Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 65 Pengakuan Arsyaka


__ADS_3

Retno menatap tajam ke arah Samara yang sedang bersama Rayanza, ia begitu sangat yakin sekali. Kalau musibah yang menimpa anak dan menantunya, adalah perbuatan Samara mantan istri anaknya.


"Kamu tidak puas mengambil lahan perkebunan milik almarhum suamiku, dan memisahkan aku dengan putriku. Lalu sekarang ini, kamu juga berniat mencelakai putraku!" Retno berucap sambil menunjuk ke arah Samara.


Samara menggelengkan kepalanya, melihat reaksi Retno mantan ibu mertuanya, yang baru saja datang langsung menuduh dirinya.


Rayanza yang merasa ucapan Retno, tidak baik di dengar oleh ketiga anaknya Samara, langsung mengajak mereka bertiga pergi ke luar dari ruang rawat Arsyaka.


"Anak-anak yuk kita pergi ke luar dulu," ajak Rayanza pada ketiga anaknya Samara. Karena mereka bertiga melihat Retno, yang baru saja datang langsung menuduh Samara.


"Aku tidak terima bunda di tuduh seperti itu sama Omah, Om." Candra menolak ajakan dari Rayanza, yang ingin mengajaknya dan kedua adiknya pergi ke luar dari ruang rawat ayahnya.


"Omah tidak baik berburuk sangka. Bunda tidak mencelakai ayah," ucap Kirana yang tidak terima dengan tuduhan Retno pada Samara bundanya.


"Aku tidak suka Omah memarahi bunda." Arsya pun mengeluarkan isi hatinya, yang tidak suka dengan Retno yang memarahi bundanya.


"Kalian anak kecil tahu apa?" sahut Retno kesal dengan ketiga cucunya, yang membela Samara.


"Bu, jangan seperti itu di depan anak-anakku," timpal Arsyaka yang mencoba membuat ibunya tidak marah-marah di depan ketiga anaknya.


Retno yang tidak mendapat dukungan dan pembelaan dari Arsyaka, hanya bisa mengepalkan tangannya dan menatap sinis pada Samara.


"Ayo anak-anak kita pergi ke luar dulu." Rayanza kembali mengajak ketiga anaknya Samara pergi dari ruang rawat Arsyaka.


"Sayang, pergi sama Om Ray dulu ya." Samara menyuruh ketiga anaknya untuk pergi dengan Rayanza.

__ADS_1


"Tapi bun..."


"Ayo anak-anak kita pergi dulu." Rayanza segera menyela ucapan Candra, dan menarik tangannya Candra. Untuk mengajak Candra dan kedua adiknya pergi dari ruang rawat Arsyaka.


Retno yang sudah melihat ketiga anaknya Samara pergi bersama Rayanza, ia yang sangat kesal pada Samara, langsung mendorong Samara.


"Ini semua gara-gara kamu! Aku harus jauh dari putriku, yang sekarang ini pergi entah kemana?"


Beruntung Samara bisa menahan dirinya. Sehingga dorongan dari mantan ibu mertuanya, tidak membuatnya terjatuh ke bawah lantai.


"Jangan menuduh orang tanpa bukti Bu," geram Samara yang tidak terima di perlakukan seperti itu oleh Retno.


"Tadi aku diam dan tidak membalas ucapan ibu. Karena ada ketiga anakku di sini, asal ibu tahu saja! Putrimu pergi meninggalkanmu bukan kesalahanku, tapi kesalahannya sendiri yang berniat mencelakaiku," lanjut Samara yang berusaha membela dirinya sendiri dari tuduhan Retno.


"Aku tidak perlu bukti. Karena tanpa bukti pun, aku sudah yakin sekali. Kalau itu semua pasti perbuatanmu, dan awal mula kesalahan yang dilakukan oleh putriku, itu semuanya dari kamu yang merebut lahan perkebunan milik almarhum suamiku. Dan sekarang ini! Kenapa bisa kamu berada di sini? Kalau bukan mau mencelakai putraku," ujar Retno yang masih menuduh Samara yang membuatnya harus berpisah dengan Siska putrinya, dan ia juga menuduh Samara mencelakai Arsyaka dan Chelsea menantunya.


"Jangan bela mantan istrimu itu, ibu sangat yakin sekali. Ini semua pasti perbuatanmu, iyakan!" Retno masih tetap dengan pendiriannya, yang sangat yakin sekali dengan tuduhannya terhadap Samara. Retno pun menatap Samara dengan penuh kebencian.


"Terserah kamu, Bu. Mau menuduh aku seperti apapun, yang jelas! Aku tidak melakukan perbuatan yang ibu tuduhkan kepadaku." Samara merasa percuma membela dirinya sendiri. Karena di mata Retno yang sangat membencinya, akan selalu menjadi orang yang di salahkan.


"Dan untuk masalah Siska, kalian berdua pasti sudah tahukan perbuatannya yang ingin mencelakaiku. Jadi wajar dong, kalau dia sekarang ini menjadi buronan polisi, dan untuk masalah kedatanganku ke sini, itu bukan keinginanku. Tapi ketiga anakku yang ingin bertemu dengan ayahnya..."


"Omong kosong." Retno memotong ucapan Samara yang belum selesai melanjutkan apa yang ingin ia katakan.


"Bu, sudahlah jangan berdebat dengan Samara. Dia beneran tidak tahu apa-apa dengan musibah yang aku dan Chelsea alami sekarang ini, musibah ini terjadi karena aku..." Arsyaka pun mulai menceritakan tentang perbuatannya itu di depan Retno dan Samara. Agar Retno tidak menuduh Samara, yang menjadi tersangka atas musibah yang dialaminya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ra." Arsyaka terus meminta maaf pada Samara.


Samara menghela nafas secara kasar, ia tidak menyangka dengan perbuatannya Arsyaka dan Chelsea, yang ingin membuat jualan kuenya tidak ada yang mau membelinya.


"Aku tidak pernah mengusik hidup kamu. Setelah memutuskan bercerai denganmu, Mas. Tapi perbuatanmu benar-benar kelewatan sekali, aku berjuang mencari nafkah untuk ketiga anakmu yang tidak pernah kamu beri nafkah setelah kita bercerai." Samara berucap lantang dan mengeluarkan kekesalannya pada Arsyaka.


"Tapi aku bersyukur sekali, kamu mau mengakui kesalahan yang kamu dan istrimu lakukan di depanku dan ibumu. Aku sudah memaafkan kalian, semoga kamu dan istrimu cepat sembuh." Samara melangkah pergi meninggalkan Arsyaka dan ibunya. Setelah selesai mengatakan itu semua.


"Terima kasih Ra, kamu sudah memaafkan aku dan Chelsea," ucap Arsyaka yang merasa lega. Setelah ia mendapatkan permintaan maaf dari Samara.


Samara yang akan menutup pintu kamarnya Arsyaka, membalas ucapan Arsyaka dengan mengagukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Setelah Samara sudah menutup pintu kamarnya Arsyaka, Retno melampiaskan kekesalannya pada Arsyaka anaknya.


"Kamu memalukan sekali, malah menceritakan perbuatanmu dan Chelsea di depan dia. Apalagi kamu terus terusan meminta maaf pada mantan istrimu itu," gerutu kesal Retno pada Arsyaka anaknya. Karena ia menceritakan perbuatannya di depan Samara sambil terus meminta maaf.


"Musibah ini terjadi ya karena aku dan Chelsea, yang berniat mencelakai Samara bu. Apakah ibu tidak ingat kejadian dulu, saat aku dan Chelsea yang pulang dari Bali setelah resmi menjadi suami istri. Aku dan Chelsea mengalami kecelakaan. Karena aku telah menyakiti perasaannya Samara yang masih berstatus istriku, dari kecelakaan itu membuat kakiku menjadi lumpuh selama beberapa hari. Dan untuk masalah Siska, itu memang kesalahannya Bu. Jangan ibu salahkan Samara terus, dan kalau ibu ingin Siska pulang, minta maaflah sama Samara. Agar ia mau mencabut laporannya, semoga saja. Setelah di cabut laporannya, Siska bisa keluar dari tempat persembunyiannya dan pulang," ucap Arsyaka yang mulai sadar atas perbuatannya selama ini.


"Ibu tidak mau meminta maaf pada mantan istrimu itu." Retno yang tidak sependapat dengan ucapan Arsyaka, segera pergi meninggalkan Arsyaka sendirian di ruang rawat.


"Ibu mau kemana?" tanya Arsyaka yang menghentikan langkah kakinya Retno, yang akan pergi meninggalkannya.


"Ibu mau melihat keadaan Chelsea, yang baru saja di operasi," jawab Retno.


"O... operasi!" Arsyaka kaget mendengar jawaban dari ibunya.


"Apa yang terjadi pada Chelsea Bu? Sehingga ia sampai di operasi?" tanya Arsyaka lagi. Karena ia belum mengetahui keadaan Chelsea, yang mengalami kecelakaan bersamanya.

__ADS_1


"Ibu juga belum tahu apa penyebabnya. Karena waktu ibu sampai sini, Chelsea masih di tangani oleh dokter," sahut Retno.


"Aku ingin melihatnya juga Bu," pinta Arsyaka pada Retno ibunya. Karena ia juga ingin melihat kondisi Chelsea istrinya, yang menjadi korban dari tabrakan beruntun.


__ADS_2