Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 94 Tertangkap


__ADS_3

Sebelum Samara melemparkan potongan kursi yang patah, ia melihat Rayanza yang meringis kesakitan. Akibat di jambak rambutnya oleh Ajeng dengan secara kasar, membuat Samara semakin merasa bersalah pada Rayanza.


"Maafkan aku, Ray. Ini semua salahku, tapi aku akan berusaha menolongmu," batin Samara yang akan berusaha menolong Rayanza yang di perlakukan seperti itu oleh Ajeng.


"Hey, kamu jangan diam saja. Cepat buang!" teriak Ajeng yang masih menyuruh Samara. Untuk membuang potongan kursi, sambil menjambak rambut Rayanza dengan kuat.


"Aaawww,"


Samara yang mendengar suara rintihan Rayanza, ia terus menatap ke arah Rayanza. Dan membuat rasa bersalahnya semakin bertambah.


"Aku akan mengalahkanmu dengan tanganku sendiri, tanpa menggunakan potongan kursi ini," sahut Samara yang segera pergi menghampiri Ajeng yang sedang menjambak rambut Rayanza.


Saat Samara membuang potongan kursi.


Bruk!


Dor... dor... dor...


Terdengar suara tembakan pistol di dalam rumah, membuat Ajeng sedikit lengah.


"Kenapa di dalam rumah ini ada suara tembakan pistol?'' lirihnya yang mendengar suara tembakan pistol, sampai ia tidak menyadari kedatangan Samara yang sudah berada di dekatnya. Samara pun segera menjambak rambut Ajeng, dan menampar pipinya.


Plak_plak


Samara terus menampar pipinya Ajeng dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya masih menjambak rambut Ajeng dengan kuat.


"Sialan kau," gerutunya yang kesal pada Samara yang menjambak rambut dan menampar pipinya.


Ajeng pun berusaha melawan Samara yang terus menampar pipi, sambil menjambak rambutnya. Saat Ajeng menginjak kaki Samara, dengan cepat Samara segera mendorong tubuh Ajeng. Sehingga membuat Ajeng jatuh ke bawah lantai.


"Kini giliran kamu, yang akan merasakan pukulan dari potongan kursi ini," ucap Rayanza yang berhasil mengambil potongan kursi. Saat Samara sedang menampar pipi Ajeng.


"Tidak usah memakai itu, Ray. Aku akan mengalahkannya dengan tanganku sendiri, sebaiknya kamu cepat masuk ke dalam kamar itu. Karena ketiga anakku berada di dalam sana." Samara meminta pada Rayanza. Untuk pergi ke dalam kamar, yang di dalamnya ada ketiga anaknya.


Rayanza pun mengagukkan kepalanya, dan segera pergi masuk ke dalam kamar. Sedangkan Samara segera menghampiri Ajeng, yang terjatuh ke bawah lantai.


Ajeng berusaha mundur kebelakang, tanpa berdiri. Samara yang melihat itu, ia segera mendekati Ajeng yang mulai ketakutan melihat dirinya dengan tatapan penuh emosi pada Ajeng.


Brak_bruk.


Samara berhasil memukul Ajeng dengan tangannya sendiri, hingga membuat ia tidak bisa melawan Samara.


"A... ampun," ucapnya yang meminta ampun. Karena Samara terus memukul dirinya dengan membabi buta. Sehingga membuat Ajeng  meringis kesakitan.


"Ini balasan atas perbuatanmu, yang memukul Rayanza dan menculik ketiga anakku," sahut Samara yang geram pada Ajeng dan suami serta Tiya anaknya, yang membuat ia harus berpisah dengan ketiga anaknya.

__ADS_1


"Maaf," lirih Ajeng pelan.


"Setelah apa yang kamu lakukan, dengan mudahnya meminta maaf kepadaku." Samara memegang kedua tangannya Ajeng, sehingga membuat ia tidak bisa melawannya.


"Bunda..." teriak ketiga anaknya Samara yang keluar dari dalam kamar bersama Rayanza.


Samara yang merasa sudah cukup puas memukul Ajeng, ia kembali mendorong tubuh Ajeng ke bawah lantai. Sebelum Samara pergi menghampiri ketiga anaknya, yang keluar kamar bersama Rayanza.


Bruk.


Ajeng lagi-lagi terjatuh ke bawah lantai, ia segera mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah


"Awas kau," geram Ajeng pada Samara.


Samara yang sudah berada di dekat ketiga anaknya, ia segera memeluk ketiga anaknya dengan penuh rasa haru. Setelah berpelukan dengan ketiga anaknya, ia segera mendekati Rayanza.


"Ray, maafkan aku. Ini semua salahku, yang tidak memberitahukan tentang pertemuanku dengan Mas Syaka. Sehingga membuat kamu terluka seperti ini," ucap Samara yang meminta maaf pada Rayanza, dan menyesali perbuatannya.


"Rayanza..." Raden memanggil nama Rayanza. Karena ia begitu kaget melihat kondisi Rayanza yang penuh luka, ia pun segera pergi menghampiri Rayanza yang sedang bersama Samara dan ketiga anaknya.


Samara dan Rayanza pun menengok ke arah suara Raden, yang memanggil nama Rayanza.


"Po... polisi," lirih Samara dan Rayanza yang kaget melihat kedatangan Raden yang membawa polisi.


"Apa yang terjadi denganmu, Ray?" tanya Raden yang sudah berada di dekat Rayanza dan Samara.


"Ini bukan kesalahanmu, Ra. Aku hanya sedikit terluka, kalian berdua jangan panik seperti itu. Apakah kamu yang menghubungi polisi?" sahut Rayanza pelan, sambil menanyakan tentang kedatangan polisi yang datang bersama Raden.


"Sebelum aku pergi ke sini, aku menghubungi polisi terlebih dahulu," jawabnya.


_______


Sementara itu.


Ajeng yang berhasil mengambil potongan kursi secara refleks membuang potongan kursi itu. Saat ia melihat kedatangan polisi, ia pun mulai panik dan takut tertangkap oleh polisi.


"Aku harus menyelamatkan diriku. Jangan sampai aku tertangkap oleh polisi," batinnya yang segera pergi dari ruangan ini.


Ajeng pun memutuskan masuk ke dalam salah satu kamar, yang bekas mengurung ketiga anaknya Samara.


Bruk.


Ajeng menutup pintu kamar dengan kasar, para polisi segera membuka pintu kamar yang tidak bisa di kunci. Karena Ajeng lupa mengambil kunci  pintu kamar, yang masih berada di tempatnya. Sehingga membuat polisi bisa masuk ke dalam kamar, tanpa harus mendobrak pintu kamar.


"Huuuh sial, aku lupa mengambil kunci pintu," gerutu Ajeng yang melihat para polisi yang berhasil masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Jangan bergerak!" ucap polisi yang mengarahkan pistol ke arah Ajeng.


Kini Ajeng tidak bisa mengelak lagi. Karena para polisi sudah masuk ke dalam kamar, dan segera menangkapnya.


Para polisi pun membawa semua orang, yang terlibat aksi penculikan ketiga anaknya Samara. Untuk di masukkan ke dalam penjara.


"Ayo kita semua pergi dari sini, dan mencari rumah sakit terdekat. Untuk mengobati lukamu, Ray." Raden mengajak Rayanza dan Samara serta ketiga anaknya. Untuk pergi dari rumah ini.


"Baiklah," sahutnya.


Akhirnya Samara dan ketiga anaknya bisa pergi dari rumah ini, berkat bantuan polisi dan juga Rayanza serta teman-temannya.


Rayanza dan Samara kini bisa bernafas lega. Karena Arsyaka dan yang lainnya berhasil di tangkap oleh polisi.


Samara dan ketiga anaknya pun ikut pergi ke rumah sakit terdekat. Untuk mengobati luka Rayanza, yang terluka di bagian kepalanya. Jadi mereka semua pergi ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit.


Rayanza langsung mendapat penanganan dari dokter, yang sedang mengobati luka Rayanza yang terluka di bagian kepalanya.


Saat Rayanza sedang di obati oleh dokter.


Samara dan ketiga anaknya, menunggu Rayanza di luar ruangan dokter.


"Bunda, aku lapar." Candra berbisik di telinga Samara.


"Ya sudah, ayo kita pergi ke kantin," sahut Samara yang akan mengajak ketiga anaknya pergi ke kantin yang berada di rumah sakit.


"Raden aku dan anak-anak mau pergi ke kantin dulu," pamit Samara pada Raden. Sebelum ia dan ketiga anaknya pergi ke kantin.


"Iya silahkan, pasti ketiga anakmu belum makan," balasnya yang mempersilahkan Samara dan ketiga anaknya pergi ke kantin.


"Iya benar Om, aku dan adikku dari kemarin tidak mau makan. Karena ayah dan Omah tidak mengantarkan aku pulang ke rumah, makanya aku dan adikku tidak mau makan," timpal Candra yang membenarkan ucapan Raden.


"Kasihan anak-anak bunda, yuk kita pergi ke kantin sekarang." Samara mengajak ketiga anaknya pergi ke kantin, dan sesampainya di sana. Samara segera memesan makanan dan minuman untuk ketiga anaknya.


Ketiga anaknya Samara makan dengan lahapnya. Samara yang melihat itu, ia tersenyum senang. Karena bisa berkumpul dengan ketiga anaknya lagi.


"Alhamdulillah, aku sudah kenyang Bun," ucap Arsya yang memberitahukan pada Samara.


"Aku juga sudah," timpal Candra dan Kirana secara bersamaan.


"Kalau sudah kenyang, yuk kita pergi menemui Om Ray." Samara mengajak ketiga anaknya pergi ke dalam ruang rawat Rayanza.


Saat Samara dan ketiga anaknya akan masuk ke dalam kamar rawat Rayanza, ia bertemu dengan kedua orang tuanya Rayanza.

__ADS_1


"Ini semua pasti perbuatanmu. Sehingga anakku terluka," ucap Haidar papanya Rayanza yang menyalahkan Samara.


__ADS_2