Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 99 Pertemuan yang mengharukan


__ADS_3

Arsyaka keluar dari dalam penjara, di dampingi oleh polisi yang akan mempertemukannya, dengan orang yang mau menjenguknya di penjara.


Sesampainya Arsyaka di ruang jenguk tahanan, ia benar-benar kaget dan tidak menyangka. Kalau Samara akan mengajak ketiga anaknya, bertemu dengannya di penjara.


"Ayah..." panggil ketiga anaknya sambil berlari menghampirinya dan langsung memeluknya.


"Ma... maafkan ayah, Nak." Arsyaka hanya mampu mengucapkan kata maaf pada ketiga anaknya sambil menangis. Karena ia telah menculik ketiga anaknya, demi mendapatkan uang dan berharap Samara dan ketiga anaknya bisa kembali bersamanya. Tapi kini Arsyaka hanya bisa menyesali perbuatannya, dan harapannya yang ingin kembali bersama Samara dan ketiga anaknya terhalang tembok jeruji.


"Aku memaafkan ayah, tapi ayah harus janji! Jangan menjauhkan aku dengan bunda lagi. Karena aku sayang ayah dan bunda," ucap Kirana yang mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Arsyaka.


"Iya sayang," sahut Arsyaka yang menghapus air matanya. Sebelum mengikuti Kirana, yang mengarahkan jari kelingking ke arahnya.


"Jagoan ayah, kenapa kalian menatap ayah seperti itu? Apakah kalian berdua tidak mau memaafkan kesalahan ayah?" tanya Arsyaka yang melihat tatapan mata Candra dan Arsya, yang terus menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Candra dan Arsya menggelengkan kepalanya, dan mereka berdua kembali memeluk Arsyaka.


"Aku rindu bermain bersama dengan ayah, tapi sekarang ini. Kita tidak bisa  bermain bersama lagi," ujar Candra yang mengungkapkan rasa rindunya terhadap Arsyaka, sambil menitikkan air mata.


"Maafkan ayah, Nak." Arsyaka lagi-lagi mengucapkan kata maaf pada ketiga anaknya, dan ia pun tidak bisa menghentikan air mata yang membasahi pipinya.


"Aku benar-benar menyesal. Begitu banyak kesalahanku, yang membuat aku harus berpisah dengan orang-orang yang aku sayangi. Aku telah menyakiti hati Samara dan ketiga anakku," batinnya yang merasa bersalah pada Samara dan ketiga anaknya.


"Ayah, jangan menangis. Bagaimanapun kesalahan ayah, aku akan memaafkan dan tetap sayang sama ayah." Arsya menghapus air mata ayahnya. Karena ia tidak mau melihat ayahnya bersedih.


Arsyaka yang mendengar ucapan ketiga anaknya, yang telah memaafkan semua kesalahannya. Ia kembali memeluk ketiga anaknya lagi, sambil menitikkan air mata. Arsyaka sekarang ini, benar-benar menyesali perbuatannya yang telah menyakiti hati Samara dan ketiga anaknya.


Samara yang menyaksikan itu, ia hanya bisa melihat tanpa ikut berpelukan dengan Arsyaka dan ketiga anaknya. Karena setatusnya dengan Arsyaka sudah berubah menjadi mantan, dan ia bertemu dengan Arsyaka hanya sebatas urusan ketiga anaknya yang ingin menjenguk Arsyaka di dalam penjara.


"Aku adalah orang yang telah merusak kebahagiaanku sendiri. Andai waktu bisa aku putar, aku tidak akan melakukan kesalahan seperti ini. Sehingga aku masih tetap bersama dengan Samara dan ketiga anakku, tapi semua itu sudah terlambat. Kini hanya rasa penyesalan yang ada," batin Arsyaka dalam penyesalan yang terlambat menyadarinya. Karena sekarang ini, dia di penjara seperti ini atas kesalahannya sendiri.

__ADS_1


Arsyaka segera menghapus air matanya. Sebelum melepaskan pelukannya, yang memeluk ketiga anaknya.


"Terima kasih sayang. Kalian bertiga sudah mau memaafkan kesalahan ayah, itu sudah lebih dari cukup. Ayah merasa, belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian bertiga. Setelah apa yang ayah perbuat pada kalian bertiga, ayah tidak pantas di sebut sebagai ayah kalian..."


"Ayah jangan bicara seperti itu, ayah akan tetap menjadi ayahku selamanya. Meski sekarang ini kita tidak bisa sering bertemu, karena jarak yang memisahkan kita. Tapi aku dan adikku akan sering menjenguk ayah di sini." Candra dengan cepat memotong ucapan Arsyaka, yang merasa gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk ketiga anaknya.


"Aku sayang ayah..." ucap ketiga anaknya, sambil tersenyum senang. Karena mereka bertiga bisa bertemu dengan ayahnya.


Arsyaka segera datang menghampiri Samara, yang hanya berdiam diri menyaksikan pertemuannya dengan ketiga anaknya.


"Samara maafkan semua kesalahanku," ucap Arsyaka yang meminta maaf pada Samara.


"Aku sudah memaafkanmu, Mas." Samara dengan cepat menerima permintaan maaf Arsyaka. Karena ia tidak mau ada masalah lagi dengan Arsyaka. Meski Arsyaka telah menyakiti perasaannya.


"Terima kasih, Ra. Kamu sudah mau memaafkanku, yang begitu banyak membuat kesalahan kepadamu dan juga ketiga anak kita. Aku juga meminta maaf atas nama ibu dan adikku, semoga kamu mau memaafkan kesalahan ibu dan adikku." Arsyaka kini meminta maaf atas nama Retno dan Siska pada Samara.


"Aku sudah memaafkan ibu dan Siska, Mas. Aku harap! Kamu dan ibumu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, dan aku mendoakan semoga Siska adikmu bisa segera di temukan," tutur Samara yang sudah memaafkan Retno dan Siska.


"Samara aku titip anak-anak padamu, saat aku masih berada di sini," sambungnya yang menitipkan ketiga anaknya pada Samara.


"Iya, Mas. Aku pasti akan menjaga anak-anak dengan baik," sahutnya.


"Ayah, Kirana membawa makanan kesukaan ayah. Ayo di makan," ucap Kirana yang memberikan kotak makanan pada Arsyaka.


"Terima kasih sayang," balasnya yang menerima kotak makan dari Kirana.


"Di makan dong, yah. Jangan di lihatin saja makanannya," ujar Arsya yang menyuruh Arsyaka. Untuk memakan, makanan yang mereka bawa.


Arsyaka pun mulai membuka kotak makan, dan langsung memakannya dengan lahap. Ketiga anaknya senang bisa melihat ayahnya, makan dengan lahapnya.

__ADS_1


"Sayang, kalian pergi ke luar dulu. Ada yang mau bunda bicarakan dengan ayah," ucap Samara yang menyuruh ketiga anaknya. Untuk ke luar dari ruang jenguk tahanan.


"Iya Bun," ketiga anaknya pun segera pergi dari ruang tahanan, dan meninggalkan Samara dan Arsyaka berdua di ruang tahanan.


"Ada masalah apa yang mau kamu katakan padaku?" tanya Arsyaka. Ketika ia sudah selesai makan.


"Aku tahu, kamu tidak mungkin bisa hadir. Tapi aku mau memberikan ini kepadamu," jawab Samara yang segera mengambil kartu undangan pernikahannya dengan Rayanza, yang ia taruh di dalam tas. Untuk di berikan pada Arsyaka.


"Surat ini, maksudnya apa Ra? Jangan kamu bilang! Kalau kamu dan Rayanza mau menikah?" tanya Arsyaka yang menerima surat undangan pernikahan Samara dan Rayanza.


"Aku rasa di dalam surat undangan itu sudah cukup jelas. Jadi kamu tidak perlu bertanya lagi," sahut Rayanza yang masuk ke dalam ruang jenguk tahanan, dan ia segera datang menghampiri Samara yang sedang duduk bersama Arsyaka.


"Yang di katakan oleh Rayanza benar, aku dan Rayanza akan menikah." Samara membenarkan ucapan Rayanza, yang sudah berada di dekatnya.


"Hubungan aku dan kamu hanya sebatas anak-anak, kamu akan tetap menjadi ayah bagi ketiga anak kita," sambung Samara yang menjelaskan pada Arsyaka. Agar ia tidak berharap lebih, dengan pertemuan hari ini.


Arsyaka menarik nafas secara kasar, dan mencoba menerima dengan lapang dada.


"Aku mengucapkan selamat, untuk kalian berdua. Semoga acaranya lancar, dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah," ucap Arsyaka sambil mengarahkan tangannya ke arah Samara dan Rayanza yang berada di depannya.


Samara dan Rayanza pun menerima jabatan tangan dari Arsyaka.


"Aamiin, terima kasih atas doanya," ucap Samara dan Rayanza secara bersamaan.


"Aku dan Rayanza pamit pergi dari sini," pamit Samara pada Arsyaka.


Samara dan Rayanza pun pergi dari ruang jenguk tahanan, dan meninggalkan Arsyaka seorang diri.


"Aaah," teriak Arsyaka sambil menjambak rambutnya dengan kasar. Karena ia masih berharap Samara dan ketiga anaknya bisa kembali bersamanya, saat ia sudah keluar dari dalam penjara.

__ADS_1


"Kini aku benar-benar, sudah tidak bisa bersatu dengan Samara dan ketiga anakku lagi," lirihnya yang meratapi nasibnya yang malang.


__ADS_2