
Rayanza yang sudah mengetahui tentang orang yang berniat menculik dan melukai Samara, segera menghubungi Samara untuk memberitahukan kepadanya.
Akan tetapi, Samara belum menerima panggilan telepon dari Rayanza. Karena Samara yang berada di toko kuenya, sedang sibuk melayani pembeli yang datang ke toko kuenya. Sehingga membuat Samara, tidak mendengar suara panggilan telepon dari Rayanza.
Di saat Samara sedang melayani pembeli. Santi ibunya Samara yang keluar dari dapur toko kuenya, mendengar suara panggilan telepon dari handphonenya Samara yang sedang di cas. Santi pun memutuskan untuk datang menghampiri Samara, yang sedang melayani pembeli yang datang membeli kue di toko kue milik Samara.
"Ra, itu dari tadi hp kamu bunyi terus," ucap Santi yang memberitahu pada Samara putrinya.
"Nih hpnya." Santi pun memberikan handphone yang berada di tangannya pada Samara.
Samara pun mengambil handphonenya, tanpa mengecek terlebih dahulu.
"Sudah kamu sana telepon balik, takut penting. Urusan melayani pembeli, biar ibu saja yang melayaninya." Santi pun menggantikan posisi Samara yang sedang melayani pembeli.
"Iya Bu. Kalau gitu, Samara pergi sebentar," izin Samara pada ibunya. Sebelum ia pergi meninggalkan ibunya, yang akan menggantikan dirinya dalam melayani pembeli.
Samara segera mengecek riwayat panggilan telepon, dan baru ia ketahui. Kalau Rayanza dari tadi terus menghubunginya.
"Ada apa yah! Rayanza terus menghubungiku?" gumam Samara. Ia pun segera menelepon balik Rayanza.
"Halo Ray, maaf tadi aku lagi melayani pembeli. Jadi tidak tahu, kalau kamu tadi meneleponku, " ucap Samara menjelaskan kepada Rayanza.
"Iya tidak apa-apa kok. Aku mengerti, tapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui Ra,'' sahut Rayanza.
"Apa itu Ray?" tanya Samara penasaran.
"Aku sudah mengetahui siapa pelakunya Ra," jawab Rayanza yang mulai memberitahukan kepada Samara, tentang Siska adiknya Arsyaka yang melakukan itu semuanya.
"Jadi Siska pelakunya Ray?" Samara tidak menyangka. Kalau Siska mantan adik iparnya, yang akan melakukan itu semua kepada dirinya.
"Iya benar Ra," balas Rayanza yang membenarkan pertanyaan Samara, yang ingin memastikan kebenarannya.
"Kamu dan keluargamu hati-hati di sana yah," lanjut Rayanza.
"Iya Ray, terima kasih atas informasinya," ucap Samara. Sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
_______________
Sementara itu.
__ADS_1
Arsyaka dan Retno yang datang ke kantor polisi. Untuk memberikan laporan kehilangan Siska, tidak langsung masuk ke kantor polisi. Mereka berdua pergi menemui Rayanza dan Nayla terlebih dahulu. Setelah selesai berbicara dengan Rayanza dan Nayla, yang berada di parkiran kantor polisi. Retno tiba-tiba saja kepalanya pusing, mendengar ucapan Rayanza yang menyebut nama Glen kekasihnya Siska.
"Aduh, kepala ibu jadi sakit begini sih," keluh Retno sambil memijit pelipisnya.
"Yuk, kita pulang saja." Retno mengajak Arsyaka pulang ke rumah.
"Ini kita sudah berada di depan kantor polisi Bu, nanti saja pulangnya. Setelah memberikan laporan kehilangan Siska pada polisi." Arsyaka menolak ajakan dari ibunya, yang mengajaknya pulang ke rumah.
"Ibu mau pulang sekarang." Retno bersikeras ingin secepatnya pulang ke rumah, dan tidak jadi memberikan laporan kehilangan Siska putrinya.
"Tapi Bu..."
"Ayo pulang," ajak Retno yang menyela ucapan Arsyaka.
"Oke kita pulang sekarang, tapi ingat yah bu. Arsyaka tidak mau mendengar ibu menangis, meminta Arsyaka mencari Siska." Arsyaka pun akhirnya menerima ajakan dari ibunya, yang ingin pulang ke rumah. Dengan satu syarat, ibunya tidak menyuruh dirinya untuk pergi mencari Siska adiknya. Karena semenjak Siska tidak pulang ke rumah, ibunya selalu menangis dan meminta pada Arsyaka untuk pergi mencari Siska.
"Iya, sudah cepat kita pulang," sahutnya.
Arsyaka dan Retno pun pergi meninggalkan kantor polisi, dan mengurungkan niatnya yang ingin melaporkan kehilangan Siska.
Sesampainya di rumah baru Arsyaka, ia langsung mengajak ibunya masuk ke dalam rumahnya.
"Tidak jadi melaporkan tentang kehilangan Siska pada polisi. Padahal sudah berada di depan kantor polisi, tapi ibu malah mengajak pulang." Arsyaka menjawab pertanyaan dari Chelsea sambil melirik ke arah ibunya.
"Ibu mau masuk ke kamar, dan mau istirahat dulu." Retno mengalihkan pembicaraan antara anak dan menantunya, ia pun segera masuk ke dalam kamarnya. Semenjak kehilangan Siska, Retno tinggal bersama dengan Arsyaka dan Chelsea di rumahnya.
"Mas, ibu tidak pulang ke rumahnya?" tanya Chelsea. Saat Retno sudah masuk ke dalam kamar.
"Biarkan ibu menginap di rumah ini, sampai Siska bisa di temukan. Kalau ibu pulang ke rumahnya, siapa yang akan mengurus ibu?" jawab Arsyaka.
"Terus Mas gak pergi bekerja?" tanya Chelsea yang melihat Arsyaka duduk di ruang tamu.
"Mas tadi pagi sudah minta ijin tidak masuk kerja. Karena Mas kira, ibu akan menyuruh Mas untuk pergi mencari Siska. Setelah memberikan laporan kehilangan Siska pada polisi," sahutnya memberitahu pada Chelsea istrinya.
"Oh," ucap Chelsea sambil berlalu pergi meninggalkan Arsyaka yang sedang duduk di ruang tamu.
"Kamu mau kemana Hanny?" Arsyaka yang melihat Chelsea pergi meninggalkannya, langsung bertanya kepada Chelsea.
"Aku mau ke kamar," balasnya tanpa menengok ke arah Arsyaka.
__ADS_1
Arsyaka yang mendengar Chelsea akan pergi ke kamar, langsung pergi menghampiri Chelsea yang masuk ke dalam kamar mereka berdua.
"Mas ngapain ikut aku ke sini?" tanya Chelsea yang melihat Arsyaka ada di belakangnya. Saat Chelsea akan menutup pintu kamarnya.
"Mas mau mengerjakan sesuatu di kamar ini," jawab Arsyaka sambil menatap genit ke arah Chelsea.
"Kerjaan apa?" tanyanya lagi.
"Ya apalagi. Kalau bukan ngerjain kamu," sahut Arsyaka yang langsung memeluk Chelsea dan mulai mencumbunya.
"Tapi ini masih siang Mas, terus di rumah ada ibu dan Bi Mirna." Chelsea menghentikan aksi Arsyaka yang sedang menciumnya.
"Aku tidak perduli," balas Arsyaka yang tetap melanjutkan apa yang ingin ia mau bersama dengan Chelsea istrinya. Chelsea pun pasrah saja, dengan apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu.
Akan tetapi saat mereka berdua, akan sampai pada titik puncak kenikmatan.
Tok-tok Suara pintu kamar mereka berdua di ketuk oleh pembantunya.
"Mas itu Bi Mirna ketuk pintu kamar kita," ucap Chelsea yang memberitahukan kepada Arsyaka.
"Sudahlah hiraukan saja," sahut Arsyaka sambil terus melanjutkan aktivitas panasnya bersama Chelsea.
"Tuan, Nyonya di depan ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan," teriak Mirna pembantunya.
"Aduh, ngapain sih Bi Mirna ganggu orang lagi enak-enak saja," batin Arsyaka yang kesal pada pembantunya.
Ia pun segera mempercepat aktivitasnya. Sebelum pergi menemui pembantunya, yang terus-menerus mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa Bi?" tanya Arsyaka yang sudah membukakan pintu kamarnya, dengan wajah kesal.
"Itu di depan ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan," jawabnya sambil terus menundukkan kepalanya. Karena melihat wajah Arsyaka yang seperti kesal kepada dirinya.
"Ya sudah sana buatkan minuman, nanti aku akan pergi menemuinya." Arsyaka langsung menutup pintu kamar dengan kasar, meluapkan kekesalannya pada pembantunya.
Mirna pun segera pergi meninggalkan kamar Arsyaka dan Chelsea, dan pergi ke dapur.
"Mas mau pergi ke ruang tamu dulu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Mas," ucap Arsyaka yang memberitahu pada Chelsea sambil memakai pakaiannya.
"Emang siapa tamunya Mas?" tanya Chelsea.
__ADS_1
"Tidak tahu Hanny," jawab Arsyaka sambil mendekati Chelsea dan mencium bibirnya sebelum pergi meninggalkan Chelsea.