Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 50 Dobel POV Kecurigaan


__ADS_3

POV Samara.


Keesokan harinya.


Aku yang sudah bangun pagi, segera pergi ke dapur. Untuk menyiapkan sarapan pagi untuk anak dan keluargaku, serta Rayanza yang ikut menginap di rumahku. Karena kepulanganku bersama Rayanza sudah malam hari, sehingga bapak mengijinkan Rayanza untuk menginap di rumah ini tanpa harus pergi mencari hotel.


Sembari masak aku terus mengecek handphoneku, menunggu notifikasi pesan dari Nayla yang akan mengirimkan rekaman cctv di restorannya. Rasanya aku ingin segera mengetahui orang yang berniat mencelakaiku. Entah apa kesalahan yang aku perbuat? Sehingga ia mau mencelakaiku seperti itu.


"Nak, masaknya jangan main handphone terus. Nanti gosong masakannya, sini biar ibu saja." ucap ibu yang sudah berada di dapur, dan kedatangan ibu dan juga bapak tidak aku sadari.


"Kamu ini, seperti Rina adikmu saja." bapakku pun ikut menimpali ucapan ibu.


"Maaf Bu, pak," kataku yang meminta maaf pada kedua orang tuaku, sambil tersenyum malu. Karena kedua orang tuaku, melihat kelakuanku yang sedang memegang handphone sambil masak.


Aku memang tidak biasa melakukan seperti itu, saat sedang masak di dapur. Tapi untuk kali ini, aku memang sangat menunggu notifikasi pesan dari Nayla. Dan ingin mengetahui siapa pelakunya, dan aku juga ingin mengetahui motif dirinya melakukan itu padaku.


"Sini, biar ibu bantu masaknya..."


"Tidak usah Bu, ini nasi gorengnya sebentar lagi juga mateng," aku melarang ibu yang akan membantuku memasak nasi goreng. Karena nasi goreng yang aku buat sudah selesai aku masak.


Aku pun segera meletakkan nasi goreng yang aku buat di meja makan, dan kami semua pun sarapan pagi bersama. Akan tetapi, di saat sedang sarapan pagi bersama. Tring! Suara notifikasi pesan dari handphoneku berbunyi, aku pun segera melihat isi pesan itu.


Ternyata isi pesan itu dari Nayla, aku pun segera menghabiskan sisa makananku. Agar aku bisa secepatnya melihat rekaman cctv yang Nayla kirimkan. Setelah makananku habis, aku segera pergi meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamarku, untuk melihat rekaman cctv di restorannya Nayla.


Saat aku pergi meninggalkan meja makan. Tring! Suara notifikasi pesan masuk, aku segera membuka handphone lagi. Untuk membaca pesan yang ternyata dari Rayanza.


[Ra, kamu sudah mendapatkan rekaman cctv dari Nayla?]


[Iya,] balasku cepat, pasti Rayanza ingin melihat rekaman cctv itu.


[Tolong kirimkan hasil rekaman cctvnya ke handphoneku.] Rayanza kembali mengirimkan pesan, yang sudah aku duga sebelumnya.


Aku pun segera mengirimkan hasil rekaman cctv dari Nayla pada Rayanza. Sebelum aku masuk ke dalam kamarku. Untuk melihat rekaman cctv itu.


Aku yang sudah masuk ke dalam kamar, segera melihat rekaman cctv yang sudah di kirim oleh Nayla ke handphoneku. Tapi rekaman cctv yang dari seluruh lokasi yang berada di restorannya Nayla, tidak ada orang yang mencurigakan sama sekali. Bahkan para pegawai yang bekerja di restorannya Nayla pun tampak melakukan pekerjaan seperti biasanya. Dan tidak ada pegawai di restorannya Nayla, yang menaruh sesuatu ke dalam makanan dan minuman yang aku pesan.


Hanya saja! Saat di depan restoran Andini Food, kucing yang memakan makanan yang terjatuh langsung tergeletak di bawah. Ini benar-benar membuat aku semakin bingung, dan lagi-lagi aku tidak mengetahui pelaku yang sebenarnya. Orang yang melakukan itu sungguh sangat pintar sekali, sehingga tidak ada bukti rekaman cctv yang mengarah padanya.

__ADS_1


Aku menghela nafas berat. Karena aku tidak bisa menemukan bukti dari rekaman cctv, yang mengarah pada seseorang yang berniat mencelakaiku. Kalau sudah seperti ini, aku harus waspada dan berhati-hati. Aku tidak mau semua ini terjadi pada anak dan keluarga yang tinggal di sini.


Handphoneku kembali berdering, ada panggilan masuk dari Nayla. Aku pun segera menerima panggilan telepon dari Nayla.


"Ra, kamu sudah melihat rekaman cctvnya belum?" tanya Nayla.


"Sudah Nay, tapi tidak ada seseorang yang mencurigakan di dalam restoranmu," jawabku.


"Iya benar Ra, tapi bukti kucing yang tergeletak di depan restoranku. Saat memakan, makanan yang kamu jatuhkan itu akan di selidiki oleh polisi. Aku sudah memanggil polisi, untuk menyelidiki ini semuanya," tutur Nayla menjelaskan kepadaku.


"Ya semoga saja, polisi bisa menemukan orang yang menaruh racun ke dalam makanan dan minuman yang berada di restoranmu," sahutku yang sangat berharap pada pihak kepolisian. Agar bisa mendapatkan bukti dari orang yang melakukan itu.


"Aamiin, ya semoga saja polisi bisa menemukan pelakunya. Ini menyangkut nama baik restoranku Ra, sudah dulu ya. Kamu baik-baik di sana," ucap Nayla sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


"Semoga saja, aku dan keluargaku di jauhkan dari orang-orang yang berniat jahat, amin." doaku dalam hati.


_____________


POV Rayanza.


Meski di rekaman cctv itu, tidak ada orang yang memasukkan makanan dan minuman yang ada racunnya. Tapi ada seseorang yang membuat aku curiga, yaitu kedatangan kedua orang tuanya Nayla yang langsung masuk menghampiri Nayla dan Samara. Ketika Samara dan Nayla bertukar minuman, apa jangan-jangan! Pelaku dari aksi penculikan Samara dan makanan yang beracun itu adalah perbuatan kedua orang tuanya Nayla.


Tapi aku tidak mau berburuk sangka kepada mereka berdua, aku akan menyelidiki kasus ini terlebih dahulu. Aku akan segera pergi meninggalkan kota Surabaya, demi menyelidiki kebenarannya. Tapi sebelum aku pergi dari sini, aku akan menyuruh Raden. Untuk mengikuti Samara yang tinggal di sini. Agar Samara dan keluarganya aman dari orang-orang yang mau mencelakai mereka semua.


Aku pun segera berpamitan kepada kedua orang tuanya Samara, dan juga ketiga anaknya Samara yang sudah aku anggap sebagai anakku. Tapi aku tidak menemukan keberadaan Samara, yang kemungkinan masih berada di dalam kamarnya.


"Candra, Kirana dan Arsya. Bunda kalian bertiga kemana?" tanyaku pada ketiga anaknya Samara.


"Sepertinya masih di dalam kamar Om," jawab Kirana.


"Bisa panggilkan bunda. Soalnya Om mau pulang sekarang,'' aku menyuruh ketiga anaknya Samara. Untuk memanggil Samara yang berada di dalam kamarnya.


"Iya Om," sahut mereka bertiga kompak, dan mereka bertiga segera pergi ke kamar Samara.


Tidak lama kemudian.


Samara dan ketiga anaknya datang menghampiriku.

__ADS_1


"Samara, aku pamit pulang dulu ya. Kamu dan keluargamu hati-hati di sini," ucapku pada Samara.


"Iya Ray, kamu juga hati-hati di jalan," ujar Samara.


"Kamu jangan pikirkan masalah itu yah Ra, meski belum menemukan Kebenarannya. Tapi aku yakin, kamu dan keluargamu akan aman tinggal di sini." aku berucap pelan dan mencoba menenangkan hatinya, yang tidak menemukan pelaku dari hasil rekaman cctv yang di kirim oleh Nayla.


"Iya Ray, semoga saja," timpalnya sambil tersenyum.


Aku tahu senyuman yang dia berikan itu, untuk menutupi kegelisahan di hatinya. Tapi aku bisa tenang meninggalkan Samara dan keluarganya di sini. Karena aku telah menyuruh Raden dan teman-temannya, untuk mengawasi Samara dan keluarganya.


Aku pun melangkah pergi meninggalkan rumah Samara, dan kembali ke Jakarta.


***


Sesampainya aku di rumah.


Mama dan papa langsung mengajak aku berbicara di ruang tamu.


"Kamu habis dari mana Ray? Semalam tidak pulang ke rumah," tanya mama.


"Aku menginap di rumah teman mah," jawabku yang tidak mau memberitahukan kepada mama, tentang kepergianku yang mengantar Samara pulang ke Surabaya.


"Nanti malam kamu ikut makan malam, bersama dengan papa dan mama. Ada teman papa yang akan memperkenalkan anak gadisnya, siapa tahu bisa berjodoh denganmu," ucap papa yang sangat antusias sekali.


"Iya pah," sahutku yang menanggapi ucapan papa, sambil mengagukkan kepala.


Karena ucapan papa itu bukanlah hal yang pertama kali, itu semuanya sering papa lakukan, aku tidak mau membantah ucapan papa untuk kali ini. Toh papa tidak pernah memaksaku, untuk menikah dengan orang yang tidak aku cintai.


"Kalau tidak ada hal yang mau di bicarakan lagi, aku mau pergi ke dalam kamar dulu," pamitku pada kedua orang tuaku. Sebelum aku masuk ke dalam kamarku, dan meninggalkan kedua orang tuaku yang berada di ruang tamu.


******


Aku dan kedua orang tuaku yang sudah datang ke acara makan malam, kini menuggu kedatangan temanya papa yang belum datang ke restoran.


Tidak lama kemudian.


Aku melihat Nayla yang datang bersama kedua orang tuanya, dan mereka bertiga datang menghampiriku yang duduk bersama kedua orang tuaku. Apa jangan-jangan! Teman papa itu adalah kedua orang tuanya Nayla?

__ADS_1


__ADS_2