
POV Samara.
Saat aku dan anak-anak pergi ke luar rumah sakit. Aku berpapasan dengan Rayanza dan mamanya, yang akan masuk ke dalam rumah sakit.
"Ara." Rayanza memanggilku.
"Ray, Tante." aku pun segera bersalaman kepada mamanya Rayanza. Sedangkan ketiga anakku tidak mengikutiku, yang sedang bersalaman dengan mamanya Rayanza. Karena ketiga anakku, masih ingin melihat kondisi ayahnya yang mengalami kecelakaan.
"Siapa yang sakit Ara?" tanya Rayanza yang melihat ketiga anakku yang masih bersedih. Karena aku mengajak mereka pulang ke rumah, saat Mas Syaka sudah sadar pasca kecelakaan.
"Ayahku kecelakaan Om," jawab Arsya yang sudah berada di dekat Rayanza sambil memeluknya.
Rayanza pun menggendong Arsya yang tengah memeluknya sambil bersedih. Karena melihat kondisi ayahnya yang mengalami kecelakaan. Sedangkan mamanya Rayanza mengusap punggungku. "Kamu yang sabar yah," ucapnya.
"Iya Tante."
"Tante dan Ray mau berobat? Apa menjenguk seseorang di sini?" tanyaku yang ingin mengetahui tujuan Rayanza dan mamanya.
"Tante mau menjenguk keponakan yang di rawat di sini. Karena mama dan papanya masih berada di luar kota. Terus bagaimana kondisi suami kamu?" jelas mamanya Rayanza, sambil menanyakan keadaan Mas Syaka yang mengalami kecelakaan.
"Alhamdulillah, sekarang sudah sadar pasca kecelakaan itu, dan tinggal masa pemulihannya saja. Aku pamit pulang yah Tante, Ray." aku pun pamit kepada Rayanza dan mamanya.
"Tapi Bun! Aku mau di sini menemani ayah," cegah Arsya yang tidak mau di ajak pulang ke rumah. Arsya yang berada di gendongannya Rayanza, semakin memeluk erat tubuh Rayanza.
"Besok kan Arsya sekolah. Nanti kita bisa menjenguk ayah sepulang sekolah, kalau Arsya mau bertemu dengan ayah." aku berusaha membujuk Arsya. Agar mau di ajak pulang ke rumah.
"Doakan saja, biar ayah Arsya cepat sembuh, dan bisa bermain bersama lagi dengan Arsya." Rayanza pun ikut membujuk Arsya yang tidak mau di ajak pulang ke rumah.
"Emangnya kalau ayah sudah sembuh, ayah akan main bersama dengan Arsya dan kak Candra serta kak Kirana?" jawab Arsya yang sepertinya rindu bermain bersama dengan ayahnya.
"Tentu dong," sahut Rayanza.
"Ayah itu sekarang sibuk terus Om, sudah tidak pernah bermain bersama denganku dan kedua adikku lagi. Kemarin-kemarin juga, ayah pergi tanpa memberitahu bunda. Sehingga membuat Arsya menanyakan ayah terus, dan sekalinya ada kabar tentang ayah. Tapi! Malah mendapatkan kabar ayah kecelakaan. Candra sedih melihat kondisi ayah seperti itu," tutur Candra putraku yang mengeluarkan isi hatinya sambil berderai air mata.
"Kirana sayang sama ayah, dan berharap ayah bisa cepat sembuh." Kirana putriku pun bersedih melihat kondisi ayahnya yang mengalami kecelakaan.
__ADS_1
"Aamiin,"
"Doa anak yang Soleh akan di ijabah oleh Allah SWT." Mamanya Rayanza memeluk Candra dan Kirana.
Aku menghembuskan nafas berat, melihat kesedihan ketiga anakku. Apakah aku egois? Telah memisahkan mereka dari ayahnya, ini membuat aku dilema. Untuk mengambil keputusan yang akan aku ambil nantinya. Padahal saat melihat Mas Syaka yang sudah sadar, dan mengetahui kehamilan Chelsea. Tekatku sudah bulat dan yakin, ingin berpisah dengan Mas Syaka. Tapi sekarang ini! Entahlah, aku bingung dengan keputusan yang akan aku pilih.
"Om antar pulang yah," ujar Rayanza kepada anakku.
Mereka bertiga menganggukkan kepalanya, dan mau di ajak pulang bersama dengan Rayanza.
"Tapi Ray....." ucapanku langsung di sela oleh Rayanza. Karena aku merasa tidak enak, terus merepotkan dirinya.
"Tidak apa-apa Samara, biarkan aku mengantar kamu dan anak-anakmu pulang," sahutnya.
"Kalau begitu, Tante akan pergi menjenguk keponakan Tante, kamu antarkan Samara dan anaknya pulang. Mama mau pergi menjenguk dulu yah," pamit mamanya Rayanza, yang akan pergi menjenguk keponakannya.
"Iya Mah."
"Yuk kita pulang sekarang," ajak Rayanza. Saat mamanya sudah pergi masuk ke ruangan rawat inap pasien.
"Jangan pikirkan masalah motor kamu Ra. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan motor kamu, ke rumahmu. Yuk kita pulang sekarang,'' ajak Rayanza lagi.
"Aku mau pulang sama Om bunda," ucap Arsya. Aku pun segera menganggukkan kepalaku, dan memutuskan untuk pulang di antar oleh Rayanza.
____________
Keesokan harinya.
Aku pergi mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah, dan tidak menitipkan kue ke kantin tempat anakku sekolah. Karena aku belum membeli bahan untuk membuat kue lagi, aku pun memutuskan untuk pergi ke pasar membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Setelah mengantar ketiga anakku pergi ke sekolah.
Aku harus bisa menggunakan sisa uang bulanan yang di berikan Mas Syaka, dan juga uang lima juta dari hasil menjual mobilku yang sejutanya itu! Sudah aku berikan pada ibu mertuaku untuk berobat. Aku harus bisa memutarkan uang ini dengan baik, dan menjadikan modal usaha berjualan kue. Agar aku tidak bergantung pada uang yang di berikan oleh Mas Syaka, karena sekarang ini! Bukan aku saja istrinya, tapi ada Chelsea yang juga menjadi istrinya Mas Syaka.
Setelah selesai berbelanja di pasar, aku segera pulang ke rumah. Akan tetapi sesampainya aku di rumah. Nayla sudah berada di rumahku, aku pun bergegas menghampirinya.
"Kamu kenapa? Tidak menghubungiku Nay! Kalau kamu mau main ke rumah. Maaf yah, pasti kamu lama menunggu di sini," cerocosku yang tidak tahu kedatangan Nayla, yang akan main ke rumahku.
__ADS_1
"Santai aja kali Ra, aku baru saja sampai sini kok," sahutnya sambil tersenyum manis.
"Syukurlah," aku pun segera membukakan pintu rumah, dan mengajak Nayla masuk ke dalam rumah. Aku juga membuatkan minuman untuknya, sambil menaruh barang belanjaan di dapur.
"Kamu tadi habis belanja bulanan ya?" tanya Nayla saat aku sedang menaruh minuman yang aku buat untuknya.
"Itu semua bahan untuk membuat kue. Karena aku sudah beberapa hari ini berjualan kue," jawabku menjelaskan kepada Nayla. Karena Nayla tidak tahu, kalau aku berjualan kue.
"Really?" sahutnya tidak percaya dan kaget.
"Iya Nay, kamu ada apa ke sini?" kini aku yang bertanya tentang kedatangan Nayla, yang datang menemuiku.
"Masa kamu lupa sih Ra! Aku ke sini meminta berkas, untuk mengajukan gugatan perceraian kamu dan Arsyaka. Karena aku akan memberikan berkasnya pada pengacara keluargaku," jelas Nayla.
Aku sampai lupa dengan hal itu. Karena Nayla akan membantuku dalam proses gugatan perceraian ku dengan Mas Syaka, tapi! Aku sekarang bingung dengan keputusan yang akan aku ambil.
"Are you okay?" ucap Nayla sambil mengusap lenganku. Karena aku belum menjawab pertanyaan dari Nayla, yang meminta berkas untuk mengajukan gugatan perceraian ku.
"Aku ambil dulu berkasnya yah Nay," aku segera beranjak pergi meninggalkan Nayla. Meski aku bingung dengan apa yang akan aku ambil, tapi setidaknya. Aku harus menghargai kedatangannya Nayla, yang mau membantuku dalam mengajukan gugatan perceraian ku.
"Ini Nay berkasnya, tapi..." aku pun jadi ragu untuk melanjutkan gugatan perceraian ku. Setelah melihat ketiga anakku yang menangis dan merindukan ayahnya.
"Kenapa Ra? Kamu ragu untuk mengajukan gugatan perceraianmu?" Nayla mengetahui keraguan dan kebimbangan hatiku saat ini.
Aku menjawab pertanyaan dari Nayla dengan menggelengkan kepalaku. Karena aku juga benar-benar bingung dengan keputusan yang akan aku ambil.
"Aku akan menyimpan semua berkas ini. Jika kamu mau memikirkannya terlebih dahulu tidak apa-apa. Hubungi saja aku, kalau kamu sudah yakin dengan keputusan yang akan kamu ambil. Karena aku tahu! Ada anak di antara kalian berdua, yang pasti membuat kamu bingung dengan semua ini. Tapi aku sebagai seorang wanita, tentu saja tidak mau di madu. Meski sekarang ini aku belum menikah, tapi jika aku mempunyai suami atau pacar yang selingkuh. Tentu saja aku akan memutuskannya, untuk apa mempertahankan hubungan yang membuat hati tersakiti. Hidup hanya sekali. Kalau bertahan demi anak, itu bukanlah pilihan yang belum tentu membuat hati kamu bahagia. Karena sekarang ini, kamu harus berbagi suami dengan wanita yang sudah menjadi istrinya Arsyaka. Apakah kamu siap memiliki seorang madu?" pertanyaan Nayla menyadarkan aku. Kenapa aku memutuskan menggugat cerai Mas Syaka, karena aku tidak mau di madu.
Apalagi Mas Syaka menikah dengan Chelsea tidak meminta izin kepadaku terlebih dahulu. Bahkan hubungan antar mereka berdua sudah terjalin lama, tanpa aku ketahui sebelumnya, dan itulah yang membuat aku tidak mencintai Mas Syaka lagi.
"Pikirkanlah baik-baik Ra, hubungi aku jika kamu sudah mendapatkan keputusan yang akan kamu pilih, aku pamit." Nayla pun pergi meninggalkan rumahku.
"Maafkan atas keraguanku ini Nay, benar apa yang kamu katakan. Tapi....." batinku yang penuh keraguan. Dan aku masih termenung duduk di ruang tamu, dengan pikiran yang akan aku pilih nantinya.
Setelah kepergian Nayla, dan keadaan pintu rumah masih terbuka. Aku kaget dengan orang yang masuk ke dalam rumahku.
__ADS_1
"Kamu...."