Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 41 Dobel POV Pergi ke Surabaya


__ADS_3

POV Rayanza.


Aku sangat geram dengan perbuatannya Arsyaka dan ibunya, yang mengusir Samara dan ketiga anaknya. Apalagi dalam keadaan hujan, apakah mereka tidak memiliki rasa kasihan pada ketiga anaknya Samara? Padahal di dalam tubuh mereka bertiga itu, mengalir darah Arsyaka.


********


Flashback


Aku yang baru pulang dari rumah Aditya temanku, yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalnya Samara. Saat aku melewati rumah Samara, entah kenapa? Aku pun tidak tahu. Hatiku ini ingin pergi ke rumahnya Samara terlebih dahulu, sebelum pulang ke rumahku.


Sesampainya di rumahnya Samara.


Aku menekan bel rumahnya. Tapi tidak ada orang yang keluar dari dalam rumahnya Samara, dan suasananya pun terlihat sangat sepi sekali.


"Kemana perginya Samara? Biasanya jam segini Samara dan ketiga anaknya berada di dalam rumah. Apalagi tadi hujan turun sangat deras, tapi kok di sini seperti tidak ada orang?" lirihku yang tidak bisa bertemu dengan Samara dan ketiga anaknya. Aku pun memutuskan pergi meninggalkan rumahnya Samara.


Akan tetapi, saat aku akan melangkah pergi meninggalkan rumah Samara, ada seorang ibu-ibu yang datang menghampiriku.


"Kamu mau cari orang yang tinggal di rumah ini?" tanyanya kepadaku.


"Iya benar Bu," sahutku.


"Aku lihat tadi mereka semua itu pergi dari rumah ini. Apalagi Samara dan ketiga anaknya pergi meninggalkan rumah ini, dengan keadaan masih hujan. Aku juga melihat loh, kalau Arsyaka datang membawa seorang wanita ke rumah ini, dan yang membuat aku kaget sekali! Aku mendengar Arsyaka mentalak Samara, sebelum pergi meninggalkan rumah ini," tuturnya menjelaskan semuanya padaku.


"Arsyaka kamu benar-benar keterlaluan. Pasti Samara dan ketiga anaknya di usir oleh Arsyaka," geram ku dalam hati, yang sangat kesal pada Arsyaka.


"Oh begitu, terima kasih atas informasinya ya Bu. Kalau begitu aku pamit pergi," ucapku yang berpamitan pergi kepada ibu-ibu itu.

__ADS_1


"Iya," sahutnya.


Aku pun segera masuk ke dalam mobil, dan mencoba menghubungi nomer teleponnya Samara. Akan tetapi nomer teleponnya Samara tidak aktif, dan sepertinya ia mengganti nomer teleponnya.


Aku pun mencoba menghubungi Nayla, dan berharap Nayla mengetahui keberadaan Samara yang saat ini entah pergi kemana? Apalagi dia dan anak-anaknya pergi meninggalkan rumah ini dalam keadaan hujan. Aku sangat mencemaskan dan mengkhawatirkan keadaan mereka semua.


"Halo Ray, ada apa? Tumben kamu menghubungi aku?" ucap Nayla yang sudah menerima panggilan telepon dariku.


"Apakah kamu mengetahui keberadaannya Samara dan ketiga anaknya? Karena tadi itu, sehabis pulang dari rumah Aditya, aku mampir ke rumahnya Samara. Tapi kata tetangganya, dia dan anak-anaknya pergi dari rumahnya,'' jawabku yang ingin bertanya kepada Nayla, tentang keberadaan Samara dan ketiga anaknya.


"Samara saat ini memutuskan tinggal di hotel, untuk sementara waktu. Karena dia dan anak-anaknya di usir oleh Arsyaka dan ibu mertuanya. Padahal aku sudah menawarkan Samara untuk tinggal di rumahku, tapi dia tidak mau tinggal di rumahku. Samara juga meminta bantuan kepadaku untuk menjual rumahnya. Karena dia tidak ingin tinggal di rumah itu lagi," jelas Nayla.


"Bolehkah aku meminta alamat hotel tempat menginap Samara dan ketiga anaknya," pintaku pada Nayla.


Nayla pun memberikan alamat hotel tempat Samara dan ketiga anaknya menginap di sana. Aku akan pergi ke hotel itu, tapi sebelum aku pergi menemui Samara dan ketiga anaknya.


Karena kebetulan sekali mereka berdua itu sedang mencari rumah, untuk tempat tinggal mereka berdua. Tapi dengan bujukan dariku, akhirnya mereka berdua mau mengontrak di rumahnya Samara.


Dengan begitu Samara tidak perlu menjual rumahnya. Karena aku sangat yakin! Kalau rumah itu di jual. Pasti Arsyaka akan meminta uang dari hasil penjualan rumah itu.


Saat aku ingin bertemu dengan Samara di hotel, aku melihat Samara dan ketiga anaknya seperti akan pergi meninggalkan hotel ini. Aku pun bergegas menghampiri mereka semua, dan menanyakan tentang tujuan mereka semua yang akan pergi meninggalkan hotel.


Dan baru aku ketahui. Kalau Samara dan anaknya akan pergi ke kampung halamannya, aku pun mengantarkan Samara dan anaknya. Meski Samara sudah memesan taksi, yang akan mengantarkannya pulang ke kampung halamannya.


Setelah aku mengantarkan Samara dan anak-anaknya ke kampung halamannya. Sebelum aku pulang dari kampung halamannya Samara, aku meminta nomor telepon Samara yang baru, agar aku bisa terus berkomunikasi dengan Samara. Karena jarak dari Jakarta dan Desa Bukit Pelangi lumayan jauh. Jadi aku tidak bisa bertemu dengan Samara dan ketiga anaknya, yang tinggal di rumah kedua orang tuanya Samara.


Flashback off.

__ADS_1


**************


Aku yang sudah mengetahui keberadaan Samara dan keluarganya, yang memutuskan tinggal di Surabaya. Karena Samara memberitahukan kepadaku, sebelum ia dan keluarganya pergi meninggalkan kampung halamannya.


Aku yang sudah rindu dengan Samara dan ketiga anaknya, memutuskan pergi ke Surabaya dan memberitahukan kabar bahagia. Karena hasil sidang perceraian Samara dan Arsyaka yang pertama berjalan dengan baik, aku juga meminta pada pak Rudi jangan memberitahukan itu semuanya pada Samara. Karena aku yang ingin menyampaikan itu semuanya, saat aku sampai di rumah Samara yang sekarang ini tinggal di Surabaya.


_________________


POV Arsyaka.


Aku kesal dengan pak Rudi yang tidak mau memberitahukan alamat, dan juga nomor teleponnya Samara. Aku pun berusaha mencari tahu keberadaannya Samara dan ketiga anakku yang ia bawa. Dengan cara! Menyuruh para preman yang ada di kota ini, untuk mencari keberadaannya Samara dan ketiga anakku. Karena aku ingin mendapatkan sertifikat surat rumah baruku, yang berada di tangannya Samara.


"Bagaimana hasilnya? Apakah kalian semua sudah menemukan keberadaan mantan istriku dan ketiga anakku?" tanyaku pada Roni ketua preman suruhan ku itu.


"Maaf bos, mereka semua sepertinya tidak tinggal di kota ini. Karena aku dan anak buahku sudah mencari mantan istrinya bos dan juga ketiga anaknya, tapi tidak berhasil menemukan keberadaan mereka," jawab Roni.


"Huuuh, kalian semua ini payah sekali. Aku tidak mau tahu! Kalian semua tetap harus mencari keberadaan mantan istriku dan ketiga anakku," ucapku sambil mematikan panggilan telepon. Karena aku sangat kesal pada Roni dan anak buahnya, yang gagal mencari keberadaan Samara dan ketiga anakku.


"Apakah ketua preman yang kamu suruh belum berhasil menemukan keberadaan Samara dan ketiga anakmu?" tanya ibuku. Karena ibu dan Siska datang ke rumahku, kedatangan ibu dan Siska ke rumahku. Yaitu ingin menanyakan tentang para preman yang aku suruh, untuk mencari keberadaan Samara dan ketiga anakku.


"Belum Bu," jawabku sambil tertunduk lesu.


"Ibu juga sudah menanyakan kepada para pekerja di perkebunan. Tapi mereka semua tidak ada yang mengetahui, tujuan pak Anton yang pergi meninggalkan kampung halamannya. Padahal ibu menjanjikan sejumlah uang kepada para pekerja di perkebunan dan juga para warga kampung. Tapi tetap saja, mereka semua tidak ada yang memberitahukan tempat tinggal pak Anton dan keluarganya," sahut ibu.


"Bu, kak. Kita kan bisa menanyakan pada sahabatnya kak Samara, yang waktu itu pernah datang ke rumah kakak," ucapan dari Siska membuat aku bisa tersenyum senang. Kenapa aku tidak kepikiran sampai ke situ? Pasti Nayla dan Rayanza mengetahui tempat tinggal Samara dan keluarganya.


"Kamu benar Sis," aku pun menyunggingkan senyuman. Karena aku akan menyuruh Roni dan anak buahnya, untuk memantau dan mengikuti Nayla dan Rayanza kemanapun mereka berdua pergi. Dengan begitu, aku pasti bisa mengetahui keberadaannya Samara dan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2