Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 56 Kebingungan hati Samara


__ADS_3

Samara begitu kaget melihat kedatangan Rayanza dan Ervan yang datang ke rumahnya, sambil membawa kedua orang tuanya masing-masing.


"Assalamualaikum," ucap Rahayu mamanya Rayanza sambil tersenyum manis pada Samara.


"Waalaikumsalam, mari masuk ke dalam Tante. Om, dan Rayanza serta Ervan," jawab Samara sambil mempersilahkan mereka semua masuk ke dalam rumahnya.


Mereka semua pun masuk ke dalam rumah Samara, dan mereka semua Samara ajak ke ruang tamu dimana ada ketiga anaknya Samara yang sedang menonton televisi.


"Ada Om Ray, sama Om Ervan datang ke sini," lirih Kirana yang melihat kedatangan Rayanza dan Ervan.


"Eh, iya. Yuk kita salaman." Candra mengajak kedua adiknya untuk bersalaman dengan mereka semua.


"Iya kak," sahut Kirana dan Arsya secara bersamaan.


Ketiga anaknya Samara pun pergi menghampiri mereka semua untuk bersalaman.


"Sudah lama tidak bertemu dengan ketiga anakmu, sekarang sudah tumbuh besar yah," ucap Rahayu mamanya Rayanza yang melihat ketiga anaknya Samara, yang datang bersalaman kepadanya.


"Iya Tante. Ayo silahkan duduk," balas Samara sambil mempersilahkan mereka semua untuk duduk di ruang tamunya.


"Saya panggil ibu dan bapak dulu ya Om, Tante," lanjut Samara yang akan pergi meninggalkan mereka semua di ruang tamu. Karena Samara akan pergi menemui kedua orang tuanya, yang berada di dalam kamar.


Ketika Samara pergi meninggalkan mereka semua, ketiga anaknya Samara datang menghampiri Rayanza.


"Om Ray, sekarangkan bukannya hari Sabtu dan Minggu, kok Om sudah datang ke sini?" tanya Arsya pada Rayanza sambil duduk di pangkuan Rayanza.


"Sekarang Om dan mama, papa Om tinggal di sini," jawab Rayanza.


"Beneran Om tinggal di sini?" Kirana pun ikut bertanya pada Rayanza. Untuk memastikan kebenarannya.


"Iya benar," sahutnya.


"Terus rumah Om di mana?" Candra pun ikut bertanya, seperti kedua adiknya.


"Rumah Om tidak jauh dari sini," jelas Rayanza.


"Yeh asik, aku tiap hari bisa ketemu sama Om Ray dong," sorak bahagia Arsya dan di ikuti oleh kedua kakaknya, yang senang mendengar Rayanza akan tinggal di Surabaya.


Suara ketiga anaknya Samara di ruang tamu, membuat Vina anaknya Ervan berbisik di telinganya Ervan. "Pah, aku tidak suka melihat Candra dan Kirana serta Arsya dekat dengan Om Ray."


"Tidak boleh gitu, cantik." Ervan pun ikut berbisik di telinga Vina.

__ADS_1


Tidak lama kemudian.


Anton dan Santi yang di beritahu oleh Samara, tentang kedatangan tamu yang ada di dalam rumahnya. Kini mereka berdua sudah berada di ruang tamu. Untuk menemui tamu yang sudah duduk dalam ruang tamunya.


"Rupanya di sini ada tamu," ucap Anton berbasa-basi pada tamu yang datang ke rumahnya.


Anton dan Santi pun bersalaman kepada mereka semua.


Samara dan Rina adiknya, keluar dari dapur sambil membawa minuman dan kue serta camilan. Untuk para tamu yang datang ke rumahnya.


"Silahkan di minum dan di cicipi kue dan camilannya." Samara menawarkan minuman dan makanan, yang ia bawa bersama adiknya Rina.


Mereka semua pun membalas tawaran dari Samara, dengan mengagukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Anak-anak, yuk kita main di luar." Rina mengajak ketiga ponakannya main di luar rumahnya.


"Iya Mbak," sahut ketiga anaknya Samara secara bersamaan.


"Bun, Om Ray sekarang tinggal di sini loh," ucap Arsya yang memberitahu Samara. Sebelum ia pergi ke luar rumah bersama Rina.


Samara yang kaget mendengar ucapan dari Arsya, langsung menanyakan kebenarannya pada Rayanza. "Kamu serius pindah ke sini?"


"Iya Ra," balas Rayanza.


"Iya sayang, sudah sana pergi bermain sama Mbak Rina." Samara menyuruh ketiga anaknya. Untuk pergi bermain bersama dengan adiknya Rina.


"Vina tidak ikut bermain bersama di luar?" tanya Samara pada Vina, yang masih duduk di dekat Ervan.


"Vina sana ikut pergi bermain bersama Candra dan Kirana serta Arsya," bisik Ervan di telinga Vina.


"Iya pah, tapi ingat yah! Papa harus mengatakan apa yang aku mau," balas Vina.


Ervan menganggukkan kepalanya. Vina yang melihat itu, langsung pergi dari ruang tamu dan ikut bermain bersama dengan ketiga anaknya Samara.


Setelah ketiga anaknya Samara dan Vina pergi meninggalkan mereka semua yang berada di ruang tamu. Anton pun bertanya tentang kedatangan mereka semua, yang datang ke rumahnya.


"Begini pak Anton, saya datang ke sini mau menawarkan pekerjaan untuk Samara di perusahaan saya yang ada di kota ini," ucap Haidar papanya Rayanza.


"Tante dan Om sangat berharap kamu mau bekerja di perusahaan Om sebagai Direktur Keuangan," timpal Rahayu mamanya Rayanza.


"Loh kok papa dan mama malah mengatakan itu sih?" batin Rayanza yang bingung dengan ucapan kedua orang tuanya. Rayanza pun menepuk pelan tangan mamanya.

__ADS_1


Rahayu membiarkan Rayanza yang terus menepuk pelan tangannya. Rayanza yang tidak mendapat jawaban dari mamanya, hanya bisa berdecak kesal dengan ucapan kedua orang tuanya, yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Saya sebagai orang tuanya Samara, tidak melarang Samara bekerja di perusahaan pak Haidar. Apalagi pekerjaan yang di tawarkan oleh pak Haidar sesuai dengan gelar Samara yang menjadi sarjana Ekonomi, maka dari itu saya kembalikan lagi semua ke putusannya pada Samara," tutur Anton.


Samara yang mendengar itu, menatap ke arah ibu dan bapaknya.


"Ibu setuju, jika kamu mau bekerja di perusahaan pak Haidar. Masalah toko kue, ibu dan bapak bisa kok mengerjakannya," sahut Santi yang mengetahui Samara meminta pendapatnya.


"Sepertinya aku harus menerima tawaran dari papanya Rayanza. Karena aku tidak bisa mengandalkan semua kebutuhan rumah di toko kue, yang baru saja aku rintis. Apalagi sebentar lagi Rina akan masuk kuliah," batin Samara.


"Bagaimana Samara?" tanya Rahayu.


"Saya akan menerima tawaran dari Om, Tante." Samara pun menerima tawaran pekerjaan dari papanya Rayanza.


"Alhamdulillah, kalau begitu besok Om tunggu kedatangannya di perusahaan," ucap Haidar sambil tersenyum, mendengar jawaban dari Samara yang mau bekerja di perusahaannya.


"Iya Om," sahut Samara.


"Samara menerima tawaran dari papa, itu tandanya aku bisa lebih dekat dengan Samara di kantor. Aku tidak akan membiarkan Samara bisa dekat dengan Ervan," batin Rayanza yang tersenyum senang, mendengar Samara menerima tawaran pekerjaan dari papanya.


"Tante dan Om pamit pulang duluan, nanti besok pagi kamu akan Rayanza jemput." Rahayu berpamitan pergi kepada Samara dan kedua orang tuanya.


Samara pun mengantarkan Rayanza dan kedua orang tuanya yang akan pulang. Setelah kepergian Samara dan Rayanza serta kedua orang tuanya. Anton langsung bertanya tentang kedatangan Martin temannya, yang datang bersama istrinya dan juga Ervan serta Vina cucunya.


"Kedatangan saya ke sini mau melamar Samara menjadi menantu saya," ucap Martin berterus terang.


"Tapi Samara itu baru selesai dari masa Iddah nya," timpal Anton yang kaget dengan ucapan Martin temannya, yang ingin melamar Samara menjadi menantunya.


"Maka dari itu, saya melamar Samara untuk putra saya Mas. Toh sekarang Samara sudah menjadi janda, cocoklah dengan Ervan putra saya ini," sahut Erina istri Martin.


"Saya berharap, Samara mau menerima lamaran saya, pak." Ervan pun ikut berbicara tentang keinginannya, yang ingin melamar Samara menjadi istri dan ibu sambung untuk putrinya.


"Semuanya itu, saya serahkan pada Samara," jelas Anton yang tidak mau ikut campur dengan keputusan yang akan Samara ambil nantinya.


Samara yang sudah mengantarkan Rayanza dan kedua orang tuanya, kini kembali datang ke ruang tamu.


"Samara, sini duduk sama Tante." Erina yang melihat kedatangan Samara, langsung menyuruh Samara untuk duduk di dekatnya.


"Iya Tante." Samara pun segera pergi menghampiri Erina dan duduk di dekatnya.


"Samara, Tante mau melamar kamu menjadi istri Ervan putra Tante. Apalagi Vina cucu Tante sangat berharap sekali, ingin kamu menjadi ibu sambungnya," ucap Erina yang memberitahukan kepada Samara, tentang tujuannya yang datang ke rumah ini.

__ADS_1


Samara yang mendengar itu, benar-benar kaget. Samara menjadi bingung dengan jawaban yang akan ia katakan pada Ervan dan kedua orang tuanya.


__ADS_2