Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 43 Bukti Kecurangan Arsyaka


__ADS_3

Samara tersenyum senang, melihat wajah Arsyaka yang tidak mampu menceritakan pada Chelsea dan juga Retno ibunya. Karena Samara lagi-lagi berhasil menemukan kecurangan yang di lakukan oleh Arsyaka, tanpa sepengetahuan Samara dan juga Retno ibunya Arsyaka.


"Coba sini, ibu mau baca." Retno mengambil berkas yang berada di tangan Chelsea. Karena ia begitu penasaran, dengan isi di dalam berkas itu. Apalagi Arsyaka tidak menjawab pertanyaan darinya, yang ingin mengetahui semuanya, tanpa harus membaca berkas yang di bawa oleh Samara.


Samara menyunggingkan senyuman, melihat Retno membaca semua berkas yang ia bawa. Samara juga tidak sabar menunggu reaksi yang akan terjadi, ketika Retno mengetahui perbuatan anaknya.


"Heh wanita licik. Pasti ini semua perbuatan kamu! Yang ingin menguasai seluruh harta anakku? Mana mungkin anakku memberikan sertifikat surat rumah barunya kepadamu?" geram Retno pada Samara. Ketika ia sudah selesai membaca berkas yang di bawa oleh Samara.


"Apakah ibu melupakan sesuatu? Apa perlu aku ingatkan lagi! Kalau ibu dan dia menjadi saksi saat anakmu ini, mendatangi surat yang aku berikan." Samara mencoba mengingatkan pada Retno dan Arsyaka serta Chelsea.


"Bukannya waktu itu Mas Arsyaka menandatangani surat pembagian rumah, bukan mengalihkan sertifikat surat rumah menjadi milikmu," ucap Chelsea yang mengingat kejadian Arsyaka, yang menandatangani surat yang di berikan oleh Samara. Sebelum mereka semua pergi meninggalkan rumah Samara.


"Yang di katakan oleh istriku itu benar! Aku mendatangi surat pembagian rumah, kenapa bisa rumah baruku menjadi milikmu?" Arsyaka pun akhirnya berani berbicara, dan menimpali ucapan dari Chelsea istrinya.


"Apakah sebelum kamu mendatangi surat itu? Kamu membaca isi di dalam suratnya dulu tidak!" jelas Samara yang mengingatkan Arsyaka.


"Kamu tidak membaca, dan langsung mendatangani surat itu," lanjut Samara yang tersenyum penuh kemenangan.


"Kamu ceroboh banget sih. Kenapa tidak membaca lebih dulu? Sebelum menandatangani surat itu," gerutu Retno yang kesal dengan Arsyaka putranya. Retno pun mencubit pinggangnya Arsyaka. Untuk melampiaskan kekesalannya, pada anak lelakinya itu.


"Aduh Bu, sakit ini," lirih Arsyaka yang menahan rasa sakit di bagian pinggangnya. Retno pun menghentikan aksinya, yang mencubit pinggangnya Arsyaka.


"Terus ini kenapa? Kamu menuduh Arsyaka menggelapkan uang? Bisa saya tuntut kamu, atas pencemaran nama baik," tanya Retno sambil menunjukkan berkas yang ia pegang ke hadapan Samara dan Nayla serta pak Rudi.


"Mau aku yang menceritakan? Apa anakmu Bu?" sahut Samara yang bertanya balik pada Retno.


"Ayo ceritakan semuanya sama ibu?" Retno menyikut lengannya Arsyaka, dan meminta Arsyaka yang menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"Lebih baik, kita pulang saja Bu." Arsyaka tidak menjawab pertanyaan dari ibunya, ia malah mengajak Chelsea dan ibunya pergi meninggalkan kafe.


"Tunggu dulu," cegah Samara.


"Kalian semua bisa pergi dari sini, setelah mendatangani surat ini. Aku hanya mau mengambil apa yang berhak keluargaku dapatkan, setelah itu kalian semua bisa pergi dari sini," lanjut Samara.


"Surat apa lagi ini? Kamu jangan coba-coba memeras anakku yah! Karena sekarang itu, kamu bukan menjadi menantuku lagi," ujar Retno sambil menunjuk ke arah Samara.


"Ya sudah tidak apa-apa. Kalau tidak mau mendatangani surat ini, dan bisa aku pastikan! Kalau anakmu lelakimu itu akan masuk ke dalam penjara," ucapan Samara membuat Retno dan Chelsea kaget.


"Pen...ja...ra..." Retno dan Chelsea yang kaget, mengulang kata terakhir yang Samara katakan secara bersamaan. Sedangkan Arsyaka wajahnya terlihat sangat gelisah dan juga ketakutan, karena ia tidak mau sampai di penjara.


"Kamu mau anak di dalam kandunganmu itu tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Jika suamimu di penjara," ujar Samara menatap tajam ke arah Chelsea.


"Anakku akan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Kalau anakmu belum tentu mendapatkan semua itu, dan aku sangat yakin sekali! Mas Arsyaka tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan." sahut Chelsea yang membela Arsyaka.


"Kamu jangan sembarang bicara! Anakku ini sekarang menjabat sebagai Direktur Keuangan, ya wajarlah kalau putraku bisa membeli rumah baru. Jangan menuduh putraku mengambil uang dari hasil usaha di perkebunan yang di kerjakan oleh bapakmu." Retno memotong ucapan Samara yang belum selesai berbicara. Karena ia tidak terima putranya di tuduh menggelapkan uang perkebunan.


"Wah luar biasa, kali ini aku juga mendapatkan informasi yang di tutupi olehmu Mas. Aku kira kamu beneran di turunkan jabatannya, ternyata itu semua kebohongan yang kamu katakan. Tapi yang harus ibu ketahui! Putramu itu telah menggelapkan uang perkebunan yang di kelola oleh bapakku, karena semuanya itu sudah aku selidiki kebenarannya terlebih dahulu." Samara melemparkan bukti-bukti Arsyaka yang mengambil uang dari keuntungan hasil di perkebunan, tanpa sepengetahuan dari bapaknya Samara.


Karena saat Samara tinggal di rumah kedua orang tuanya. Tepatnya sebelum Samara dan keluarganya pergi ke Surabaya, ia menemukan berkas dan membaca semua berkas itu. Samara yang sudah selesai membaca itu semua, merasa ganjal dengan jumlah nominal keuangan dari penghasilan perkebunan yang terus-menerus turun drastis. Samara pun menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu, sebelum bertanya kepada bapaknya.


Samara yang akhirnya berhasil menemukan Kebenarannya, saat ia berhasil menangkap orang suruhannya Arsyaka. Dan orang suruhannya Arsyaka yang bernama Memet, yang merupakan seorang pekerja di perkebunan yang di kelola oleh bapaknya Samara.


Memet pun mengakui semua perbuatannya, yang mendapatkan perintah dari Arsyaka. Untuk memanipulasi data uang dari keuntungan hasil di perkebunan, agar uang itu bisa masuk ke dalam rekening Arsyaka.


"Dan yang harus kamu ketahui Mas! Uang bulanan yang kamu kirimkan pada bapakku, itu semuanya bapakku gunakan demi menutupi kerugian di perkebunan yang menurun drastis. Itu semua bapakku lakukan. Karena beliau tidak mau membebani keluargamu, dan menanggung semua kerugian itu sendiri," tutur Samara menjelaskan perbuatan Arsyaka di depan Chelsea dan ibunya.

__ADS_1


"Arsyaka! Kenapa kamu melakukan itu?" lirih Retno yang kaget mendengar penjelasan dari Samara, dan ia juga melihat bukti-bukti yang Samara berikan.


"Mau mendatangani surat ini! Apa memilih hidup di penjara Mas?" tanya Samara.


"Kamu mau mengancam anakku?" jawab Retno sambil menggebrak meja makan di kafe.


"Sabarlah dulu Bu, aku hanya ingin bernegosiasi dan mengambil apa yang berhak keluargaku dapatkan, hanya itu saja simpel kan! Jadi anak lelakimu itu tidak akan aku laporkan ke polisi, jika ibu dan anak lelakimu mau mendatangani surat pembagian dari lahan perkebunan, dan juga memberikan uang penjualan mobilku yang di jual oleh anakmu itu. Karena sekarang ini! Aku bukan menjadi istrinya lagi," jelas Samara.


"Sudahlah Bu, jangan hiraukan ucapannya. Toh perkebunan itu sudah menjadi milik keluarga kita, buat apa kita harus membagi lahan tanah perkebunan dengan keluarganya. Yuk kita pergi saja dari sini," ajak Arsyaka pada ibunya. Arsyaka berusaha menyangkal perbuatannya yang ia lakukan. Karena ia merasa, perkebunan itu telah menjadi milik keluarganya.


"Tapi bukti-bukti yang Samara berikan cukup jelas, dan bahkan orang suruhannya Arsyaka mau menjadi saksi. Saat laporan ini sudah masuk ke dalam pengadilan, dan bisa di pastikan bahwa Arsyaka akan menerima hukuman selama..."


"Cukup, baiklah aku akan mendatangani surat itu." Arsyaka menyela ucapan dari pak Rudi pengacaranya Samara. Karena ia mulai ketakutan hidup di penjara. Arsyaka pun memilih mendatangai surat yang Samara berikan kepadanya.


"Baca dulu isi suratnya, jangan sampai terjadi seperti sebelumnya." Retno mengingatkan Arsyaka sebelum mendatangi surat itu.


"Iya Bu," sahutnya sambil membaca isi di dalam surat perjanjian yang akan ia tanda tangani.


"Ini kenapa? Keluargaku tidak mendapatkan setengah bagian dari tanah di perkebunan? Bukannya di surat wasiat almarhum ayahku di jelaskan! Kalau lahan tanah perkebunan akan di bagi dua dengan bapakmu," tanya Arsyaka yang sudah selesai membaca isi di dalam surat perjanjian yang telah di buat oleh Samara.


"Uang mobilku yang kamu pakai, aku masukkan ke dalam tanah perkebunan. Karena aku sangat yakin! Kamu tidak akan memberikan uang penjualan mobilku, sudah cepat tanda tangani itu semua. Setelah ini, urusanku dan kamu hanya sebatas tentang anak saja," jawab Samara.


"Urus saja ketiga anakmu itu! Aku tidak akan memberikan sepeserpun uang pada mereka." Arsyaka yang kesal dengan Samara, tidak mau memberikan nafkah lagi kepada ketiga anaknya.


"Itu terserah kamu, aku masih mampu kok membiayai ketiga anakku. Tapi aku ingatkan! Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Cepat tanda tangani itu semua," ujar Samara yang menyuruh Arsyaka dan ibunya mendatangani surat itu.


Arsyaka dan Retno pun terpaksa mendatangani surat perjanjian itu, dan lahan tanah perkebunan tidak menjadi milik keluarga Arsyaka sepenuhnya. Karena Samara berhasil mengambil semua yang berhak keluarganya dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2