Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 81 Mendapatkan Informasi


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Ketika Samara sedang memasak sarapan pagi. Ibunya datang menghampiri Samara.


"Kamu kenapa Ra? Apakah semalam kamu tidak tidur?" tanya Santi yang melihat raut wajah Samara tidak secerah seperti biasanya.


"Aku tidak bisa tidur, Bu." Samara menjawab pertanyaan dari ibunya sambil terus memasak tanpa menengok ke arah ibunya, yang baru saja datang menghampirinya ke dapur. Samara tidak mau ibunya melihat wajah dan matanya yang sembab. Karena semalam ia menangisi ketiga anaknya, yang di culik oleh lelaki yang tidak ia kenal. Sehingga membuat Samara tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Pasti Samara semalam memikirkan ketiga anaknya. Sampai ia tidak bisa tidur dengan nyenyak," gumam Santi di dalam hatinya.


"Sini biar ibu saja yang masak. Bukannya kamu hari ini, akan pergi bersama Rayanza mencari ketiga anakmu lagi?" tanya Santi yang segera mengambil spatula dari tangan Samara, dan menyuruh Samara untuk siap-siap pergi bersama Rayanza.


"Iya Bu, kalau begitu Samara pergi ke kamar dulu," sahutnya sambil melangkah pergi meninggalkan ibunya, dan ia segera pergi ke dalam kamarnya.


Ketika Samara sudah masuk ke dalam kamarnya, ia segera mengambil foto dirinya yang  bersama ketiga anaknya.


"Semoga kalian bertiga baik-baik saja, di mana pun kalian bertiga saat ini. Bunda merindukan kalian bertiga," lirih Samara sambil memeluk foto itu dengan berlinang air mata. Karena ia merindukan ketiga anaknya, yang di culik oleh seseorang yang belum ia ketahui.


Drt_drt_drt


Samara mendengar suara panggilan telepon dari handphone miliknya, ia pun segera mengambil handphonenya yang ia taruh di atas laci meja kamarnya.


"Halo Ray," ucap Samara yang sudah menerima panggilan telepon dari Rayanza.


"Ra, aku mendapatkan informasi dari pihak kepolisian. Kalau polisi sudah menemukan mobil lelaki yang telah menculik ketiga anakmu." Rayanza memberitahukan kepada Samara tentang informasi dari pihak kepolisian.


"Tapi aku minta maaf, Ra. Aku tidak bisa menemanimu mencari keberadaan ketiga anakmu," lanjut Rayanza yang meminta maaf kepada Samara. Karena ia tidak bisa menemani Samara, yang akan pergi ke kantor polisi.


"Iya tidak apa-apa kok, Ray. Aku bisa pergi bersama Rina adikku," sahut Samara yang tidak mempermasalahkan, tentang Rayanza yang tidak bisa menemaninya pergi ke kantor polisi.

__ADS_1


"Maaf yah, Ra. Aku benar-benar minta maaf..."


"Kamu tidak perlu meminta maaf terus, Ray. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, kok. Justru aku yang harus mengucapkan rasa terima kasih, karena kemarin kamu sudah membantuku dalam mencari keberadaan ketiga anakku." Samara segera menyela ucapan Rayanza yang terus meminta maaf kepada dirinya.


"Aku merasa tidak enak kepadamu, Ra. Karena kemarin itu, aku sudah berjanji mau menemanimu pergi mencari ketiga anakmu," ucap Rayanza yang merasa bersalah pada Samara. Karena ia tidak bisa menepati janjinya, yang akan menemani Samara. Untuk mencari keberadaan ketiga anaknya.


"Jangan merasa tidak enak seperti itu, Ray. Aku sangat bersyukur sekali, kemarin kamu sudah menemaniku mencari ketiga anakku," sahut Samara.


"Maaf sekali lagi yah, Ra. Tapi kalau ada kabar apapun itu, tolong kamu kabarin aku. Meskipun hari ini, aku tidak bisa menemanimu pergi ke kantor polisi, dan mencari keberadaan ketiga anakmu," ujar Rayanza yang mengucapkan kata maaf lagi, dan menyuruh Samara untuk memberitahukan kepada Rayanza. Jika Samara mendapatkan informasi dari pihak kepolisian.


"Iya Ray, aku pasti akan mengabari kamu, kok. Aku matikan panggilan teleponnya, yah. Karena aku mau siap-siap pergi ke kantor polisi," balas Samara yang meminta ijin pada Rayanza. Sebelum ia mematikan panggilan telepon dari Rayanza.


Setelah Samara selesai berbicara dengan Rayanza, ia pun segera mengganti pakaiannya. Karena Samara hari ini, akan pergi ke kantor polisi lagi bersama Rina adiknya.


Samara yang sudah selesai mengganti pakaiannya, ia segera keluar dari dalam kamarnya dan pergi ke meja makan. Karena sebelum Samara pergi ke kantor polisi, ia akan sarapan pagi terlebih dahulu. Karena jika ia tidak sarapan pagi, pasti kedua orang tuanya akan memaksa Samara. Untuk tetap makan walaupun hanya sedikit.


"Pak, Bu. Samara mau pergi ke kantor polisi dulu," ucap Samara yang berpamitan pergi kepada kedua orang tuanya. Ketika ia sudah selesai sarapan.


"Mbak perginya sendiri saja, Rin. Tadinya Mbak memang mau di temani sama kamu, Rin. Tapi sepertinya tidak jadi, karena kondisi kakimu masih sakit." Samara menolak ajakan dari Rina, yang mau menemaninya pergi ke kantor polisi. Karena Samara melihat kondisi kaki Rina masih sakit.


"Kamu jangan pergi sendiri, Ra." Santi melarang Samara yang mau pergi ke kantor polisi sendirian.


"Memangnya Rayanza tidak jadi menemani kamu?" lanjut Santi yang bertanya kepada Samara, tentang dirinya yang akan pergi bersama Rayanza.


"Rayanza ada urusan Bu. Jadinya, dia tidak bisa menemaniku," jelas Samara yang memberitahukan kepada kedua orang tuanya dan juga Rina adiknya, tentang Rayanza yang tidak bisa menemaninya pergi ke kantor polisi.


"Kalau Rayanza tidak bisa menemanimu, biar bapak saja yang menemanimu pergi ke kantor polisi." Anton yang dari tadi menyimak pembicaraan antara anak dan istrinya. Kini ia mengeluarkan keinginannya, yang ingin menemani Samara pergi ke kantor polisi dan mencari ketiga cucunya yang di culik.


"Bapak istirahat saja di rumah, biar Samara yang pergi sendirian ke kantor polisi..."

__ADS_1


"Ibu tidak akan mengijinkan kamu pergi ke kantor polisi. Jika kamu pergi sendirian, tapi kalau perginya sama bapak ibu mengijinkan." Santi segera menyela ucapan Samara, dan menyuruh Samara pergi bersama bapaknya.


"Kalau begitu, bapak sama Samara pergi dulu. Ayo, Ra. Kita pergi sekarang," ajak Anton pada Samara.


Setelah Samara dan Anton berpamitan kepada Santi dan Rina. Samara dan Anton pun segera pergi ke kantor polisi, dengan menggunakan motor yang biasa di pakai oleh Rina.


Saat perjalanan menuju kantor polisi.


Samara dan bapaknya melihat Ervan dan Vina anaknya, ketika mereka berdua berhenti di lampu merah.


"Hey, cantik mau kemana?" tanya Samara pada Vina yang duduk di sampingnya Ervan.


"Bukan urusanmu," jawab Vina dengan ketus, sambil menutup kaca mobilnya yang terbuka.


Samara dan bapaknya hanya menggelengkan kepala, melihat sikap Vina jadi berubah. Semenjak Samara menolak lamaran Ervan papanya.


"Kenapa Vina sikapnya jadi seperti itu? Padahal aku berusaha menyapanya. Agar aku bisa berbicara dengannya, tentang ketiga anakku. Siapa tahu! Vina mengenal lelaki yang mengajak ketiga anakku pergi dari sekolah," batin Samara yang melihat perubahan sikap Vina.


Lampu merah yang sudah berubah menjadi lampu hijau, membuat Anton segera melajukan kembali kendaraan motornya. Untuk pergi ke kantor polisi.


Sesampainya Samara dan Anton bapaknya, di depan kantor polisi. Mereka berdua segera pergi menemui polisi yang menangani kasus ketiga anaknya.


Samara dan Anton yang sudah menemui polisi yang bernama Arga, polisi itu langsung memberikan handphone milik Arsyaka pada Samara.


"Ini... Bu... bukannya handphone milik Mas Syaka," lirih Samara pelan. Saat Samara membuka handphone milik Arsyaka, ia begitu kaget dan tidak menyangka. Kalau Arsyaka yang menculik ketiga anaknya, tanpa ijin kepadanya terlebih dahulu.


"Ibu Samara mengenal lelaki yang ada di handphone itu?" tanya Arga.


"I... iya pak, ini handphone milik mantan suamiku," jawab Samara.

__ADS_1


Anton yang mendengar jawaban dari Samara, ia mengepalkan kedua tangannya.


"Jadi yang menculik ketiga cucuku adalah Arsyaka," geram Anton pada Arsyaka mantan suami anaknya.


__ADS_2