
POV Samara.
"Nayla..."
Aku dan Nayla menengok ke arah suara yang memanggil namanya Nayla.
"Papa, mama." Nayla yang melihat kedatangan kedua orang tuanya, segera pergi menghampiri mereka berdua.
"Kapan papa dan mama pulang dari luar kota?" tanya Nayla kepada kedua orang tuanya yang datang ke tempat restorannya.
"Mama dan papa, kemarin pulangnya. Kenapa kamu kemarin tidak pulang ke rumah?" jawab mamanya Nayla sambil bertanya balik kepadanya.
"Sorry," ucap Nayla sambil tertawa kecil.
"Ara, sini." Nayla memanggilku. Aku pun segera pergi menghampiri Nayla yang sedang bersama kedua orang tuanya, aku juga bersalaman dengan kedua orang tuanya Nayla.
"Bagaimana kabarnya Om, Tante?" tanyaku pada kedua orang tuanya Nayla.
"Alhamdulillah baik," sahutnya.
"Kamu sendirian saja? Kemana ketiga anakmu?" tanya mamanya Nayla.
"Iya Tante, anak-anak aku titipkan kepada ibuku," jawabku memberitahukan kepada mamanya Nayla.
"Sayang, papa dan mama ingin makan bersama denganmu. Kan sudah lama tidak makan bersama," ajak papanya Nayla, mengalihkan pembicaraanku dengan mamanya Nayla.
"Tapi pah, aku lagi makan bareng sama Samara." Nayla menolak ajakan dari papanya.
Aku jadi merasa tidak enak pada kedua orang tuanya Nayla. Apalagi mereka berdua sudah dua minggu ini, tidak bertemu dan juga makan bersama. Karena kedua orang tuanya Nayla, mengurus restoran yang berada di luar kota.
"Gak apa-apa kok Nay. Kamu makan bareng saja, sama papa mama kamu." aku pun menyuruh Nayla untuk menerima ajakan kedua orang tuanya, yang ingin makan bersama dengannya.
"Bagaimana! Kalau Samara ikut makan bersama dengan kita mah, pah?" Nayla memberi usul kepada kedua orang tuanya. Untuk mengajakku ikut makan bersama dengan mereka.
Kedua orang tuanya Nayla saling lirik. Sebelum menjawab pertanyaan dari Nayla putrinya.
"Gak usah Nay, aku makan di sini saja." aku segera menimpali ucapan Nayla, yang mengajakku makan bersama dengan kedua orang tuanya.
"Mama dan papa tidak keberatan, kalau Samara mau ikut makan bersama dengan kita. Yuk kita pergi ke rumah sekarang. Soalnya mama sudah masak di rumah, dan mau menunjukkan resep baru yang mama masak. Untuk menu di restoran kita," ucap mamanya Nayla.
__ADS_1
"Yuk Ra, ikut makan bersama dengan mama dan papaku." Nayla bersikeras mengajakku makan bersama dengan kedua orang tuanya.
"Aku di sini saja Nay, makanan yang sudah aku pesan sudah ada di meja makan," kilahku yang menolak ajakannya dari Nayla. Karena aku tahu! Pasti mama dan papanya Nayla hanya ingin makan bersama dengan anaknya.
"Kamu yakin! Tidak mau makan bersama dengan kami?" tanya mamanya Nayla kepadaku.
"Iya Tante, aku makan di sini saja," jawabku.
"Oh ya sudah. Kalau begitu aku pamit pulang duluan yah Ra, jangan lupa titip salamku pada anak dan keluargamu." Nayla berpamitan kepadaku, dan sebelum pulang ia menitipkan salam pada ketiga anakku dan juga keluargaku.
Aku menanggapi ucapan dari Nayla dengan cara mengagukan kepalaku sambil tersenyum manis.
"Om dan Tante, pergi dulu ya." Papanya Nayla pun ikut berpamitan padaku.
Nayla dan kedua orang tuanya pun pergi meninggalkan aku, yang berada di dalam restoran miliknya.
Makan di sini sendirian rasanya kurang nyaman kalau tidak bersama dengan Nayla. Aku pun memutuskan untuk memanggil pelayan yang bekerja di restorannya Nayla.
"Mbak sini!" Aku melambaikan tangan pada pelayan restoran.
"Iya ada apa Bu?" tanyanya. Ketika ia sudah datang menghampiriku.
"Iya bisa, saya siapkan dulu ya," sahutnya sambil membawa semua makanan dan minuman itu ke dapur.
Di saat aku menunggu pelayan restoran yang akan membungkus semua makanan dan minumanku, terdengar suara notifikasi pesan. Aku pun segera membaca pesan yang di kirim oleh Rayanza.
[Ra, kamu masih di restorannya Nayla?]
[Iya,] balasku singkat.
[Tunggu aku di sana.] Rayanza mengirimkan balasan pesan, yang akan menemuiku di restorannya Nayla.
Aku menghela nafas pelan. Kalau tahu Rayanza akan ke sini. Aku tidak akan menyuruh pelayan restoran, untuk membungkus semua makanan yang sudah aku pesan. Aku akan memakan sedikit makanan itu di sini, sambil menunggu kedatangan Rayanza ke restoran ini. Tapi kalau sudah di bungkus oleh pelayan restoran, aku jadi malu untuk memakan di sini.
"Bu ini," pelayan restoran memberikan makanan dan minuman yang sudah di bungkus olehnya.
"Iya terima kasih," aku pun menerima bungkusan makanan dan minuman itu.
"Jadi berapa totalnya?" tanyaku.
__ADS_1
"Tidak usah Bu. Karena tadi Bu Nayla sudah menyuruh saya, untuk menggratiskan makanan dan minuman ini," jawabnya yang enggan memberikan jumlah total makanan dan minuman yang aku pesan.
"Ya sudah, ini uang tips buat kamu." aku memberikan uang tips pada pelayan restoran Nayla. Setelah itu barulah aku pergi dari restoran ini, dan menunggu kedatangan Rayanza di dekat restoran Nayla. Karena tidak enak menunggu di dalam restoran, ketika aku sudah mendapatkan semua makanan dan minuman ini.
Saat aku sedang berjalan keluar dari dalam restoran, tiba-tiba saja ada anak kecil yang berlari masuk ke dalam restoran. Sehingga membuat makanan dan minuman yang aku pegang, terjatuh berserakan di depan restoran Andini Food.
"Mbak maafkan anak saya," ucap ibu dari anak kecil yang berlari menubrukku.
"Iya tidak apa-apa," sahutku.
"Mbak tunggu di sini, saya akan mengganti semua makanan yang terjatuh itu." ujar ibu itu yang mau mengganti makanan yang terjatuh ke bawah.
"Tidak usah Bu," aku mencegah niat baiknya, yang ingin mengganti semua makanan dan minuman yang sudah terjatuh.
"Tapi..."
"Mami... Cepetan masuk," teriak anaknya.
"Tidak apa-apa Bu, sudah ibu masuk saja ke dalam. Itu anaknya sudah memanggil." aku menyuruh ibu itu untuk masuk ke dalam restoran, menemui anaknya yang terus memanggilnya.
"Sekali lagi, saya minta maaf ya Mbak," ucapnya sebelum pergi meninggalkanku.
"Mami..." teriak anak kecil itu lagi, memanggil ibunya.
Aku hanya menggelengkan kepala, melihat kelakuan anak kecil itu. Sebelum aku melangkah pergi meninggalkan restoran Andini Food, aku benar-benar kaget dengan apa yang aku lihat.
"Astaghfirullah," aku mengucapkan istighfar, melihat kucing yang tergeletak di bawah. Setelah memakan, makanan yang tidak sengaja aku jatuhkan.
"Sepertinya, kucing ini keracunan pada makanan dan minuman itu. Apa jangan-jangan! Orang yang berniat menculikku berada di sekitar sini?" lirihku sambil melihat ke arah sekitar restoran Andini Food.
Tapi aku tidak melihat orang yang mencurigakan di sekitar sini, aku jadi mulai ketakutan dengan semua kejadian yang aku alami hari ini. Rasanya aku ingin segera pergi dari kota ini, di sini aku merasa tidak aman dan tenang. Apalagi sekarang ini, aku merasakan ada orang yang menepuk pundakku, membuat aku semakin ketakutan saja.
"Kamu kenapa Ra?" itu seperti suaranya Rayanza. Aku pun segera menengok ke belakang, untuk memastikan kebenarannya.
"Alhamdulillah, ternyata itu benar Rayanza," batinku yang menghembuskan nafas lega.
"Kamu kenapa Ra? Seperti orang ketakutan saja?" tanya Rayanza lagi.
"Ayo Ray, kita pergi dari sini. Nanti aku ceritakan semuanya," aku segera mengajak Rayanza pergi dari restoran Andini Food.
__ADS_1