
POV Samara.
"Alhamdulillah." aku mengucapkan rasa syukur di dalam hatiku. Karena akhirnya, aku bisa menemukan orang yang telah membawa ketiga anakku, dengan perantaraan mimpiku itu.
Sekarang ini, aku bisa menghembuskan nafas lega. Karena bisa melihat lelaki itu yang masuk ke dalam rekaman cctv di restoran ini, meski hanya dirinya saja yang keluar dari dalam mobilnya. Tapi aku sangat yakin sekali, kalau ketiga anakku berada di dalam mobilnya.
"Pak, saya minta di kirimkan hasil rekaman cctv yang itu pak," ucap Rayanza yang meminta hasil rekaman cctv pada pak Rahmat dan memberikan nomor teleponnya. Agar pak Rahmat bisa mengirimkan rekaman cctv itu ke nomor telepon Rayanza.
"Iya pak, saya akan mengirimkan rekaman cctv ini." pak Rahmat pun segera mengirimkan hasil rekaman cctv, yang di dalamnya ada lelaki yang membawa ketiga anakku.
"Terima kasih pak,'' aku dan Rayanza mengucapkan rasa terima kasih secara bersamaan kepada pak Rahmat, yang telah memberikan rekaman cctv itu.
Karena dengan menggunakan hasil rekaman cctv, pihak kepolisian bisa dengan cepat mendeteksi keberadaan lelaki itu yang telah menculik ketiga anakku. Apalagi plat nomor mobilnya terlihat sangat jelas sekali. Akan tetapi... aku tidak mengenal sama sekali dengan sosok lelaki itu.
"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih, pak." ucapku lagi sebelum pergi meninggalkan ruangan pak Rahmat.
"Iya sama-sama pak, Bu." balasnya sambil tersenyum.
"Kami semua pamit pergi dari sini pak," sahut Reza yang ikut berpamitan kepada pak Rahmat.
''Iya," timpal pak Rahmat.
Aku dan Rayanza serta Nayla dan Reza, segera pergi dari dalam ruangannya pak Rahmat. Karena aku mau pergi ke kantor polisi, untuk memberikan hasil rekaman cctv di restoran ini.
"Sepertinya pencarian kita semua cukup sampai di sini saja, kamu dan Reza bisa pulang sekarang. Sedangkan aku dan Samara akan pergi ke kantor polisi, untuk memberikan rekaman cctv ini," ucap Rayanza yang menyuruh Nayla dan Reza pulang.
"Tapi aku mau ikut pergi..."
"Nay, terima kasih sekali atas bantuan kamu dan Reza yang mau membantuku. Tapi sepertinya kamu dan Reza pulang saja, kalian berdua baru saja sampai di kota Surabaya. Lebih baik, kalian berdua pulang." aku segera menyela ucapan Nayla, yang ingin ikut pergi ke kantor polisi.
"Aku tidak mau membuat calon pengantin kecapean. Jadi lebih baik, kamu dan Reza pulang saja," lanjutku yang menggoda Nayla. Agar ia tidak mau ikut pergi ke kantor polisi.
"Ya sudah, aku pulang dulu yah. Tapi ingat! Kamu jangan bersedih lagi, karena sekarang ini kita sudah mendapatkan bukti rekaman cctv. Dan semoga saja pihak kepolisian bisa dengan cepat menemukan keberadaan ketiga anakmu." Nayla berpamitan kepadaku dan Rayanza, ia juga mendoakan ketiga anakku. Agar bisa cepat di temukan keberadaannya.
__ADS_1
"Aamiin." aku mengamini doa dari Nayla.
"Aku dan Nayla pamit pulang duluan yah, kalau ada apa-apa kabarin saja," ucap Reza yang berpamitan pulang pada Rayanza dan juga aku.
"Iya, pasti aku akan mengabarimu. Kalian berdua hati-hati di jalannya," sahut Rayanza.
"Kalian berdua juga hati-hati di jalannya," balas Reza. Sebelum ia dan Nayla masuk ke dalam mobilnya.
Setelah kepergian Nayla dan Reza. Aku dan Rayanza segera masuk ke dalam mobil dan pergi ke kantor polisi, untuk memberikan rekaman cctv yang aku dapatkan di restoran pada polisi.
Sesampainya di kantor polisi.
Aku dan Rayanza segera pergi ke dalam ruangan pak polisi, yang menangani kasus kehilangan ketiga anakku.
"Ini pak hasil rekaman cctvnya." Rayanza memberikan rekaman cctv itu pada pak polisi.
Pak polisi yang sudah menerima rekaman cctv, ia segera memutarkan rekaman cctv sampai selesai.
"Malam ini juga saya dan tim akan menyelidiki kasus ini. Sebaiknya bapak dan ibu pulang ke rumah," ucap pak polisi yang akan segera melakukan pencarian melalui plat mobil lelaki itu, dan menyuruh aku dan Rayanza pulang. Karena pihak kepolisian akan menyelidiki kasus penculikan ketiga anakku.
Aku dan Rayanza pun segera pergi meninggalkan kantor polisi, dan Rayanza akan mengantar aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah.
"Kamu jangan bersedih lagi yah, Ra." kata Rayanza. Sebelum aku masuk ke dalam rumah.
"Iya Ray, kamu hati-hati di jalannya," sahutku.
Rayanza mengagukkan kepalanya. Sebelum ia menyalakan mesin mobilnya, dan pergi dari rumahku.
Tok-tok.
Aku mengetuk pintu rumah yang terkunci, dan tidak lama kemudian ibu membukakan pintu rumah.
__ADS_1
"Akhirnya kamu pulang Ra." ibu langsung memelukku, dan mengajak aku masuk ke dalam rumah.
"Apakah kamu berhasil menemukan keberadaan ketiga anakmu?" tanya ibuku yang menanyakan tentang ketiga anakku.
"Aku belum menemukan keberadaan mereka bertiga, Bu. Tapi aku berhasil mendapatkan rekaman cctv di sekolah dan juga di restoran." aku pun segera menceritakan semuanya pada ibuku.
Di saat aku sedang menceritakan itu semuanya pada ibuku, Rina adikku datang menghampiriku sambil berderai air mata. Akan tetapi, aku melihat jalan kaki Rina seperti orang yang sakit di bagian kakinya. Karena jalan kakinya tidak seperti biasanya.
"Maafkan aku Mbak. Andai saja, aku tidak terlambat menjemput mereka bertiga. Pasti ini semuanya tidak akan terjadi," ucapnya yang meminta maaf kepadaku.
"Mbak juga minta maaf, karena tadi sempat memarahimu. Itu kaki kamu kenapa, Rin?" aku menanyakan tentang kaki Rina yang sakit.
"Tadi itu Rina terlambat menjemput ketiga anakmu. Karena dia tadi itu terjatuh dari motor, sampai kakinya sakit seperti itu," sahut ibu yang menjawab pertanyaanku.
"Saat aku akan pergi menjemput anak-anak di sekolah, ada seorang ibu-ibu yang akan melintasi jalan raya. Akan tetapi, ibu itu menyebrang jalannya maju mundur. Sehingga membuat aku terjatuh dari motor seperti ini, kak." Rina adikku menceritakan kepadaku, tentang kronologi kecelakaan yang di alaminya.
"Tapi itu kaki kamu sudah di obati belum?" tanyaku lagi.
"Sudah kak," jawabnya.
"Kamu sudah pulang, Ra?" tanya bapak yang baru keluar dari dalam kamar.
"Iya pak," sahutku.
"Terus bagaimana hasil rekaman cctv di sekolah anakmu? Apakah polisi sudah berhasil menangkap penculik anakmu?" tanya bapak yang menanyakan hasil rekaman cctv di sekolah.
"Di sekolah rekaman cctvnya kurang jelas pak, tapi di restoran aku berhasil mendapatkan rekaman cctv yang memperlihatkan lelaki yang membawa ketiga anakku," jawabku yang mulai menceritakan lagi semuanya, pada bapak dan Rina yang belum mengetahui semuanya.
"Oh syukurlah. Semoga saja pihak kepolisian bisa dengan cepat menemukan keberadaan ketiga anakmu. Oh iya Ra, emangnya Arsyaka dan ibunya tinggal di kota ini?" ucap bapak yang menanyakan Arsyaka dan ibunya.
"Iya pak, tapi sepertinya mereka berdua akan pulang ke Jakarta," sahutku.
"Tapi sepertinya mereka berdua tidak akan pergi ke Jakarta. Karena tadi itu bapak dan ibu bertemu dengan Arsyaka dan ibunya, yang seperti akan mencari sebuah rumah kontrakan," ujar bapak yang menceritakan tentang pertemuan bapak dan ibu, yang bertemu dengan Arsyaka dan ibunya.
__ADS_1
Seketika itu, aku jadi teringat dengan kejadian rekaman cctv di sekolah. Karena saat lelaki itu menunjuk ke sebuah arah, ketiga anakku tersenyum senang dan berlari menuju ke arah yang di tunjuk oleh lelaki itu.
"Apa jangan-jangan! Yang di tunjuk oleh lelaki itu adalah ayah dari ketiga anakku. Karena mereka bertiga memang ingin bertemu dengan ayahnya," batinku.