotong ucapanku yang belum selesai berbicara. Bahkan nada bicaranya lebih keras. Sehingga membuat ibu dan bapakku datang ke ruang tamu.


"Ada apa ini Nak Ervan?" tanya bapak.


"Samara menolak lamaranku, pak. Aku mohon sama bapak, bilang sama Samara. Untuk mau menerima lamaranku," jawab Ervan yang meminta bantuan pada bapak. Agar aku mau menerima lamarannya.


"Bapak tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau Samara sudah mengatakan itu, karena yang menjalani rumah tangga itu Samara. Jadi bapak..."


"Nyesel aku dan papaku menolong kalian semua, tidak ada terima kasihnya. Sudah di tolong, tapi seperti ini balasnya. Kalau bapak dan Samara tidak menerima lamaranku, sebaiknya bapak dan keluarga jangan mengontrak di toko ku lagi," ucap Ervan yang memotong ucapan bapakku.


"Tidak bisa seperti itu dong, aku sudah membayarnya," aku tidak terima dengan ucapan Ervan, yang tidak mau mengontrakkan tokonya lagi.


"Kenapa tidak bisa! Aku pemiliknya, dan kamu tidak usah khawatir, aku akan membalikkan uang kontrakan mu. Jadi mulai besok, kalian tidak bisa berjualan kue di toko ku lagi. Tapi! Kalau kamu menerima lamaranku, toko itu aku serahkan kepadamu. Bagaimana?" Ervan tersenyum miring ke arahku.


Ervan dan kedua orang tuanya, seperti tidak ikhlas menolong bapak waktu itu. Aku jadi bingung untuk menjawabnya, karena penjualan kue di sana lumayan besar. Tapi aku tidak mau....


"Apapun keputusanmu, ibu akan mendukungmu Nak. Kamu jangan pikirkan masalah toko kue kita, ibu yakin kita bisa berjualan kue tanpa harus di toko kue milik Ervan," bisik ibu di telingaku.


Setelah mendengar ucapan ibu, aku jadi yakin dengan keputusan yang sudah aku ambil. Aku menghela nafas dalam-dalam, dan menguatkan hatiku.


"Baiklah,"


"Nah gitu dong dari tadi, jangan di gertak dulu baru mau menerima lamaranku." Ervan tersenyum senang dan mendekatiku.


"Kamu percaya diri sekali, dari tadi terus memotong ucapanku," lirihku, yang dengan cepat menghindar dari Ervan yang ingin mendekatiku.


"Aku mau mengucapkan rasa terima kasih. Karena kamu dan kedua orang tuamu sudah membantu keluargaku, tapi maaf. Aku tidak bisa menerima lamaran darimu."


"Vina, ayo kita pergi dari sini." Ervan berteriak memanggil nama Vina, dan mengajak Vina pergi dari rumahku.

__ADS_1


__ADS_2