
"Kita mau pergi ke mana sekarang ini?" tanya Retno pada Arsyaka sambil berjalan kaki, melangkah pergi meninggalkan rumah Chelsea.
"Mungkin kita akan pergi mencari kontrakan Bu," sahutnya.
"Ngapain kita harus mencari kontrakan? Kita pulang saja ke Jakarta. Di sana kita punya tempat tinggal, tanpa harus pergi mencari kontrakan." Retno mengajak Arsyaka pulang ke rumahnya yang berada di kota Jakarta.
"Tapi Bu, uang gajiku tidak cukup untuk membeli tiket pesawat. Kalau kita berdua memutuskan pulang ke Jakarta, aku juga susah mendapatkan pekerjaan di sana. Lebih baik, kita berdua tetap tinggal di kota Surabaya, kita mengadu nasib di kota ini, yah Bu." Arsyaka menolak ajakan ibunya, yang ingin pulang ke Jakarta, dan mengajak ibunya untuk mengadu nasib di kota Surabaya.
"Ya sudahlah," timpal Retno yang pasrah dengan keadaan yang menimpanya dan juga Arsyaka. Sehingga membuat Arsyaka bercerai dengan Chelsea, dan tidak memiliki pekerjaan serta tempat tinggal. Untuk mereka berdua tempati, selama tinggal di kota Surabaya.
Arsyaka dan Retno ibunya terus melangkahkan kakinya mencari sebuah kontrakan. Agar mereka berdua memiliki tempat tinggal, selama tinggal di kota Surabaya.
*****
Di dalam mobilnya Rayanza.
Samara dan Rayanza yang akan pergi bekerja ke kantor. Setelah mereka berdua mengantarkan ketiga anaknya Samara pergi ke sekolah.
Samara yang berada di dalam mobil Rayanza, melihat Arsyaka dan Retno ibunya yang membawa dua koper sambil berjalan kaki.
"Ray, sepertinya tadi itu aku melihat Arsyaka dan ibunya, mereka berdua jalan kaki sambil membawa koper," ucap Samara yang memberitahukan kepada Rayanza.
"Mungkin saja, Arsyaka dan ibunya mau pulang ke Jakarta," timpal Rayanza.
"Iya bisa jadi, soalnya mereka berdua membawa koper. Tapi bagaimana dengan janjiku pada ketiga anakku Ray? Mereka bertiga ingin bertemu dengan ayahnya," tanya Samara yang sedang bingung. Karena ia sudah terlanjur janji dengan ketiga anaknya, yang ingin bertemu dengan Arsyaka.
"Nanti hari weekend kita ajak mereka bertiga pergi ke Jakarta, kamu jangan bingung seperti itu Ra." Rayanza menjawab pertanyaan Samara sambil menengok ke arahnya.
__ADS_1
"Iya kamu benar Ray. Setelah kita mengetahui Arsyaka dan Chelsea yang sudah pulang dari rumah sakit, kita sudah beberapa hari ini pergi mencari tempat tinggal Arsyaka dan Chelsea yang tinggal di kota ini. Tapi sayangnya, kita tidak berhasil menemukan tempat tinggal mereka berdua. Tapi sekarang ini, kita tidak perlu mencari tempat tinggal Arsyaka di kota ini lagi." Samara bisa bernafas lega. Karena ia tidak perlu capek-capek mencari tempat tinggal Arsyaka di kota ini, sebab Arsyaka dan ibunya sudah pulang ke kota Jakarta.
"Oh iya, nanti siang kamu temani aku meeting di restoran yah." Rayanza mengajak Samara untuk menemaninya meeting di sebuah restoran yang berada di kota Surabaya.
"Tapi..."
"Kamu tidak bisa menolak ajakanku. Karena kamu hanya cukup menemaniku saja, oke." Rayanza langsung memotong ucapan Samara yang belum selesai berbicara.
"Baiklah, aku tidak bisa menolak ajakan dari anaknya bos, hehehe..."
"Serius nih."
"Iya serius lah," balasnya sambil tersenyum manis.
"Ini kesempatanku untuk mengatakan perasaanku ini pada Samara, semoga saja Samara..."
"Aku tidak akan menolak ajakan dari kamu Ray. Kalau itu semuanya dalam urusan pekerjaan di kantor," lanjutnya sambil melihat ke arah Rayanza yang sedang menyetir mobil. Samara menyela ucapan Rayanza yang sedang berbicara di dalam hatinya.
"Kamu kenapa Ray?" tanya Samara yang melihat raut wajah Rayanza berubah masam.
"Tidak apa-apa kok," sahutnya sambil tersenyum.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan, menuju perusahaan papanya Rayanza.
___________
Sementara itu di dalam rumah Chelsea. Linda melihat Chelsea yang bersedih, ketika Arsyaka dan Retno ibunya sudah pergi meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
"Kamu jangan bersedih menangisi lelaki seperti Arsyaka, dari dulu mama itu sebenarnya tidak pernah setuju kamu menikah dengannya. Mama terpaksa menerima Arsyaka menjadi menantu mama saat itu. Karena kondisi kamu yang sudah berbadan dua, sudah hapus air matamu itu! Mama akan memperkenalkan kamu dengan anak temannya mama di kota ini," ucap Linda yang menyuruh Chelsea menghapus air matanya.
"Aku bersedih bukan karena Mas Arsyaka mah, aku bersedih karena anakku sudah meninggal dunia. Tapi mama dan papa tidak datang di saat aku kehilangan anakku," sahut Chelsea sambil berlinang air mata.
Linda segera memeluk Chelsea dan mengusap punggungnya.
"Sudahlah kamu jangan bersedih lagi, nanti kamu pasti bisa memiliki anak lagi. Jika kamu menikah dengan anak temannya mama." Linda mengusap air mata Chelsea.
"Mama bukanya tidak mau pergi ke sini, saat kamu kehilangan anakmu untuk selama-lamanya. Papa saat itu marah besar sama mama, dan tidak percaya dengan ucapan mama yang mengatakan anakmu meninggal dunia. Papa hanya berpikir itu cuman alasan mama saja, yang ingin pergi menemuimu," jelas Linda yang mengatakan yang sebenarnya. Kalau ia tidak mendapatkan ijin dari Rasyid suaminya. Saat Chelsea dan Arsyaka kehilangan bayinya untuk selama-lamanya.
"Mama berusaha membujuk papamu. Untuk mengijinkan mama pergi ke kota ini, dan akhirnya sekarang ini, mama bisa pergi menemuimu di sini. Hidup mama tidak bahagia menikah dengan papa tirimu. Semenjak kakak tirimu menceritakan tentang perbuatan mama, yang mengambil uang sumbangan untuk anak yatim piatu. Dari situ papa selalu mengekang mama pergi kemanapun, bahkan jatah uang bulanan mama pun berkurang. Papamu memang seorang pengusaha yang sukses dan kaya raya, tapi mama sebagai seorang istri di perlakukan seperti pembantu." Linda mengepalkan tangannya. Jika mengingat kejadian itu, ia pun menjeda sebentar ucapannya, dan menghela nafas sambil menutup mata dan membuangnya secara kasar. Sebelum ia melanjutkan kembali, apa yang ingin ia katakan pada Chelsea anaknya.
"Kamu tahu sendirilah, mama setiap hari harus melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa di bantu oleh pembantu. Mama pernah mempekerjakan seorang pembantu, dan kamu juga sudah tahukan. Kalau mantan pembantu mama itu adalah mantan istrinya Arsyaka. Semenjak dia berhenti menjadi pembantu di rumah, tanpa sepengetahuan dari papa. Mama mempekerjakan lagi seorang pembantu, tapi itu semuanya bisa papa ketahui. Karena papa menaruh rekaman cctv di rumah, tanpa mama ketahui sebelumnya, " lanjut Linda yang mengeluarkan keluh kesahnya menjadi istri Rasyid.
Chelsea bisa merasakan kesedihan hati mamanya, mereka berdua pun kembali berpelukan. Setelah merasa hati Linda tenang, ia pun segera membicarakan tentang rencananya kepada Chelsea.
"Chelsea, kamu harapan mama satu-satunya. Mama ingin kamu besok pagi menggantikan tugas Arsyaka bekerja di perusahaan papa, dan kamu harus membuat pak Faisal bisa mendatangani surat ini." Linda memberikan surat pada Chelsea.
"Ini surat apa mah?" tanya Chelsea penasaran.
"Itu surat pengalihan perusahaan. Jadi perusahaan papamu yang ada di kota ini akan menjadi milik kita berdua, jika kamu berhasil membuat pak Faisal mendatangani surat itu," jawab Linda sambil menyunggingkan senyuman.
"Ide mama bagus juga. Besok pagi aku akan pergi bekerja di kantor papa, dan berusaha membuat pak Faisal mendatangani surat ini." Chelsea setuju dengan ide mamanya, yang mau merebut perusahaan milik papa tirinya.
"Hahaha..." Chelsea dan Linda tertawa bahagia. Mereka berdua sudah tidak sabar, bisa memiliki perusahaan Rasyid.
"Mama sudah muak menjadi istri yang baik dan penurut. Karena itu semuanya tidak membuat mama bahagia. Jika kamu besok berhasil mendapatkan tanda tangan dari pak Faisal, mama akan bercerai dengan papamu dan kita..."
__ADS_1
"Tidak perlu menunggu sampai besok..."
Linda dan Chelsea kaget melihat kedatangan orang yang memotong ucapan Linda, yang belum selesai berbicara.