
POV Samara.
Aku kaget melihat kedatangan Nayla, bersama seorang lelaki yang akan meeting dengan Rayanza.
"Hay Ra," sapa ramah Nayla kepadaku. Aku dan Nayla yang sudah lama tidak bertemu, kini saling berpelukan.
"Kamu kok gak ngabarin aku dulu? Kalau mau pergi ke kota Surabaya?" tanyaku sambil melepaskan pelukanku pada Nayla.
"Aku memang sengaja tidak memberitahu kamu, rencananya mau memberi kejutan sama kamu, Ra." Nayla menjawab pertanyaan dariku sambil tersenyum manis.
"Kalian berdua saling kenal?" tanya lelaki yang datang bersama Nayla.
"Iya sayang, mereka berdua itu adalah temanku." Nayla menjawab pertanyaan dari lelaki itu dengan sebutan sayang. Apa jangan-jangan! Lelaki itu adalah kekasihnya Nayla.
"Samara, Rayanza. Aku mau memperkenalkan Reza calon suamiku," sambung Nayla.
Belum sempat aku bertanya kepada Nayla, ia langsung memperkenalkan lelaki yang datang bersamanya kepadaku dan Rayanza.
Aku dan Rayanza pun berkenalan dengan calon suami Nayla, yang bernama Reza. Acara meeting kali ini tidak membuat aku bosan, karena yang meeting dengan Rayanza adalah calon suaminya Nayla.
Jadi aku bisa mengobrol banyak dengan Nayla di bangku yang lainnya. Sedangkan Rayanza dan Reza, mereka berdua melanjutkan acara meeting, yang di adakan di kafe ini.
"Kamu bener-bener ngasih aku kejutan Nay, tau-tau kamu sudah mempunyai calon suami tanpa mengenalkan aku terlebih dahulu."
"Hehe... iya Ra, aku kenal Reza juga belum lama sih. Makanya aku tidak sempat memperkenalkan Reza sama kamu. Oh iya, ada satu hal yang pastinya, akan membuatmu lebih terkejut lagi."
"Apa itu Nay?" tanyaku penasaran, dengan apa yang akan Nayla ceritakan kepadaku.
"Pasti kamu belum tahu. Kalau mantan suamimu dan istrinya, sudah bercerai," jawaban dari Nayla bener-bener membuat aku kaget dan tidak menyangka. Karena tadi pagi, saat aku dan Rayanza pergi bekerja di kantor. Aku melihat Arsyaka dan ibunya yang akan pulang ke Jakarta. Apa jangan-jangan! Itulah penyebabnya, yang membuat Arsyaka dan ibunya pulang ke Jakarta.
"Kamu tahu dari mana Nay? Setahuku mereka berdua itu baru saja mengalami kecelakaan, beberapa hari yang lalu." aku bertanya lagi kepada Nayla. Untuk memastikan kebenarannya.
"Aku bisa mengetahui itu semuanya. Karena Reza itu adalah kakak tirinya Chelsea." Nayla pun mulai menceritakan semua kejadian di rumah Chelsea kepadaku.
__ADS_1
"Aku baru saja keluar dari rumah Chelsea, dan Reza mengajak aku pergi ke kafe ini," sambung Nayla.
Aku menghela nafas panjang dan membuangnya secara perlahan. Entah aku harus senang atau sedih, mendengar kabar perceraian Arsyaka dan Chelsea. Bahkan ibu Linda mantan majikanku juga bercerai dengan suaminya, yang merupakan ayah dari calon suaminya Nayla.
"Sudahlah Nay, jangan bahas lagi masalah mereka berdua. Karena sekarang ini, aku mau bertanya lagi kepadamu. Kenapa bisa kamu mau menikah dengan Reza? bukannya kamu mencintai Rayanza?" aku sengaja mengalihkan pertanyaan. Agar tidak membahas masalah Arsyaka dan Chelsea lagi.
"Masalah aku mau menikah dengan Reza. Karena aku dan dia sama-sama merasa saling nyaman, dan sudah siap membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Kalau masalah perasaanku pada Rayanza..." Nayla menjeda sebentar ucapannya, sebelum melanjutkan kembali apa yang ingin dia ceritakan semuanya padaku.
"Mungkin saja, aku dan Rayanza memang tidak cocok Ra. Yang cocok dengan Rayanza itu kamu," sambungnya lagi.
"Kamu apa-apaan sih, Nay. Bicara kamu jangan keluar dari pertanyaanku," sahutku sambil menggelengkan kepala, mendengar ucapan Nayla barusan.
"Rayanza menolak cintaku. Karena dia itu..."
"Sebentar ya Nay, aku mau menerima panggilan telepon dari Rina adikku dulu." aku memotong ucapan Nayla yang belum selesai berbicara. Karena Rina adikku menghubungiku.
"Iya Ra, tidak apa-apa."
"Halo Rin, ada apa?" tanyaku pada Rina.
"Mbak, anak-anak sudah pulang sama Mbak yah?" jawab Rina sambil bertanya balik kepadaku.
Aku yang mendengarkan itu, mengkerutkan keningku. Karena yang bertugas menjemput ketiga anakku adalah Rina adikku, sekalian ia pulang dari sekolahnya.
"Mbak lagi di kafe Rin, menemani Mas Ray meeting. Emangnya kenapa Rin?" aku pun bertanya balik pada Rina.
"Itu... Mbak... anak..." suara Rina terdengar gugup dan bingung. Untuk menceritakan semuanya kepadaku.
"Anak-anak Mbak kenapa Rin? Apakah mereka bertiga membuat masalah di sekolahan?" aku segera memotong ucapan Rina, yang gugup dan seperti ragu menceritakan semuanya. Jadi aku bertanya lagi kepada Rina, sebab aku penasaran. Karena Rina belum menceritakan, apa yang mau ia ceritakan kepadaku.
"Pak, bapak saja yang berbicara dengan kakakku." aku mendengar suara Rina yang berbicara dengan seorang lelaki, dan menyuruhnya untuk berbicara denganku.
"Ada apa sebenarnya ini?" gumamku dalam hati yang bingung dengan sikap Rina, yang tidak mau menceritakan semuanya kepadaku.
__ADS_1
"Assalamualaikum. Bu Samara, saya satpam di sekolahannya anak ibu," ucap salam dari pak satpam tempat ketiga anakku bersekolah.
"Waalaikumsalam, iya pak. Ada masalah apa dengan ketiga anakku?" jawabku sambil bertanya pada pak satpam. Karena Rina memberikan handphone miliknya pada pak satpam, dan tidak mau menceritakan semuanya kepadaku.
"Begini Bu Samara, saya mau memberitahukan kepada ibu Samara. Kalau anak-anak ibu sudah pulang dari tadi, tapi adik ibu baru saja sampai di sekolah," jawaban dari pak satpam membuat aku kaget, dan menjadi khawatir pada ketiga anakku.
"Maaf Mbak, aku tadi telat menjemput anak-anak. Sekarang aku tidak tahu kemana anak-anak pergi. Karena kata ibu, anak-anak belum pulang ke rumah," ujar Rina yang meminta maaf dan memberitahukan kepadaku. Kalau ketiga anakku belum pulang ke rumah.
"Ya Mbak maafkan, tapi sambil kamu pulang ke rumah, kamu di jalan sambil mencari Candra dan Kirana serta Arsya. Mbak akan bertanya pada Vina. Mungkin saja anak-anak pulang bersama Vina," aku segera mematikan panggilan telepon dari Rina, dan menyuruh Rina mencari anak-anakku di jalan arah pulang ke rumah.
"Kenapa Ra?" tanya Nayla. Ketika aku selesai bertelepon dengan Rina adikku.
"Anak-anak sudah pulang dari sekolah, tapi Rina adikku baru saja sampai di sekolah. Jadi sekarang ini, aku tidak tahu anak-anakku pergi kemana?" jawabku yang mengkhawatirkan ketiga anakku.
"Mungkin anak-anakmu ikut pulang dengan teman-temannya," sahut Nayla.
"Iya bisa jadi Nay."
Aku pun segera mencari nomor telepon Tante Erina. Untuk menanyakan kepada Vina, yang kemungkinan mengetahui ketiga anakku yang sudah pulang dari sekolah. Atau bisa jadi, ketiga anakku ikut pergi bersama Vina.
"Assalamualaikum." aku mengucapkan salam pada Tante Erina. Ketika Tante Erina menerima panggilan telepon dariku.
"Waalaikumsalam. Ada perlu apa? Kamu menghubungiku?" jawabnya sambil bertanya balik padaku.
"Begini Tante, aku mau berbicara dengan Vina." aku langsung berbicara dengan inti tujuanku menghubungi Tante Erina.
"Mau apa kamu berbicara dengan cucuku?" tanya Tante Erina lagi kepadaku.
"Aku mau menanyakan tentang ketiga anakku pada Vina, Tante." aku segera menjawab pertanyaan dari Tante Erina, dan berharap Tante Erina memberikan handphonenya kepada Vina. Agar aku bisa berbicara dengan Vina.
"Asal kamu tahu saja! Semenjak kamu menolak lamaran putraku, aku tidak mengijinkan Vina dekat dengan ketiga anakmu. Jadi aku pastikan, Vina tidak berteman lagi dengan ketiga anakmu." Tante Erina langsung mematikan panggilan telepon dariku. Setelah dirinya mengatakan itu semuanya kepadaku.
"Kemana kalian bertiga pergi?" lirihku yang sedih. Karena ketiga anakku pergi entah kemana?
__ADS_1