Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 31 Mengetahui Kebenarannya


__ADS_3

Samara dan ketiga anaknya yang akan masuk ke dalam rumah, di panggil oleh Bi Siti pembantunya yang datang menemuinya di depan rumah Samara.


"Nyonya!" panggil Bi Siti.


Samara pun menengok ke belakang, dan melihat Bi Siti yang ternyata datang ingin menemuinya.


"Ada apa Bi?" tanya Samara.


"Bisakah saya berbicara dengan Nyonya sebentar, tapi tidak di sini. Karena sepertinya di dalam rumah sedang ada ibunya Tuan dan juga tamu," jawab Bi Siti yang ingin mengajak Samara berbicara dengannya.


"Baiklah Bi, kita pergi ke restoran terdekat yang berada di sekitar sini. Karena ketiga anakku belum makan siang." Samara pun menerima ajakan dari Bi Siti yang ingin berbicara dengannya.


"Sayang, kita makan ke restoran dulu yah. Karena kebetulan bunda belum masak," kilah Samara. Agar ketiga anaknya mau pergi bersamanya.


Ketiga anaknya Samara menganggukkan kepalanya, dan mengikuti Samara yang sudah duduk di motor. Samara segera menyalakan mesin motornya, dan pergi meninggalkan rumahnya.


Sedangkan Bi Siti dan tukang ojeknya pergi mengikuti Samara, yang akan pergi ke restoran.


Sesampainya di sebuah restoran.


Samara segera memesan makanan dan minuman. Untuk ketiga anaknya dan juga Bi Siti mantan pembantunya, yang ingin berbicara dengannya.


"Sayang, nanti pesenan makanannya akan segera datang. Bunda dan Bi Siti pergi ke sana dulu ya," tunjuk Samara ke arah meja makan yang tidak jauh dari tempat duduk ketiga anaknya.


"Iya Bun," sahut ketiga anaknya Samara.


Samara dan Bi Siti pun duduk saling berhadapan, dan Samara menunggu ucapan dari Bi Siti yang ingin berbicara dengan dirinya.


"Apa yang ingin Bibi katakan padaku?" tanya Samara penasaran.


"Begini..... Nyonya..... Saya...." ucap Bi Siti yang masih terlihat ragu-ragu dengan apa yang akan dia katakan pada Samara.


"Apa Bi?" Samara menggenggam tangan Bi Siti, sambil menatap matanya. Berharap Bi Siti segera mengatakan, apa yang ingin dia sampaikan pada Samara.

__ADS_1


Bi Siti yang melihat tatapan mata dari Samara, meyakinkan hatinya. Untuk mengatakan yang harus di ketahui oleh Samara.


"Aku harus memberitahukan kepada Samara, dia wanita yang baik. Tapi mendapatkan mertua yang jahat seperti Retno," gumam Bi Siti di dalam hatinya. Bi Siti menghembuskan nafas panjang, sebelum menceritakan pada Samara.


"Saya mendengarkan pembicaraan antara mertuanya Nyonya dengan seseorang di telepon, yang mengatakan......" Bi Siti pun mengingat kejadian saat dirinya masih menjadi pembantu Samara, dan keadaan di rumahnya Samara. Sedang tidak ada Samara, karena Samara mengurus Arsya yang sedang di rawat di rumah sakit.


***


Flashback.


Bi Siti yang sedang menyapu lantai di dalam rumah Samara, tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Retno dengan seseorang yang mengurus kepemilikan harta warisan milik almarhum suaminya. Agar harta warisan itu, hanya jatuh ke tangan Retno dan anaknya, ia tidak ingin kedua orang tuanya Samara mendapatkan pembagian hasil warisan dari almarhum suaminya.


Karena harta warisan itu, adalah hasil usaha kerja sama antara orang tuanya Samara dengan ayah mertuanya. Dan harta itu, di bagi rata oleh almarhum suaminya Retno. Tapi Retno yang serakah, ingin menguasai harta itu tanpa harus berbagi dengan kedua orang tuanya Samara.


"Kerja bagus pak Dahlan, berarti sebentar lagi lahan yang sedang di garap oleh Anton, akan menjadi milikku?" ucap Retno yang ingin memastikan kebenarannya pada pak Dahlan, yang merupakan orang kepercayaannya. Pak Dahlan orang yang telah membantu Retno, dalam memiliki apa yang di inginkan olehnya.


"Iya Bu Retno, Anton dan Santi serta anak-anaknya tidak akan mendapatkan harta warisan itu. Karena semuanya sudah saya urus atas nama Bu Retno," sahutnya.


Prang! Suara benda terjatuh, akibat Bi Siti yang tidak sengaja menyenggolnya.


"Kamu sedang apa di sana?" geram Retno pada Bi Siti, yang ia yakini telah mendengar pembicaraan antara dirinya dengan pak Dahlan di telepon.


"Saya...." Bi Siti yang gugup dan bingung untuk menjawab pertanyaan dari Retno.


Retno yang kesal pada Bi Siti, langsung menarik tangannya Bi Siti dan membawanya keluar dari dalam rumah Samara dan Arsyaka.


"Mulai hari ini kamu saya pecat," ucap Retno mendorong Bi Siti di depan rumah.


Arsyaka yang baru pulang menjemput Candra dan Kirana dari sekolah, melihat kejadian saat Bi Siti di pecat oleh Retno.


"Ada apa ini Bu?" tanya Arsyaka yang datang menghampiri Retno.


"Candra, Kirana. Kalian berdua masuk ke dalam rumah," titah Retno kepada Candra dan Kirana.

__ADS_1


"Iya Omah." Candra dan Kirana pun segera masuk ke dalam rumah.


Setelah melihat Candra dan Kirana sudah masuk ke dalam rumah. Retno mengatakan pada Arsyaka, agar memecat Bi Siti pembantunya.


"Ibu mau kamu memecat dia, kamu itu tidak perlu menggunakan pembantu lagi. Karena sekarang ini, keuangan kamu tidak seperti dulu lagi,"


"Yang ibu katakan ada benarnya juga. Sebaiknya aku tidak perlu menggunakan pembantu lagi. Agar uang yang harus di gaji pada Bi Siti, bisa aku berikan pada Chelsea,'' batin Arsyaka yang setuju dengan pendapat ibunya.


"Maaf yah Bi. Sepertinya aku tidak bisa memperkerjakan Bi Siti lagi, dan ini uang gaji untuk Bibi." Arsyaka pun memberikan uang gaji pada Bi Siti.


Tapi uang itu malah di ambil oleh Retno. "Biarkan ibu yang memberikan uang ini padanya, kamu masuk temani anakmu makan." Retno menyuruh Arsyaka masukkan ke dalam rumahnya.


"Ingat Siti, apa yang kamu dengar saat aku berbicara di telepon. Jangan sampai! Kamu katakan pada Samara, kalau sampai kamu mengatakannya! Aku akan menyuruh orang-orang untuk mencelakai keluargamu." Retno mengancam Bi Siti, dan melemparkan uang gaji ke arah Bi Siti.


"Cepat kamu pergi dari sini!" Retno mengusir Bi Siti.


"Ta_pi Dompet saya, a...da di dalam," ucap Bi Siti ketakutan.


"Cepat ambil! Setelah itu, kamu pergi dari sini. Jangan sampai kamu datang ke rumah ini lagi!" Retno menyuruh Bi Siti masuk ke dalam, untuk mengambil dompetnya yang berada di dapur.


Sebelum Bi Siti pergi meninggalkan rumah Samara dan Arsyaka, ia berpamitan terlebih dahulu kepada Candra dan Kirana. Barulah ia pergi meninggalkan rumah majikannya.


Flashback off.


***


Samara mengepalkan tangannya, ia geram mendengar ucapan dari Bi Siti, yang menceritakan tentang apa yang di lakukan oleh mertuanya.


"Dasar keluarga licik, sudah menyakiti hatiku. Kini mereka mau menguasai harta kedua orang tuaku, tidak akan aku biarkan itu terjadi," batin Samara.


"Tapi Bibi mohon. Nyonya jangan bilang, mengetahui itu semua dari Bibi," ucap Bi Siti.


"Iya Bi. Bibi tenang saja, aku mengucapkan terima kasih. Karena Bibi telah memberikan informasi penting ini kepadaku." Samara mengucapkan rasa terima kasih kepada Bi Siti sambil tersenyum, ia merasa terharu sekali. Karena masih ada orang-orang baik, yang akan membantunya dari keluarga Arsyaka yang telah menyakiti hatinya.

__ADS_1


__ADS_2