Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 75 Melihat Rekaman cctv


__ADS_3

Pak Ujang yang sudah sampai di sekolah, ia melihat Samara dan Rayanza yang masih tetap menunggu kedatangannya di depan pintu gerbang sekolah.


"Maaf yah Bu, pak. Saya telat datangnya, soalnya saya tadi itu lagi sakit perut, bulak balik kamar mandi terus. Makanya tadi saya tidak bisa menerima panggilan telepon dari ibu," ucap pak Ujang berterus terang. Saat ia sudah datang menghampiri Rayanza dan Samara sambil meminta maaf.


"Iya pak, tidak apa-apa. Semoga bapak cepat sembuh, oh iya, pak. Kami berdua ingin melihat rekaman cctv di sekitar sekolah ini, tolong di buka pintu gerbangnya," ujar Rayanza yang menyuruh pak Ujang membuka pintu gerbang sekolah.


"Baik pak, saya buka pintu gerbangnya dulu," balasnya sambil mengambil kunci pintu gerbang sekolah, yang ia taruh di saku celananya.


"Ayo kita masuk ke dalam," lanjut pak Ujang yang mengajak Samara dan Rayanza masuk ke dalam sekolah. Ketika ia sudah membuka pintu gerbang sekolah.


"Iya pak," sahut Samara dan Rayanza secara bersamaan.


Saat Samara dan Rayanza serta pak Ujang akan masuk ke dalam sekolah. Nayla dan Reza yang baru saja datang ke sekolah anaknya Samara, menghentikan langkah kaki mereka bertiga yang akan masuk ke dalam sekolah.


"Samara..." panggil Nayla.


Samara yang mendengar namanya di panggil, segera menengok ke arah suara Nayla yang memanggil namanya.


"Ayo Nay, kita masuk ke dalam," ajak Samara pada Nayla dan juga Reza.


Mereka semua pun segera masuk ke dalam sekolah. Untuk melihat rekaman cctv, agar mereka bisa mengetahui siapa orang yang telah mengajak ketiga anaknya Samara pergi dari sekolah.


Pak Ujang mengajak mereka semua masuk ke ruang cctv, dan ia pun segera mengecek rekaman cctv dari semua arah.


Mereka semua memperhatikan rekaman cctv. Saat ketiga anaknya Samara ke luar dari pintu gerbang sekolah, dan menunggu kedatangan Rina adiknya Samara yang akan menjemput anaknya.


Tidak lama kemudian, ada seorang lelaki yang datang menghampiri ketiga anaknya Samara. Akan tetapi, lelaki itu tidak bisa mereka semua lihat dengan jelas. Sebab lelaki itu menutupi wajahnya dengan masker, dan memakai kacamata hitam. Saat lelaki itu datang menghampiri ketiga anaknya Samara, ia menunjuk ke sebuah arah, dan membuat ketiga anaknya Samara berlari pergi ke arah yang di tunjuk oleh lelaki itu.


Dan setelah kejadian itu, tidak ada lagi rekaman cctv yang memperlihatkan anaknya Samara, yang kembali duduk di depan pintu gerbang sekolah.

__ADS_1


"Siapa lelaki itu," gumam Samara pelan. Ketika mereka semua sudah selesai melihat rekaman cctv.


"Pak ini tidak ada lagi rekaman cctv, saat mereka bertiga berlari?" tanya Rayanza pada pak Ujang.


''Tidak ada lagi pak," jawabnya.


Samara yang mendengar itu hanya menghembuskan nafas kesal. Karena ia tidak bisa melihat ketiga anaknya, saat akan naik ke mobil berwarna merah yang di katakan oleh Iwan.


"Pak coba putar sekali lagi, di bagian ketiga anaknya Samara berlari." Reza menyuruh pak Ujang. Untuk memutar kembali rekaman cctv, di saat anaknya Samara berlari pergi menuju arah yang di tunjuk oleh lelaki itu.


"Baiklah pak," sahut pak Ujang yang langsung memutar kembali rekaman cctv.


Mereka semua pun menyaksikan kembali rekaman cctv itu.


"Aku yakin, kalau ketiga anakmu berlari ke arah mobil berwarna merah yang di katakan oleh temannya," ucap Rayanza.


"Iya, aku rasa memang seperti itu. Tapi sayang sekali, kita tidak bisa melihat rekaman cctv. Di saat ketiga anakku naik ke mobil berwarna merah itu," timpal Samara yang kembali bersedih. Karena ia tidak bisa mengetahui siapa orang, yang telah mengajak ketiga anaknya pergi meninggalkan sekolah.


Nayla yang bisa merasakan kesedihan Samara, memeluk Samara dan mengusap punggung Samara dengan tangannya.


"Tapi menurutku, aku melihat gerakan dan raut wajah ketiga anakmu yang berlari. Mereka bertiga itu, tidak seperti orang yang ketakutan. Tapi wajah mereka bertiga tersenyum senang, entah siapa yang mereka bertiga lihat?" sahut Reza yang melihat dengan teliti seluruh rekaman cctv.


"Yang kamu katakan benar, Za." Rayanza pun sependapat dengan ucapan Reza.


"Terus sekarang ini kita harus bagaimana?" tanya Samara yang mulai frustasi, dengan kehilangan ketiga anaknya.


"Kita harus segera melaporkan semua ini kepada polisi. Agar memudahkan kita dalam mencari keberadaan ketiga anakmu," jawab Rayanza.


"Ya sudah ayo kita pergi sekarang," ajak Samara pada Nayla dan Rayanza serta Reza. Ia bersemangat sekali pergi ke kantor polisi, berharap polisi bisa dengan cepat menemukan keberadaan ketiga anaknya.

__ADS_1


"Iya Ra, kita akan pergi ke kantor polisi, sudah kamu jangan menangis terus," balas Nayla yang mengajak Samara pergi dari ruang cctv yang ada di sekolah. Rayanza pun mengikuti Samara dan Nayla, sedangkan Reza masih di dalam bersama pak Ujang.


"Pak saya minta rekaman cctv itu," pinta Reza pada pak Ujang. Sebelum ia keluar dari ruangan ini.


"Iya pak." pak Ujang pun memberikan rekaman cctv pada Reza.


"Terima kasih pak," ucap Reza sambil menjabat tangannya pak Ujang, dan memberikan beberapa uang kepadanya.


"Pak ini..."


"Itu uang buat bapak, saya mengucapkan rasa terima kasih. Karena bapak telah memberikan informasi dan rekaman cctv, jangan di tolak pemberian dari saya, yah pak. Saya hanya minta doanya saja, semoga mereka bertiga bisa cepat di temukan." Reza segera memotong ucapan pak Ujang yang belum selesai berbicara, dan menyuruhnya untuk menerima uang pemberian dari dirinya.


"Aamiin. Terima kasih pak, pasti saya akan mendoakan mereka bertiga. Agar bisa cepat di temukan, dan bisa berkumpul dengan keluarganya lagi," balas pak Ujang.


"Aamiin." timpal Reza yang mengamini doanya pak Ujang. Sebelum ia pergi dari ruang cctv, dan segera pergi menghampiri Nayla dan Samara serta Rayanza yang sudah berada di luar gerbang sekolah.


"Kamu ngapain aja di dalam? Kok lama sekali?" tanya Nayla yang menunggu Reza keluar dari dalam sekolah.


"Maaf sayang, tadi itu aku meminta rekaman cctv pada pak satpam. Agar pak polisi bisa melihat rekaman cctv ini, oh iya! Samara dan Rayanza ke mana?" jawab Reza sambil bertanya balik pada Nayla. Karena ia tidak melihat keberadaan Samara dan Rayanza di sekitar sekolah.


"Mereka berdua sudah pergi ke kantor polisi, kamu sih kelamaan. Yuk kita juga pergi ke sana," balas Nayla yang mengajak Reza pergi ke kantor polisi.


Reza pun mengagukkan kepalanya, dan melangkah pergi ke arah mobilnya. Untuk pergi menyusul Samara dan Rayanza, yang sudah pergi terlebih dahulu ke kantor polisi.


Di perjalanan menuju kantor polisi.


Rayanza sesekali melirik ke arah Samara yang duduk di sampingnya, ia bisa melihat Samara yang masih bersedih dan menangis di dalam mobilnya.


"Aku tidak tega melihat kesedihanmu, Ra. Aku pasti akan berusaha mencari keberadaan ketiga anakmu," batin Rayanza.

__ADS_1


__ADS_2