
POV Arsyaka.
Aku menunggu jawaban dari Chelsea atas ajakan ku, yang ingin mengajaknya tinggal bersamaku di rumah ini.
"Aku sih tidak keberatan Mas, tapi! Bagaimana dengan..... dia? Jika kita tinggal satu atap?" tanya Chelsea yang ragu dengan ajakan dariku.
"Kamu tidak usah pikirkan masalah itu Hanny, aku tidak mau kamu tidur sendirian di rumah itu. Lebih baik kamu tinggal di sini, karena aku ingin selalu dekat denganmu." aku terus berusaha mengajak Chelsea. Agar ia mau tinggal bersamaku, dan juga bersama dengan Samara serta ketiga anakku.
"Tapi......"
"Aku yakin dia akan menerima kamu sebagai madunya. Kalau kamu tinggal di sana sendirian, siapa yang akan mengurus kamu yang sedang hamil? Setidaknya jika kamu tinggal di sini, ada aku yang bisa menemanimu. Dan kamu tidak usah melakukan pekerjaan rumah jika tinggal di sini. Karena ada dia yang akan melakukan semuanya," ujarku yang terus membujuk Chelsea.
"Ya sudah bagaimana besok saja ya Mas, aku pikir-pikir dulu." Chelsea sepertinya masih ragu dengan ajakanku.
"Kamu jangan ragu tinggal di sini Hanny. Jika kamu tinggal di sini, pasti Mas akan cepat sembuh. Karena kata dokter mas tidak mengalami lumpuh yang lama. Mas yakin, sebentar lagi Mas akan bisa jalan normal kembali. Sekarang saja kaki Mas sudah bisa di gerakkan, dan Mas akan belajar jalan pelan-pelan. Mas sangat berharap kamu mau tinggal di sini," ucapku penuh harap.
"Ya sudah, besok saja aku tinggal di sananya. Mas bicarakanlah dulu dengan dia, biar dia dan anak-anak Mas bisa menerima kehadiranku. Sudah dulu ya Mas teleponnya, much..." Chelsea mengakhiri panggilan telepon sambil memberikan ciuman jauh untukku, dan yang membuat aku semakin senang. Akhirnya Chelsea mau juga tinggal di rumah ini.
Aku akan berusaha, agar aku bisa berjalan dengan normal lagi. Toh sekarang kakiku sudah tidak sakit seperti sebelumnya, dan kini kedua kakiku bisa di gerakkan dengan gampang.
Setelah aku selesai bertelepon dengan Chelsea, aku mencoba berdiri dan berjalan kaki menuju tempat tidur. Aku berusaha berdiri sambil berpegangan, pada meja laci yang berada di samping tempat tidur kamar tamu.
Kakiku pun bisa berjalan ke arah tempat tidur, meski agak sedikit sakit. Saat aku berusaha berjalan kaki ke arah tempat tidur. Setidaknya aku sudah berusaha, dan hasilnya aku bisa berjalan kaki sedikit demi sedikit.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa berjalan. Meski masih merasakan sedikit rasa sakit. Saat aku melangkahkan kedua kaki, aku akan tetap berusaha. Untuk bisa berjalan kaki dengan normal kembali," batinku penuh keyakinan dan percaya diri.
Sebelum aku tidur, aku memutuskan untuk menghubungi ibuku terlebih dahulu. Karena aku mau memberitahukan kepada ibu, kalau Chelsea akan tinggal bersamaku di rumah ini.
"Halo! Ada apa Arsyaka?" tanya ibu, saat menerima panggilan telepon dariku.
"Bu Chelsea akan tinggal bersamaku di rumah ini," jawabku yang ingin memberitahukan kepada ibuku. Kalau Chelsea akan tinggal bersamaku di rumah ini.
"Ya baguslah, toh Samara juga sudah mengetahui tentang pernikahan kamu dengan Chelsea. Lebih baik memang harus tinggal satu atap. Agar ada yang mengurus kamu yang sedang sakit," ujar ibu.
__ADS_1
"Bu besok ada jadwal check up di rumah sakit, aku minta di antarkan pergi check up ke rumah sakit. Karena Samara dari tadi, terus menghindar dariku bu," ucapku berterus terang kepada ibu.
"Ya sudah, besok ibu dan Siska akan pergi ke rumahmu. Untuk menemani kamu cek up ke rumah sakit, agar kamu bisa segera berjalan kaki lagi," sahut ibuku.
"Tapi setelah ibu mengantarkan aku ke rumah sakit, ibu jangan dulu pulang yah. Karena Chelsea akan datang ke rumah, dan bantu aku memberikan pengertian. Agar Samara mau menerima Chelsea tinggal di sini," aku meminta bantuan kepada ibu. Untuk membantuku dalam menjelaskan kedatangannya Chelsea, yang akan tinggal bersamaku di rumah ini.
"Kamu tidak perlu khawatirkan hal itu, ibu pastikan Samara akan menerima Chelsea tinggal di rumah kamu, dan jika Samara berani mengusir kamu dan juga Chelsea. Ibu yang akan mengusir dirinya," tutur ibuku, yang seperti benci pada Samara.
"Ya sudah ibu mau tidur dulu," ucap ibu. Aku pun langsung mematikan panggilan telepon dan segera tidur.
_______
Keesokan paginya.
Aku yang sudah bangun dari tidur, berusaha melangkahkan kakiku lagi secara pelan-pelan, menuju pintu kamar. Tapi kali ini, aku tidak bisa berjalan terlalu jauh. Sehingga membuat aku terjatuh ke bawah. Saat aku akan sampai di pintu kamar tamu, aku pun kembali pergi menghampiri kursi roda dan duduk di sana. Untuk pergi menemui Samara, yang kemungkinan sedang berada di dapur.
Sesampainya aku di dapur, aku segera pergi menghampiri Samara yang sedang sibuk menyiapkan sarapan, dan ia juga membuat kue yang begitu banyak. Untuk apa ia membuat kue sebanyak ini! Apa mungkin dia juga sudah tahu? Kalau Chelsea akan datang ke rumah ini, jadi dirinya menyambut kedatangan madunya itu dengan kue yang dia buat.
"Samara," aku berusaha memanggilnya yang tengah sibuk di dapur.
Aku pun mendekati dirinya, dan memegang tangannya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku ingin berbicara denganmu," ucapku sambil memegang tangannya.
Samara dengan cepat, menepis tanganku yang sedang memegang tangannya. Bahkan ia masih tetap menghiraukan panggilan dariku, yang ingin berbicara dengannya.
"Selamat pagi ayah, bunda." sapa ketiga anakku yang sudah datang ke dapur, dan mereka bertiga juga sudah rapi dengan pakaian sekolahnya.
"Pagi sayang," ucapku dan Samara secara bersamaan.
Aku tersenyum senang, mendengar ucapanku yang sama dengan Samara. Mungkin saja, ini pertanda baik. Kalau Samara akan bisa menerima Chelsea tinggal di rumah ini.
"Seneng deh lihat ayah dan bunda, pagi-pagi seperti ini," celetuk Arsya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku pun menanggapi ucapan dari putra bungsuku itu, dengan tersenyum senang.
"Pasti ayah lagi bantuin bunda buat pesenan kue, iyakan?" tanya Kirana.
Aku mengerutkan kening. Sebelum menjawab pertanyaan dari Kirana, karena aku mendengarkan ucapan Kirana yang mengatakan. Kalau Samara menerima pesanan membuat kue, sejak kapan Samara menerima pesanan membuat kue?
"Iya dong," sahutku dengan penuh percaya diri. Agar ketiga anakku, bisa percaya. Kalau aku telah membantu Samara, meski sebenarnya! Aku baru saja datang ke dapur.
Aku melihat raut wajah Samara yang menjadi kesal, dengan apa yang aku ucapkan barusan. Aku hanya tersenyum simpul, dengan tingkah Samara yang seperti itu. Bahkan dirinya bisa saja mengelak ucapanku, tapi sepertinya di depan anak-anak dia tidak bisa melakukan itu.
"Ayo sarapan dulu." Samara segera mengalihkan pembicaraan anak-anakku, dan menyuruh mereka semua untuk sarapan pagi.
Aku tetap diam, dan memperhatikan Samara yang sedang mengambilkan makanan pada ketiga anakku. Aku kira! Samara tidak akan mengambilkan makanan untukku, tapi di depan anak-anak, dia masih seperti biasanya. Setelah Samara mengambilkan makanan untukku, dia segera pergi menghindari ku.
"Bunda mau kemana? Tidak sarapan dulu?" tanya Candra yang melihat Samara tidak sarapan pagi bersama.
"Bunda sudah sarapan kok, bunda mau pergi merapikan pesan kue dulu," jawabnya sambil melangkah pergi meninggalkan aku dan anak-anak yang sedang sarapan di meja makan.
"Ayo sayang, kita sarapan dulu sebelum kalian pergi ke sekolah." aku mengajak anak-anak untuk sarapan pagi. Aku dan anak-anak pun sarapan pagi bersama.
Saat anak-anak sudah selesai sarapan. Samara segera mengajak ketiga anakku pergi ke sekolah.
"Bunda tidak bersalaman sama ayah?" ucap Arsya yang melihat Samara yang sudah duduk di motor. Sedangkan ketiga anakku bersalaman kepadaku sebelum mereka pergi ke sekolah.
Samara pun turun dari motornya, dan pergi menghampiriku sambil mengulurkan tangannya, yang ingin bersalaman denganku. Setelah itu, barulah dia dan anak-anak pergi meninggalkan rumah.
Tidak lama kemudian ibu dan Siska datang ke rumah, saat aku masih berada di depan rumah.
"Istri dan anakmu sudah pergi?" tanya ibu yang datang menghampiriku.
"Iya Bu," sahutku.
"Ya sudah, ayo kita pergi ke rumah sakit." Ibu pun mendorong aku menuju mobil, dan setelah aku duduk di dalam mobil. Siska pun segera menyalakan mesin mobilnya, untuk mengantarkan aku pergi cek up ke rumah sakit.
__ADS_1
Sekarang ini, aku sudah bisa berjalan kaki sedikit demi sedikit. Aku sangat berharap, sebelum seminggu aku sudah bisa berjalan dengan normal kembali. Agar aku bisa bekerja kembali di kantor, dengan jabatan Direktur Keuangan yang baru beberapa bulan ini aku jalankan.