Khianat Cinta

Khianat Cinta
bab 38 Sidang Perceraian


__ADS_3

Retno dan Siska berangkat pagi-pagi sekali. Untuk pergi ke Desa Bukit Pelangi, tempat tinggal kedua orang tuanya Samara.


Perjalanan yang mereka berdua lalui tidak mendapat kendala apapun, dan sesampainya di rumah kedua orang tuanya Samara. Mereka berdua tidak melihat keberadaan Samara dan kedua orang tuanya.


"Bu kok rumahnya sepi sih?" tanya Siska pada ibunya.


"Iya, seperti sudah lama tidak di tinggalin saja." Retno menyahuti pertanyaan dari Siska. Karena Retno dan Siska melihat di sekitar luar rumah kedua orang tuanya Samara, sangat kotor dan banyak debunya.


"Lebih baik kita pergi ke perkebunan saja, siapa tahu mereka semua berada di sana." Retno mengajak Siska pergi ke perkebunan milik almarhum suaminya, yang di kelola oleh bapaknya Samara.


"Ya sudah ayo Bu." Siska pun setuju dengan ajakan dari ibunya.


Mereka berdua pun segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya Samara, dan pergi menuju perkebunan.


Sesampainya di perkebunan.


"Sis, kalau perkebunan ini di jual semuanya. Pasti kita akan mendapatkan uang puluhan milyar," ucap Retno yang penuh dengan angan-angan membayangkan itu semua. Karena ia telah berhasil mendapatkan hak kepemilikan perkebunan ini.


"Iya bisa jadi Bu, tapi kalau perkebunan ini di jual. Kita kan harus membagi hasilnya dengan bapaknya kak Samara dong," sahut Siska yang belum mengetahui tentang keberhasilan ibunya, dalam menguasai lahan perkebunan ini.


"Perkebunan ini tuh milik keluarga kita, ngapain kita harus berbagi dengan orang tuanya Samara mereka itukan..."


"Tapi Bu, di surat wasiat almarhum ayah itu mengatakan! Kalau hasil dari perkebunan itu, akan di bagi dua dengan kedua orang tuanya kak Samara." Siska memotong ucapan ibunya yang belum selesai berbicara.


Retno yang kesal dengan Siska, mencubit tangannya Siska.


"Aawww, sakit Bu." Siska meringis kesakitan. Karena Retno mencubit tangannya sangat kencang.


"Makanya kalau orang tua lagi bicara itu jangan di potong," gerutu Retno yang kesal dengan anak gadisnya.


"Asal kamu tahu! Lahan perkebunan ini sudah menjadi milik keluarga kita. Karena ibu telah berhasil membuat surat kepemilikan perkebunan ini, menjadi milik keluarga kita. Jadi kita bisa menjual perkebunan ini, tanpa harus berbagi dengan kedua orang tuanya Samara," jelas Retno.


"Tapi sayang loh Bu, kalau perkebunan ini di jual. Karena kita itukan mendapatkan uang bulanan selain dari uang pensiun ayah dari bisnis perkebunan ini juga," timpal Siska yang tidak setuju dengan ucapan ibunya, yang ingin menjual lahan perkebunan.

__ADS_1


"Sudahlah kamu diam! Jangan campuri urusan ibu, kita ke sini itu tujuannya mencari Samara dan kedua orang tuanya. Ayo kita tanyakan pada warga kampung yang ada di sana,'' tunjuk Retno ke arah warung, yang tidak jauh dari tempat perkebunan yang sudah menjadi miliknya.


"Iya," jawab Siska yang pergi mengikuti ibunya, yang akan mengajaknya pergi ke sebuah warung yang tidak jauh dari perkebunan.


"Permisi, saya mau tanya? Pak Anton yang mengelola perkebunan itu kemana ya?" tanya Retno pada ibu pemilik warung sambil menunjuk ke arah lahan perkebunan miliknya.


"Mereka semua sudah beberapa hari ini, pergi dari kampung ini Bu. Dan para pekerja juga sudah tidak bekerja di perkebunan itu lagi," sahut ibu pemilik warung yang memberitahu pada Retno dan Siska.


"Kalau saya boleh tahu! Mereka semua pergi ke mana Bu?" tanya Siska.


"Saya tidak tahu Neng, bukannya kalian berdua itu keluarga dari suaminya Samara yah?" jawabnya sambil bertanya balik pada Retno dan Siska.


"Keluarga mantan suaminya Samara yah, catat itu!" ucap Retno dengan nada sedikit marah.


"Ibu..." Siska menyenggol lengan ibunya. Agar ibunya itu tidak tersulut emosi, dan marah-marah pada ibu pemilik warung yang tidak mengetahui apa-apa.


"Apa sih kamu Sis?" Retno menatap tajam ke arah Siska.


"Huuuh, sudah capek-capek datang ke desa ini! Tapi tidak bertemu dengan mereka. Kemana sih Samara dan kedua orang tuanya itu pergi?"  gerutu Retno dalam hatinya, sambil melangkah pergi menuju mobilnya.


Karena lagi-lagi Retno tidak bisa bertemu dengan Samara dan juga kedua orang tuanya, ia dan anaknya yang jauh-jauh dari kota datang ke Desa Bukit Pelangi, tidak bisa mengetahui tempat tinggal Samara dan kedua orang tuanya yang sudah pindah dari desa ini. Bahkan para warga kampung di desa ini, tidak ada yang mengetahui tempat tinggal Samara dan kedua orang tuanya.


"Kita jauh-jauh ke sini, tidak mendapatkan hasil apapun. Hanya buang-buang waktu saja,'' ucap Retno di dalam mobil, melampiaskan kekesalannya yang tidak bertemu dengan Samara dan kedua orang tuanya.


"Ya sudahlah Bu, mau gimana lagi! Ini sudah resikonya. Lebih baik kita pulang sajalah," ajak Siska sambil menyalakan mesin mobilnya. Untuk pergi kembali ke kota Jakarta.


Di perjalanan arah pulang. Retno menghubungi Arsyaka, untuk memberitahukan semuanya kepada Arsyaka. Kalau ternyata Samara dan kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkan Desa Bukit Pelangi, bahkan para warga tidak ada yang mengetahui tempat tinggal Samara dan kedua orang tuanya.


"Jadi mereka semua juga tidak ada di kampung Bu?" ucap Arsyaka yang berada di kantor, sambil menggebrakkan meja kantor.


"Iya, terus kita harus mencari Samara dan kedua orang tuanya kemana?" jawab Retno yang bertanya balik pada Arsyaka.


"Yah Arsyaka juga tidak tahu Bu, nomor teleponnya Samara juga tidak aktif terus," ujar Arsyaka yang bingung, dan tidak mendapatkan solusi untuk bisa bertemu dengan Samara.

__ADS_1


"Kamu juga teledor banget sih. Harusnya saat mau pergi dari rumah itu, semua barang-barang yang penting periksa dulu. Jadi tidak akan di bawa kabur sertifikat surat rumah kamu sama Samara." Retno menyalahkan Arsyaka atas kecerobohannya, yang tidak memeriksa terlebih dahulu.


"Waktu itukan aku masih sakit Bu, dan aku juga tidak menyangka kalau Samara akan berbuat seperti ini," balasnya yang tidak mau di salahkan.


"Oh iya Bu, besok itukan jadwal gugatan perceraianku dengan Samara." Arsyaka menepuk pelan meja kerjanya. Karena ia mengingat jadwal gugatan perceraiannya dengan Samara, yang akan di adakan besok di pengadilan agama.


"Aku besok bakan pergi menghadiri sidang pertama perceraianku dengan Samara. Semoga saja Samara datang, dan aku bisa meminta sertifikat surat rumahku padanya," lanjut Arsyaka.


"Ibu juga akan ikut menemani kamu," sahut Retno yang ingin menemani Arsyaka ke pengadilan agama.


****


Arsyaka dan Retno yang pergi ke pengadilan agama, menunggu kedatangan Samara. Karena mereka berdua berharap bisa bertemu dengan Samara di pengadilan agama, dan akan meminta sertifikat surat rumah barunya Arsyaka.


Akan tetapi lagi-lagi Samara hanya menyerahkan sepenuhnya kepada pengacaranya, dan tidak datang menghadiri sidang pertama perceraianya yang di adakan hari ini.


Semua bukti yang di bawa oleh pengacaranya Samara, membuat proses perceraian Samara berjalan lancar. Meski Arsyaka sempat ingin melakukan mediasi, tapi semua itu bisa di atasi oleh pengacaranya Samara.


Saat pengacara Samara yang bernama Rudi akan pergi meninggalkan pengadilan agama, ia di cegah oleh Arsyaka yang ingin berbicara dengannya.


"Pak Rudi, bisakah saya berbicara sebentar," ucap Arsyaka yang menghentikan langkah kakinya pak Rudi.


"Baiklah," jawabnya singkat.


"Pak Rudi pasti mengetahui keberadaannya Samara? Saya ingin meminta alamatnya, untuk bertemu dengan anak-anakku," kilah Arsyaka yang ingin mendapatkan alamat Samara dengan alasan ingin bertemu dengan anaknya.


"Saya tidak tahu," balasnya.


"Kalau begitu saya meminta nomor teleponnya Samara. Pasti pak Rudi mempunyai nomor teleponnya, iyakan?" Arsyaka memilih meminta nomor telepon Samara. Karena pak Rudi tidak mengetahui tempat tinggalnya Samara.


"Maaf saya harus menjaga kepercayaan dari klien. Dan saya harap! Di sidang putusan terakhir, pak Arsyaka bisa datang. Agar semuanya bisa berjalan dengan lancar, permisi." pak Rudi pamit pergi meninggalkan Arsyaka.


"Huuuh sial, ke mana perginya kamu Samara?" Arsyaka menghentakkan kakinya. Karena ia sangat kesal dengan Samara, yang hilang entah kemana? Dan pergi membawa sertifikat surat rumah barunya.

__ADS_1


__ADS_2