
Rayanza bergegas pergi ke bandara Soekarno Hatta. Karena ia akan pergi ke Surabaya dengan menggunakan pesawat terbang, agar cepat sampai di bandara Juanda Surabaya.
Sesampainya di bandara Juanda Surabaya, ia segera pergi ke rumahnya Samara.
"Assalamualaikum," ucap salam Rayanza pada keluarganya Samara yang sedang berada di depan halaman rumahnya. Karena Samara dan kedua orang tuanya, sedang melihat keseruan ketiga anaknya Samara yang sedang bermain.
"Waalaikumsalam," jawab mereka semua.
"Om kenapa baru datang ke sini? Padahal aku sudah kangen banget loh sama Om," tanya Arsya yang datang menghampiri Rayanza. Arsya pun langsung memeluk Rayanza.
"Maaf ya, Om baru bisa datang ke sini. Karena Om banyak kerjaan di Jakarta. Candra dan Kirana tidak kangen sama Om?" jawab Rayanza, sambil bertanya pada Candra dan Kirana yang hanya menatap kedatangannya, yang langsung mendapatkan pelukan dari adiknya.
"Iya Om. Kirana juga kangen," timpal Kirana yang merindukan Rayanza.
"Aku juga kangen sama Om," sahut Candra.
Candra dan Kirana pun berlari menghampiri Rayanza, dan mereka berdua juga memeluk Rayanza.
"Anak-anak sudah pelukannya, ajak Om Ray masuk ke dalam." Samara menyuruh ketiga anaknya. Untuk mengajak Rayanza masuk ke dalam rumahnya.
"Iya Bun,"
"Yuk Om masuk ke rumah aku yang baru," ajak Arsya.
"Emangnya Arsya dan Candra serta Kirana senang tinggal di sini?" tanya Rayanza pada ketiga anaknya Samara.
"Seneng dong Om, karena di sini itu kita punya banyak teman-teman baru," jawabnya.
"Ayo nak Rayanza, masuk ke dalam." Santi ibunya Samara mempersilahkan Rayanza masuk ke dalam rumah.
Samara yang sudah masuk ke dalam rumah, segera membuatkan minuman untuk Rayanza. Samara juga membawakan kue buatannya, yang sudah ia buat untuk di bawa ke ruang tamu.
"Silahkan di minum, dan di cicipi kuenya," ucap Samara pada Rayanza.
"Iya Ra. Terima kasih," sahutnya.
Rayanza pun meminum dan mencicipi kue yang Samara bawa.
__ADS_1
"Bagaimana Om kue buatan bunda dan nenek, enak kan?" tanya Kirana. Ketika Rayanza mencicipi kue buatan Samara.
"Iya enak banget." Rayanza menjawab pertanyaan dari Kirana sambil tersenyum.
"Bunda di sini punya toko kue loh Om," ujar Arsya yang bercerita pada Rayanza.
"Oh bagus dong, kue buatan bunda kalian bertiga memang enak. Pasti banyak yang beli," tutur Rayanza yang memuji kue buatan Samara.
"Alhamdulillah," sahut Samara dengan tersenyum manis. Karena usaha toko kuenya, yang baru Samara rintis bersama dengan ibunya mendapatkan banyak pelanggan yang membeli kue buatannya.
"Ra, ada yang mau aku bicarakan dengan kamu," ucap Rayanza berterus terang.
"Ya sudah, silahkan kalian berdua berbicara di sini. Anak-anak yuk kita main lagi ke depan," ajak Anton ayahnya Samara, yang mengajak ketiga cucunya bermain di halaman depan rumahnya.
Setelah kepergian kedua orang tuanya Samara dan anak-anaknya. Rayanza pun langsung memberitahukan kepada Samara, tentang hasil sidang perceraian Samara dengan Arsyaka yang berjalan lancar.
"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya, aku memang ingin segera terbebas dari lelaki seperti Mas Syaka dan juga keluarganya. Tapi saat putusan sidang terakhir perceraianku dengan Mas Syaka di pengadilan, aku akan pergi ke Jakarta. Karena aku ingin menyelesaikan semua permasalahanku dengan Mas Syaka, aku tidak mau terus-terusan menghindari ini semua. Aku hanya mau mengambil apa yang berhak keluargaku dapatkan, dan aku juga tidak mau ada keributan setelah perceraianku dengannya," ucap Samara.
"Aku rasa kamu tetap di sini saja, biarkan pak Rudi yang mengurus semua perceraianmu. Karena aku takut terjadi sesuatu pada kamu Ra, jika kamu kembali ke Jakarta," jelas Rayanza yang mengkhawatirkan Samara.
"Aku akan tetap pergi ke Jakarta. Kamu tidak perlu khawatir begitu, aku bisa kok mengatasi semua permasalahanku ini." Samara bersikeras dengan pendiriannya yang akan pergi ke Jakarta.
"Aku akan pergi mengikuti kamu Ra," cemas Rayanza di dalam hatinya. Karena ia takut terjadi sesuatu pada Samara, yang akan pergi ke Jakarta. Rayanza sangat yakin sekali. Kalau Arsyaka dan keluarganya, pasti mencari keberadaan Samara dan ketiga anaknya.
___________
Saat sidang putusan terakhir di pengadilan. Samara datang ke pengadilan agama bersama dengan pak Rudi pengacaranya.
"Hey wanita pencuri kembalikan sertifikat surat rumahku," teriak Chelsea yang melihat kedatangan Samara dan pak Rudi. Karena Chelsea dan Retno ikut pergi bersama Arsyaka, yang akan menghadiri putusan sidang terakhir perceraian Samara dan Arsyaka.
"Apa aku tidak salah dengar? Bukannya kamu yang pencuri itu!" Samara tersenyum miring mendengar ucapan Chelsea.
"Yang di katakan oleh menantuku memang benar, cepat kembalikan sertifikat surat rumah anakku," pinta Retno sambil mengarahkan tangannya ke arah Samara.
"Yuk pak, kita masuk." Samara mengajak pak Rudi masuk ke dalam ruang persidangan, dan tidak menanggapi ucapan dari Retno.
Retno yang tidak mendapat tanggapan dari Samara, terus melampiaskan kekesalannya pada Samara, yang telah mengambil sertifikat surat rumah barunya Arsyaka.
__ADS_1
"Tenang Bu, kita baru bertemu dengan Samara di sini. Setelah selesai sidang perceraian ini, kita ajak Samara berbicara, dan meminta sertifikat surat rumahku." Arsyaka menenangkan hati ibunya, dan mengajak Chelsea dan ibunya masuk ke dalam ruang persidangan.
Tidak lama kemudian.
Sidang putusan terakhir perceraian Samara dan Arsyaka pun di mulai. Ketua hakim pun menerima gugatan perceraian yang di layangkan oleh Samara. Karena mendapatkan barang bukti yang sangat kuat, dan hak asuh anak jatuh ke tangan Samara.
Arsyaka mengucapkan kata talak pada Samara lagi di ruang persidangan. Samara dan Arsyaka pun resmi bercerai, sebelum Samara pergi dari persidangan. Samara menjabat tangannya Arsyaka.
"Terima kasih," ucapnya dan melangkah pergi meninggalkan ruang persidangan.
Arsyaka segera pergi menghampiri Samara yang akan keluar dari dalam ruang persidangan.
"Aku ingin berbicara denganmu."
"Baiklah," jawab Samara singkat.
Samara yang tetap di dampingi oleh pak Rudi dan Nayla yang ingin ikut menemani Samara, yang akan berbicara dengan Arsyaka dan Chelsea serta Retno di sebuah kafe.
"Aku tidak mau berbasa-basi lagi, kembalikan sertifikat surat rumahku." Arsyaka langsung mengatakan apa yang ingin ia bicarakan pada Samara.
"Tidak masalah, tapi bacalah dulu ini." Samara memberikan beberapa berkas pada Arsyaka.
"Ke.....kenapa bisa, kamu mengetahui ini semua." Arsyaka gugup dengan berkas yang baru selesai ia baca.
"Emangnya di dalam isi berkas itu apa?" tanya Retno penasaran.
Arsyaka tidak berani menjawab pertanyaan dari ibunya, ia hanya diam dan mengepalkan tangannya yang sangat kesal pada Samara.
"Sini aku baca." Chelsea merebut berkas yang berada di tangan Arsyaka, dan segera membacanya.
"Mas kenapa bisa sertifikat surat rumah kita menjadi milik dia?" tunjuk Chelsea ke arah Samara, dan meminta penjelasan kepada Arsyaka.
"Dan terus, ini kenapa bisa? Isi di dalam ini mengatakan. Kalau kamu mengelapkan uang?" cerca Chelsea yang terus bertanya pada Arsyaka. Sedangkan Arsyaka tidak menjawab semua pertanyaan dari Chelsea.
"Sepertinya kamu tidak berani menceritakan itu semuanya, baiklah aku yang akan menceritakan semuanya." Samara berucap sesantai mungkin.
"Tapi sebelumnya aku menceritakan itu semuanya, aku mau mengucapkan rasa terima kasih pada ibu dan juga kamu Mas, berkat kalian yang menyuruh aku bekerja aku bisa mengetahui perselingkuhan kamu dengan dia. Dan berkat kalian yang mengusir aku pergi dari rumahku, aku juga bisa mengetahui kebenaran yang selama ini kamu tutupi dariku..."
__ADS_1
"Diam kamu," bentak Arsyaka yang tersulut emosi.
"Arsyaka coba jelaskan pada ibu?" pinta Retno kepada Arsyaka. Tapi Arsyaka tetap diam, dan tidak mau menceritakan kepada ibunya.