
"Huuuh sial, ternyata peluru pistol ini sudah habis. Pantas saja dia berani menggigit tanganku ini, ternyata dia sudah mengetahui isi di dalam peluru pistol miliknya yang tinggal sedikit lagi." Samara berdecak kesal. Karena pistol yang berada di tangannya, ternyata sudah habis isi pelurunya. Sehingga lelaki itu bisa pergi meninggalkannya, dan tidak takut jika Samara menembaknya.
Rayanza yang sedang berlari menghampiri Samara. Kini sudah berada di dekat Samara, ia pun segera menanyakan keadaan Samara.
"Are you okay?" tanyanya pada Samara.
Samara menjawab pertanyaan dari Rayanza, dengan mengagukkan kepalanya.
"Syukurlah," sahut Rayanza menghembuskan nafas lega. Karena melihat keadaan Samara yang baik-baik saja.
"Ray, kamu bisa minggir dulu tidak?"ucap Samara yang menyuruh Rayanza. Untuk minggir dari hadapannya.
"Kenapa Ra?" Rayanza bingung dengan ucapan Samara, yang menyuruhnya minggir dari hadapannya. Tapi meskipun begitu, Rayanza tetep mengikuti ucapan Samara, ia pun segera menggeser posisinya ke arah samping Samara.
Samara kini bisa melihat lelaki itu, yang berusaha pergi dari sini. Saat Rayanza menggeser posisinya, yang sekarang ini tidak berada di hadapannya.
"Aku harus membuat orang itu bisa tertangkap oleh polisi," batin Samara yang mendapatkan sebuah ide. Agar lelaki itu bisa tertangkap oleh polisi, sehingga Samara bisa mengetahui, siapa orang yang telah menyuruh mereka untuk menculik dirinya.
Samara segera menjalankan ide yang ia dapatkan.
Samara mencoba mengambil sepatu hak miliknya, yang berada di kakinya. Untuk melemparkan sepatu haknya ke arah lelaki itu, sepatu hak yang Samara lemparkan ke arah lelaki itu, berhasil mengenai kaki lelaki itu. Sehingga membuat dirinya terjatuh ke bawah tanah, dan tidak bisa pergi dari sini. Karena mobil polisi baru saja datang, saat lelaki itu terjatuh terkena sepatu hak yang di lemparkan oleh Samara.
Para polisi yang datang pun segera mengejar orang-orang yang hendak menculik Samara. Polisi akhirnya berhasil menangkap dua orang lelaki, yang tidak bisa pergi jauh dari sekitar sini. Karena keadaan mereka berdua terluka, yang satu kakinya terluka di tembak oleh Samara. Sedangkan yang satunya lagi, di tusuk pahanya oleh Samara dengan menggunakan pisau lipat.
"Alhamdulillah. Akhirnya polisi sudah datang, dan berhasil menangkap dua orang itu." Samara senang melihat kedatangan para polisi, yang berhasil menangkap dua orang dari ke lima orang yang hendak menculiknya. Karena yang tiga orang itu berhasil melarikan diri, dan sudah pergi menjauh dari tempat kejadian.
"Aku bantu kamu berdiri ya," ijin Rayanza pada Samara, yang masih duduk di bawah aspal jalan.
"Tidak usah Ray, aku bisa berdiri sendiri kok," jawab Samara. Ia pun segera bangun dari tempat duduknya, dan berusaha untuk berdiri tanpa harus di bantu oleh Rayanza.
Salah satu dari polisi pun datang menghampiri Samara dan Rayanza.
"Apakah kondisi Mbak ada yang terluka?" tanya pak polisi pada Samara.
"Hanya mengalami luka ringan saja pak," sahut Samara.
"Kami dari pihak polisi, akan meminta keterangan dari Mbak. Tapi sebelum kami menanyakan itu semua, alangkah baiknya luka Mbak di obati terlebih dahulu. Karena kami juga akan mengantar Mbak dan juga kedua orang itu pergi ke rumah sakit," tutur pak polisi yang mengajak Samara pergi ke rumah sakit.
"Tapi pak, sebentar lagi jadwal keberangkatan...."
"Ara, sudah ikuti saja perintah dari pak polisi." Rayanza segera memotong ucapan Samara, yang ingin segera pergi ke Surabaya. Karena sebentar lagi jadwal keberangkatan pesawat, yang akan menuju Surabaya akan terbang.
__ADS_1
"Pak, saya akan mengantar teman saya ini ke rumah sakit terdekat di sekitar sini, dengan menggunakan mobil saya," lanjut Rayanza yang memberitahukan kepada pak polisi. Kalau ia akan mengajak Samara pergi ke rumah sakit dengan mobilnya.
"Ya sudah silahkan," pak polisi pun mempersilahkan Rayanza membawa Samara pergi ke rumah sakit.
Rayanza dan Samara pun segera naik ke dalam mobil Rayanza, dan pergi menuju rumah sakit terdekat. Untuk mengobati luka yang Samara alami.
Di dalam mobil.
Saat perjalanan menuju rumah sakit. Rayanza menanyakan kepada Samara, tentang kejadian yang Samara alami. Sebelum Rayanza datang ke tempat kejadian. Samara pun menceritakan semua kejadian itu pada Rayanza. Dan di saat Samara bercerita pada Rayanza, handphone milik Samara berdering. Samara pun mengakhiri ceritanya itu. Karena ia mau menerima panggilan telepon dari Nayla.
"Aku angkat panggilan telepon dari Nayla dulu ya, Ray." Samara meminta izin pada Rayanza. Untuk menerima panggilan telepon dari Nayla.
"Iya angkat saja Ra," sahutnya.
"Ra, kamu sudah berangkat ke Surabaya?" tanya Nayla. Saat Samara menerima panggilan telepon darinya.
"Belum Nay, aku sepertinya tidak jadi berangkat ke Surabaya hari ini. Karena tadi ada orang yang mau menculik ku..."
"Terus bagaimana keadaan kamu Ra?" Nayla menyela ucapan Samara. Karena ia mencemaskan keadaan Samara, yang akan di culik.
"Aku hanya mengalami luka ringan saja. Kamu jangan khawatir begitu Nay, masa kamu lupa sih? Kalau aku itukan bisa bela diri," jawab Samara yang mengetahui kecemasan Nayla kepada dirinya.
"Aku dan Rayanza sekarang ini, akan pergi ke rumah sakit," lanjutnya lagi.
"Iya Nay, tidak apa-apa, aku juga mengerti kok. Alhamdulillah aku baik-baik saja, cuman mengalami sedikit luka ringan. Aku matikan panggilan teleponnya yah, Nay. Soalnya aku dan Rayanza sudah sampai di rumah sakit." Samara pun segera mematikan panggilan telepon dari Nayla. Setelah itu, ia dan Rayanza segera keluar dari dalam mobil. Untuk masuk ke dalam rumah sakit mengobati lukanya.
Samara dan Rayanza yang sudah masuk ke dalam rumah sakit, langsung pergi mendaftar no antrian untuk mengobati luka Samara.
Tidak lama kemudian.
Tibalah nomor antrian Samara di panggil oleh suster.
"Samara Ananda Putri," suster memanggil nama Samara.
"Iya sus," sahut Samara.
"Ray, aku ke masuk ke dalam ruangan Dokter dulu. Kamu tetap di sini saja ya," lanjut Samara yang pergi meninggalkan Rayanza.
"Ya sudah," jawab Rayanza.
Samara pun segera pergi menghampiri suster, yang telah memanggil namanya.
__ADS_1
"Ayo Bu masuk ke dalam," suster mempersilahkan Samara. Untuk masuk ke dalam ruangan Dokter, dan sesampainya di dalam ruangan Dokter. Samara langsung mendapatkan penanganan dari Dokter, yang akan mengobati luka Samara.
Setelah selesai mengobati luka Samara. Dokter menyuruh Samara duduk di kursi ruangannya. Karena Dokter akan menulis resep obat untuk Samara.
"Lukanya tidak ada yang serius ya Bu, saya tulis dulu resep obatnya." Dokter pun segera menulis resep obat untuk Samara.
"Nanti resep obatnya ibu tebus di apotik, ini resep obatnya. Semoga ibu cepat sembuh," ucap Dokter sambil memberikan resep obat itu pada Samara.
"Iya Dok, terima kasih." Samara menerima resep obat dari Dokter. Setelah itu Samara pergi dari ruangan Dokter, dan menghampiri Rayanza yang sedang menunggunya.
"Sudah diperiksanya Ra?" tanya Rayanza yang melihat Samara sudah keluar dari dalam ruangan Dokter.
"Iya sudah Ray, ini tinggal tebus resep obatnya saja." Samara menunjukkan resep obat dari Dokter pada Rayanza.
"Yuk kita pergi ke apotik," ajak Samara pada Rayanza.
Rayanza pun segera bangun dari tempat duduknya, dan pergi mengikuti Samara yang akan pergi ke apotik yang berada di rumah sakit ini. Saat Samara sedang menunggu pengambilan obat di apotik, ia menerima panggilan telepon dari ibunya.
"Assalamualaikum. Nak, kamu sudah sampai mana?" tanya Santi ibunya Samara.
"Waalaikumsalam. Maaf yah Bu, sepertinya aku tidak bisa pulang hari ini, tolong sampaikan pada anak-anak ya Bu," jawab Samara yang meminta maaf pada ibunya. Karena ia tidak bisa pulang hari ini ke Surabaya.
"Iya Nak, apakah permasalahan kamu dan Arsyaka belum selesai? Soalnya ibu di sini mencemaskan kamu, takut terjadi sesuatu pada kamu Nak," ujar Santi yang mengkhawatirkan putrinya.
"Nanti Samara ceritakan semuanya, ibu cukup doakan Samara saja. Semoga permasalahan ini bisa cepat selesai." Samara tidak mau menceritakan kepada ibunya, tentang orang-orang yang mau menculiknya. Karena Samara tidak mau membuat ibunya, semakin mencemaskan dirinya.
"Aamiin, kamu baik-baik ya di sana," ucap Santi sebelum mematikan panggilan telepon.
"Sudah selesai teleponnya, Ra?" tanya Rayanza sebelum mengajak Samara pergi dari rumah sakit. Karena saat Samara menerima panggilan telepon dari ibunya. Rayanza mengambil resep obat Samara di apotik.
"Sudah Ray," sahutnya.
"Ini resep obatnya sudah aku ambil." Rayanza memberikan resep obat pada Samara.
"Terima kasih Ray." Samara menerima resep obat itu.
"Yuk kita pergi ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan." Rayanza mengajak Samara pergi ke kantor polisi.
Samara dan Rayanza pun segera pergi meninggalkan rumah sakit, dan akan pergi ke kantor polisi.
"Aku sangat penasaran sekali dengan orang yang mau menculik kamu," ucap Rayanza sambil berjalan pergi ke arah mobilnya.
__ADS_1
"Iya Rey, aku juga penasaran," timpal Samara yang juga penasaran dengan orang yang berniat menculik dirinya.
"Apa jangan-jangan! Orang itu adalah Arsyaka dan ibunya," ucap Rayanza.