
Sementara itu.
Santi dan Anton yang akan pergi berjualan kue. Ketika Samara dan Rayanza serta ketiga anaknya Samara sudah pergi dari rumah. Mereka berdua segera pergi berjualan kue dengan cara berkeliling, dari satu rumah warga ke rumah warga yang lainnya.
Akan tetapi, di saat mereka berdua berjualan kue. Santi melihat Arsyaka dan Retno ibunya dari kejauhan, yang sedang pergi mencari sebuah rumah kontrakan.
"Pak itu bukannya Arsyaka dan ibunya," ucap Santi yang menunjuk ke arah Arsyaka dan Retno. Untuk memberitahukan kepada Anton suaminya.
"Iya benar Bu, kok mereka berdua bisa berada di kota ini?" sahut Anton yang baru bertemu lagi dengan Arsyaka dan Retno. Semenjak mereka semua memutuskan pindah ke kota Surabaya, dan di saat kondisi Arsyaka mengalami kecelakaan. Samara dan ketiga anaknya, tidak memberitahukan hal itu pada Anton dan Santi.
"Ibu juga tidak tahu pak. Kita samperin aja yuk, pak." Santi mengajak suaminya pergi menghampiri Arsyaka dan Retno, yang sedang berjalan kaki sambil membawa koper.
"Ya sudah, ayo bu.'' Anton pun setuju dengan ajakan dari istrinya, yang ingin menemui Arsyaka dan Retno ibunya.
Saat Santi dan Anton sudah berada di dekat Arsyaka dan ibunya. Santi langsung menanyakan tentang tujuan mereka berdua.
"Bu Retno dan Arsyaka mau kemana?" tanya Santi yang melihat Arsyaka dan Retno membawa koper.
"Bukan urusanmu," jawab Retno dengan ketus. Karena ia malu bertemu dengan Santi dan Anton, dengan keadaannya seperti ini.
Arsyaka menyenggol pelan lengan ibunya. "Ibu jangan seperti itu," bisiknya di telinga ibunya.
"Pak, Bu." Arsyaka bersalaman pada Anton dan Santi. Sebelum ia menjawab pertanyaan dari santi, yang menanyakan tentang tujuannya saat ini.
"Saya dan ibu mau..."
"Ayo Arsyaka kita pergi sekarang." Retno segera menyela ucapan Arsyaka, dan mengajaknya pergi meninggalkan Anton dan Santi yang sedang berjualan.
"Tapi Bu..."
"Ayo cepat Arsyaka, ibu malas bertemu lagi dengan mereka berdua, yang telah merebut lahan perkebunan milik almarhum ayahmu." Retno lagi-lagi menyela ucapan Arsyaka, dan menarik tangannya Arsyaka. Agar pergi menjauh dari Anton dan Santi, yang menanyakan tentang tujuan mereka berdua.
"Aku tidak merasa merebut lahan perkebunan milik almarhum suamimu, aku hanya mengambil hak yang seharusnya aku dapatkan. Jangan menuduh aku seperti itu," timpal Anton yang tidak terima dengan ucapan Retno, yang telah menuduh dirinya mengambil lahan perkebunan milik almarhum suaminya.
Ucapan Anton barusan, membuat Retno menghentikan langkahnya yang akan pergi meninggalkan Anton dan Santi.
__ADS_1
"Alah, jangan pura-pura deh." Retno berbalik ke belakang, menengok ke arah Anton dan Santi.
"Mana ada maling yang mau ngaku. Kalau ada yang seperti itu, pasti penjara penuh," sambungnya lagi dengan suara keras, sambil menaruh kedua tangannya di pinggangnya. Suara Retno yang sangat keras, membuat para warga yang ada di dalam rumah, ke luar dari dalam rumahnya.
Arsyaka yang melihat ibu-ibu menyaksikan pertengkaran ibunya dengan kedua orang tuanya Samara, ia memutuskan untuk membela kedua orang tuanya Samara. Agar ia terlihat baik, di depan kedua orang tuanya Samara.
"Bu, kedua orang tuanya Samara tidak merebut lahan perkebunan milik almarhum ayah. Ibu jangan bicara seperti itu," ucap Arsyaka yang membela kedua orang tuanya Samara.
"Kamu jangan membela mantan mertuamu, mereka berdua itu..."
"Ayo kita pergi dari sini," kini giliran Arsyaka yang memotong ucapan ibunya, dan menarik tangan ibunya. Agar tidak menimbulkan keributan, dengan kedua orang tuanya Samara. Sehingga tidak menjadi tontonan gratis, bagi para ibu-ibu yang menyaksikan pertengkaran di antara ibunya dengan kedua orang tuanya Samara.
"Apaan sih kamu, menarik tangan ibu seperti ini." Retno kesal dengan Arsyaka anaknya, yang menarik tangannya secara paksa.
"Malu Bu, di lihat oleh ibu-ibu di kota ini," jelas Arsyaka yang memberitahukan pada ibunya.
"Sepertinya ini kesempatan yang sangat bagus, untuk membuat jualan kue mereka berdua tidak ada yang membelinya," batin Retno, ia pun mulai melepaskan genggaman tangan Arsyaka. Dan memberontak pada Arsyaka, yang akan mengajaknya pergi menjauh dari Anton dan Santi.
"Ibu-ibu semuanya. Jangan mau membeli jualan kue mereka berdua. Sebab mereka berdua itu telah mencuri lahan perkebunan milik keluargaku." Retno berteriak sangat kencang. Agar ibu-ibu yang sedang berada di luar rumah, bisa mendengar suaranya yang menuduh Anton dan Santi sebagai pencuri.
"Maaf pak, bu. Dan ibu-ibu semuanya, ini semua hanya salah paham saja." Arsyaka meminta maaf kepada kedua orang tuanya Samara, dan para ibu-ibu yang mendengar ucapan ibunya yang menuduh Anton dan Santi sebagai pencuri.
"Jaga tuh, ucapan ibumu. Jangan suka menuduh dan memfitnah orang lain," sahut Santi yang mulai geram dengan perbuatan Retno, yang menuduh dirinya sebagai pencuri.
"Iya Bu, maafkan ucapan ibuku," timpal Arsyaka yang meminta maaf kepada Santi.
"Kamu apa-apaan sih, minta maaf sama mereka berdua. Yang ibu katakan barusan itu memang..."
"Sudahlah Bu, kita pergi dari sini." Arsyaka kini berusaha menarik tangan ibunya, dan pergi meninggalkan Anton dan Santi.
"Beruntung anakku, sekarang ini sudah bercerai dengan Arsyaka. Sikap Retno dari dulu tidak pernah berubah, pantas saja Samara menggugat cerai Arsyaka. Pasti Samara tidak tahan mempunyai mertua seperti Retno," lirih Santi yang mengeluarkan kekesalannya. Saat Arsyaka dan Retno sudah pergi menjauh.
"Sudahlah Bu. Jangan di bahas masalah itu lagi, yang penting sekarang ini. Samara sudah bercerai dengan Arsyaka, akan tetapi. Meski mereka berdua sudah bercerai, ikatan mereka berdua tidak bisa putus. Sebab di antara mereka berdua ada anak, ayo kita pergi berjualan kue lagi." Anton mengajak istrinya. Untuk melanjutkan kembali berjualan kue secara berkeliling.
"Iya pak," sahutnya.
__ADS_1
Anton dan Santi segera melanjutkan kembali perjalanan mereka berdua, yang akan berjualan kue secara berkeliling.
_________
Di perusahaan papanya Rayanza.
Rayanza pergi menemui Samara, yang berada di dalam ruangannya.
Tok-tok.
"Masuk," ucap Samara di dalam ruangannya, sambil mengerjakan pekerjaannya sebagai Direktur Keuangan di perusahaan papanya Rayanza.
"Ibu Direktur sibuk banget," lirih pelan Rayanza yang melihat Samara sedang bekerja.
Samara yang mendengar suara Rayanza, menghentikan aktivitasnya itu. Dan melihat ke arah Rayanza yang sudah berada di hadapannya.
"Ada apa Ray?" tanyanya pada Rayanza yang datang menemuinya.
"Saking sibuknya dengan pekerjaan. Sampai lupa dengan ajakanku tadi pagi," jawab Rayanza yang mengingatkan Samara tentang ajakan Rayanza, yang mengajak Samara pergi meeting.
Samara melihat jam tangannya. Sebelum menimpali ucapan Rayanza. "Oh iya... aku baru ingat sekarang, kamu mau aku menemani kamu pergi meeting, kan?"
"Iya, betul sekali Bu Direktur. Yuk, kita pergi sekarang," ajak Rayanza pada Samara.
"Baiklah bos," sahut Samara yang segera bangun dari tempat duduknya.
Samara dan Rayanza pun pergi dari dalam ruangan Samara. Karena mereka berdua akan pergi meeting di sebuah kafe.
Sesampainya di kafe.
Mereka berdua menunggu kedatangan orang yang akan meeting dengan Rayanza di kafe ini. Rayanza pun segera memesan makanan dan minuman pada pelayan kafe, sebelum kedatangan orang yang akan meeting dengannya.
Tidak lama kemudian.
Orang yang akan meeting dengan Rayanza, sudah datang menghampiri Rayanza yang sedang duduk bersama Samara.
__ADS_1
Samara begitu kaget dengan orang yang akan meeting dengan Rayanza.