Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 52 Terungkap


__ADS_3

POV Author.


Ketika Nayla dan Rayanza akan masuk ke dalam mobilnya masing-masing, mereka berdua melihat kedatangan Arsyaka dan Retno ibunya yang keluar dari dalam mobil.


"Itu bukannya Arsyaka dan ibunya, mau apa mereka berdua pergi ke kantor polisi?" lirih Rayanza yang melihat kedatangan Arsyaka dan ibunya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," timpal Nayla.


"Apa jangan-jangan! Kecurigaan awalku itu benar, kalau Arsyaka dan ibunya yang menyuruh Glen dan anak buahnya untuk menculik Samara," batin Rayanza yang penuh selidik. Karena melihat kedatangan Arsyaka dan ibunya yang pergi ke kantor polisi, saat pihak kepolisian sudah mengetahui nama pelaku dari aksi penculikan Samara.


Sementara itu.


Retno dan Arsyaka yang melihat Nayla dan Rayanza, yang berada di parkiran kantor polisi. Mereka berdua langsung pergi menghampiri Nayla dan Rayanza.


"Kalian berdua pasti habis menjenguk  teman kalian yang masuk ke dalam penjara," ucap Retno saat sudah berada di dekat Rayanza dan Nayla.


"Samara memang pantas masuk ke dalam penjara, karena ia telah mencuri harta warisan milik keluargaku," lanjut Retno sambil tersenyum miring.


"Samara di penjara! Apakah aku tidak salah dengar? Justru aku datang ke sini. Karena sudah mengetahui pelaku dari aksi penculikan Samara, aku jadi curiga pada kalian berdua! Pasti kalian berdua mengenal nama Glen, orang yang telah melakukan penculikan pada Samara?" sahut Rayanza yang memberitahukan kepada Arsyaka dan ibunya, tentang aksi penculikan Samara.


Degh! Detak jantung Retno berdetak kencang. Saat Rayanza mengatakan nama Glen, tapi setelah itu Retno menggelengkan kepalanya.


"Mungkin hanya namanya saja yang sama, pasti bukan dia yang mereka maksud," gumam Retno dalam hatinya.


"Aku tidak mengenal yang namanya Glen. Tapi wajar sih, kalau ada orang yang berniat menculik Samara. Secara dia telah mengambil, yang tidak berhak dia ambil," ucap Arsyaka dengan menyunggingkan senyuman.


"Ayo Ray, kita pergi saja dari sini," ajak Nayla pada Rayanza.


Nayla dan Rayanza pun segera pergi meninggalkan Arsyaka dan ibunya, dan segera pergi menuju restoran Andini Food.


Sesampainya di restoran Andini Food.


Salah satu dari karyawan Nayla, datang menghampiri Nayla dan Rayanza.


"Kamu kenapa tidak memakai seragam kerja?" tanya Nayla kepada karyawannya.


"Seragam kerjaku ada yang mengambil Bu, saat keadaanku yang sedang sakit dan sudah minta ijin kepada pak manajer untuk pulang terlebih dahulu. Akan tetapi, saat aku keluar dari restoran ini. Tiba-tiba saja, kepalaku sangat pusing sekali dan jatuh pingsan," jawab karyawannya Nayla.

__ADS_1


Nayla yang mendengar jawaban dari karyawannya, mengkerutkan keningnya dan tidak menanyakan lebih lanjut lagi.


"Kalau Bu Nayla tidak percaya, ini ada hasil rekaman cctv dari toko butik sebelah," karyawannya Nayla langsung memberikan rekaman cctv dari toko butik yang berada di sebelah restoran milik Nayla.


Nayla yang mendapatkan rekaman cctv itu, langsung mengajak Rayanza untuk melihat rekaman cctv itu. Di rekaman cctv sangat terlihat jelas sekali. Kalau Siska adiknya Arsyaka menghampiri karyawan Nayla yang terjatuh pingsan, lalu mengajaknya masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu Siska keluar dari dalam mobil, dengan menggunakan hijab dan masker serta memakai seragam restoran Nayla.


"Jadi adiknya Arsyaka yang melakukan itu semua," batin Rayanza yang sudah mengetahui orang yang berniat menculik dan mencelakai Samara.


___________


POV Siska.


Aku yang sedang bersama kekasihku yang bernama Glenn, mendapatkan panggilan telepon dari ibu yang terus-menerus menghubungiku.


"Ada apa sih Bu?" tanyaku pada ibu, yang terus menghubungiku.


"Huhu....." Ibu tidak menjawab pertanyaanku, yang ada hanya suara isakan tangis ibu yang aku dengar. Aku pun mulai khawatir dengan ibu, kenapa ibu menangis seperti itu?


"Ibu kenapa menangis?" tanyaku lagi.


"Lahan perkebunan milik keluarga kita, telah di ambil oleh Samara dan keluarganya. Dan kini kita tidak memiliki penghasilan dari perkebunan itu lagi, karena bapaknya Samara sudah tidak mau mengurus lahan perkebunan itu," jawab ibu yang masih terdengar suara isak tangisnya.


Ibu pun mulai menceritakan tentang semuanya kepadaku. Aku berdecak kesal, mendengar cerita dari ibu. Kalau seperti ini, aku dan ibu hanya bisa mengandalkan uang bulanan dari kak Arsyaka. Aku juga tidak mau sampai berhenti kuliah, ini semua ulah kak Samara mantan kakak iparku yang ingin menguasai seluruh lahan perkebunan milik almarhum ayahku.


"Sayang, kenapa wajahmu di tekuk seperti itu? Setelah menerima panggilan telepon dari ibumu?" tanya Glen kekasihku.


"Aku sangat kesal dengan mantan kakak ipar ku," aku pun mulai menceritakan tentang kekesalanku pada kak Samara kepada Glen kekasihku.


Glen yang mendengar ceritaku, mau membantuku mendapatkan lahan perkebunan dan juga rumah pemberian dari almarhum ayahku. Dengan cara menculik kak Samara, dan membuat kak Samara mau mendatangani surat kepemilikan lahan perkebunan dan juga rumah menjadi milik keluargaku lagi.


Akan tetapi, saat dalam misi penculikan kak Samara. Aku yang melihat dari jarak jauh, bisa melihat kak Samara yang bisa melumpuhkan temannya Glen yang akan membawanya masuk ke dalam mobil.


Kak Samara yang mendapatkan pistol temannya Glen, ia mulai mengarahkan pistol itu ke arah temannya Glen. Kak Samara juga menembak pistolnya, ke arah ban mobil yang di bawa Glen dan teman-temannya. Sehingga Glen dan teman-temannya tidak bisa pergi menggunakan mobil itu lagi.


Aku juga semakin ketakutan, ketika mendengar suara sirine mobil polisi. Aku sangat berharap Glen dan teman-temannya tidak tertangkap oleh polisi. Aku segera melajukan mobilku, untuk menolong Glen serta kedua temannya yang bisa melarikan diri, dari tembakan kak Samara yang mengarah pada Glen dan teman-temannya.


Aku dan Glen serta kedua temannya berhasil kabur dari tempat kejadian penculikan kak Samara, dan kini aku membawa Glen dan teman-temannya pergi ke rumah Glen. Setelah mengantarkan Glen dan teman-temannya, aku segera pergi meninggalkan rumah Glen.

__ADS_1


Di tengah perjalanan.


Aku melihat kak Samara dan sahabatnya, yang masuk ke dalam restoran Andini Food. Aku hanya memperhatikan saja dari dalam mobil, dan mencari cara! Agar bisa masuk ke dalam restoran Andini Food tanpa ada orang yang curiga kepadaku. Karena aku tahu, pasti di dalam restoran itu memiliki rekaman cctv.


Setelah beberapa lama aku mencari cara! Tiba-tiba saja ada seorang wanita berhijab yang keluar dari dalam restoran Andini Food, dengan menggunakan seragam restoran. Dan kesempatan itu aku gunakan dengan baik, untuk membawa wanita itu masuk ke dalam mobilku.


Wanita itu begitu mudahnya aku bawa masuk ke dalam mobil. Karena saat aku akan mendekatinya, dirinya tiba-tiba saja pingsan dan kemungkinan besar wanita itu sedang sakit sehingga ia bisa pulang cepat.


Aku segera menjalankan rencanaku, untuk menaruh racun ke dalam makanan kak Samara yang sedang di bungkus oleh pelayan restoran. Ketika pelayan restoran akan pergi mengambil plastik, aku segera memasukkan racun ke makanan kak Samara dengan cara membelakangi kamera cctv. Agar aku tidak terlihat saat memasukkan racun ke dalam makanan kak Samara.


Aku yang menggunakan seragam restoran, dan juga menggunakan hijab serta masker tidak membuat para pegawai restoran curiga kepadaku.


Setelah selesai melakukan itu, aku segera masuk ke dalam mobil. Akan tetapi wanita yang berada di dalam mobilku sudah tidak ada di dalam mobil.


"Waduh gawat ini! Pasti wanita itu akan melaporkanku," gumamku dalam hati yang ketakutan.


Aku yang akan pergi dari restoran Andini Food, melihat kak Samara sudah keluar dari dalam restoran sambil membawa makanan yang sudah aku taruh racun.


"Sebentar lagi, kamu akan mati keracunan kak. Aku tidak rela, lahan perkebunan dan juga rumah menjadi milikmu. Lebih baik kamu mati, jadi kamu tidak bisa menikmati harta milik keluargaku," ucapku tersenyum senang.


Akan tetapi rencanaku malah gagal total. Karena ada anak lelaki yang membuat makanan kak Samara terjatuh ke bawah. Sehingga kak Samara tidak bisa memakan, makanan yang sudah aku beri racun.


Setelah melihat kegagalanku itu, aku segera pergi meninggalkan restoran Andini Food. Aku pun memutuskan pergi menemui Glen, dan sesampainya di rumah Glen. Aku langsung menceritakan tentang rencanaku yang gagal, akan tetapi. Glen yang mendengar ceritaku, ia malah memarahiku.


"Kamu ceroboh banget sih, kalau seperti ini! Kita harus segera pergi dari kota ini dengan menggunakan nama samaran, aku tidak mau sampai di penjara. Apalagi Tino dan Egi sudah tertangkap oleh polisi," ucapan Glen membuat aku jadi ketakutan. Karena aku juga tidak mau di penjara.


"Ayo cepat kita pergi dari sini. Sebelum polisi bisa menemukan keberadaan kita." Glen mengajakku pergi dari kota Jakarta.


Entah kemana Glen akan membawaku pergi dari kota ini, yang penting untuk saat ini aku dan Glen tidak sampai di penjara.


Glen membawaku pergi ke bandara Soekarno Hatta, akan tetapi. Saat aku sampai di bandara Soekarno Hatta. Aku melihat kak Samara yang sedang bersama teman lelakinya, yang akan masuk ke dalam bandara Soekarno Hatta.


"Waduh gawat ini! Kak Samara dan temannya mengetahui keberadaanku yang berada di bandara Soekarno Hatta. Apa jangan-jangan! Kak Samara datang ke sini, dengan membawa polisi untuk menangkapku," batinku yang ketakutan. Aku segera memberitahukan kepada Glen, tentang kedatangan kak Samara yang bersama temannya.


"Yang benar kamu?" tanya Glen.


"Iya benar, itu orangnya ada di sana." aku menunjuk ke arah kak Samara dan temannya.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita segera masuk ke dalam pesawat. Toh sebentar lagi pesawatnya akan berangkat." Glen langsung menarik tanganku, dan mengajakku masuk ke dalam pesawat.


__ADS_2