
Beberapa hari kemudian.
Chelsea dan Arsyaka sudah pulang ke rumahnya. Sedangkan bayi laki-laki yang di lahirkan Chelsea secara prematur, tidak bisa bertahan hidup dengan lama. Bayi Chelsea dan Arsyaka meninggal dunia, saat Arsyaka dan Chelsea sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Arsyaka dan Chelsea bersedih mendengar kabar kematian anaknya, yang baru saja lahir ke dunia ini. Retno pun bisa merasakan kesedihan hati anak dan menantunya, dan menguatkan hati mereka berdua. Karena kedua orang tuanya Chelsea langsung pulang ke Jakarta, setelah menjenguk Chelsea di rumah sakit. Dan tidak datang ke Surabaya, saat anak Chelsea dan Arsyaka meninggal dunia.
********
Di dalam kamar.
Arsyaka melihat Chelsea yang seperti akan pergi keluar rumah, ia yang penasaran dengan tujuan Chelsea langsung menanyakan pada Chelsea.
"Kamu mau pergi ke mana, Hanny? Apakah kamu mau pergi kontrol ke rumah sakit?" tanya Arsyaka yang melihat Chelsea akan pergi dari rumah.
"Ngapain aku pergi ke rumah sakit dengan penampilan seperti ini," sahutnya ketus.
"Bukannya hari ini jadwal kamu kontrol ke rumah sakit, terus kalau bukan mau pergi ke rumah sakit. Kamu mau pergi ke mana?" tanya Arsyaka lagi kepada Chelsea.
"Iya, tapi aku sudah membaik. Jadi tidak perlu kontrol ke rumah sakit, aku mau pergi menjemput mama ke bandara," balasnya sambil melangkah pergi meninggalkan Arsyaka.
"Kamu tidak usah menjemput mama, biar aku saja yang menjemputnya. Kamu itukan baru melahirkan, meski anak kita sekarang ini sudah meninggal dunia," lirih Arsyaka yang seketika mengingat bayinya, yang sudah meninggal dunia. Setelah beberapa hari Arsyaka dan Chelsea pulang ke rumah, mereka berdua mendapatkan kabar duka dari pihak rumah sakit tentang kematian anaknya.
"Aku tetap mau pergi menjemput mama." Chelsea tetap pergi meninggalkan Arsyaka yang berada di dalam kamar.
"Hanny..." Arsyaka berlari mengejar Chelsea yang akan pergi ke bandara.
"Apa?" tanya Chelsea sambil menatap tajam Arsyaka. Saat Arsyaka berhasil memegang tangannya.
"Aku tahu kalau kamu itu sedih dengan kematian anak kita. Tapi kenapa sikap kamu jadi berubah seperti ini?" Arsyaka menanyakan tentang perubahan sikap Chelsea yang berubah. Semenjak pulang dari rumah sakit, dan di tambah kehilangan bayinya untuk selama-lamanya.
Retno yang mendengar suara Chelsea dan Arsyaka, segera pergi menghampiri mereka berdua.
"Kenapa pagi-pagi sudah ribut?" Kalian berdua itu baru pulang dari rumah sakit, dan kehilangan anak. Seharusnya kalian berdua saling menyemangati dan menguatkan, bukan berantem seperti ini," ujar Retno yang menasehati Chelsea dan Arsyaka.
__ADS_1
"Nah ini orangnya, yang membuat sikapku berubah kepadamu, Mas." Chelsea menunjuk ke arah Retno yang datang menghampirinya dan Arsyaka.
"Kenapa kamu bawa-bawa ibu? Dalam masalah rumah tangga kalian berdua." Retno tidak terima Chelsea menyalahkannya, atas masalah rumah tangganya dengan Arsyaka anaknya.
"Kamu jangan bawa-bawa ibu dalam masalah kita, Hanny. Sebaiknya kamu masuk ke dalam kamar, tidak usah menjemput mamamu. Nanti juga mamamu akan datang ke sini," ucap Arsyaka yang melarang Chelsea pergi dari rumah.
"Jangan coba-coba melarang aku pergi, dari rumahku sendiri. Kalian berdua itu cuman numpang di sini," ucap Chelsea sambil menyunggingkan senyuman mengejek.
Plak Arsyaka menampar pipi Chelsea.
"Aku ini suamimu, jadi aku dan ibuku berhak tinggal di sini." Arsyaka yang tidak bisa menahan emosi, langsung menampar pipi Chelsea.
"Kamu berani menamparku, Mas." Chelsea memegangi pipinya yang di tampar oleh Arsyaka, ia pun menatap tajam ke arah Arsyaka dan juga Retno secara bergantian.
"Makanya jadi istri itu yang nurut sama suami." Retno melipatkan kedua tangannya, dan menatap sinis pada Chelsea.
"Aku menyesal memilih kamu menjadi suamiku. Lebih baik sekarang ini, kalian berdua pergi dari rumahku." Chelsea mengusir Arsyaka dan Retno.
"Aku tidak mau pergi dari sini. Karena ini juga rumahku..."
Arsyaka dan Retno terdiam. Saat mereka berdua melihat kedatangan Linda dan dua orang lelaki, yang sudah masuk ke dalam rumah. Sehingga membuat Arsyaka tidak melanjutkan ucapannya, yang belum selesai berbicara.
"Akhirnya mama datang, baru juga aku mau menjemput mama ke bandara," ucap Chelsea sambil berlari pergi menghampiri Linda dan memeluknya.
"Mah, dia tadi menampar pipiku," lanjut Chelsea yang memberitahukan perihal Arsyaka, yang sudah menampar pipinya.
"Kamu jadi lelaki beraninya main tangan sama wanita, dan berani sekali tangan kotormu itu menampar pipi anakku. Kalian berdua hajar dia," ucap Linda yang menyuruh kedua orang suruhannya, untuk memukul Arsyaka.
Orang suruhannya Linda langsung memukul Arsyaka. Sehingga membuat Arsyaka tidak bisa melawan pukulan dari orang suruhannya Linda.
"Linda, hentikan mereka semua," teriak Retno yang tidak tega melihat anaknya di pukul oleh orang suruhannya Linda.
Linda menghiraukan ucapan Retno yang menyuruhnya, untuk menghentikan dua orang suruhannya yang sedang memukul Arsyaka. Setelah merasa cukup puas, barulah Linda menyuruh kedua orang suruhannya. Untuk menghentikan mereka berdua yang sedang memukul Arsyaka.
__ADS_1
"Sudah cukup." Linda menyuruh kedua orang suruhannya, untuk menghentikan pukulan mereka berdua pada Arsyaka.
"Ini balasan dari perbuatanmu, yang mengatakan yang sebenarnya kepada suamiku. Dan kedatanganku pagi-pagi ke sini, mau mengusir kamu dan anakmu pergi dari sini," ucap Linda yang mengusir Arsyaka dan Retno.
"Ma... maaf mah, tadi itu...."
"Sudahlah Mas, kamu jangan banyak alasan. Aku sudah tidak mau ada urusan lagi denganmu. Jadi sekarang juga, aku mau kamu menceraikan ku! Karena pernikahan kita ini, cuman pernikahan siri." Chelsea meminta di ceraikan oleh Arsyaka.
"Tidak, aku tidak mau menceraikanmu. Aku masih mencintaimu, Hanny." Arsyaka mencoba meluluhkan hati Chelsea. Agar Chelsea tidak mau bercerai dengannya.
"Kamu bilang cinta kepadaku. Setelah barusan kamu berani menampar pipiku," ujar Chelsea yang tersenyum simpul mendengar ucapan Arsyaka.
"Tidak ada alasan lagi, untuk tetap mempertahan pernikahan ini, Mas. Anakku sudah meninggal dunia, dan sekarang ini kamu tidak memiliki pekerjaan..."
"Aku kan masih bekerja di perusahaan papamu, Hanny." Arsyaka segera memotong ucapan Chelsea.
"Hahaha... Percaya diri sekali kamu, setelah apa yang ibumu katakan pada suamiku." Linda tertawa mendengar ucapan Arsyaka.
"Aku tadi sudah bilang sama kamu, Mas. Kalau semua ini adalah kesalahan ibumu, yang menceritakan pada papaku. Apakah kamu dan ibumu tidak ingat! Saat di rumah sakit, kamu dan ibumu berani menceritakan itu semuanya." Chelsea mengingatkan Arsyaka dan Retno. Saat Retno di rumah sakit menceritakan tentang Chelsea yang menjadi seorang pelakor.
Hal itu membuat Rasyid papanya Chelsea marah kepada Linda dan juga Chelsea. Sehingga Rasyid mengambil keputusan. Untuk tidak memberikan kesempatan kepada Arsyaka bekerja di perusahaannya. Agar Chelsea dan Arsyaka bisa hidup mandiri, tanpa bantuan dari Rasyid.
Chelsea yang tidak sanggup hidup miskin bersama Arsyaka, menuruti perintah Linda mamanya untuk bercerai dengan Arsyaka.
"Ini surat dan gaji terakhirmu di perusahaan suamiku." Linda melemparkan surat dan uang pada Arsyaka.
"Cepat kamu talak Chelsea, dan setelah itu pergi dari rumah ini," lanjut Linda yang mengusir Arsyaka dan ibunya.
"Aku tidak mau menceraikan istriku, mah." Arsyaka menolak bercerai dengan Chelsea.
"Linda, perceraian itu tidak baik. Biarkan anak-anak kita terus menjadi sepasang suami istri," ucap Retno dengan lembut. Agar Linda tidak menyuruh Arsyaka bercerai dengan Chelsea.
"Kalau kamu tidak mau menceraikan Chelsea, aku akan menyuruh mereka berdua untuk membunuhmu dan juga ibumu." Linda mengancam Arsyaka. Agar ia mau menceraikan Chelsea.
__ADS_1
"Ba... baiklah," sahutnya gugup.
Dengan menutup mata dan menghela nafas berat. Arsyaka terpaksa menalak Chelsea, dan setelah selesai menalak Chelsea. Arsyaka segera pergi meninggalkan rumah Chelsea bersama dengan ibunya.