Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 45 Rencana yang berjalan lancar


__ADS_3

Samara yang di bius oleh salah satu dari ke lima orang itu, ia sudah mulai terkulai lemas dengan wajah miring ke samping dan tertutup oleh rambut indahnya. Karena Samara yang tidak bisa memberontak, sampai ia tidak bisa melihat wajah orang-orang itu, dan membuat Samara mudah untuk di bius, dengan posisi kepalanya tertunduk ke bawah.


"Langsung tepar bro," ucapnya memberitahu kepada teman-temannya yang lain. Kalau Samara sudah pingsan akibat di bius olehnya.


"Kerja bagus," puji temannya sambil melangkah pergi menghampiri Samara yang sudah tidak berdaya.


Ketika orang yang mengancam supir taksi pergi menghampiri Samara, yang sudah berada di luar  mobil taksi. Supir taksi segera menyalakan mesin mobilnya, dan bergegas pergi meninggalkan Samara yang akan di bawa oleh orang-orang itu.


"Waduh gawat! Supir taksi itu sudah kabur," ujar salah satu dari ke lima orang itu.


"Ayo kita harus cepat pergi dari sini, kamu bawa sendiri saja wanita itu," perintahnya pada temannya yang bertugas membius Samara.


"Baik bos," sahutnya.


Keempat orang itu langsung pergi menuju mobil, dan meninggalkan temannya yang akan membawa Samara masuk ke dalam mobilnya.


Saat orang itu akan mengangkat tubuh Samara, yang akan di bawa masuk ke dalam mobilnya, dengan cara menggendong Samara sampai mobilnya.


"Ini kesempatannya," batin Samara yang sudah melihat keempat orang itu, sudah berjalan kaki dan segera masuk ke dalam mobilnya.


Samara hanya berpura-pura pingsan, untuk mengelabui ke lima orang itu. Agar ia bisa menyelamatkan dirinya dari ke lima orang yang hendak menculiknya.


__________


Flashback.


"Pak, sepertinya mobil di belakang mengikuti mobil ini terus," ucap Samara yang memberitahukan kepada supir taksi.


"Iya benar Bu, aku percepat yah Bu kecepatan mobilnya. Karena itu mobil mau mengejar mobilku," sahut supir taksi, yang akan mempercepat laju mobil yang ia kendarai.


"Ya sudah tidak apa-apa pak. Tapi sebaiknya... Bapak tidak usah mempercepat laju mobilnya, karena bagaimanapun juga mereka pasti bisa mengejar mobil ini. Lebih baik bapak ikuti instruksi dariku, agar bapak bisa selamat dari mereka." Samara pun menceritakan tentang rencananya kepada supir taksi.


"Tapi Bu..."


"Bapak tidak usah khawatir, insya Allah aku bisa menghadapi mereka." Samara segera memotong ucapan supir taksi, yang mengkhawatirkan dirinya.


"Baiklah Bu," jawabnya.

__ADS_1


Tring! Panggilan telepon dari Rayanza.


Samara pun segera menerima panggilan telepon dari Rayanza.


"Samara, kenapa kamu sudah pergi dari hotel? Sekarang ini kamu dimana?" Cerca Rayanza yang menayangkan keberadaan Samara, yang sudah pergi dari hotel.


"Aku sekarang ini, sedang berada di jalan arah ke bandara. Tapi aku minta tolong sama kamu, mobil taksi ku ada yang mengikuti," jawab Samara yang meminta tolong kepada Rayanza.


"Ya sudah, aku akan pergi ke sana." Rayanza mencemaskan keadaan Samara yang sedang mengalami bahaya, ia pun segera pergi ke dalam mobilnya. Untuk pergi menyelamatkan Samara. Bahkan Rayanza sampai lupa mematikan handphonenya, yang sedang menghubungi Samara.


Samara yang sudah memberitahukan kepada Rayanza, segera menjalankan rencananya. Sebelum mobil taksi ini, bisa di halangi oleh mobil yang mengejarnya.


Flashback off.


_________________


Ketika satu orang yang sedang  menggendong Samara, berjalan kaki menuju mobilnya.


Samara segera melakukan apa yang sudah ia rencanakan. Sebelum orang-orang itu berhasil menculiknya, ia yang sudah memegang pisau lipat di pergelangan tangannya, segera menusukkan pisau itu di bagian paha lelaki yang menggendongnya.


"Aawww," jerit lelaki itu, membuat Samara dan pistol di tangannya jatuh ke bawah aspal jalan.


"Aduh sakit," rintihnya menahan rasa sakit.


Samara segera mengambil pistol yang tergeletak di bawah aspal jalan. Setelah itu, ia pun segera membuka kapas yang berada di hidungnya. Itulah sebabnya mengapa Samara, sampai tidak bisa di bius oleh lelaki itu. Karena ia tidak menghirup obat bius yang berada di sapu tangan lelaki itu.


"To....long," teriak pelan lelaki itu. Agar ke empat temannya keluar dari dalam mobil, dan membantunya yang mengalami luka.


Sebelum ke empat orang itu keluar dari mobilnya. Samara segera menyandera lelaki yang terluka, dan menodongkan pistol ke arah kepala lelaki itu.


***


Sedangkan di dalam mobil ke empat orang itu, sedang menunggu kedatangan temannya yang bertugas membawa Samara masuk ke dalam mobilnya.


"Tino lama banget sih, ngangkat satu cewek saja," gerutunya yang kesal pada temannya itu.


"Bos, i....itu, ayo cepat kita ke.... luar," ucapnya gugup. Karena ia yang menengok ke belakang mobil, sangat kaget melihat temannya di todong pistol oleh Samara.

__ADS_1


"Apaan sih?" sahutnya sambil keluar dari dalam mobil.


Saat mereka semua ke luar dari dalam mobil. Mereka semua kaget, melihat temannya bisa di kalahkan oleh Samara. Apalagi sekarang ini, Samara berhasil menyandera teman mereka berempat.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Samara dengan suara lantang, dan tidak ada rasa takut menghadapi mereka semua. Padahal dirinya hanya seorang wanita, sedangkan mereka berlima lelaki semua.


"Cepat jawab pertanyaanku! Kalau tidak, aku akan membunuh temanmu ini," lanjut Samara yang mengancam mereka semua.


"Ayo kita pergi saja dari sini," lirih salah satu dari ke empat orang itu, yang mengajak temannya masuk kembali ke dalam mobil.


Akan tetapi, saat mereka semua akan masuk ke dalam mobil terdengar suara pistol yang keluar.


Dor suara pistol yang Samara arahkan, ke arah ban mobil yang di bawa oleh mereka semua yang hendak menculiknya.


"Kalian semua tidak bisa pergi dari sini. Lebih baik kalian semua diam di tempat, jangan kira aku tidak bisa menembak pistol ini ke arah kalian semua." Samara kembali mengancam mereka semua.


"Sial!" gerutu kesal salah satu dari ke lima orang itu. Karena mereka semua tidak bisa pergi dari sini, sebab ban mobil milik mereka kempes tertembak oleh Samara.


Tidak lama kemudian terdengar dari jauh suara sirine mobil polisi, yang akan datang menolong Samara.


Keempat orang itu semakin gugup mendengar suara sirine mobil polisi, dan mereka semua memilih kabur dari tempat ini.


Dor Samara berhasil menembakkan pistol yang berada di tangannya, hingga mengenai salah satu kaki dari ke empat orang itu yang sedang berlari pergi.


Akan tetapi, orang yang sedang di sandera oleh Samara, ia menggigit tangannya Samara yang akan menembak teman-temannya lagi.


"Aawww." Samara merasakan rasa sakit di tangannya, yang mendapat gigitan dari lelaki yang ada di dekatnya.


"Rasain," ucapnya sambil mendorong tubuh Samara sampai terjatuh ke bawah aspal jalan, dan ia pun segera melangkah pergi dengan menahan rasa sakit di bagian pahanya, akibat tertusuk pisau lipat Samara.


Rayanza yang baru saja datang, segera pergi menghampiri Samara yang terjatuh di dorong oleh lelaki itu.


"Samara!" teriak Rayanza memanggil nama Samara. Rayanza pun segera pergi menghampiri Samara, yang terjatuh di bawah aspal jalan.


"Ray," lirih Samara yang melihat kedatangan Rayanza.


Samara segera mengambil pistol yang terjatuh. Karena saat Samara di dorong oleh lelaki itu, pistol di tangannya Samara ikut terjatuh. Samara yang berhasil mengambil pistol, segera mengarahkan pistol itu ke arah lelaki itu.

__ADS_1


"Jangan coba-coba kabur dari sini!" teriak Samara yang akan menembak pistol itu ke arah lelaki itu.


"Kamu sekarang tidak bisa menembak pistol itu lagi," sahutnya sambil menengok ke arah Samara yang berada di belakangnya. Setelah mengatakan itu pada Samara, ia pun segera melanjutkan langkahnya. Karena ia melihat Rayanza yang datang menghampiri Samara, ia pun berusaha pergi dari sini.


__ADS_2